IP_ Vol 24 No 3.indd

meaindia.nic.in

IP_ Vol 24 No 3.indd

Vol 24, No. 3/2010 ISSN 0970 5074

VOL 24 NO. 3/2010

India

Perspectives

Sketsa India House, London, oleh Sir Herbert Baker, Juli 1930

Redaktur

Navdeep Suri

Redaktur Pembantu

Neelu Rohra

India Perspectives diterbitkan dalam bahasa-bahasa Arab, Indonesia, Bengali, Inggris, Prancis, Jerman, Hindi, Italia, Pashto,

Persia, Portugis, Rusia, Sinhala, Spanyol, Tamil, Turki dan Urdu. Pendapat-pendapat yang disampaikan dalam majalah ini

adalah pendapat para penyumbang tulisan dan bukan pendapat India Perspectives. Semua tulisan yang asli, kecuali yang

diterbitkan ulang oleh India Perspectives, dapat direproduksi dengan bebas dengan menyebutkan sumbernya.

Sumbangan tulisan dan surat-surat supaya dialamatkan kepada

Editor, India Perspectives, 140 ‘A’ Wing, Shastri Bhawan, New Delhi-110001.

Telepon: +91-11-23389471, 23388873, Fax: +91-11-23385549

E-mail: jspd@mea.gov.in, Website: http://www.meaindia.nic.in

Untuk mendapatkan majalah India Perspectives, silakan hubungi Kedutaan Besar India di Jakarta.

Edisi ini diterbitkan untuk Kementerian Luar, New Delhi

oleh Navdeep Suri, Joint Secretary, Public Diplomacy Division.

Dirancang dan dicetak oleh Ajanta Offset & Packagings Ltd., Delhi.


Tajuk

Pertama saya ingin menyatakan terima kasih yang tulus kepada semua pembaca kami

atas respon mereka yang antusiastik kepada edisi terakhir India Perspectives yang

dipersembahkan kepada Rabindranath Tagore. Surat-surat anda yang menyatakan

apresiasi anda terhadap edisi tersebut masih berdatangan dan memotivasi kami

untuk berusaha lebih baik lagi. Dengan memanfaatkan teknologi canggih, kami telah

menempatkan Edisi Khusus yang dipersembahkan kepada Tagore pada website kami

yang baru www.indiandiplomacy.in dalam format yang lebih bersahabat dengan

pembaca. Kami juga telah meng-uploadnya pada Scribd, dengan alamat http://www.

scribd.com/doc/34044322/India-Perspectives-Special-Issue-on-Rabindranath-Tagore

agar dapat diakses oleh pembaca-pembaca baru.

Dalam edisi ini, kami menyajikan pandangan sekilas tentang ekstravagansa

kebudayaan yang sedang diracik untuk dipersembahkan sebagai bagian dari program

Commonwealth Games (Pesta Olah Raga Persemakmuran) yang akan diselenggarakan

di Delhi pada bulan Oktober tahun ini. Dari sebuah perspektif perpelancongan,

aksesibilitas yang mudah ke dan kemegahan Istana-Benteng Neemrana bukan saja

membuatnya sebuah objek turis yang menyenangkan tetapi juga sebuah venue untuk

konferensi-konferensi berprofil tinggi. Sebuah tulisan tentang penginapan-penginapan

di Goa, dengan nada yang sama, telah menyuguhkan sebuah gambaran keindahan

tentang era yang sudah berlalu.

Daksha Sheth yang ekstra-ordiner kiranya tidak perlu diperkenalkan. Seorang puritan

yang tidak pernah takut bereksperimen, kecintaannya kepada seni tari juga diwarisi

oleh putrinya Isha Sharvani, yang telah mempesona penonton dengan pertunjukanpertunjukannya

yang memukau diatas bentangan seutas tali. Sebuah perspektif yang

berbeda mengenai inovasi di bidang seni kami persembahkan pula dalam sebuah

feature tentang Dadi Pudumjee, yang dengan Ishara Puppet Theatre-nya telah

memperkenalkan sebuah dimensi yang sama sekali baru terhadap sebuah bentuk

seni purba.

Di bidang bisnis ada sebuah profil tentang Amul, yang dimulai sebagai sebuah

koperasi petani susu sederhana tetapi kini telah tumbuh menjadi sebuah usaha yang

produk-produknya telah menjadi buah bibir ibu-ibu rumah tangga. Sebuah tulisan

tentang industri farmasi India yang sedang berkembang memperlihatkan semakin

pentingnya bioteknologi dengan sebuah wawancara dengan seorang pelopor dalam

sektor ini. Sebuah laporan terpisah mengungkapkan rencana-rencana India untuk

mencapai target ambisius untuk memproduksi 20.000 MW listrik tenaga surya

menjelang tahun 2022.

Kita menyatakan penghormatan kepada salah seorang musisi besar India, Ustad

Bismillah Khan, yang keterikatannya sepanjang hidupnya kepada kota suci Benaras

telah memperlihatkan ethos sekuler India yang terbaik. Dan kami juga menurunkan

tulisan-tulisan tentang film produksi Raj Kapoor Awaara, tentang seni sulaman Kantha

dan tentang seni lukis mural yang terdapat di India House, London.

Neemrana

Menghidupkan Kembali Sejarah

SANDEEP SILAS 2

Penginapan-Penginapan Tua

Sebuah Perjalanan

Melalui Warisan

Goa

RAMCHANDER PENTUKER 12

India-Afrika

Sebuah Kemistri Bisnis Baru

MANISH CHAND 20

Amul

Sebuah Brand untuk Menambah

Gizi dan Tenaga

R.K. MISHRA 40

Farmasi untuk Dunia

N.B. RAO 46

Menyadap Sang Surya

Energi Surya untuk

Pembangkitan Tenaga Listrik

sebesar 20.000 MW

JOYDEEP GUPTA 52

Institut Desain Nasional

Berubah dengan Zaman

MADHUSREE CHATTERJEE 56

Kantha

Kerajinan Menyulam Yang

Artistik

BIMLA VERMA 62

Melihat Awaara Lagi

SURESH KOHLI 68

Seni Boneka Dewasa Ini

Memimpikan Masa Depan Baru

CHANDANA DUTTA 72

Bismillah & Benaras

JUHI SINHA 84

Ibu dan Putri

Dimana Tari adalah Kehidupan

LEELA VENKATARAMAN 90

Karya Lukis Pada

India House, London

ASOKE MUKERJI 100

Kepada semua pembaca kami terima kasih sekali lagi bagi dukungan anda dan

masukan-masukan anda yang amat berharga!

Navdeep Suri

Commonwealth Games

Sebuah Ekstravagansa Budaya

MADHUSREE CHATTERJEE &

PRAGYA TIWARI 30

Sampul: Sebuah kolaborasi tari dan boneka

kontemporer mengenai tiga karakter dari

Mahabharata: Krishna/boneka, Gandhari

dan Yang Meninggal.

Foto: Vipul Sangoi.


Neemrana

Menghidupkan

Kembali Sejarah

Naskah & Foto: SANDEEP SILAS

Istana-Benteng Neemrana

terletak sekitar 125 km dari

Delhi, di jalan menuju Jaipur.

Sedang asyiknya berkendaraan

di jalan raya yang mulus, anda

barangkali tidak menyadari

bahwa sebuah pengalaman yang

menakjubkan akan anda alami

tidak lama lagi. Setelah melewati

sebuah penunjuk jalan, dan setelah

menempuh sebuah cabang jalan

yang berdebu, sampailah ke

sebuah desa kecil dimana berdiri

sebuah Istana-Benteng yang

mengagumkan dari abad ke-15

dengan pintu gerbangnya yang

bertabur hiasan-hiasan kuningan.

Istana yang sekaligus menjadi

benteng itu menghadirkan sebuah

pemandangan yang sangat

mempesona di desa yang hening

itu.

Istana-Benteng yang sebelumnya

merupakan reruntuhan ini

baru saja habis dipugar untuk

mengembalikannya ke bentuk

aslinya yang megah. Pekerjaan

pemugaran yang dilaksanakan

dengan simulasi desain dan

restrukturisasi yang sangat

hati-hati itu merupakan sebuah

pengalaman yang unik bagi

para turis yang berkunjung ke

Neemrana. Meskipun tempatnya

kelihatan kecil, tetapi dia adalah

sebuah destinasi yang cukup ideal

bagi para wisatawan.

Kemegahan yang telah dikembalikan –

Neemrana dewasa ini.

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 2 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 3


Tempat ini dulunya dibangun

sebagai sebuah benteng dan

karena tempat ini merupakan

tempat bermukimnya keturunan

Prithviraj Chauhan III, yang

melarikan diri dari Delhi pada

tahun 1192 M, setelah dikalahkan

oleh Muhammad Ghori, benteng

ini dirubah menjadi sebuah istana.

Pada galibnya, legenda Prithviraj

Chauhan dan “swayamvara”

(sayembara) terkenal dan heroik

tentang Sanyogita sebagaimana kita

kenal dalam sejarah masih segar

dalam ingatan kita. Tetapi saya

sering bertanya tentang nasib

Raja-Raja Hindu yang kalah di Delhi

setelah berdirinya Kesultanan Delhi,

dibawah Qutub-ud-din Aibak pada

tahun 1192 M. Sayangnya, sejarah

hanya menyebut tentang yang

menang, sementara yang kalah

diabaikan begitu saja!

Di Neemrana kita memperoleh

sebuah kesan bahwa setelah

kalahpun, kita masih punya

rasa kebanggaan dan tidak mau

berkompromi dalam nilai-nilai

tradisi dan etika. Setiap batu

di Neemrana akan bercerita

tentang garis keturunan raja-raja

yang tidak pernah terkalahkan

itu. Mereka mungkin saja telah

Hawa Chhat (Anjungan Berangin)

kehilangan Kerajaan, tetapi tidak

kehormatan mereka. Kekayaaan

dan istana-istana mereka memang

telah direnggut dari mereka,

tetapi tidak nasib mereka.

Mahkota mereka telah direbut

dari mereka, tetapi kepala mereka

tidak pernah tertunduk. Tempat

yang sarat dengan sejarah yang

gemilang ini mungkin saja luput

dari perhatian jika tidak ada yang

berimajinasi dan bertekad untuk

menyelamatkannya. Pada tahun

1986 benteng istana yang telah

menjadi reruntuhan ini diputuskan

untuk dipugar, dan pada tahun

1991 istana-benteng tersebut telah

berdiri kembali dengan segala

kemegahan dan keagungannya.

Istana-benteng tersebut setelah

dipugar tetap indah dan megah

seperti sediakala dan namanama

yang diberikan kepada

ruangan-ruangan, kamar-kamar,

lorong-lorong dan pintu-pintu

gerbangnya tetap sama seperti

nama-nama yang diberikan oleh

keluarga-keluarga raja yang

menghuninya untuk pertama kali.

Saya tidak sabar menunggu lebih

lama lagi dan langsung menuju

istana untuk melihat-lihat seperti

Anak-anak tangga menuju Mahal (kanan)

dan pemandangan melalui pintu-pintu

lengkung (bawah).

apa gerangan di dalamnya. Segera

setelah formalitas pemeriksaan

masuk dan acara minum-minum

sebagai tanda selamat datang

selesai, saya langsung menuju

ruang makan dengan melewati

sebuah halaman terbuka. Ruang

perjamuan ini memiliki pintu-pintu

lengkung di semua penjurunya

dengan pemandangan yang

sangat indah ke ladang-ladang,

desa, dan sebuah bukit yang

lebat hutannya. Kita diperlakukan

seperti seorang maharaja di tempat

ini, dengan suguhan berbagai

jenis teh – hanya untuk dicicipi.

Disini terdapat sebuah taman

kecil bertingkat dengan nama

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 4 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 5


Nazara Bagh dan dari taman ini

kita bisa memandang kesemua

sisi benteng dan dibelakangnya

terdapat Holikund. Saya bisa

membayangkan kemeriahan,

kegembiraan, kehingar-bingaran

dan keceriaan masyarakat di

tempat ini pada masa festivalfestival.

Kachcha Chowk, seperti

terbaca dari namanya, adalah

sebuah halaman luas yang terbuka

di depan Chandan Mahal. Pintu

lengkungnya yang memiliki

beberapa anak tangga merupakan

objek favorit untuk berfoto

karena memberikan kesan akan

kemegahan tempat ini.

Royal Descent (halaman samping);

Kachcha Chowk pintu lengkung bertangga

(kanan) dan Taman Bergantung (bawah).

Saya menginap di Moonga Mahal,

dengan pelataran yang sangat

luas. Untunglah, pemugaran yang

dilakukan tidak merubah bentuk

atau desain aslinya, bahkan

jendela-jendela dan pintu-pintunya

di jaga seperti aslinya. Beberapa

jendela sangat kecil ukurannya,

hanya bisa digunakan untuk

mengintip keluar, untuk melihat

apa gerangan yang sedang terjadi

disana. Diluar Moonga Mahal,

yaitu sebuah Istana tersendiri

(saya berani mengatakannya

begitu) terdapat sebuah Shivalinga

yang ditempatkan dengan penuh

penghormatan pada sebuah pintu

lengkung dan sebuah lagi dibawah

sebuah kanopi. Pemilihan kamar

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 6 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 7


untuk tempat saya menginap

bukanlah pilihan saya, tetapi saya

ingat bahwa kemanapun saya

pergi, sebuah Shivalinga selalu

terlihat oleh saya. Hal ini sering

saya alami, baik ketika saya pergi

ke pegunungan, di hutan-hutan,

dan ditengah-tengah reruntuhan

bangunan. Dalam kepercayaan

Hindu, Shivalinga mewakili Dewa

Syiwa yang dianggap sebagai

Dewa Pencipta dan Perusak!

Ketika menoleh keluar dari

jendela kamar, saya melihat

sebuah kolam renang yang tertata

sangat indah dan dikelilingi oleh

Mahal-Mahal (istana-istana) yang

luks. Kolam renang yang tinggi

letaknya dapat dicapai setelah

melewati gang-gang yang berlikuliku

menuju mahal-mahal tersebut

dan setelah mendaki beberapa

anak tangga. Perjalanan mencapai

kolam renang ini seolah-olah

memberikan kesan bahwa badan

kitapun, setelah bekerja keras,

memerlukan istirahat dan relaksasi

dalam air.

Di sebuah tempat yang lebih

tinggi lagi terdapat sebuah taman

bernama Mukut Bagh, yang

sangat cocok untuk orang-orang

yang mendambakan privacy dan

ekslusifitas. Beberapa pekerjaan

renovasi masih berlangsung

disini, tepatnya di bagian yang

disebut Unchha Bagh (Taman

Tinggi). Jelas tempat ini nantinya

akan menjadi bagian yang paling

tinggi di taman ini. Sebuah

tempat bernama Hawa Chhat

Sebuah Fresko atau lukisan dinding (kanan)

dan Dining in style (bawah).

(Anjungan Berangin) menarik

perhatian saya dan saya putuskan

untuk duduk-duduk disana

untuk beberapa saat dibawah

sebuah kanopi. Saya merasakan

tiupan angin yang sepoi-sepoi

basah dan kadang-kadang

cukup kencang. Dibawah terlihat

sebuah taman bernama Hanging

Gardens atau Taman Tergantung.

Barisan pohon-pohon palem

di pinggir-pinggir jalan dan

banyaknya tanaman-tanaman

hijau di taman ini menghadirkan

pemandangan yang kontras

dengan warna batu-batu yang

dipakai untuk membangun

istana ini.

Kawasan Unchha Bagh (kanan) dan

Shivalinga yang terdapat di sebuah kuil

(bawah).

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 8 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 9


Sebuah Amphitheater menarik

perhatian saya. Saya melihat

bahwa di ujungnya yang paling

jauh, Amphitheater ini hampir

seperti amphitheater yang saya

lihat di kota Bath, yang dibangun

oleh bangsa Romawi. Akan

tetapi yang ini lebih besar dan

lebih elaborit dari yang dibangun

kemudian.

Kafilah-kafilah yang melewati

padang pasir Rajasthan, pada

suatu masa tertentu pernah

menggunakan sumur bertingkat

sembilan yang terletak tidak jauh

dari tempat mereka beristirahat.

The Flying Fox, sebuah pesawat

terbang layang, sayangnya tidak

beroperasi ketika saya sedang

berkunjung ke Neemrana.

Kini Neemrana juga telah

menjadi sebuah ajang untuk

menyelenggarakan pertunjukanpertunjukan

kebudayaan oleh para

maestro serta upacara-upacara

pernikahan seperti pada zaman

raja-raja dulu!

Hari semakin terasa panas.

Memperhatikan matahari terbenam

dari istana Neemrana adalah

sebuah pengalaman yang sangat

romantis. Ketika mengabadikan

momen yang langka ini, saya

berusaha menyeimbangkan

Matahari diatas ujung batu yang

mencuat seperti tombak diatas

baluarti benteng pada frame saya.

Barangkali, saya melakukannya

selama sepersekian detik!

Menjelang senja saya berpindah

ke Shatranj Terrace dan Shatranj

Bagh (Shatranj dalam bahasa

Hindi berarti Catur). Sebuah

kereta tua terlihat dipajang disini,

setelah memainkan perannya di

istana ini pada zaman silam. Saya

mengambil beberapa gambar

dari istana yang bersinar terang

itu pada senja hari. Bagi saya,

datangnya senja selalu menarik

untuk lingkungan-lingkungan

seperti ini. Bagaimanapun juga,

keindahan sebuah monumen

selalu bertambah dengan

datangnya suasana senja seperti

ini. Ini adalah saat dimana waktu

menjadi seolah-olah terbuai antara

yang riil dan yang mistis. Malam

hampir tiba dan langitpun mulai

semakin gelap. Dalam suasananya

yang kontras, cahaya yang datang

dari istana tampak semakin terang,

dan lama kelamaan seluruh istana

bercahaya seperti sebuah lampu

sorot di tengah malam.

Malam yang telah saya lalui itu

memang penuh keindahan dan

kenangan. Tetapi matapun belum

puas dengan apa yang telah

Kolam renang di Neemrana (halaman

samping); Sunset Arch (kanan) dan

pemandangan di waktu Senja (bawah).

dilihatnya dan merindukan masih

banyak lagi.

Sambil menikmati suara-suara

burung merak, memperhatikan

merpati-merpati yang asyik

berkeliaran, burung-burung bulbul

yang berdada merah, tupaitupai,

saya seolah-olah dibawa

ke masa silam dan saya pun

mencoba mengarang sebuah lagu

yang dipersembahkan kepada

Neemrana pada pagi harinya. Pada

saat-saat seperti ini seolah-olah

kita merasakan sebuah kesucian

hidup dan kesan ini akan benarbenar

sukar untuk dilupakan.


Penulis adalah seorang birokrat senior dan

penulis perjalanan.

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 10 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 11


Siddharth Khandelwal

Penginapan-Penginapan Tua

Sebuah Perjalanan Melalui Warisan Goa

Naskah & Foto: RAMCHANDER PENTUKER

Bagi kebanyakan orang, berkunjung ke bekas koloni Portugis,

Goa, adalah sebuah pengalaman yang mengasyikkan karena

pantai-pantainya yang indah, jalan-jalan pinggir lautnya yang

diteduhi pohon-pohon palem, perahu-perahu kesenangan (pleasure

boats), pubs, kasino-kasino, kafe-kafe di alam terbuka, seafood, port

wine dan sebagainya.

Yang jelas, masih banyak lagi yang dapat dinikmati oleh seseorang asal

dia mau menjelajahi daerah yang selalu hijau ini. Akan tetapi hanya

ada segelintir pelancong yang nekat yang tahu betul bahwa disamping

tempat-tempat yang sudah lazim didatangi orang itu masih ada beberapa

tujuan wisata lainnya yang kaya dengan nilai-nilai dan memiliki

keunikan-keunikannya sendiri. Sebuah daerah kecil di Panjim, yang

lazim dikenal sebagai Kawasan Latin Tua (Old Latin Quarter) – dan

tersohor dengan nama Fontainhas – adalah salah satu diantara

tempat-tempat serupa itu. Tempat ini adalah jantung bersejarah

Goa. Di tempat yang menarik tidak jauh dari Panjim ini anda dapat

mempelajari seluruh suasana kotanya, dimana orang-orang Portugis

membangun rumah-rumah mereka dan hidup sampai akhir 1960-an.

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 12 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 13


Siddharth Khandelwal

Gama menemukan jalan laut ke

India pada tahun 1498. Pada periode

inilah Portugis menjadi salah

satu kekuatan maritim terpenting

di dunia, ketika para pelautnya

menemukan banyak daerah-daerah

baru dalam pelayaran-pelayaran

mereka. Mereka adalah bangsa

Eropa pertama yang menginjakkan

kaki di pantai barat India, yang

kemudian diikuti oleh Prancis,

Belanda, lalu Inggris.

Penyair yang juga seorang pelaut

Portugis, Luis Camoes, dalam

eposnya, Os Lusiadas, yang

dikarangnya sekitar 70 tahun setelah

Vasco da Gama menemukan jalan

laut ke India, mengimortalkan

Siddharth Khandelwal

periode besar penemuan

yang dilakukan Portugis dan

pengkolonisasian Goa. Kita bisa

melihat patung mamoth sang

penyair yang kini berdiri di ruang

utama museum di Goa lama.

Pengkolonisasian Goa oleh

Portugis berlanjut terus sampai

sekitar empat setengah abad,

sampai pembebasan Goa pada

tahun 1961.

Kehadiran mereka yang terlalu

lama di Goa telah membuat

bangsa Portugis besar sekali

pengaruhnya terhadap kehidupan

sosial dan agama Goa dan

pengaruh Portugis ini jauh

Panjim, pusat pemerintahan

daerah Goa adalah sebuah kota

taman, dengan gedung-gedung

beratap genteng, jalan-jalan yang

diteduhi oleh pohon-pohon,

candi-candi, gereja-gereja, dan

patung-patung, dan terletak ditepi

sungai Mandovi. Kawasan yang

disebut The Old Latin Quarter

ini dipenuhi oleh gang-gang

yang sempit dan dikedua sisinya

berdiri lusinan rumah-rumah

mungil yang cantik, vila-vila dan

apartemen-apartemen bisnis.

Letak daerah ini adalah dekat ke

sebelah kiri Ourem Creek, yang

dihubungkan dengan sebuah

jalan dengan pusat kota.

Banyak rumah-rumah disini

merupakan warisan Portugis

termasuk rumah-rumah yang

dimiliki oleh keturunan langsung

bangsa Portugis (karena sebagian

mereka masih tinggal disini) dan

kini telah dikonversi menjadi

penginapan-penginapan dan

restoran-restoran dengan gaya

khas, yang menawarkan kepada

para turis apa yang terbaik dari

keramah-tamahan ala Goa.

Sebagian besar penginapanpenginapan

warisan Portugis

ini terlihat simpel dalam

bentuknya, dibangun dengan

gaya khas Portugis, dengan

jendela-jendela khas (shuttered

windows) dan balkon-balkon

yang menggantung. Bahkan

interiornya pun tidak banyak

atau bahkan tidak memiliki

keunikan-keunikan tersendiri.

Namun demikian, karena gayagaya

lama masih memiliki daya

pikatnya, penginapan-penginapan

ini masih dikunjungi para tamu

setiap hari. Hal ini karena, seperti

yang dikatakan oleh seorang turis

Jerman, “Saya merasakan suatu

nostalgia tertentu akan signifikansi

masa silamnya, sehingga saya

memerlukan datang kesini setiap

hari untuk bersantap”.

Yang paling mengesankan

saya tentang penginapan-

penginapan ini adalah warnanya.

Setiap gedung dicat dengan

warna-warna yang menyengat

mata, mulai dari warna-warna

tradisional merah kecoklatan

sampai kepada kuning tua,

jingga, hijau, biru; hampir semua

warna yang ada di bumi. Sudah

menjadi tradisi disini bahwa

semua bangunan harus dicat

ulang setiap tahun setelah musim

hujan. Keceriaan warna-warna

inilah yang menarik perhatian

anda ketika anda sedang berjalanjalan

di kawasan Latin Quarters

ini.

Tidaklah berlebihan apabila

dikatakan bahwa diantara

penginapan-penginapan ini

banyak pula yang telah menjadi

landmark kota dan tetap

memberikan pengaruh dan

memperkaya sejarah dan romansa

tempat ini.

Menurut sejarah, Goa dibangun

oleh para pelaut Portugis sekitar

tahun 1510, setelah Vasco da

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 14 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 15


lebih terasa dan nyata di Latin

Quarters, dimana banyak rumahrumah

dan gereja-gereja yang

dibangun pada zaman Portugis

masih mengingatkan kita kepada

masa silamnya. Bukan hanya

itu, pengaruh Portugis yang

amat dalam itu bahkan terefleksi

dalam bahasa kontemporer rakyat

setempat dan cara berpakaian

sebagian wanitanya dalam

pesta-pesta.

Nama “Fontainhas” jelas

berasal dari bahasa Portugis,

yang barangkali berasal dari

nama sebuah tempat yang sama

namanya di Lisabon, yang berarti

“tempat sebuah pancuran kecil”

atau keran air untuk umum, yang

dibangun Portugis disana. Karena

pada masa itu belum ada air

ledeng, kaum wanita umumnya

mengambil air dari pancuranpancuran

untuk kebutuhan

sehari-hari mereka.

Dengan semakin berkembangnya

kota, kebanyakan dari pancuranpancuran

ini, kecuali sebuah

pancuran yang saya temukan

belakangan dekat sebuah

sekolah, mulai hilang satu demi

satu.

Semua penginapan yang menjadi

warisan dari zaman Portugis

dan terdapat di Latin Quarters

Siddharth Khandelwal

berasal dari periode yang sama

dan dipelihara kelestariannya

dengan susah payah oleh para

pemiliknya.

Barangkali karena aspeknya yang

indah dan unik inilah atau karena

ada pertalian sejarahnya dengan

masa lampau penginapanpenginapan

ini masih terpelihara

dan terawat sampai sekarang.

Para pemiliknya mafhum

sepenuhnya akan manfaat yang

bakal mereka peroleh dengan

melestarikan dan memelihara

Panjim Inn (Penginapan Panjim) dengan

dekor tradisionalnya, dengan sebuah

gambar pemilik aslinya, seorang Portugis,

tergantung pada pintu masuk (bawah).

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 16 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 17


kecantikan bangunan mereka

untuk merefleksikan suasana

masa silamnya.

Contoh terbaik dari penginapanpenginapan

ini adalah sebuah

penginapan bernama Panjim

Inn, yang telah menjadi the most

recognized landmark di kota ini,

yang terletak di Ourem Creek

Road, menghadap ke sebuah

jembatan lengkung.

Panjim Inn berwarna merah

kecoklatan dan masih terpelihara

keasliannya dan lingkungan

tradisional Goa-nya. Dapurnya

menyediakan masakan lokal dan

kontinental untuk dihidangkan

di restorannya. Bangunan elegan

yang dibangun pada tahun 1880

ini adalah milik seorang wanita

Hindu. Dia pernah dipakai untuk

sebuah sekolah sebelum dirubah

menjadi sebuah hotel.

Tidak semua penginapan

disini sama besarnya dan sama

reputasinya dengan Panjim Inn.

Ada juga yang berukuran lebih

kecil, bising dengan suara-suara

orang mencicipi minuman lokal

‘Fenni.’

Dalam perjalanan pulang ke

hotel, saya berhenti di sebuah

lapangan lain yang lebih kecil

dekat gereja St. Sebastian. Afonso

Guest House, yang berdiri persis

dibawah bayangan gereja ini

adalah sebuah bangunan yang

sangat menarik. Bangunan bercat

kuning tua ini sangat kontras

dengan warna gereja yang putih

seperti mutiara. Guest House

yang diberi nama menurut nama

raja Portugal pertama, Afonso

Henriques, dimiliki oleh Ny.

Patung pelaut-penyair Portugis Luis Camoes

di ruangan sebuah Museum di Goa.

Jeanette Afonso yang mengaku

sebagai keturunan langsung dari

raja tersebut.

Penginapan-penginapan yang

kini menjadi warisan sejarah ini

mungkin saja tidak seglamor yang

kita harapkan, tetapi anda masih

bisa meyakini segala kenikmatan

yang ditawarkannya sebagai hotel

atau penginapan, dan tidak perlu

diragukan bahwa mereka cukup

bersih dan hijau suasananya.

Sementara anda sibuk menjelajahi

lorong-lorong sempit Old Latin

Quarters, keinginan untuk

mengetahui dan merasakan

sendiri keindahan dan keunikan

suasana masa silamnya sangat

kuatnya. Seolah-olah anda ingin

kembali selangkah ke masa silam

untuk menikmati suasananya

yang langka dan unik ini.

Mengapa suasana masa silam

lebih banyak menarik perhatian

orang? Hal ini akan kita pahami

setelah kita mencoba menjelajahi

dengan santai lorong-lorong yang

terdapat di bagian kota tua ini.


Penulis adalah seorang penulis dan

fotografer kondang.

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 18 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 19


India-Afrika

Sebuah Kemistri Bisnis Baru

Dalam bulan Mei,

perusahaan telekom

raksasa India Bharti Airtel

mengakuisisi aset Afrika milik

Zain Group di Kuwait dengan

nilai 10,7 miliar Dollar AS, sebagai

suatu puncak kerjasama baru di

bidang bisnis antara India dan

Afrika. Akuisisi aset terbesar yang

dilakukan sebuah perusahaan

India di benua Afrika ini telah

mengalihkan sorotan ke pasar

kelas menengah yang sedang

MANISH CHAND

marak di Afrika dan semakin

tumbuhnya win-win partnership

antara ekonomi nomor dua

paling cepat perkembangannya

di dunia dan benua Afrika yang

terdiri dari 53 negara yang kaya

akan sumber-sumber kekayaan.

Persetujuan akuisisi yang ramai

diberitakan media India dan

internasional ini merupakan hasil

pertumbuhan kumulatif yang

terus menanjak selama beberapa

S.M. Krishna, Menteri Luar Negeri India; Y.M. John Dramani Mahama, Wakil Presiden Republik Ghana

dan Anand Sharma, Menteri Perdagangan dan Industri India, pada pembukaan the 6th Conclave

on India-Africa Project Partnership (tanggal 15 Maret 2010).

tahun belakangan di bidang

perdagangan dan investasi antara

India dan Afrika, yang keduanya

tidak terkena dampak resesi

global.

Sinergi bisnis baru ini dimotori

oleh badan tertinggi bisnis India,

yakni Confederation of Indian

Industries (CII) dan EXIM Bank,

yang bergandengan tangan

untuk melakukan suatu prakarsa

pemelopor yang disebut “The

India-Africa Project Partnership

Conclave,” pada tahun 2005.

Konklaf atau kerjasama yang

didukung oleh Kementerian

Luar Negeri dan Kementerian

Perdagangan India ini kini

telah menjadi sebuah event

yang banyak ditunggu-tunggu,

sebagai bentuk nyata dari

upaya kerjasama di bidang

ekonomi yang diwariskan oleh

perjuangan anti-kolonial dalam

rangka kerjasama non-blok dan

solidaritas Asia-Afrika.

Kita bisa melihat bagaimana

bekerjanya kemistri bisnis

ini pada konklaf India-Afrika

ke-6 yang diselenggarakan

pertengahan Maret lalu dengan

partisipasi 34 negara Afrika.

Sekitar 1000 orang pelaku bisnis,

para pemimpin politik, para

banker dan policy maker dari

India dan Afrika berdatangan ke

ibu kota India untuk menyadap

potensi bisnis baru antara dua

kawasan di dunia yang terus

berkembang ditengah-tengah

resesi. Taruhannya cukup

besar: proyek-proyek seharga

Para hadirin pada sesi pembukaan Konklaf.

10,06 miliar Dolar telah

disepakati. Bidang-bidang yang

dicakupinya mulai dari tenaga

listrik, pengolahan pupuk dan

pertanian sampai ke pendidikan,

usaha-usaha kecil dan menengah

(UKM) dan telekomunikasi, dan

satu hal yang menggembirakan

adalah bahwa suasana tegang

yang biasanya menandai jalannya

perundingan-perundingan tidak

terlihat disini. Bahkan para

pengusaha dan peserta lainnya

terlihat sangat akrab dalam

berbicara, yang kadang-kadang

diselingi oleh lelucon-lelucon dan

gelak tawa.

Ketika masalah bisnis dibicarakan

dengan rasa persaudaraan dan

kedekatan hubungan ideologi,

maka hasil yang diperoleh lebih

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 20 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 21


Atas: Jonathan Wutawunashe, Ketua Korp

Diplomatik & Duta Besar Zimbabwe di

India; Sanjay Kirloskar, Ketua, CII Africa

Committee; S.M. Krishna, Menteri Luar

Negeri India; John Dramani Mahama, Wakil

Presiden Republik Ghana; Anand Sharma,

Menteri Perdagangan & Industri India,

Chandrajit Banerjee, Direktur Jenderal, CII.

Kanan: Sanjay Kirloskar, Ketua, CII Africa

Committee & Ketua Kirloskar Brothers Ltd;

Vivek Katju, Sekretaris (Barat), Kementerian

Luar Negeri India; S.E.M. Gilbert Fossoun

Houngbo, Perdana Menteri Republik Togo

dan Syamal Gupta, Ketua Emeritus, CII

Africa Committee & Ketua TCE Ltd.

banyak dari hanya sekedar

deal-deal. “Hasil yang kita

peroleh adalah sebuah kemitraan

yang berkelanjutan dengan

masa depan yang panjang,” ujar

John Dramani Mahama, Wakil

Presiden, Republik Ghana yang

menjadi Tamu Kehormatan

pada Partnership Conclave

tersebut. “Dalam suasana positif

seperti ini, tidak ada yang

Jardine Omar, Konselor (Ekonomi), Komisi

Tinggi (Kedubes) Afrika Selatan di India;

Jose Maria Morais, Komisaris Tinggi (Dubes)

Mozambik untuk India; Nn. Maria Gustava,

Direktur Asia & Oceania, Kementerian Luar

Negeri & Kerjasama; Robert Appelbaum,

Direktur Edward Nathan Sonnenburg, Afrika

Selatan; Sumanta Chaudhuri, Joint Secretary,

Departemen Perdagangan & Industri dan

Nn. Donnée Kruger, Manager, Perdagangan

dan Investasi KwaZulu-Natal.

dapat menghalangi peningkatan

bisnis dan kemitraan,” kata S.M.

Krishna, Menteri Luar Negeri

India. Dia sangat menghargai

sektor swasta yang telah

berusaha memperluas profil

mereka di benua Afrika dan

mengembangkan pendekatan

investasi India dengan

memfokuskan perhatian pada

pengembangan kapasitas

(capacity building) dan pelatihan

ketrampilan yang dapat lebih

memacu pembangunan di Afrika.

“Hubungan India-Afrika telah

semakin matang dan berkembang

menjadi sebuah hubungan yang

hidup dan bergairah. Di banyak

bagian Afrika kita melihat para

investor dan bisnismen India

giat berusaha mengembangkan

perdagangan, membangun

kapasitas dan memberikan

kontribusi bagi tujuan-tujuan

pembangunan mitra-mitra kita di

Afrika dengan cara yang mudah

terlihat,” tambahnya.

Sanjay Kirloskar, seorang

industrialist dengan berbagai

investasi di Afrika dan Ketua

Komite Afrika CII, menempatkan

hubungan antara kedua belah

pihak dalam konteks yang lebih

luas, yaitu dengan mengalihkan

geografi kekuatan ekonomi

dari Barat ke Timur. “Konklaf

ini menghadirkan sebuah

peluang yang sangat besar bagi

kita semua untuk menjajagi

kemungkinan-kemungkinan

yang maha luas dalam kerjasama

India-Afrika, memperkuat

kemitraan-kemitraan sinergistik

dan mengembangkan sebuah visi

baru untuk kerjasama India-Afrika

dalam jangka panjang, yang pada

gilirannya nanti akan menentukan

arah Kerjasama Selatan-Selatan.”

Pertemuan atau konklaf ini telah

memilih empat daerah kunci

untuk meningkatkan kerjasama

ekonomi antara India dan Afrika:

(i) memperkuat hubungan

khusus antara India dan Afrika;

(ii) mengembangkan ekonomi

pedesaan di kedua kawasan;

(iii) memajukan pengembangan

ketrampilan dan capacity building

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 22 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 23


Kanan: Pemain Kriket Afrika Selatan

Jonty Rhodes menyampaikan pidato pada

Konklaf tersebut.

Bawah: Menanda tangani Exim Bank LOC

dengan Pemerintah Senegal: terlihat dalam

gambar Karim Wade, Menteri Kerjasama

Internasional, Infrastruktur, Pengembangan

Tanah dan Angkutan Udara, Pemerintah

Senegal dan Nn. Kavneet Kaur, CMD, Exim

Bank of India.

untuk Afrika di hari esok; dan

(iv) memacu pelaksanaan agenda

hijau.

Dengan dipimpin oleh sektor

swasta, dibawah kebijakan

Pemerintahan India yang

difokuskan kepada Afrika (Focus

Africa Policy), perdagangan

bilateral telah bertumbuh

menjadi 39 miliar Dolar AS, suatu

peningkatan sebesar sepuluh

kali lipat dalam masa 15 tahun

terakhir. Hampir setiap minggu,

ada saja sebuah perusahaan

India yang mengumumkan suatu

usaha bisnis baru di sebuah

negara Afrika. Bus-bus Tata

dan pompa-pompa Kirloskar,

yang dibuat oleh perusahaanperusahaan

India, telah menjadi

sebuah iconic brand names

di banyak negara Afrika.

Jonathan Wutawunashe, Duta

Besar Zimbabwe di India, suka

bercerita bahwa jika seseorang

kehilangan jalannya di desa-desa

Afrika, dia disuruh pergi ke

pompa Kirloskar dan disanalah

dia akan menemukan jalannya!

Adi Godrej, seorang industrialis

top India, adalah pengusaha

terakhir yang ikut bergabung

dengan dunia usaha India di

Afrika, dimana perusahaannya

Penandatangan MOU pada Konklaf ke-6 antara BEDIA, Botswana & CII, India

baru-baru ini membeli Tura

Group di Nigeria. Afrika adalah

“benua di masa depan”, kata

Godrej, sebagai pernyataan

optimisme para pengusaha India

dalam berinvestasi di Afrika.

Kini cukup banyak perusahaanperusahaan

yang berminat untuk

menanam modal di Afrika,

dengan perusahaan-perusahaan

besar India berada di ujung

tombak. Essar Group telah

menginvestasikan 100 juta Dolar

AS untuk Essar Telecom Kenya

Holdings. Yu brand milik Essar

mempunyai 400.000 pelanggan

telekom di Kenya. Perusahaan

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 24 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 25


ini menguasai 50 persen saham

di Kenya Petroleum Refineries

dimana dia berencana untuk

menginvestasikan $300 juta. Tata

Steel KZN telah mengakuisisi

$120 juta dalam sebuah

Greenfield ferrochrome venture

di Afrika Selatan. The Vedanta

Group telah membangun 55

pusat pelatihan untuk melatih

28.500 tenaga setiap tahun, dan

sejak 1997 sampai sekarang

telah melatih hampir 150.000

orang mahasiswa. ONGC Videsh,

cabang luar negeri perusahaan

minyak terbesar India, Oil

and Natural Gas Commission,

mengoperasikan aset minyak

senilai $2,1 miliar di Libya, Sudan,

Cote d’Ivoire (Pantai Gading)

dan Mesir, yang menjadikannya

sebagai investor India terbesar di

Afrika.

Meskipun sektor swasta India

berada di garis terdepan

dalam penanaman modal di

Afrika, Pemerintah India pun

telah membuka jalan dengan

menempuh kebijakan yang

proaktif dan menawarkan

berbagai perangsang untuk

memacu lajunya perdagangan

dan investasi dua arah.

Menyebut garis-garis besar

policy pemerintah India terhadap

Afrika yang disimpulkan dalam

tiga T (Trade, Technology dan

Training), Perdana Menteri

Manmohan Singh mengumumkan

serangkaian langkah-langkah

pada pembukaan India-Africa

Forum Summit pada bulan

April, 2008 yang mencakup

pemberian akses pasar secara

preferensial kepada 34 negara

Afrika yang belum begitu pesat

Para anggota delegasi dari Afrika dan India membicarakan soal bisnis pada Konklaf

perkembangannya. Dia juga

mengumumkan penggandaan

pemberian kredit menjadi $5,4

miliar dan menjanjikan bantuan

sebesar $500 juta untuk proyekproyek

pembangunan kapasitas

dan pengembangan sumber daya

manusia. Akses pasar diharapkan

dapat meningkatkan ekspor

Afrika mulai dari kapas, cocoa

dan aluminium sampai ke biji

tembaga dan biji jambu monyet.

Azas-azas keikutsertaan India

dalam pembangunan di Afrika

telah diperkuat lagi oleh rencana

aksi bersama yang diluncurkan

India dan Afrika awal Maret

tahun ini. Berdasarkan rencana

aksi ini India akan mendirikan

19 lembaga pendidikan di

Afrika bersama African Union

Commission dan negara-negara

anggota komisi ini di bidangbidang

pemolesan berlian, IT,

pendidikan vokasional dan

perdagangan luar negeri. Rencana

aksi ini dimaksudkan untuk

dapat mengembangkan prakarsaprakarsa

pemeloporan seperti

proyek Pan-Afrika e-network

bantuan India untuk memberikan

pendidikan dan pengobatan jarak

jauh (tele-education and telemedicine)

kepada rakyat Afrika

dengan menjembatani jurang

digital di benua tersebut.

Para pemimpin Afrika

meresponnya dengan penuh

antusias. “India adalah sebuah

contoh hebat dimana Afrika

dapat belajar tentang arah

pembangunan dan pengalaman

India,” kata Perdana Menteri

Republik Tongo dan Tamu

Kehormatan, Gilbert Fossoun

Houngbo, pada konklaf

tersebut. Seperti kata mantan

Presiden Ghana, John Agyekum

Kufuor: “Jika pengalaman

India dikawinkan dengan

sumber-sumber kekayaan

Afrika yang begitu luas, hal

ini akan mempercepat proses

pembangunan di Afrika.”

Simbiosis ini akan membuka

kemungkinan-kemungkinan

kerjasama yang tidak terbatas

di bidang-bidang mulai

pertanian, keamanan pangan,

infrastruktur dan hydrocarbon

sampai kepada IT dan frontier

areas of human knowledge.

Karena India dianggap semakin

mantap sebagai sumber Tiga A

(Appropriate, Affordable dan

Adaptable technologies), New

Delhi dianggap semakin mampu

menggantikan negara-negara

Barat sebagai sumber-sumber

teknologi, produk-produk dan

jasa bagi negara-negara Afrika

yang selama ini bergantung

kepada Barat. “Rakyat Afrika

telah meraih banyak manfaat dari

alih teknologi yang dilakukan

oleh India,” Hannah Tetteh,

Menteri Perdagangan dan Industri

Republik Ghana mengatakan

dalam sebuah wawancara.

Jacob Zuma, Presiden Republik

Afrikia Selatan, yang melakukan

kunjungan kenegaraan selama

tiga hari di India pada bulan

Juni lalu dengan membawa

200 lebih pengusaha top dari

negerinya, sangat optimistik

dengan semakin berkembangnya

kemistri bisnis antara India dan

Afrika. Dia berkata bahwa dalam

cakrawala yang lebih luas, India

dan Afrika dapat bekerjasama

untuk membangun Afrika sebagai

Pameran ketika Konklaf berlangsung

kekuatan ekonomi berikutnya,

hanya satu hari setelah kedua

belah pihak membuka India-

South Africa Chief Executives’

Forum di Mumbai.

“India dan Afrika Selatan secara

bersama dapat memberikan

sumbangan yang signifikan untuk

membangun Afrika sebagai pusat

pertumbuhan global berikutnya,”

sebagaimana dikatakan Presiden

Zuma kepada top Indian business

chambers di New Delhi.

Ada keuntungan secara

timbal balik bagi kedua belah

pihak karena India dapat

membantu Afrika meningkatkan

kemampuannya melalui alih

teknologi dan ketrampilanketrampilan.

Sebuah laporan

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 26 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 27


aru dari investor internasional

McKinsey, yang dengan tepat

disebut “Lions on the Move,”

(Singa-Singa Sedang Bergerak)

mengatakan pertumbuhan

ekonomi telah dipercepat di 27

dari 30 ekonomi paling luas di

benua Afrika, baik yang kaya

ataupun yang miskin akan

sumber-sumber kekayaannya.

Jumlah pelanggan cell phone

(HP) telah meningkat menjadi

316 juta, lebih banyak dari

seluruh penduduk Amerika

Serikat. Tanpa terpengaruh oleh

resesi global, India, pun, sedang

bangkit dan yakin akan mencapai

8,2 persen pertumbuhan GDP

atau Produk Domestik Bruto pada

tahun 2010-11.

Pertumbuhan ekonomi ini,

yang distimulir oleh sebuah visi

strategis yang lebih luas untuk

memperoleh peranan yang

lebih besar dalam masalahmasalah

internasional, termasuk

memperoleh keanggotaan India

di Dewan Keamanan PBB, akan

mendorong kedua belah pihak

untuk lebih dekat lagi dalam

rangka menciptakan abad Asia

dan Afrika. “India ingin menjadi

mitra dalam kebangkitan Afrika.

Dengan saling bekerjasama, dua

miliar rakyat Asia dan Afrika

dapat memberikan contoh

bagi sebuah kerjasama yang

saling bermanfaat di dunia

berkembang,” ujar Perdana

Menteri Manmohan Singh pada

KTT tahun 2008 tersebut.


Penulis adalah Redaktur, Africa Quarterly,

yang diterbitkan oleh Indian Council for

Cultural Relations, New Delhi.

Sebuah Pertunjukan Kebudayaan pada

waktu Konklaf.

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 28 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 29


Commonwealth Games

Sebuah Ekstravagansa Budaya

Naskah: MADHUSREE CHATTERJEE & PRAGYA TIWARI

Foto: DEEPAK MUDGAL

Sebuah pertunjukan kebudayaan India yang meriah akan dipertontonkan dengan penuh

kebanggaan pada Pesta Olah Raga Persemakmuran (Commonwealth Games) ke-19

untuk memproyeksikan kekuatan lunak (soft power) India kepada dunia pada pekan

olah raga yang diselengggarakan sekali dalam empat tahun ini, pada tanggal 3-14 Oktober

2010 yang diikuti oleh 8000 atlit dari 71 negara dan teritori untuk berkompetisi dalam 17

cabang olah raga.

Ekstravagansa Kebudayaan yang menjadi jantung sebuah prakarsa raksasa di bidang

kepariwisataan Persemakmuran untuk memposisikan India sebagai sebuah destinasi

turisme kebudayaan dan olah raga akan berlangsung selama sekitar dua pekan.

Penyelenggaraan pesta olah raga ini dilakukan dengan kerjasama antara Pemerintah Delhi

dan Panitia Penyelenggara Commonwealth Games 2010 dibawah pimpinan Suresh Kalmadi.

Shera – sang maskot ikut serta dalam sebuah pertunjukan tari

Upacara pembukaannya yang

oleh para offisial dilukiskan

sebagai “the much-awaited

prelude to the Games” akan

menampilkan tarian-tarian yang

dikoreograf oleh Geeta Chandran,

Shovana Narayan dan Astad

Deboo – tiga penari ternama

India.

Spotlight akan diarahkan

kepada resital-resital secara

berkelompok. Chandran dan

grupnya akan menampilkan

sebuah sendratari selama satu jam

dengan judul “Ananya”, dengan

The Commonwealth Games 2010 Delhi

akan memfokuskan diri pada kebudayaan

India selama hampir dua minggu. Shovana

Narayan akan mempertunjukkan tarian

Bharatanatyam dan Kathak (kanan) dan

sebuah resital tarian berkelompok (bawah).

mengambil tempat di Purana

Qila (Benteng Tua) yang berasal

dari abad ke-16 di New Delhi,

tempat dilangsungkannya acara

kebudayaan tersebut.

Sang koreografer berkata

bahwa karyanya akan

mendokumentasikan kebudayaankebudayaan

purba India yang

telah memberikan inspirasi

kepada beragam bentuk tari

klasik, dengan menonjolkan baik

isi, gaya maupun evolusinya.

Penari tersohor Shovana Narayan

akan mengetengahkan sebuah

group show yang memadukan

tarian-tarian Bharatanatyam dan

Kathak untuk memperlihatkan

asal-usul bentuk-bentuk

gerakan tarian India dan

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 30 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 31


pengaruh-pengaruh yang telah

berasimilasi dengannya selama

bertahun-tahun. Penari veteran

kontemporer Astad Deboo dan

kelompoknya akan menampilkan

sebuah opera tari yang akan

bercerita tentang kisah-kisah yang

diambil dari naskah-naskah kuno

India dan disajikan dalam konteks

modern.

Musik yang akan menyertainya

secara esensial adalah musik

klasik, dan para maestro

Tugu Peringatan Pahlawan Tidak Dikenal,

The India Gate, (halaman samping); Purana

Qila (Benteng Lama) yang berasal dari abad

ke-16, tempat untuk menyelenggarakan

even-even kebudayaan (kanan) dan Astad

Deboo, penyanyi kontemporer kondang

akan mengadakan pertunjukan dengan

grupnya pada waktu berlangsungnya Pesta

Olah Raga tersebut (bawah).

akan tampil bersama untuk

mempersatukan bakat dan

kebolehan mereka dalam sebuah

konser vokal dan instrumental

sebagai mega openingnya.

“Tetapi mengingat bahwa

sebagian besar dari penontonnya

adalah atlit-atlit Persemakmuran

yang masih muda-muda –

dibawah 35 tahun – panitia telah

mengundang fusion troupes dari

berbagai daerah di India untuk

menampilkan tarian-tarian baru

multi rasial sebagai sebuah bentuk

mosaik kebudayaan India,” ujar

seorang offisial.

Pemerintah telah memilih 15

venue di seluruh kota Delhi

untuk penyelenggaran festival

kebudayaan pada tanggal 3-14

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 32 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 33


Oktober yang akan datang.

“Program-programnya telah

dipilih secara hati-hati karena

Panitia ingin agar para penonton

dapat mengapresiasi apa yang

mereka tonton itu untuk jangka

waktu yang lama,” tambahnya.

Sutradara teater Amir Raza

Hussain akan menyuguhkan

sebuah drama di Red Fort

(Benteng Merah) dan di Benteng

Quli Khan di Mehrauli, dua

monumen bersejarah. Sebuah

kapsul multi-media dengan

durasi 45-menit akan menambah

daya tarik kota Delhi dengan

menampilkan pertunjukan sound

and light khusus yang bercerita

tentang sejarah Delhi untuk para

Menara Qutub Minar yang tinggi (kanan)

dan Makam Humayun (bawah).

tamu selama berlangsungnya

Commonwealth Games.

Pertunjukan di Mehrauli, dengan

judul Dastaan-e-Dilli, akan

bercerita tentang sejarah Delhi

mulai dari zaman kerajaannya

sampai kepada kota tersebut

menjadi pusat pemerintahan India

merdeka.

Sebuah perusahaan pembuat

film sedang mendesain sebuah

pertunjukan sound-and-light

yang elaborit di Red Fort

untuk mengisahkan sejarah

benteng merah tersebut mulai

dari zaman benteng tersebut

dijadikan pusat pemerintahan

kaisar Mughal, Shah Jahan,

sampai kepada digunakannya

benteng tersebut oleh tentara

Inggris sebagai markas besar

mereka dan kini sebagai salah

satu situs arkeologi paling

terkenal di ibu kota India ini

yang dikunjungi oleh ribuan turis

setiap hari. Dari Benteng Merah

(Red Fort) ini pulalah Perdana

Menteri India menyampaikan

pidatonya keseluruh bangsa India

dalam rangka peringatan hari

Kemerdekaan India pada tanggal

15 Agustus setiap tahun.

Murid-murid dari 2000 sekolah

lebih akan ikut ambil bagian

dalam sebuah kompetisi kesenian,

dengan judul “My Dream Sport”

(Olah Raga Impian Saya), untuk

menempatkan seni dan olah raga

pada platform yang sama dan

untuk memajukan bakat-bakat

baru sebagai watak inklusif pesta

olah raga tersebut.

Sekelompok seniman yang

meluncur bebas (free-wheeling)

sibuk mencat tembok-tembok di

ibu kota dengan warna-warna

khas Persemakmuran dan untuk

mempercantik ibu kota sehari

sebelum pesta olah raga ini

dimulai sebagai bagian dari Wall

Project.

Pada bulan Maret lalu, senimanseniman

kontemporer kondang

mulai melukis sebuah kanvas

sepanjang 200 kaki sebagai

bagian dari sebuah proyek seni

Persemakmuran secara beranting.

Prakarsa-prakarsa di bidang

kesenian ini akan berkulminasi

dalam sebuah grand finale

dengan sebuah pameran

keliling pertengahan September

yang akan menyentuh tempat

penyelenggaraan Pesta Olah

Raga ini.

Geeta Chandran (kiri) akan mementaskan

sebuah sendratari, Ananya, di Purana Qila.

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 34 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 35


Selain dari aspek kebudayaan,

Commonwealth Games akan

memberikan kesempatan

kepada ibu kota India untuk

mempertontonkan kebolehannya

sebagai tempat penyelenggaraan

pesta besar olah raga global dan

karenanya tidaklah mengejutkan

jika a sense of excitement

and urgency kini sedang

berkobar di New Delhi dengan

sepasukan offisial sibuk bekerja

dengan kecepatan tinggi untuk

meyakinkan bahwa segala

sesuatunya akan berjalan menurut

rencana untuk peristiwa besar ini.

Dalam prosesnya, dan dengan

dana besar yang dikeluarkan

pemerintah sebanyak Rs.150

miliar ($3 miliar), New Delhi

telah mengalami perubahan total,

lebih-lebih lagi dengan enam

klaster venu dan lima stadion

terpisah yang sedang direnovasi

dengan fasilitas-fasilitas canggih,

kereta api bawah tanah (Metro

Rail) yang sedang melebarkan

sayapnya, komplek-komplek

perbelanjaan yang sedang

diupgrade, tempat-tempat

kunjungan wisatawan yang

sedang dikembangkan, jembatanjembatan

layang yang sedang

dalam tahap penyelesaian untuk

memperlancar arus lalulintas,

jalan-jalan utama yang sedang

diperlebar dan sebuah armada

commuter buses yang bergerak

cepat agar perjalanan di ibu kota

menjadi lebih nyaman bagi semua

orang.

Sebuah perkampungan atlit

(Games Village) yang baru sedang

dibangun diatas lahan seluas 63,5

hektar lebih dekat tepi sungai

Yamuna yang membelah kota

New Delhi. Games Village ini

memiliki 34 menara dengan 1168

apartemen, masing-masingnya

sangat bersahabat dengan

penyandang cacat dan dilengkapi

dengan teknologi canggih mulai

dari pesawat TV layar datar

sampai kepada dapur yang

lengkap peralatannya.

Penyambutan secara tradisional dengan semprotan air yang diberikan kepada penerbangan internasional

pertama dan konter-konter imigrasi pada Terminal 3 yang baru diresmikan di Indira Gandhi International

Airport, Delhi (halaman samping) dan Delhi Metro Rail – jalur kereta api bawah tanah Delhi (bawah).

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 36 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 37


Fasilitas-fasilitas baru ini telah

menggoda Chief Minister

(Gubernur) Delhi, Sheila Dikshit,

untuk dengan bangga menyebut

kota Delhi sebagai sebuah

kota Olimpiade (Olympic city).

Begitu juga dengan administrator

olah raga kota Delhi Randhir

Singh yang menyarankan agar

event berikutnya untuk dapat

diselengggarakan di kota ini

adalah Asian Games, yang pernah

dua kali diselenggarakan disini,

dan bahkan Olimpiade sekalipun.

“Commonwealth Games akan

menjadi sebuah springboard

atau batu loncatan untuk

penyelenggaraan Olimpiade.

Dengan infrastruktur yang

ada sekarang ini, India dapat

menawarkan diri untuk menjadi

tuan rumah Asian Games,”

kata Randhir Singh, Wakil

Ketua Panitia Penyelenggara

Commonwealth Games dan

Sekjen Asosiasi Olimpiade India.

Hampir semua stadion telah diuji

coba bahkan ketika masih dalam

tahap penyelesaian.

Pengaturan-pengaturan keamanan

yang sangat ketat juga sedang

dilakukan untuk pesta olah raga

ini. Polisi Delhi mengatakan

bahwa mereka sudah siap untuk

mengamankan pesta olah raga

ini dengan melakukan segala

sesuatunya dari segi pengamanan.

“Kita tetap waspada dan terus

melakukan survei keamanan,

pemeriksaan-pemeriksaan dan

berbagai upaya peningkatan.

Kami secara reguler terus

melakukan manuver-manuver

anti-sabotase. Personil keamanan

dan pengamanan kami selalu

siaga dan waspada,” kata

Delhi Police Commissioner

(Kapolda Delhi) Y.S. Dadwal,

dan menambahkan: “Kami ingin

melihat bahwa pesta olah raga

Persemakmuran ini berlangsung

meriah dan sangat aman.”

Infrastruktur bagi kepentingan

publik di Delhi juga sedang

direnovasi dan dirombak secara

menyeluruh.

Hal ini dapat dibuktikan dari fakta

bahwa dana sebesar Rs.3 miliar

($64 juta) telah dialokasikan

untuk mempercantik kota, antara

lain untuk membangun jalanjalan

layang, jembatan-jembatan

layang, jalan-jalan, trotoar-trotoar

baru, dengan menyediakan

furnitur-furnitur yang lebih

baik di jalan-jalan dan untuk

membersihkan kota.

Juga akan disediakan jalur

Metro khusus dari bandara ke

Connaught Place, pusat bisnis dan

kompleks pertokoan di Delhi,

yang kini sedang direnovasi.

Rajpath, sebuah bulevar sepanjang

dua setengah kilometer di tengah

kota Delhi yang membentang

dari Rashtrapati Bhavan (Istana

Presiden) ke India Gate, tugu

peringatan Pahlawan Tak Dikenal,

juga sedang dipercantik.

Monumen-monumen yang

kaya dengan warisan sejarah

yang menjadi bagian yang tak

terpisahkan dari kota ini sedang

dibersihkan dan dipugar. Sebagai

bagian dari rencana ini, Red

Fort (Benteng Merah), Qutub

Minar, Humayun’s Tomb (Makam

Humayum) dan Purana Qila

(Benteng Lama) akan dilengkapi

dengan cafe-cafe untuk para tamu.

Sekitar 25.000 kamar akan

disediakan untuk menampung

para tamu dan atlit dari dalam

dan luar negeri. Diperkirakan

bahwa 11.028 kamar akan tersedia

pada penginapan-penginapan

yang telah memperoleh lisensi

dan fasilitas ini akan dilengkapi

dengan skim “Bed and Breakfast”

yang dilancarkan oleh pemerintah

Delhi dengan menjaring para

pemilik rumah-rumah dan

apartemen-apartemen pribadi.

Pemerintah juga telah menyetujui

dana sebesar Rs.700 juta ($15 juta)

untuk pengembangan destinasidestinasi

turis yang terdapat di

sekitar kota Delhi. Agra, kota

dimana Taj Mahal berdiri, dan

Jaipur adalah dua kota yang

dipilih untuk maksud ini. Dalam

istilah turisme, Delhi, Agra dan

Jaipur disebut sebagai “golden

triangle” atau segi tiga emas.

Sebuah aspek lain yang perlu

diperhatikan adalah bahwa

Commonwealth Games akan

mewariskan sebuah konsep yang

sama sekali baru, yaitu yang

menyangkut para relawan yang

berjumlah sekitar 22.000 pria

dan wanita yang telah menanda

tangani suatu program latihan

untuk tiga bidang: basic etiquette,

venue specific dan safety training.

“Perekrutan relawan sebagai

sebuah konsep kiranya kurang

dikenal di India. Perekrutan para

relawan sekarang ini adalah

pertama kalinya untuk melatih

orang dalam jumlah yang begitu

besar,” ujar Devya Patney,

ketua panitia penyelenggara

yang bertanggung jawab untuk

pelatihan relawan.

“Commonwealth Games 2010

akan meninggalkan sebuah

warisan yang akan bertahan

lama bukan saja dalam bentuk

infrastruktur dan fasilitas-fasilitas

olah raga, tetapi juga dalam

bentuk bagaimana caranya

kita berhasil mengembangkan

ketrampilan sumber-sumber

daya manusia kita,” tambah

Pandey.

Pada bulan Oktober nanti Delhi

akan menyaksikan menyebarnya

para petugas lelaki dan wanita

yang berpakaian seragam,

berperilaku baik dan informatif,

siap untuk memperlihatkan

kepada dunia wajah keramahtamahan

India.

Para atlit dan penggemar olah raga dengan Queen’s Baton 2010 Delhi

Dan, sama seperti yang dilakukan

Beijing untuk Olimpiade 2008,

Delhi juga memanfaatkan

teknologi modern untuk

membebaskan kota Delhi dari

polusi selama berlangsungnya

pesta olah raga Persemakmuran

dan untuk jangka waktu yang

lama sesudahnya.

Melihat semua ini, optimisme

yang diucapkan oleh Ketua

Asosiasi Olimpiade India, Randhir

Singh, tentang kesanggupan

kota Delhi untuk menjadi tuan

rumah Olimpaide kiranya tidaklah

berlebihan. Namun demikian,

hal itu paling cepat bisa terjadi

pada tahun 2020, karena pada

tahun 2012 Olimpiade akan

diselenggarakan di London dan

pada tahun 2016 di Rio de Janerio.


(Para penulis adalah wartawan-wartawan

IANS)

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 38 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 39


Amul

Sebuah Brand untuk Menambah Gizi dan Tenaga

R.K. MISHRA

Bermula sebagai sebuah koperasi kecil-kecilan sekitar enam dasawarsa

yang lalu di sebuah kota yang tidak terlalu besar di negara bagian Gujarat,

sebelah barat India, Amul kini telah berkembang menjadi sebuah ikon

pemberdayaan desa, yang terus berkembang dan berproses sebagai ‘revolusi

putih’ yang telah memacu India menjadi produsen susu terbesar di dunia.

Pada tahun 1946 seorang pemuda cerdas dikirim untuk mengambil bidang studi

Dairy Engineering (Peternakan Susu) di Michigan State University, AS, dengan

beasiswa pemerintah, tetapi dia pulang ke India malah dengan gelar Master in

Metallurgy and Nuclear Physics.

Namun demikian, tak ada yang dapat merubah nasib yang telah diperuntukkan

bagi Dr. Verghese Kurien, yang berkat usaha-usahanya kearah revolusi putih

telah memenangkannya World Food Prize dan Magsaysay Award, disamping

berbagai pengakuan lainnya dari dalam dan luar India.

Terlahir sebagai seorang Kristen Suriah di negara bagian Kerala, India Selatan,

Kurien pindah ke kota Anand yang penuh debu untuk mendirikan sebuah

koperasi susu dan karena prestasi yang diraihnya, orang memanggilnya, sebagai

tanda penghargaan, ‘the milkman of India’ atau lelaki pemerah susu dari India.

Barangkali, testimoni terbaik mengenai prestasinya adalah berbagai jenis produk

yang kini di jual di banyak toko di seluruh India dan luar negeri, mulai dari

susu sampai kepada pasteurised butter (mentega), keju, es krim, coklat, clarified

butter, sweets (manis-manisan) dan produk-produk lain, termasuk susu probiotik

dan es krim bebas gula.

Melihat perkembangannya yang begitu pesat, nama Amul sebagai sebuah

brand name bersama maskot ikoniknya, seorang gadis cilik yang lucu memakai

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 40 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 41


ok polka-dot dan dengan

slogan-slogan yang catchy,

bahkan kini telah mengalahkan

perusahaan induknya, Gujarat

Cooperative Milk Marketing

Federation, dari segi nama dan

ketenaran.

“Amul adalah sebuah brand name

bagi hampir tiga juta petani,

anggota-anggota 15.300 koperasi

susu desa di seluruh Gujarat. Ini

adalah jantungnya Amul,” kata

Kurien, yang sudah pensiun.

“Inilah yang telah memberikan

kekuatan kepada Amul, dan hal

ini pulalah yang membuat Amul

begitu spesial.”

IANS

Perjalanan Amul – kata ini berasal

dari kata Sanskerta “amulya” yang

berarti sangat mulya – bermula

pada masa-masa pergolakan

sebelum India merdeka dan

ketika itu koperasi susu ini

didirikan dibawah pengarahan

Vallabhbhai Patel, yang pada

waktu itu menjadi Ketua Partai

Congress dan kemudian menjadi

menteri dalam negeri India

pertama.

Dua tahun kemudian, Kurien

kembali dari AS dan pada

tahun 1949 dia berhenti sebagai

pegawai negeri untuk membantu

mendirikan koperasi baru dengan

nama Kaira District Cooperative

Milk Producers’ Union.

Pendirian Union ini dalam

perjalanannya akhirnya

melahirkan Amul, sementara yang

lain tinggal sejarah, sebagaimana

sering dikatakan orang.

Pada tahun 1946, Amul baru

mampu memperoleh 1000 liter

susu setiap hari, tetapi sekarang

jumlahnya telah meningkat

menjadi sekitar 9,3 juta liter.

Koperasi dengan nilai $1,7 miliar

ini memiliki 15.300 masyarakat

desa sebagai anggota-anggotanya,

yang mencakup 2,9 juta produsen

susu.

Dalam tahun keuangan 2010-11,

omzet penjualan koperasi ini

diharapkan akan mencapai $2,2

miliar lebih.

“Amul adalah lambang prestasi

koperasi susu selama kurun

waktu 65 tahun lebih belakangan

ini,” ujar B.M. Vyas, mantan

Managing Director koperasi

tersebut.

“Secara sederhana, dapat

IANS

dikatakan bahwa Amul

melambangkan genesis sebuah

koperasi besar, kemenangan

teknologi asli India, kemampuan

pemasaran sebuah organisasi

petani, sebuah contoh

pengembangan produk susu yang

telah terbukti keberhasilannya,

produk-produk berkualitas tinggi

dengan harga terjangkau, dan

secara ringkas dapat kita katakan

bahwa sebuah bangsa yang

percaya diri sedang bangkit.”

Menurut Ramsinh Parmar, Ketua,

Kaira District Milk Union, upaya

pertama untuk mengorganisir

koperasi-koperasi susu

sebetulnya telah dimulai setelah

pemberlakuan Undang-Undang

Koperasi (Cooperative Societies

Act) tahun 1912.

“Tetapi baru pada tahun 1940-an

para petani di distrik (kabupaten)

Kaira mengorganisir diri kedalam

sebuah koperasi susu dan

memutuskan untuk mengolah

dan menjual susu langsung

Dr. Verghese Kurien

setelah mengumpulkannya

dari anggota-anggota mereka

sendiri,” kata Parmar. Kelahiran

Amul di Anand ikut mendorong

pertumbuhan koperasi susu di

India. Hal ini dimungkinkan

karena kepemimpinan yang

berdedikasi tinggi dan komited

dari Ketua/Pendiri Amul,

Tribhuvandas Patel, dan karena

visi dan profesionalisme dari

ayah Revolusi Putih, Dr. Verghese

Kurien, yang bekerja sebagai

seorang professional manager di

Amul.

Statistik memperlihatkan bahwa

walaupun langkah-langkah

untuk meningkatkan mutu ternak

perahan telah dimulai pada Pelita

Pertama (1951-1956), ketiadaan

sebuah pasar yang stabil dan

remuneratif untuk susu membuat

produksi susu stagnan.

Antara tahun 1951 dan 1970,

produksi susu meningkat hanya

sekitar satu persen setiap tahun

sementara pada kenyataannya

ketersediaan susu per kapita

menurun dengan angka yang

sama.

Lalu dilancarkanlah “Operation

Flood” atau Operasi Banjir Susu.

“Operation Flood inilah, yang

dilaksanakan oleh National Dairy

Development Board atau Badan

Pengembangan Susu Nasional

dari tahun 1970 sampai 1996 oleh

ketua-pendirinya, Dr. Kurien,

yang selama 33 tahun tanpa

putus-putusnya yang telah

merobah secara radikal cara-cara

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 42 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 43


pengembangan produk susu di

India,” kata pembantu dekatnya.

Program pengembangan susu

memberi jaminan kepada

koperasi-koperasi produsen susu

untuk dapat mengembangkan

usaha-usaha mereka di

desa-desa mereka dan untuk

mendapatkan teknologi modern.

Mereka juga dijamin untuk

dapat meningkatkan produksi

dan memperoleh peningkatan

penghasilan, tanpa melalui

perantara.

Yang lebih penting lagi, program

pengembangan susu ini telah

memberdayakan para produsen

susu skala kecil di desa-desa dan

memberikan lapangan kerja di

rumah-rumah mereka dengan

hasil yang tetap.

Kepemilikan tanah secara

marginal tercatat sekitar 57 persen

untuk penduduk di pedesaan

dan berkat koperasi-koperasi

serupa ini, usaha pemerasan

susu menjadi pilihan yang

menguntungkan bagi yang tidak

punya tanah. Hampir 70 juta

rumah tangga India memiliki

ternak dengan jumlah total 98

juta ekor sapi dan kerbau.

Sebagian besar produsen

susu memiliki satu atau dua

ekor ternak perahan dan

para produsen skala kecil ini

menghasilkan sekitar 70 persen

dari seluruh produksi susu India.

Secara pukul rata, 22,5 persen

penghasilan penduduk desa

berasal dari susu.

“Operation Flood pada esensinya

merupakan replika dari pola

Anand yang dilaksanakan

di seluruh India, dengan

menggabungkan koperasikoperasi

tingkat desa untuk

membentuk union-union di

tingkat distrik (kabupaten) yang

pada gilirannya bergabung

dengan federasi-federasi

pemasaran pada tingkat negara

bagian (provinsi),” ujar P.A.

Joseph.

“Dengan demikian seluruh

struktur koperasi federal

ditentukan oleh produsen susu

primer.”

Koperasi susu yang lebih besar

skalanya juga telah menjadi

sebuah role model yang ingin

ditiru oleh banyak negara

berkembang. Sekitar awal tahun

ini, delegasi-delegasi tingkat

tinggi dari Tanzania, Kenya,

Ethiopia dan Uganda berkunjung

ke Amul dan menyatakan

keinginan mereka untuk meniru

revolusi putih dengan model

yang sama di negara mereka

masing-masing. Bahkan Bank

Dunia telah mengumumkan

sebuah program ‘South-South

Experience Exchange Facility’

untuk meniru model Amul bagi

pengembangan proyek persusuan

di Afrika.

Gerakan koperasi susu telah

terasa dampaknya dalam

meningkatkan taraf hidup rakyat

di banyak negara lainnya. Banas

Dairy, misalnya, yang juga

anggota koperasi Amul, telah

memulai sebuah prakarsa unik

yang disebut Internet Sewa

Project di distrik Banaskantha,

negara bagian Gujarat.

Internet Sewa Project ini

merupakan sebuah usaha tingkat

desa untuk menjembatani jurang

digital dengan menyediakan kioskios

informasi pada koperasikoperasi

tingkat desa. Formulirformulir

resmi, lamaran-lamaran

pendidikan dan harga-harga pasar

setempat disediakan di kios-kios

informasi ini sehingga orang tidak

perlu harus pergi ke ibu kota

kabupaten untuk mendapatkan

informasi-informasi tersebut.

Dari Banaskantha ke ibu kota

IT, Bangalore, Amul telah

mengharumkan namanya dalam

kehidupan setiap orang India.

Produk-produk yang dihasilkan

Amul antaranya adalah susu

dan mentega, curd, keju,

coklat dan es krim yang telah

disucihamakan.

Demikianlah cerita tentang Amul,

dan juga tentang India.

Seperti yang dikatakan

oleh Kurien: “Misi Amul

Amul yang dikenal dengan humor

topikalnya dalam mengiklankan produkproduknya

mencoba mengganggu Paul sang

Oktopus pada Piala Dunia FIFA 2010.

adalah pemberdayaan dan

pengembangan para petani,

nutrisi untuk masyarakat dan,

jauh dalam lubuk sanubarinya,

pembangunan India secara

nyata.”

Amul tidak bisa dilihat secara

sederhana sebagai sebuah

usaha bisnis. Dia adalah sebuah

lembaga yang diciptakan oleh

para produsen susu sendiri

terutama untuk memelihara

kepentingan mereka sendiri

di bidang ekonomi, sosial dan

demokrasi. Dalam hal Amul,

keuntungan yang diperolehnya

disalurkan kembali kepada para

petani. Sirkulasi modal dengan

nilai tambah seperti ini tidak

saja menguntungkan para petani

sebagai final beneficiary, tetapi

pada gilirannya juga memberikan

sumbangan bagi pembangunan

masyarakat desa. Inilah yang

merupakan kontribusi paling

signifikan yang diberikan oleh

koperasi-koperasi model Amul.

Kini Amul adalah sebuah

lambang untuk banyak hal:

untuk produk-produk berkualitas

tinggi yang dijual dengan harga

terjangkau, untuk jaringan

koperasi dengan gerak cepat,

untuk kemenangan teknologi asli

dalam negeri, untuk kemampuan

pemasaran oleh organisasi

petani. Dan yang terpenting

lagi adalah bahwa Amul telah

tumbuh menjadi sebuah model

pembangunan desa yang paling

sukses.


Penulis adalah seorang wartawan.

Foto-foto: Disumbangkan oleh Amul.

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 44 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 45


FARMASI UNTUK DUNIA

N.B. RAO

Tetapi kinerja obat-obat nonbranded

(generik) diperkirakan

akan terus menguat pada tahuntahun

mendatang. Menurut data

IMS, penjualan obat-obat generik

dari resep dokter di seluruh

dunia meningkat sebesar 7,7

persen selama 12 bulan sampai

akhir September 2009, dibanding

3,6 persen pada tahun 2008.

Para ahli IMS Health

memperkirakan pasar farmasi

global akan mengalami

pertumbuhan sebesar empat

sampai enam persen pada 2010,

dengan nilai total penjualan

lebih dari US$ 825 miliar. Tahun

Clinigene, sebuah anak perusahaan Biocon,

adalah sebuah Organisasi Penelitian Klinikal

kelas dunia.

lalu, produk obat-obat generik

global terjual kurang dari US$ 85

miliar.

Perusahaan konsultan AS ini

meramalkan bahwa penjualan

produk-produk farmasi global

akan mengalami pertumbuhan

empat sampai tujuh persen

Compound Annual Growth

Rate (CAGR) pada tahun

2013, dengan nilai pasar

global produk-produk farmasi

diperkirakan akan mencapai

hampir US$ 1 trilyun dalam masa

tiga tahun.

India adalah salah satu dari tujuh

‘pharmerging’ markets atau pasar

farmasi yang sedang bertumbuh,

bersama dengan negara-negara

BRIC lainnya: Brazil, Russia

dan China, disamping Turki,

Korea Selatan dan Mexico, yang

diperkirakan akan mendorong

India sedang mengalami

pertumbuhan cepat sebagai

pusat industri farmasi untuk

dunia, dimana produsenprodusen

obat domestik dan

internasional berlomba dalam

penanaman modal besar untuk

mendirikan unit-unit manufaktur,

laboratorium-laboratorium

penelitian dan pengembangan

dan fasilitas-fasilitas lainnya.

Industri farmasi internasional

tengah mengalami perubahanperubahan

dramatis, karena

pemerintah, baik di negaranegara

maju maupun negaranegara

berkembang, sedang

berpikir untuk memangkas

anggaran kesehatan yang harus

mereka sediakan dalam jumlah

yang sangat besar. Dengan

semakin banyaknya jumlah obatobat

populer yang sudah habis

masa patentnya di tahun-tahun

mendatang, banyak negara akan

memilih untuk memproduksi

obat-obat generik dengan harga

yang jauh lebih rendah, untuk

menghemat ongkos-ongkos.

IMS Health, sebuah perusahaan

yang bergerak di bidang

informasi konsultan kesehatan

di AS, memperkirakan bahwa

dalam masa lima tahun yang

akan datang, produk-produk

yang sekarang ini penjualannya

bisa menghasilkan US$ 137

miliar diperkirakan harus

berkompetisi dengan obatobat

generik. Produk-produk

tersebut mencakup antaranya

blockbuster drugs (masingmasing

dengan omzet penjualan

US$ 1 miliar lebih per tahun)

seperti Lipitor (produksi Pfizer,

salah satu perusahaan farmasi

terbesar di dunia), Plavix

(Bristol Meyer Squibb, Sanofi-

Aventis) dan Seretide/Advair

(GlaxoSmithKline – GSK).

Lipitor, obat untuk menurunkan

tingkat kolesterol, menghasilkan

omzet penjualan sebesar US$

12 miliar untuk Pfizer tahun

lalu, tetapi akan menghadapi

kompetisi dengan obat-obat

generik mulai tahun 2011.

Plavix, obat untuk mencegah

pengentalan darah, yang

mendatangkan penghasil sebesar

US$ 6,1 miliar lebih pada

tahun 2009 untuk Bristol Meyer

Squibb akan kehilangan hak

patennya pada tahun 2012. Obat

ini sedang dipasarkan secara

bersama oleh Sanofi-Aventis.

GSK, yang berhasil menangguk

US$ 4 miliar dari penjualan obat

penyembuh asma, Seretide/

Advair, akan habis masa

patentnya pada tahun 2010 ini.

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 46 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 47


Bagaimana anda melihat

prospek untuk sektor farmasi

India dalam masa beberapa

tahun mendatang, khususnya

dengan semakin banyaknya

obat-obat yang akan habis

masa berlaku patennya yang

nilainya miliaran dolar?

Perusahaan-perusahaan farmasi

India sangat bagus posisinya

untuk memanfaatkan peluang

yang diberikan oleh obat-obat

blockbuster yang akan habis

masa berlaku hak patennya

dalam beberapa tahun

mendatang. Para pengusaha

obat-obatan India tidak saja

telah mendapat persetujuan dari

US FDA, tetapi mereka juga

telah dilengkapi sebaik-baiknya

dengan ekosistim produksi yang

kuat dan cost-effective.

Para produsen obat-pobat

generik India dapat menarik

manfaat yang sebesar-besarnya

dengan beralihnya AS, pasar

farmasi terbesar di dunia,

kepada obat-obat generik

untuk mengurangi tekanan

atas anggaran pemeliharaan

kesehatan dan semakin

keringnya obat-obat baru di

AS karena FDA mulai hati-hati

dalam memberikan persetujuanpersetujuan.

‘Perusahaan-perusahaan farma

India bisa berharap untuk mencapai

pertumbuhan yang signifikan’

Sebuah wawancara dengan Kiran Mazumdar-Shaw,

Ketua dan Managing Director, Biocon Ltd, perusahaan

obat-obatan terkemuka di India.

Lebih-lebih lagi, dalam strategi

baru mereka perusahaanperusahaan

global akan

memangkas ongkos-ongkos

guna meningkatkan margin

setelah resesi ekonomi.

Mereka sedang berupaya

untuk menemukan dan

mengembangkan obat-obat

baru dengan ongkos yang lebih

rendah melalui outsourcing

dan contract research,

yang pada gilirannya akan

membantu bertumbuhnya

penelitian klinikal India yang

mampu bersaing di bidang

harga dan kegiatan-kegiatan

manufakturingnya.

Disamping ekspor, konsumsi

obat-obatan domestik

diperkirakan akan mengalami

peningkatan bersamaan

dengan meningkatnya tingkat

income masyarakat kelas

menengah India yang sedang

semakin tumbuh. Jadi, secara

keseluruhan perusahaanperusahaan

obat-obatan

India dapat mengharapkan

suatu pertumbuhan yang

signifikan.

Apakah anda melihat

perusahaan-perusahaan

multi-national (MNCs) dapat

mengambil manfaat dari

trend ini dan dari pendirian

fasilitas-fasilitas research and

development (R&D), fabrikfabrik

obat dan jaringan

distribusi di India?

Saya melihat akan semakin

banyaknya kerjasama di frront

obat-obat generik seperti yang

sudah ada antara Pfizer dan

Aurobindo, Claris dan Strides,

dan GlaxoSmithKline dengan

Dr Reddy’s Laboratories.

Saya tidak dapat meramalkan

perlunya MNCs untuk

mendirikan R&D atau fasilitasfasilitas

manufakturing di

India untuk obat-obat generik

karena mereka telah memiliki

infrastruktur pemasaran, yang

mungkin akan mereka gunakan

untuk menyalurkan obat-obat

generik.

Pasar-pasar yang sedang

tumbuh seperti India jelas

adalah sebuah peluang besar

untuk memasarkan obat-obat

generik yang sedang dilirik

oleh MNCs dengan penuh

minat. Pengaturan kerjasama

dengan perusahaan-perusahaan

India adalah sebuah win-win

bagi kedua belah pihak dan

memberikan kepada MNCs

sebuah pintu masuk yang

cost-effective melalui jaringan

pemasaran yang sudah mereka

miliki.

Bagaimana tentang ekspor

produk-produk farmasi India?

Apakah anda optimistik tentang

perusahaan-perusahaan

India yang akan memperluas

kehadiran mereka di seberang

laut?

Seperti yang saya katakan,

ekspor obat-obatan India

akan mencapai peningkatan

baru dalam beberapa tahun

mendatang. Perusahaanperusahaan

obat India sudah

hadir secara substansial di

Amerika Serikat, pasar obat

terbesar di dunia, dan di tujuh

negara Eropa.

Kita juga telah hadir secara

meyakinkan di pasar-pasar

yang sedang mengalami

pertumbuhan seperti Russia,

Amerika Latin, dan Afrika.

Sektor industri obat India

telah mengalami peningkatan

dalam volume ekspornya

dalam tahun-tahun terakhir ini.

Perusahaan-perusahaan India

dan cabang-cabangnya juga

telah memperoleh Approval

(persetujuan) untuk beberapa

Abbreviated New Drug

Applications (ANDAs) di AS.

Apakah anda memperkirakan

perusahaan-perusahan

obat-obatan India untuk

meningkatkan kehadiran

internasional mereka, dan terus

melakukan akuisisi di luar

negeri?

Bahkan ketika MNCs melakukan

kerjasama dengan perusahaanperusahaan

India untuk pasar

domestik kita, para pengusaha

obat India kemungkinan akan

terus memperluas kehadiran

global mereka melalu merger

dan akuisisi (M&A). Akuisisiakuisisi

ini mungkin saja tidak

bersifat transformational,

tetapi sebagai gantinya

akuisisi ini akan memperkuat

kemampuan strategi mereka

dengan membantu pihak

India memperoleh intellectual

property assets atau akses

kepada jaringan-jaringan

pemasaran dan distribusi.

Sebuah contoh yang bagus

adalah akuisisi yang dilakukan

Biocon terhadap mitra kami,

Nobex Corporation, sebuah

perusahaan intellectual

property (IP) di AS. Akuisisi

ini memberikan kepada kita

sebuah IP platform yang sangat

berharga serta pemilikan atas

program-program oral insulin

and oral brain-type natriuretic

peptide (BNP) untuk pengobatan

penyakit jantung (cardiovascular

disease).

Bagaimana bentuk trend

global menurut persepsi anda

dalam bisnis obatan-obatan

internasional? Bagaimanakah

kemungkinan dampak biotechnology

atas sektor ini?

Ada empat trend yang jelas,

yang mengindikasikan bahwa

industri obat-obatan sedang

membenahi kembali diri mereka

untuk menghadapi tantangantantangan

sekarang ini, seperti

miskinnya produktivitas R&D

dan munculnya peluangpeluang

pasar dengan

menjalankan strategi-strategi

yang melibatkan:

• Diversifikasi Portofolio

untuk menyertakan produkproduk

yang batas waktu

pengaturannya lebih pendek.

Misalnya, diagnostics, devices,

delivery systems obat-obat baru,

vaccines, obat-obat generik,

bio-similars, dan sebagainya.

• Memfokuskan perhatian pada

pasar-pasar yang baru muncul

untuk mencapai pertumbuhan

yang top line.

• Mengakuisisi aset-aset

R&D untuk mengisi kembali

R&D pipeline yang sedang

mengalami kekeringan dengan

program-program yang dapat

mempercepat waktu pemasaran.

• Mengurangi resiko-resiko dan

ongkos-ongkos R&D dengan

model-model baru programprogram

bersama yang memikul

resiko secara bersama dan

pelayanan-pelayanan penelitian

melalui outsourcing.

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 48 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 49


pertumbuhan industri farmasi

global dalam tahun-tahun

mendatang.

Yang menarik, pasar

produk-produk farmasi India

diperkirakan akan mengalami

pertumbuhan dengan laju yang

lebih kencang. Perusahaan

konsultasi internasional,

McKinsey & Company,

memperkirakan bahwa pasar

domestik akan tumbuh antara

10 dan 14 persen per tahun,

dengan total pemasukan sebesar

US$ 20 miliar menjelang tahun

2015.

Secara keseluruhan, sektor

farmasi di India, termasuk

penjualan domestik, ekspor,

off-shoring oleh perusahaanperusahaan

global, contract

manufacturing dan R&D – juga

diperkirakan akan menjadi dua

kali lipat mencapai angka US$

40 miliar pada tahun 2015.

Perusahaan-perusahaan

manufaktur farmasi terkemuka

di India termasuk Cipla Ltd,

Dr Reddy’s Laboratories,

Ranbaxy Laboratories Ltd, Sun

Pharmaceutical Industries Ltd,

Lupin Ltd, Piramal Healthcare,

Glenmark Pharmaceuticals Ltd

dan Jubilant Organosys Ltd

adalah diantara perusahaanperusahaan

yang diperkirakan

akan meraih keuntungan secara

signifikan karena peralihannya

ke pembuatan obat-obat generik

dalam tahun-tahun yang akan

datang.

Perusahaan-perusahaan obatobatan

India mengekspor

produk-produk mereka ke 200

lebih negara di dunia termasuk

pasar-pasar AS, Eropa Barat,

Jepang dan Australia, yang

sangat ketat aturan-aturannya.

Semakin tumbuhnya kehadiran

para manufaktur obat-obatan

India di AS telah mendorong

Badan Pengawasan Makanan

dan Obat-obatan AS (US Food

and Drug Administration

– US FDA) menerima produk-

produk sekitar 175 perusahaan

obat-obatan di India. US

FDA juga telah membuka

kantor-kantornya di New

Delhi dan Mumbai untuk

mengkoordinasikan kegiatankegiatannya

di India.

Kehadiran perusahaan farmasi

India di AS dewasa ini sedang

mengalami pertumbuhan

yang signifikan. Pada tahun

2009, misalnya, dari 483

jenis produk generik yang

diterima oleh US FDA, 138

diantaranya disumbangkan

oleh perusahaan-perusahaan

India yang dalam istilah mereka

disebut Abbreviated New Drug

Applications (ANDAs).

Sebaliknya, perusahaanperusahaan

obat internasional

juga giat meningkatkan

kehadirannya di India, dan

berusaha untuk meningkatkan

ketrampilannya di bidang R&D

dan keahlian para sainstis dan

teknisi India. Karena India ikut

menanda tangani Trade-Related

Aspects of Intellectual Property

Rights-compliant patent regime,

perusahaan-perusahaan farmasi

internasional kini sedang

memperkuat kehadiran mereka

di India.

India kini sedang mengalami

pertumbuhan sebagai pasar

penting obat-obatan, khususnya

dengan semakin banyaknya

jumlah asuransi-asuransi

kesehatan dan menjamurnya

fasilitas-fasilitas pemeliharaan

kesehatan yang top-class di

banyak kota.

Pertumbuhan sektor farmasi

secara sehat di India ini akan

terus menarik investasi-investasi

secara besar-besaran, baik

dari perusahaan-perusahaan

internasional maupun domestik,

pada tahun-tahun yang akan

datang. Dan dunia akan

semakin bergantung kepada

India sebagai sumber penting

obat-obat bermutu dengan harga

terjangkau.


(Sumber: IBEF)

Sebuah unit dari Laboratorium Dr. Reddy bernama The Active Pharmaceutical Ingredients Unit

Fasilitas Manufacturing pada Ranbaxy Laboratories Ltd.

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 50 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 51


MENYADAP SANG SURYA

ENERGI SURYA UNTUK PEMBANGKITAN TENAGA

LISTRIK SEBESAR 20.000 MW

JOYDEEP GUPTA

Sebuah peradaban purba

seperti India selalu

menyembah matahari

sebagai dewa yang menciptakan

kehidupan dan memeliharanya.

Dan, seperti yang dikatakan oleh

Perdana Menteri Manmohan

Singh: “Kepada sumber

energi inilah umat manusia

harus berpaling untuk dapat

memenuhi tantangan ganda,

yaitu pengamanan energi dan

perubahan iklim.”

Untuk mencapai tujuan ini,

India telah merumuskan

rencana-rencana ambisius untuk

membangkitkan tenaga listrik

sebesar 20.000 MW dari tenaga

surya menjelang tahun 2022,

peningkatan seratus kali lipat

dalam masa 12 tahun berikutnya,

sebuah proyek tenaga listrik

terbesar di dunia.

Dalam pernyataannya bahwa

India telah mulai bergerak maju

dalam pemanfaatan tenaga surya

dengan peluncuran Jawaharlal

Nehru National Solar Mission oleh

Perdana Menteri awal tahun ini

dibawah brand name Solar India,

Menteri Tenaga Listrik Baru dan

Yang Dapat Diperbarui, Farooq

Abdullah, mengatakan bahwa

sekitar 1000 MW tenaga listrik

akan dibangkitkan melalui ratusan

solar power plants di seluruh

India dalam masa tiga tahun yang

akan datang.

“Dalam fase kedua, kami

bermaksud untuk membangkit

tenaga listrik sebesar 2000 MW

lagi menjelang 2015 dan terus

berusaha untuk mencapai target

20.000 MW menjelang 2022.

Dengan semakin banyaknya para

pemain yang ingin ikut ambil

bagian dalam pendirian solar

power plant, biaya pendirian

sebuah power plant akan

menurun sehingga tenaga surya

dapat dinikmati semua orang

dengan harga terjangkau,” ucap

Abdullah.

Tenaga surya dapat merubah

India dalam banyak cara. Seperti

yang dikatakan Perdana Menteri

pada waktu peluncuran tersebut,

hal ini dapat menjadi scientific

and technological frontier

berikutnya bagi India setelah

mencapai kemajuan-kemajuan

di bidang tenaga atom, ruang

angkasa dan teknologi informasi.

Kesuksesan misi ini “mempunyai

potensi untuk merubah prospek

India di bidang tenaga listrik serta

memberikan sumbangan kepada

upaya-upaya nasional dan global

untuk mengatasi perubahan

iklim.”

Target pembangunan kapasitas

pembangkitan tenaga listrik

sebesar 20.000 MW pada tahun

2022 “memang ambisius”, aku

Perdana Menteri Manmohan

Singh, “tetapi saya percaya

dengan tulus bahwa target ini

adalah dua kali lipat lebih besar

dan kita bisa bekerja dengan

serius untuk mencapainya sebagai

sebuah upaya dengan prioritas

nasional.”

Sebagai negara yang melimpah

tenaga suryanya hampir sepanjang

tahun, India berada pada posisi

yang sangat menguntungkan

untuk mengembangkan tenaga

surya. India memperoleh sekitar

5000 trilyun kWh per tahun

diatas kawasan daratannya yang

sebagian besarnya menerima 4-7

kWh per meter persegi setiap hari.

Masalah pokok dengan

penyadapan cepat tenaga surya

adalah ongkosnya yang tinggi

dibandingkan dengan sumbersumber

tenaga yang lain seperti

batu bara. Diperkirakan bahwa

untuk menghasilkan satu unit

tenaga listrik surya, dibutuhkan

biaya sekitar Rs.17,50, lebih dari

dua kali lipat biaya pembangkitan

listrik dengan batu bara.

Kementerian Tenaga Listrik Baru

dan Yang Dapat Diperbarui

atau The Ministry of New and

Renewable Energy (MNRE),

mengatakan bahwa tujuan misi ini

ialah “untuk menciptakan kondisi

melalui peningakatan cepat

kapasitas dan inovasi teknologi,

guna menurunkan ongkos-ongkos

pembangkitan tenaga listrik.”

“Misi ini merencanakan untuk

mencapai paritas grid menjelang

tahun 2022 dan paritas dengan

tenaga listrik dari batu bara pada

tahun 2030,” kata dokumen misi

MNRE.

Faktor-faktor ekonomi tenaga

listrik surya tampaknya lebih

baik karena harga listrik yang

dibangkitkan oleh sumber-sumber

lain terus meningkat. Harga listrik

yang diperdagangkan secara

internal telah mencapai Rs.7 per

unit untuk base loads dan sekitar

Rs.8,50 per unit pada periodeperiode

puncak.

Ongkos ini bisa meningkat lagi

karena negara berencana untuk

menggunakan batu bara impor

guna memenuhi kebutuhan

listriknya. Harga listrik harus

disesuaikan dengan ketersediaan

batu bara di pasar internasional

dan harga untuk membangun

infrastruktur impor. Hal lain yang

harus diperhatikan adalah karena

ongkos degradasi lingkungan

bergantung kepada penambangan

batu bara, harga bahan mentah ini

akan terus naik.

Karena masalah kekurangan

tenaga listrik semakin serius,

India sedang meningkatkan

penggunaan tenaga listrik

diesel yang harganya sangat

mahal, Rs.15 per unit. Dalam

situasi inilah keharusan untuk

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 52 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 53


“Juga perlu dilakukan upayaupaya

untuk menjamin agar

lampu-lampu LED (Light Emitting

Diode) dipakai secara luas

untuk penerangan jalan-jalan,

kantor-kantor pemerintah,

gedung-gedung komersil dan

rumah-rumah tangga guna

mengurangi pemakaian bohlam

konvensional dan lampu-lampu

compact fluorescent lamps (CFL)

yang kurang efisien dan boros

listrik,” Menteri Farooq Abdullah

menambahkan.

memanfaatkan tenaga surya

dianggap urgen dan layak agar

negara dapat memenuhi kebutuhan

listriknya untuk jangka panjang.

Misi Tenaga Surya India ini akan

mengadopsi sebuah pendekatan

tiga fase, dengan sisa pelaksanaan

Pelita 11 dan tahun pertama Pelita

12 (sampai 2012-13) sebagai

Fase 1, sisanya selama empat

tahun lagi dari Pelita 12 (2013-17)

sebagai Fase 2 dan Pelita 13

(2017-22) sebagai Fase 3.

Menurut MNRE, fase pertama

akan difokuskan kepada mencari

pilihan-pilihan ringan dalam

pembangkitan listrik tenaga surya;

mempromosikan off-grid systems

untuk melayani penduduk tanpa

harus memakai tenaga listrik

komersial dan penambahan

kapasitas secara sederhana dalam

grid-based systems. Pada Fase

2, setelah mempertimbangkan

pengalaman-pengalaman yang

diperoleh pada tahun-tahun

pertama, kapasitas pembangkitan

akan ditingkatkan untuk

menciptakan kondisi untuk

meningkatkan produksi tenaga

listrik surya di India.

Tujuan ini, kata MNRE, akan

dicapai dengan membangun

kolektor tenaga surya pada areal

seluas 15 juta meter persegi

menjelang 2017 dan 20 juta meter

persegi menjelang 2022.

“Target yang ambisius ini untuk

tahun 2022 sebesar 20.000 MW

atau lebih akan bergantung kepada

pembelajaran pada dua fase

pertama, yang jika berhasil, dapat

menciptakan kondisi-kondisi

bagi pembangkitan tenaga listrik

tenaga surya yang kompetitif,”

kata kertas kerja misi ini.

Pemerintah, melalui undangundang,

akan mengharuskan

gedung-gedung untuk dilengkapi

dengan solar heater dan

menciptakan mekanisme yang

efektif untuk pensertifikasian

dan penentuan rating bagi

para pengusaha yang ingin

mengajukan permohonan bagi

pembangkitan listrik bertenaga

surya.

Misi Solar India akan memfasilitasi

pengembangan alat-alat

pembangkitan listrik tenaga

surya secara individual melalui

badan-badan kelistrikan setempat,

dan mendukung peningkatan

teknologi dan kapasitas

pembangkitan melalui pinjamanpinjaman

lunak.

Seperti yang disampaikan Perdana

Menteri, “inovasi di bidang

teknologi akan menjadi faktor

kunci untuk menjamin suksesnya

misi ini.”

“Kita perlu menemukan

cara-cara untuk mengurangi

intensitas ruang untuk aplikasi

pembangkitan tenaga listrik surya,

termasuk melalui penggunaan

teknologi-nano. Cost-effective dan

penyimpanan tenaga surya setelah

jam-jam panas terik akan menjadi

sangat kritis bagi kemunculannya

sebagai sebuah sumber tenaga

listrik utama. Sementara itu, kita

perlu juga menjajagi solusi-solusi

hibrida yang menggabungkan

pembangkitan listrik tenaga

surya dengan tenaga listrik yang

dibangkitkan dengan gas, biomass

atau bahkan batu bara,” katanya.

Industri-industri di India jelas

harus memainkan peranan utama

untuk menjamin keberhasilan

misi ini, dan untuk ini mereka

harus mendirikan “Solar Valleys”

atau Lembah Surya di seluruh

India seperti Lembah Silikon”

yang telah berdiri, kata Perdana

Menteri.

“Lembah-lembah ini akan

menjadi pusat pengembangan

solar science, solar engineering

dan solar research, fabrikasi

dan manufakturingnya. Saya

mendesak agar industri-industri

di India untuk dapat melihat misi

solar nasional ini sebagai sebuah

peluang bisnis yang sangat besar.”

Di pihaknya, Menteri Abdullah

mengakui bahwa ongkos

pendirian sebuah solar power

plant cukup tinggi – Rs.150

juta untuk 1 MW – tetapi

menambahkan bahwa dalam

jangka panjang, listrik dari

sumber energi yang bersih

dan tidak akan habis ini akan

sangat menguntungkan dalam

banyak hal dibanding dengan

sumber-sumber energi dari bahan

bakar fosil dan sumber-sumber

konvensional.

“Kami sedang merencanakan

untuk memasang solar panel di

sekitar 20.000 menara seluler di

seluruh India untuk mengganti

gen-set diesel yang digunakan

untuk mengoperasikan menaramenara

tersebut dan mengurangi

dampak jeleknya terhadap

lingkungan,” ujarnya.

Untuk mengurangi pemakaian

kayu bakar dan gas untuk

memasak, Menteri Abdullah

menyarankan peningkatan

pemakaian solar cooker dan solar

heater.

“Solar cooker kini telah dipakai

secara luas di Shirdi, negara

bagian Maharashtra, Mount Abu di

Rajasthan dan Tirupati di Andhra

Pradesh untuk memasak bagi

sekitar 20.000-25.000 orang setiap

hari. Hal ini perlu ditingkatkan

secara besar-besaran untuk

melestarikan sumber-sumber alam

dan mengurangi ketergantungan

kepada impor bahan-bahan bakar

fosil,” ujarnya.


Penulis adalah seorang wartawan freelance.

Foto: Sumbangan Ministry of New &

Renewable Energy, Government of India.

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 54 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 55


Institut Desain Nasional

Berubah dengan Zaman

pada desain-desain produk,

tekstil, grafis, otomatif, transpor

dan interior.

NID, seperti yang dikatakan

oleh piagam tujuan-tujuannya,

dimaksudkan untuk memelopori

desain industri dan sainstifik

pada tahun 1960-an, karena pada

waktu itu bentuk pertumbuhan

yang diinginkan oleh Perdana

Menteri pertama India, Jawaharlal

Nehru, memberi penekanan

kepada perangkat keras industri.

NID dikembangkan menurut

model Bauhaus and Ulm School

of Design di Jerman.

Tetapi globalisasi dan

pertumbuhan sektor-sektor

industri sekunder dan tertier

yang lunak dan berkembang

sesuai desain telah

mengharuskan lembaga ini

untuk mereorientasikan policy

pendidikan dan tujuan-tujuannya.

Peningkatan kepedulian

terhadap masalah lingkungan

dan peningkatan ongkos-ongkos

telah merangsang NID untuk

mempertimbangkan programprogram

masa depan yang

lebih berkesinambungan dan

bersahabat dengan lingkungan.

“NID sedang memusatkan

perhatian pada program-program

desain yang lebih inklusif,

eco-friendly, bertanggung jawab

dan berkesinambungan dengan

sebuah perspektif global,” kata

Direkturnya, Pradyumna Vyas.

Namun demikian, Vyas, yang

sedang memelopori sebuah

modul pendidikan yang baru

untuk NID, menjelaskan bahwa

“disamping berusaha untuk

merumuskan arahan yang lebih

mengglobal dalam creative

designing, NID juga ingin

mempertahankan identitasnya

dan sistim-sistim kebudayaan

tradisional India.”

“Kami sedang berusaha untuk

meninjau kembali kursus-kursus

yang diberikan dan memperbaiki

sistim pendidikan desain dan

MADHUSREE CHATTERJEE

Institut Desain Nasional atau

The National Institute of

Design (NID) yang terletak di

kota bisnis dan industri tekstil,

Ahmedabad, di negara bagian

Gujarat di pantai barat India, akan

berumur 50 tahun pada tahun 2011.

Lembaga ini berfungsi sebagai

badan berotonomi dibawah

Departemen Policy dan Promosi

Industri dari Kementerian

Perdagangan dan Industri dan

terdaftar sebagai salah satu dari

25 Sekolah Tinggi Desain top

di Asia dan Eropa. NID sering

digambarkan sebagai tulang

punggung India di bidang desain,

yang telah berhasil memelopori

gerakan desain selama beberapa

dasawarsa terakhir.

Menjelang peringatan HUTnya

yang ke-50, NID akan

melancarkan serangkaian event

selama satu tahun yang akan

mencapai puncaknya dengan

sebuah acara yang gemerlapan

pada bulan Desember 2011.

Tetapi, sebagai jantung peringatan

tahun emasnya ini adalah

sebuah perubahan penting

dalam kebijakan desain NID,

yang kini mempromosikan

sebuah pendekatan yang lebih

inklusif dan hijau terhadap

desain, beda dengan masa empat

dasawarsa terakhir, dimana dia

menyalurkan energi kreatifnya

untuk menciptakan desainerdesainer

yang dinamis yang dapat

memberikan bentuk kepada

industri desain India berkembang

dalam masa tiga dasawarsa penuh

pristiwa terakhir ini dengan

memberikan pendidikan khusus.

Bidang keahlian NID terletak

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 56 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 57


infrastruktur sehingga dia bisa

berkesinambungan untuk periode

50 tahun berikutnya,” kata

Direktur NID.

Sebuah komponen penting

dalam modul desain yang baru

NID adalah sebuah program

untuk melakukan intervensi

katalisit dan keikutsertaan pada

industri-industri milik pemerintah

maupun swasta. Hal ini sesuai

dengan National Design Policy

yang diumumkan pada tahun

2007 yang berusaha untuk

mengkonsolidasikan secara

strategis arti penting desain

dalam pembangunan di bidang

sosial, industri dan ekonomi

guna meningkatkan mutu

produk-produk dan pelayanan;

dan memposisikan India sebagai

international design brand yang

telah teruji secara global.

Design Clinic yang baru milik

NID, yang dibangun dengan

biaya sekitar Rs.730 juta ($15

juta), sebuah program intervensi

yang unik untuk perusahaanperusahaan

mikro, kecil dan

menengah yang terus bertumbuh

berdasarkan program National

Manufacturing Competitiveness

Programme. Program yang

dirancang dan dilaksanakan

oleh NID ini dengan kerjasama

pemerintah, akan membantu

industri-industri pada sektorsektor

mikro, kecil dan menengah

meningkatkan value chain

mereka dengan membantu

mereka di bidang desain dalam

proses produksinya.

Sebagian besar industri-industri

berskala mikro, kecil dan

menengah di India masih belum

menyadari pentingnya desain

dalam proses produksi dan

packaging, sehingga sering kalah

bersaing dalam pasar global, ujar

Vyas. Klinik-klinik desain NID

akan menjangkau 200 perusahaan

mikro, kecil dan menengah

melalui lokakarya-lokakarya,

sensitisasi, seminar-seminar

dan intervensi langsung selama

periode dua setengah tahun.

Sekolah desain ini juga membantu

pemerintah mengembangkan

G-Mark, sebuah standar desain

seperti sertifikasi International

Organisation for Standardisation

(ISO) untuk menjamin uniformitas

yang kualitatif dalam desaindesain.

“Inilah bidang-bidang dimana NID

dapat memainkan peranan paling

menentukan dalam membantu

India memetakan sebuah designcourse

yang berkesinambungan,

bersahabat lingkungan dan

berorientasi ke pasar,” kata Vyas.

Skim yang sungguhpun futuristik

ini cocok dengan moto konseptual

NID tentang sebuah program

desain yang multi disipliner, baik

dari segi pendidikan maupun

jangkauan keluarnya (outreach),

tambah Vyas.

Dalam sebuah studi persiapan

(preparatory study) pada tahun

1958, berjudul “India Report”

oleh desainer-desainer industrial

Amerika, Charles dan Ray

Eames, mereka menekankan

perlunya untuk “untuk

mempersatukan semua disiplin

yang telah muncul dalam zaman

kita – sosiologi, engineering,

filosofi, arsitektur, ekonomi,

komunikasi, fisika, psikologi,

sejarah, melukis, antropologi”

dalam menciptakan desain-desain

produksi modern.

Kedua Eames yang datang ke

India dengan Beasiswa Ford

Foundation ini diminta oleh

pemerintah untuk membuat

sebuah asesmen tentang apa yang

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 58 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 59


diperlukan oleh desain-desain

produk dan industri di India pada

tahun 1960-an.

Laporan mereka, sebuah

pernyataan tentang kepedulian

dan strategi-strategi yang

ditimbulkan oleh Industrial

Policy Resolution India tahun

1953, lebih lanjut menyatakan:

“... Kami merekomendasikan

pendirian sebuah institute of

design, research and service

yang akan menjadi sebuah

tempat pelatihan lanjut. Lembaga

ini akan berada dibawah

Kementerian Perdagangan dan

Industri – tetapi harus memiliki

otonomi yang cukup untuk

melindungi tujuan utamanya dari

disintegrasi birokratik.”

Laporan tersebut menjadi dasar

bagi pendirian NID.

NID mempunyai tiga kampus,

sebuah kampus untuk pascasarjana

kini sedang dibangun di

Gandhinagar di negara bagian

Gujarat dan sebuah pusat

Penelitian dan Pengembangan

di Bengaluru dan kampus utama

untuk belajar di Ahmedabad. NID

menawarkan program-program

pendidikan profesional pada

tingkat under-graduate dan postgraduate

dengan lima fakultas/

jurusan dan 16 design domain

yang berbeda.

NID telah memiliki programprogram

pertukaran dan

hubungan pedagogis dengan

35 institusi di luar negeri. Dia

mencadangkan 10 persen

bangkunya untuk mahasiswamahasiswa

asing.

NID siap untuk meluaskan

jaringannya ke empat lokasi lagi

di seluruh India, masing-masing

di Andhra Pradesh, Assam,

Haryana dan Madhya Pradesh.

“Kampus-kampus baru ini

merupakan kampus-kampus

independen seperti IIT (Indian

Institutes of Technology)

dalam operasinya, tetapi NID-

Ahmedabad akan menstruktur

kembali strategi, kurikulum dan

pengembangan infrastrukturnya,”

ujar Direktur NID.

Struktur Program NID secara

keseluruhannya merupakan

kombinasi antara teori,

ketrampilan-ketrampilan, proyekproyek

desain dan pengalamanpengalaman

lapangan, didukung

oleh studio-studio desain yang

canggih, skills and innovation

labs dan knowledge management

centres. Studi-studi desain interdiscipliner

dalam sains dan seniseni

liberal dapat memperluas

perspektif mahasiswanya.

NID berusaha untuk dapat meraih

manfaat yang sebesar-besarnya

dari pertumbuhan besar di bidang

desain sebagai sebuah pilihan

karir yang banyak dicari orang.

Sebelumnya pada tahun ini

NID membentuk India Design

Council atau Dewan Desain India

dibawah pimpinan industrialis

Anand Mahindra, yang akan

bertindak sebagai sebuah badan

pembina untuk pendidikan

desain, mempersiapkan sebuah

data base untuk lembaga-lembaga

desain dan untuk membimbing

para mahasiswa dan orang tua

dalam membantu mereka memilih

program-program desain yang

terbaik.

Dewan ini akan mengkaji

keuntungan-keuntungan

perpajakan untuk investasi di

bidang desain dalam industri,

badan-badan litbang dan institusiinstitusi.

Untuk menjadikannya lebih

relevan dari segi sosial sebagai

bagian dari upaya-upaya untuk

mencapai jangkauan-jangkauan

yang lebih jauh, NID bekerjasama

dengan International Institute

of Information Design di

Jepang untuk merumuskan

pengembangan-pengembangan

dan perubahan yang ada

hubungannya dengan desain

dalam gaya hidup masyarakat

di seluruh India, dan juga

untuk meningkatkan pelayanan

pemeliharaan kesehatan.


Penulis adalah seorang wartawan.

Foto-foto: Disumbangkan oleh NID.

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 60 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 61


Warisan Kerajinan

Karya-karya seni menjahit

yang dikenal dengan nama

Kantha pada esensinya

terbuat dari material-material lama

dan saree dan disulam dengan

jahitan-jahitan tanpa putus-putus.

Kantha mempunyai sejumlah

pola-pola tradisional berdasarkan

simbol-simbol agama, dongengdongeng

dan legenda, kegiatan

penduduk dan pemandangan di

desa-desa, bunga-bunga, burungburung,

binatang-binatang

Kantha

Kerajinan Menyulam Yang Artistik

Dr. BIMLA VERMA

dan tanaman-tanaman dengan

perpaduan warna yang menarik.

Sejak ratusan tahun silam sulaman

tangan telah digunakan untuk

mendekorasi tekstil dan garmen.

Penggalian-penggalian arkeologis

telah menemukan jarum-jarum

sulaman dari perunggu yang

diperkirakan berasal dari tahun

2300-1500 SM serta figurin-figurin

yang dibalut dengan pakaianpakaian

bersulam. Tekstil-tekstil

bersulam yang serupa juga

terlihat pada patung-patung

Budha yang berasal dari abad

kedua dan pertama SM; patungpatung

Kushan dan fresko-fresko

di Ajanta.

Di India, setiap daerah memiliki

corak dan gaya yang sulaman

yang berbeda. Karya-karya

sulaman tangan India paling

terkenal adalah sulaman-sulaman

Phulkari dari Punjab, Chikankari

dari Lucknow, Kasauti dari

Karnataka, Toda dari Tamil

Nadu, sulaman-sulaman dengan

cermin-cermin kecil (Mirror

work) dari Gujarat dan Rajasthan,

Kasida dari Kashmir, sulaman

Chamba di Himachal Pradesh,

karya Appliqué di Orissa, Gujarat,

Rajasthan dan Tamil Nadu serta

sulaman Kantha di Bengala Barat

(West Bengal).

Sulaman Kantha secara esensial

dikerjakan oleh kaum wanita dan

kerajinan ini masih hidup sampai

sekarang di Bengala, dimana

kaum wanita mengisi waktuwaktu

luang mereka dengan

menyulam. Saree-saree lama

banyak yang dijadikan bahan

untuk membuat sulaman Kantha

dengan cara melapiskan dua

atau tiga helai saree lalu dijahit

bersamaan dan disulam. Untuk

menjaga agar lapisan-lapisan

saree tersebut sama dan uniform,

pada keempat ujungnya ditarok

pemberat, lalu dijahit secara

bersamaan dengan teknik close

running stitches.

Sulaman-sulaman Kantha terdiri

dari beragam bentuk dan gaya

untuk dipakai pada event-event

yang berbeda. Rumal, misalnya,

adalah sejenis sulaman Kantha

berbentuk sapu tangan atau

handkerchief. Pada umumnya,

Rumal dihiasi dengan sebuah

desain lotus (bunga teratai) di

tengah-tengahnya yang dikelilingi

oleh motif-motif lain. Dalam

Dilip Banerjee

Dilip Banerjee

Dilip Banerjee

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 62 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 63


Dilip Banerjee

bahasa Bengali, Arshilata berarti

sebuah pembungkus yang

digunakan untuk membungkus

buku-buku seremonial,

barang-barang berharga dan

lain-lain. Bentuknya persegi

empat (square), dengan pinggirpinggirnya

yang lebar dan dihiasi

dengan sebarisan figur-figur

manusia dan binatang dengan

sebuah lotus ditengah-tengahnya

dan floral patterns (pola-pola

bunga) di keempat sudutnya.

Kaum wanita di Bengala juga

membuat sarung-sarung bantal

dengan motif-motif khusus

dengan hiasan-hiasan berbentuk

garis-garis lurus dan hiasanhiasan

konvensional berbentuk

pohon-pohon dan burungburung.

Selain karya-karya ini,

mereka juga membuat Sujni yang

paling banyak dekorasinya, yang

dipakai sebagai seprei, dengan

bentuk empat persegi panjang

dan dihiasi dengan berbagai

desain dengan pinggir-pinggir

yang menarik.

Dalam motif Sujni, ditengahtengahnya

terdapat sebuah

bunga teratai yang dikelilingi

oleh berbagai jenis creepers

(tanaman-tanaman rambat),

binatang, burung, bunga dan

sebagainya. Kadang-kadang

sulamannya dikerjakan langsung

dengan benang katun, dan

ornamentasinya dikerjakan

dengan teknik chain stitch

sementara latar belakangnya

dikerjakan dengan teknik

Dr. Bimla Verma

Dr. Bimla Verma

Dilip Banerjee

Dr. Bimla Verma

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 64 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 65


unning stitch dengan pola

yang disebut scale pattern.

Kuilt atau selimut tebal hampir

sama bentuknya dengan Sujni,

Kuilt selalu diisi dengan kapas

sehingga menjadi tebal, dan

disain dengan indah di dekorasi

dengan banyak warna. Kuilt

sebetulnya adalah sejenis selimut

tebal yang umumnya digunakan

untuk musim dingin.

sulaman mereka dengan polapola

bertemakan sosial seperti

adegan-adegan pernikahan,

rombongan-rombongan musisi,

suasana pada waktu panen,

kereta-kereta lembu, suasana

perburuan dan adegan-adegan

dari Ramayana, Mahabharata

dan epos-epos Hindu lainnya.

Lambang-lambang kesucian

seperti ikan, sangkakala, kerang,

bunga teratai, pohon kehidupan,

mandala dan kalash juga sering

dipakai.

Pada umumnya, para penyulam

bebas-sebebasnya untuk

berinovasi dalam pengerjaan

desainya. Meskipun sulaman

Kantha memiliki motif-motif

Sujni dan Kuilt memberi

kebebasan penuh kepada para

penyulam untuk menggunakan

segala keahlian menyulam

mereka dalam membuat motif

dan pola-pola serta menentukan

corak dan warna-warna mereka

sendiri.

Jika para penyulam ingin

menggunakan motif-motif

tradisional, motif-motif tersebut

dikerjakan pada permukaannya,

sementara dasar untuk motifmotif

tersebut dikerjakan

dengan teknik close, long and

short running stitches, dengan

menggunakan benang yang

diambil atau ditarik dari pinggir

saree-saree usang. Disini saya

ingin menambahkan bahwa

saree-saree katun Bengala

memiliki pinggir-pinggir yang

indah dalam banyak warna.

Para penyulam Kantha sangat

gemar dengan motif-motif teratai,

binatang-binatang, khususnya

gajah dan kuda, burung-burung,

terutama merak, bunga – teratai

mulai dari yang berdaun lima

sampai seratus. Mereka senang

menghiasi karya-karya sulaman

mereka dengan berbagai desain

dengan bantuan tanam-tanaman

dan bunga-bunga. Mereka juga

sering menghiasi sulaman-

Dr. Bimla Verma

Dilip Banerjee

Dr. Bimla Verma

Dr. Bimla Verma

dan desain-desain yang tidak

terbatas jumlahnya, tetapi desaindesain

“Mandala” dan “Kalash”

khusus diperuntukkan untuk

festival-festival dan acara-acara

keagamaan untuk memenuhi

sumpah-sumpah tertentu.

Apabila para penyulam memakai

motif teratai, meraka selalu

memulai pengerjaannya dari

tengah, lalu meneruskannya

dalam bentuk sirkular (bulat).

Tetapi dalam pengerjaan

desain-desain lain, mereka

memulainya dari sudut, seperti

pohon kehidupan, lalu terus ke

tengah. Kadangkala, setiknya

(stitches) dibuat sedemikian rupa

Dilip Banerjee

sehingga desainnya kelihatan

sama di kedua sisinya dan hampir

tidak mungkin bagi kita untuk

membedakan antara sisi depan

dengan yang belakang.

Warna-warna paling populer

adalah biru, kuning, merah,

hitam atau coklat dan putih.

Sekarang para penyulam

memakai banyak warna diatas

latarbelakang-latarbelakang

dengan warna-warna berbeda.

Secara tradisional mereka hanya

menggunakan saree-saree dengan

warna kuning gading (off white).

Hasil-hasil karya sulaman Kantha

kini banyak dibuat dari bahanbahan

katun, sutera, tussar, sutera

Dilip Banerjee

monga, cambric, semi cotton,

terry cotton dan bahkan kain-kain

sintetis dengan skema pewarnaan

yang artistik dan indah.

Desain-desain yang mereka

pakai bersifat tradisional maupun

modern. Banyak para fesyen

desainer yang juga menggunakan

sulaman Kantha dengan

kombinasi hiasan cermin atau

sekuin.


Penulis adalah seorang wartawan dan

fotografer freelance.

Dilip Banerjee Dilip Banerjee

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 66 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 67


Tinjauan Buku

“Saya tidak berpikir sama sekali

bahwa Raj Kapoor telah membuat

sebuah film yang lebih bagus

dari Awaara. Barangkali saya

telah menonton film ini seratus

kali. Disamping segala bentuk

pujian yang memang pantas

diberikan kepada banyak aspek

film tersebut, Raj Kapoor juga

telah membuat sejarah dengan

menampilkan empat generasi

dari keluarga aktor-aktor kita

ini – mulai dari ayah kakek

saya, kakek saya, ayah saya,

Om dan akhirnya saya sendiri,”

kata Randhir Kapoor dalam Kata

Pengantarnya (Foreword) untuk

buku The Dialogue of Awaara

oleh Nasreen Munni Kabir

(Niyogi Books). Tetapi sebelum

kita membicarakan film dengan

edisi tulisan/bahasa three-in-one

ini (Hindi, Urdu dan Latin) demi

melestarikan tradisi film-film

Bollywood yang immortal, atau

nilai-nilai produksinya yang

elegan dan estetis, mari kita lihat

kembali sejarah pra-produksinya.

Khwaja Ahmad Abbas, seorang

penulis Urdu terkenal, dan

seorang wartawan pada tahun

1950-an pertama menulis sebuah

cerpen tentang keturunan

dan lingkungan yang sengaja

dipilihnya untuk bercerita

tentang sebuah real life incident

dari sejarah sebuah keluarga

yang penuh pristiwa. Penyair

Maulana Hali adalah ayah dari

kakek Abbas. Tetapi cerita ini

adalah tentang pamannya yang

MELIHAT AWAARA LAGI

Naskah: SURESH KOHLI

Foto: S.M.M. AUSAJA

sudah meninggal, seorang

Hakim yang sedang aktif yang

memegang teguh kepercayaan

kepada genetic nobility (sifat

mulia karena keturunan), sampai

pada suatu hari – suatu kejadian

yang membuatnya shock dan

sangat kecewa – putranya

sendiri yang telah menjadi anak

brandal tertangkap dalam kasus

perampokan. Ceritanya memang

berkisar tentang temanya, tetapi

dibatasi hanya sampai kepada

konflik antara ayah dan putranya.

Abbas menceritakan kisah

tersebut kepada temannya V.P.

Sathe yang lalu merubahnya

menjadi sebuah cerita film, dan

dalam pikirannya akan dibintangi

oleh Prithviraj Kapoor, dan

putranya Raj Kapoor, seorang

aktor yang sedang naik daun.

Ide mengenai casting ini datang

dari produksi Prithvi Theatre

Pathan dimana duo ayah-anak ini

bermain bersama untuk pertama

kalinya.

Ketika Mehboob Khan, yang

bersinar dengan keberhasilan

film Andaz, mendengar tentang

kisah ini, dia ingin mengambil

alih untuk dijadikan produksinya

sendiri. Tetapi ketika Abbas

bersikeras mengenai kondisi

casting, Mehboob Khan mundur.

Dia tidak berkeberatan untuk

meng-casting Prithviraj tetapi

bukan putranya, Raj Kapoor.

Untuk mengganti Raj Kapoor,

Mehboob ingin meng-casting

aktor favoritnya, Dilip Kumar.

Ketika Raj Kapoor mendengar

insiden ini, dia melakukan

pendekatan terhadap Abbas

untuk mendapatkan narasinya,

dan ditempat itu juga dia membeli

scriptnya dengan memberi

Abbas dan Sathe uang Satu

Rupee sebagai signing amount.

Disamping itu, juga ada cerita

tentang bagaimana tokoh besar

Pathan, yaitu Prithviraj Kapoor,

dijaring untuk mau ikut main

dengan peran sebagai seorang

ayah dan pada waktu itu dia

memang sedang memainkan

peran-peran sebagai tokoh

terkemuka di teater.

Alasan-alasan utama bagi bertahan

lamanya dan besarnya daya pikat

Awaara adalah temanya yang

mulia dan kehebatan castingnya,

script yang simpel, dialog yang

penuh arti, dan penyutradaraan

yang imajinatif. Dalam kata-kata

Abbas sendiri: “Raj Kapoor

menghabiskan waktu dua tahun

untuk memproduksi Awaara.

Produksi ini cukup unik – semua

adegan dan dialog saya ada

disana, setelah dipoles oleh

sentuhan-sentuhan komedi, lagulagu

dan tarian-tarian Raj Kapoor

sendiri yang disesuaikan oleh Raj

dengan ceritanya. Dan sebelum

masyarakat menerimanya sebagai

sebuah hit, orang-orang yang

begerak di bidang industri film

telah lebih dulu menyatakannya

sebagai flop atau gagal total

persis pada malam premiernya,

meskipun hal ini bukanlah

kejadian yang pertama atau

terakhir kali di box-office, dimana

sebuah film yang diramalkan

gagal malah tebukti sukses dan

begitu pula sebaliknya.

The Dialogue of Awaara adalah

sebuah buku bacaan di kedai

kopi yang diproduksi dengan

elegan dan kaya dengan

ilustrasi. Melihat foto-fotonya

(stills) adegan-adegan dalam

film tersebut langsung muncul

lagi dalam benak kita dan

begitupun dengan sentuhansentuhan

lunak yang, menurut

Abbas, dimasukkan Raj Kapoor

kedalamnya tanpa merubah

struktur naratifnya. Dalam bab

introductory yang diberi judul

dengan tepat ‘The Road to

Awaara’, Nasreen Munni Kabir

bercerita dengan lancar dan

hidup tentang evolusi Raj Kapoor

sebagai seorang yang cepat

belajar menjadi seorang sineas

yang sempurna yang pada masa

pembuatan film Aag dan Barsaat

telah menyadari pentingnya arti

sebuah team yang bisa dipercaya

penuh untuk merubah fantasifantasinya

menjadi kenyataaan,

dan bagaimana dia menjalankan

misinya. Jadi, ketika Jal Mistry

menolak untuk bergabung

dengannya, dan lebih suka

menjadi seorang sinematografer

freelance, Raj Kapoor lalu

mengajak Radhu Karmakar.

Langkah berikutnya, dia merayu

M.R. Archekar untuk ikut bersama

timnya. Archekar yang awalnya

enggan adalah seorang “yang

sangat terlatih dan berpengalaman

di bidang fotografi, lithografi,

melukis potret dan seorang

konseptor yang andal” untuk

menangani bidang pencahayaan;

Shankar dan Jaikishen, menjadi

dua orang asisten komponis

Ram Ganguly, yang telah

membuktikan kebolehan mereka

dengan musik Barsaat. Seorang

kondektur bus dengan peran

double sebagai seorang penyair,

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 68 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 69


Hasrat Jaipuri, yang bertemu

dengan Raj Kapoor dalam

sebuah konser dan membuat

Raj terkesan dengan liriknya

Jiya bekaraar hai dan seorang

Marxist yang jadi pegawai kereta

api, Shailendra, adalah pilihanpilihannya

berikutnya. Beberapa

orang lainnya direkrut dari tim

Prithvi Theatre guna melengkapi

tim back-upnya. Dengan memilih

Nargis sebagai heroinnya dan

didukung oleh Abbas sebagai

seorang penulis andal, Raj Kapoor

dapat dipastikan akan meraih

sukses besar yang akhirnya

dapat disebut sebagai ‘the Great

Showman’.

“Setelah setahun melakukan

persiapan pra-produksi, syuting

Awaara mulai dilakukan

bertepatan dengan hari ulang

tahun ke-25 Raj Kapoor (14

Desember 1949) di Rang

Mahal Studio di Dadar. Seluruh

keluarga Kapoor hadir untuk

menyaksikan the mahurat shot

atau syuting pembukaan ketika

Prithviraj sedang berdoa,” tulis

Kabir dan menambahkan bahwa

“tantangan terbesar yang dihadapi

Raj Kapoor adalah bagaimana

memunculkan sekuen mimpi

(dream sequence) sehingga

tampak hidup yang selalu menjadi

bagian dari screenplay aslinya.

R K Studio masih dalam tahap

pembangunan pada waktu itu,

tetapi Raj Kapoor menginginkan

sekuen mimpi ini untuk menjadi

adegan pertama untuk disyuting

disana (R.K.Studio), walaupun

untuk itu harus dibangun setsnya

diatas panggung yang tidak

beratap.” Sekuen lagu selama

sembilan menit yang terkenal itu

dikoreograf oleh Madame Simkie,

seorang penari Prancis yang

pernah bekerja dengan Uday

Shankar. Lagu atau title song

Awaara Hoon “sampai sekarang

ini tetap menjadi lagu India paling

terkenal di dunia.”

Dalam upayanya untuk

merekonstruksi ceritanya

dengan sebaik-baiknya, Kabir

berkisah demikian: “Dalam

persidangan mengenai percobaan

pembunuhan atas Hakim

Raghunath (yang diperankan

oleh Prithiviraj Kapoor dengan

sangat bagusnya), si maling

Raj (Raj Kapoor) dibela oleh

pengacaranya Rita (Nargis) yang

adalah kekasihnya sendiri, yang

kebetulan juga adalah perawat

Raghunath sendiri. Setelah

Rita diinterogasi, keduanya,

Raghunath dan Raj, dipaksa untuk

mengungkapkan pristiwa-pristiwa

masa silam mereka. Ceritanya

berlanjut dalam dua kilas balik

(flashbacks): yang pertama

bercerita tentang bagaimana

Raghunath meninggalkan

isterinya (Leela Chitnis) dan bayi

mereka yang belum lahir yang

kebetulan adalah Raj – sebuah

fakta yang tidak disadari oleh

ayah dan putranya (‘Kya aap

bata sakte hai aap ne kyon aur

kis haal mein apni patni ko ghar

se bahar nikala’ – mengapa

kamu mengusir isterimu dari

rumah -- yang dinyanyikan oleh

Nargis dengan suaranya yang

melengking masih bergema dalam

ingatan kita). Kilas balik yang

kedua memperlihatkan bagaimana

Raj yang telah berusia sepuluh

tahun itu, karena pengaruh

buruk bandit Jagga (K.N. Singh),

menjadi seorang penjahat (sang

bandit menculik isteri (yang

sedang hamil) Hakim Raghunath

untuk membalas dendam karena

telah dijatuhi hukuman oleh

Raghunath).”

Maksud yang tersirat dibalik buku

ini adalah untuk menceritakan

kembali demi kepentingan anak

cucu kita dan untuk melestarikan

dalam bentuk yang permanen

sebuah screenplay yang sangat

bagus dan dialog yang disusun

oleh K.A. Abbas – berdasarkan

sebuah cerita oleh Abbas dan

Sathe. Dialog dalam bahasa

Hindustani (percampuran

antara Urdu dan Hindi) sangat

bagus, menggelitik, penuh ironi

dan kaya dengan pemakaian

bahasa secara elegan…

Dialognya juga telah memakai

sebuah catchphrase untuk

menggambarkan seorang karakter

“yang kemudian menjadi sangat

populer dalam film-film Hindi dan

dialog-dialog dalam, banyak film

selalu diingat berkat catchphrase

(ungkapan khusus) ini.”

Buku ini “dengan cermat telah

mentranskripsikan seluruh dialog

dan lirik-lirik lagu dari original

soundtrack dan direproduksi

dalam bahasa-bahasa Hindi, Urdu

dan Romanised Hindi (bahasa

Hindi dengan tulisan Latin)

sementara terjemahan Inggrisnya

berusaha untuk mempertahankan

nuansa aslinya”. Buku ini “juga

kaya dengan endnotes atau

catatan akhir yang memberikan

informasi dan komentarkomentar.”

Tidak ada yang

ketinggalan dari naratif aslinya,

baik dari segi script maupun

dialog, sementara foto-fotonya

memberikan visual graph yang

bagus sebagai pengganti footage

aslinya. Foto-foto berwarna dari

R K Studio yang dibuat oleh

Adam Bortos yang menetap di

New York tidak saja memperkaya

warisan Raj Kapoor tetapi juga

membuat film-filmnya immortal.

Raj Kapoor sendiri pernah

menyelenggarakan tour pertama

atas kompleks studionya beserta

Sanctum Sanctorumnya untuk

kepentingan penulis ini pada

pertengahan tahun tujuhpuluhan,

yang sampai sekarang masih

segar di benak saya.

Secara kilas balik, adanya

persamaan-persamaan tertentu

membuat kita terbelalak.

Screenplay asli Henna, untuk

peluncuran film ini Raj Kapoor

harus melakukan sendiri

pekerjaan keadministrasiannya,

lagi-lagi merupakan hasil karya

Abbas (meskipun tidak disebut

dalam credit titlesnya) meskipun

penyutradaraannya oleh

Randhir Kapoor setelah ayahnya

meninggal banyak kekurangankekurangannya).

Tim K.A. Abbas-

Raj Kapoor berlangsung selama

empat dasawarsa. Fakta bahwa

mereka meninggal pada waktu

yang hampir bersamaan, (seolaholah

mereka dipertemukan

kembali di alam sana), karena

terpisah hanya dalam waktu

tepat satu tahun – Abbas

menghembuskan nafasnya yang

terakhirnya di sebuah nursing

home di luar kota Mumbai

pada tanggal 1 Juni 1987, dan

jenazah Raj Kapoor dipindahkan

dari sebuah Rumah Sakit ke R

K Studios pada tanggal 2 June

1988. Abbas meningal pada usia

73 sementara Raj Kapoor pada

usia 63 tahun – keduanya dalam

keadaan setengah koma.


Penulis adalah seorang sineas film

dokumenter.

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 70 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 71


Seni Boneka Dewasa Ini

Memimpikan Masa Depan Baru

CHANDANA DUTTA

Hampir tiga puluh tahun yang lalu, saya pertama kali membaca

sebuah artikel mengenai puppetry atau pertunjukan boneka

dalam majalah Target, sebuah majalah populer untuk anakanak.

Ketertarikan saya kepada artikel tersebut karena dia berbicara

tentang saudara saya dan beberapa teman-temannya, yang menerima

langsung latihan-latihan membuat boneka dari seorang pedalang

boneka terkenal Dadi Pudumjee. Seni boneka memang telah

menarik perhatian saya pada masa itu. Dalam perjalanan waktu, saya

telah mengenal lebih dalam tentang seni boneka dan orang yang

Figur-figur bertopeng (bawah) dan sebuah kerjasama kontemporer di bidang seni tari dan

boneka tentang tiga karakter dari Mahabharata – Krishna/boneka, Gandhari dan yang telah meninggal.

Dadi Pudumjee

Vipul Sangoi

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 72 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 73


Indira Gandhi National Centre for the Arts

dan mengapresiasi apa artinya

bentuk seni boneka. Pandangan

Meschke terhadap seni boneka

berbeda sama sekali, yang

menggabungkan ide-ide dari

bentuk-bentuk seni lainnya dan

merubah seni boneka menjadi

sebuah bentuk yang serba

kompleks. Falsafah ini besar

pengaruhnya terhadap Dadi.

Pada kenyataannya, Dadi selalu

memberikan penilaian yang tinggi

kepada persamaan-persamaan

yang melekat pada seni boneka

di seluruh dunia dan tetap

mengakui besarnya kekuatan

bentuk yang disaksikannya pada

tradisi-tradisi tertentu lainnya

seperti Bunraku di Jepang dan

gaya-gaya boneka pada bekas

negara-negara blok sosialis yang

besar pengaruhnya terhadap

konseptualisasi dan penciptaan

karakter-karakternya sendiri.

Meninjau kembali fase kreatif

pertamanya, dia berkata,

“Pekerjaan pertama saya di

ISRO SAC di Ahmedabad adalah

dengan serial Hun and Hann

dimana saya menggunakan

boneka-boneka modern untuk

TV. Pada waktu itu, ini mungkin

pertunjukan boneka pertama

untuk TV dengan menggunakan

karakter-karakter boneka yang

khusus dibuat dan ditulis

ceritanya untuk medium ini,

dan bukan boneka-boneka yang

dipakai untuk pertunjukan teater.”

Berbicara mengenai perpaduan

antara yang tradisional dan

modern pada masa dahulu dan

sekarang, dia menemukan bahwa

bentuk-bentuk tradisional jarang

stagnan dan dimana bentukbentuk

ini belum hilang, mereka

pasti telah mengalami perubahanmempeloporinya.

Dibawah ini

saya ingin memaparkan secara

ringkas bentuk seni yang telah

berakar dalam tradisi naratif

India, yang telah menyaksikan

perubahan-perubahan besar

selama ini dan telah berhasil

melalui sebuah fase kebangkitan

untuk mengembalikan

kemasyhurannya dan dapat

diterima kembali dan terus

mendapat apresiasi masyarakat.

Pertunjukan boneka adalah

sebuah bentuk seni dan Dadi

Pudumjee yakin akan asal usul

kedewataannya. Dia berkata,

bagi seorang bocah, sebuah

boneka mungkin sebuah

mainan, bagi orang dewasa,

ia barangkali adalah sebuah

cermin yang menarik tentang

potret kehidupan dan bagi

seorang cendekiawan boneka

adalah sumber yang tak pernah

kering untuk cerita-cerita dan

citra-citra yang menghubungkan

dan menstimulir alam bawah

sadar kita. Tetapi bagi seorang

dalang, dia adalah sebuah citra

suci yang tidak seharusnya

dijadikan bahan lelucon atau

objek mati yang diberi hidup

untuk sementara, seperti orang

sering memperlakukannya pada

zaman modern ini. Baginya,

sebagaimana halnya dalam

pengertiannya yang tradisional,

mata boneka-boneka adalah

titik fokus dan fitur utamanya.

Di India, sebagian besar para

dalang dan pembuat boneka,

bahkan sampai sekarang pun,

akan melakukan pengecatan

matanya terakhir sekali sebagai

sentuhan terakhir, seolah-olah

untuk memberinya kehidupan.

Karenanya, dalam banyak bahasa

di India, misalnya bahasa Hindi,

Sanskerta dan Bengali, kata untuk

sebuah boneka adalah putli

atau putul, panchalika, puttikaa

atau putulika, yang semuanya

punya arti ganda: pupil atau

biji mata dan boneka. Banyak

bahasa-bahasa lainnya juga

mempunyai variasi bunyi yang

hampir sama. Pada galibnya, kata

Inggris – puppet – untuk boneka

berasal dari bahasa Latin Pupa

Satya ke Pratirup (Citra-Citra Kebenaran), sebuah pertunjukan mengenai filosofi Mahatma Gandhi

Dadi Pudumjee

Kalpataru – sebuah pertunjukan wayang, objek dan gerakan-gerakannya didasarkan kepada

The Giving Tree atau Pohon Pemberi.

atau Pupula, yang keduanya

menggambarkan seorang gadis

cilik atau sebuah doll (boneka

mainan untuk anak-anak).

Pupula juga berarti ‘pupil’ atau

biji mata. Dalam bahasa Jerman,

kata untuk boneka (puppet)

adalah ‘Puppe’, dan dalam bahasa

Prancis ‘Poupee’. Kata-kata

ini melukiskan kemampuan

observasi boneka untuk menoleh

ke masa silam dan melihat ke

masa depan, yang menjadikan

bentuk seni ini sebagai sebuah

seni tradisional baik di masa

silam maupun pada zaman

kontemporer ini. Bagi Dadi, dan

barangkali bagi banyak para

pedalang boneka, inilah kuncinya

yang menjadikan seni boneka

sebuah bentuk seni global.

Dadi Pudumjee memasuki bidang

ini sebagai seorang antusias

muda pada tahun 1958. Kini dia

dikenal sebagai seorang perintis

terkenal seni boneka modern

di India, tetapi sebagaimana

diakuinya, pada zamannya dulu

di Pune dia memperlakukan

boneka umumnya sebagai sebuah

hobi, yang suka mengadakan

pertunjukan keliling dengan

boneka-boneka yang digerakkan

dengan benang (string puppets).

Dia belum banyak mengetahui

tentang seni ini dan pengetahuan

yang dimilikinya baru terbatas

kepada boneka-boneka (puppets)

Rajasthan saja. Baru kemudian

ketika belajar di Darpana

Academy of Performing Arts di

kota Ahmedabad dia mengetahui

tentang begitu banyaknya teknik

dan gaya boneka-boneka India

dibawah bimbingan almarhum

Meher R. Contractor. Kemudian,

pada pertengahan tahun

1970-an di Swedia dibawah

bimbingan Michael Meschke

dari Swedish Marionette Theatre

Institute, dia mulai memahami

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 74 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 75


perubahan, ada perubahan untuk

yang lebih baik sementara yang

lainnya tidak begitu bagus. Secara

keseluruhan, dia menganggap

bahwa seni pertunjukan boneka

(puppetry) di India telah

memanfaatkan waktunya dengan

sangat baik, dimana bentuk seni

ini banyak mengalami kesuksesan

dan perkembangan baru.

Sebagai seorang pedalang

boneka, Dadi sangat gembira

karena telah mengembangkan

hobinya menjadi sebuah profesi

setelah belajar di Ahmedabad

dan Swedia. Dan adalah suatu

momen yang sangat bersejarah

bagi India karena selama dua

tahun terakhir ini dia adalah

tokoh non-Eropa pertama yang

menjadi Presiden dalam sejarah

badan dunia yang telah berusia

delapan puluh tahun UNIMA,

yang tercatat sebagai organisasi

teater-boneka internasional

pertama di dunia (www.unima.

org). Sebagai penghargaan

terhadap prestasi ini dengan

semangat yang sebenarnya, kita

perlu menyadari bukan saja

tentang India dan tradisi-tradisi

lokalnya yang beragam, tetapi

adanya sekitar enam puluh empat

national centres yang tersebar di

dunia yang aktif terlibat dalam

seni puppetry, aspirasi-aspirasi

mereka dan masalah-masalah

yang sedang mereka hadapi,

serta usaha-usaha mereka untuk

terus mengatasinya. Bagi seorang

pedalang boneka, penting

untuk memahami terminologi-

S. Thyagarajan

Dhola Maru – didasarkan kepada

Gatha Dhola Maru dari Rajasthan,

dipertunjukkan dengan figur-figur besar

bertopeng, aktor-aktor dan pedalang dan

kesenian tradisional Rajasthani kathputli.

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 76 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 77


terminologi dan ide-ide yang

terdapat di Barat yang kadangkadang

bisa sangat berbeda

dengan yang terdapat di timur

dan timur dekat.

Seperti yang dilihat Dadi, di

India ada sebuah fase tradisional

yang diikuti oleh fase modern

dimana terjadi banyak perubahan

terhadap bentuk-bentuk lama.

Lalu ada fase kohesif, dimana

diupayakan adanya suatu

keseimbangan antara kedua

fase penting itu, khususnya dari

segi isi dan ekspresi. Sekarang

terdapat banyak seniman muda

yang sedang berusaha untuk

menciptakan ceruk atau wadah

mereka sendiri di bidang ini.

Tetapi, yang lain masih terpaku

kepada yang lama atau awal abad

kesembilan belas. Dilihat dari

peralihan bentuk, isi, cerita, dan

lain sebagainya antara yang lama

dan yang baru, antara pedalangpedalang

modern pertama

dengan pedalang-pedalang muda

dewasa ini, perubahan-perubahan

besar seolah-olah banyak terjadi

di perkotaan. Tampaknya kita

lebih memerlukan lagi agar

banyak grup dapat diekspos

ke trend-trend modern dan

kontemporer yang juga sedang

marak dewasa ini. Disamping

itu, kita perlu juga menciptakan

vokabulari-vokabulari,

Prosesi boneka-boneka raksasa untuk Commonwealth Youth Games, Pune

kontek-kontek dan tema-tema

individualistik kita sendiri,

dan sementara itu berupaya

membenahi bidang ini dengan

nafas baru. Aliran-aliran dan trend

pertama puppetry modern India

umumnya berasal dari Kolkata

dan Ahmedabad, tetapi sekarang

ini banyak pedalang-pedalang

boneka muda yang terjun ke

bidang ini dengan ide-ide dan

ekspresi-ekspresi mereka sendiri.

Bagi Dadi kekhawatirannya

adalah bahwa para pedalang

boneka sekarang ini tampaknya

semakin terobsesi dengan teknik

agar kelihatan ‘modern” dan

mengabaikan esensi dari bentuk

seni itu sendiri.

Dadi kebetulan juga adalah

Pendiri-Direktur Ishara Puppet

Theatre Trust, yang mulai

aktif pada tahun 1986 untuk

memperkenalkan rakyat kepada

puppetry. Setelah mengalami

kesukesan dan pertumbuhan

dalam beberapa tahun ini,

timnya merencanakan untuk

mengadakan Festival Ishara

setiap tahun, yang sekarang telah

memasuki tahun kedelapan.

Kesenian ini telah mengalami

perkembangan yang sangat

besar dengan dukungan Ishara

Puppet Theatre Trust, dibantu

Transposisi – berdasarkan sebuah cerita

Vikram Betal dan Transposed Heads oleh

Thomas Mann, yang dipertunjukkan dengan

para penari, boneka-boneka dan topeng

(kanan & bawah).

oleh Teamwork Productions,

dan Indian Council for Cultural

Relations, Sangeet Natak

Akademi, National Centre

for Performing Arts dan Ford

Foundation. Disamping produksiproduksi

mereka sendiri, Ishara

Trust dengan kerjasama banyak

pihak juga memproduksi bonekaboneka

dan topeng-topeng

untuk berbagai acara TV, video

dan berbagai pertunjukan.

Badan ini telah memperluas

pemakaian Muppets dan Marrots

di bidang pendidikan melalui

folk tales dan satire. Ishara juga

menyelenggarakan loka-loka

karya dalam berbagai bentuk

seni boneka untuk anak-anak,

orang dewasa dan grup-grup

Dadi Pudumjee

Sanjoy Roy

Dadi Pudumjee

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 78 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 79


teater. Keinginan Dadi adalah

untuk memodernisir seni

boneka ke suatu tingkat dimana

teater boneka dapat diterima

menjadi sebuah medium

pendidikan.

Setelah banyak bekerja keras,

seni boneka kini tampaknya

telah berhasil “break even,”

dimana penontonnya bersedia

merogoh kocek untuk menikmati

pertunjukan seni boneka. Oleh

sebab itu, seni boneka tengah

meniti jalannya yang mulus untuk

menjadi sebuah bentuk seni yang

dapat berkesinambungan secara

komersial. Setelah menerima

Haran Kumar

dorongan yang menggembirakan

selama delapan tahun dari

penontonnya di Delhi dan

Gurgaon, tim Ishara pun telah

melebarkan sayapnya dengan

menyelenggarakan festival di

Mumbai dalam masa dua tahun

terakhir dimana mereka juga

memperoleh sukses besar. Kini

Dadi sedang menyusun sebuah

rencana untuk membawa

rombongannya ke kota-kota lain

di India. Ishara Festival jelas telah

Simple Dreams – sebuah puisi visual tentang

alam dan kehidupan (kiri) dan Chunouti

(Tantangan) – sebuah pertunjukan untuk

menciptakan kesadaran terhadap HIV dan

penyalah gunaan obat-obatan (bawah).

menciptakan sebuah wadah bagi

para pedalang boneka untuk

mempertontonkan karya-karya

mereka di India, tetapi mereka

masih memerlukan dukungan

yang besar dari pemerintah,

organisasi-organisasi kebudayaan,

perusahaan-perusahaan dan

lembaga-lembaga serupa lainnya

demi masa depan mereka dan

demi menghadirkan mereka

di pentas pertunjukan boneka

internasional.

Tentu saja ada poin-poin yang

perlu diperhatikan dan yang

paling penting barangkali

adalah perlu diciptakan

suatu keseimbangan yang

menggembirakan antara yang

modern dan tradisional. Meskipun

kesuksesan seni boneka modern

ikut mendorong gaya seni boneka

dan seniman tradisional di India,

sebagian pedalang boneka

secara diam-diam memanfaatkan

bebarapa teknik lama yang

sangat kuat, tanpa menyebutkan

dari mana mereka menirunya.

Hal ini jelas memperlihatkan

sikap mereka yang tidak

menaruh hormat terhadap gaya

tradisional. Dipihak lain, para

pedalang tradisional perlu juga

Boneka-Boneka raksasa dalam sebuah pertunjukan tari

Dadi Pudumjee

Dadi Pudumjee

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 80 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 81


Anay Mann

Vipul Sangoi

Dadi Pudumjee dengan boneka Parsee (kiri) dan dalam sebuah kerjasama tarian dan boneka kontemporer

Dadi D. Pudumjee,

Managing Trustee and Artistic

Director dari Ishara Puppet

Theatre Trust, dewasa ini

adalah Presiden UNIMA. Dia

mendapat pendidikan dan

latihan di bidang Komunikasi

Visual dari National Institute

of Design, Ahmedabad,

dan kemudian di bidang

teater boneka dari Darpana

Academy of Performing Arts,

Ahmedabad, the Marionette

Theatre Institute Stockholm,

Swedia dan the Vår Theatre

Stockholm, Swedia. Diantara

berbagai posisi profesional

yang pernah didudukinya

antaranya adalah Guest

Director, Puppen Theatre,

Berlin; Pedagogue di Vår

Theater Stockholm, Swedia,

Artistic Director dan Pendiri

Sutradhar Puppet Theatre,

Shri Ram Center for Art and

Culture, New Delhi; Curator

of Man, Mask and Mind

Exhibition of Masks, IGNCA,

New Delhi dan Festival

Director, Sangeet Natak

Akademi, National Puppet

Festival pada bulan Maret

2003. Dia adalah seorang

penerima Sangeet Natak

Akademi National Award

untuk karyanya di bidang seni

boneka, Sanskriti Pratisthan

Award for Puppetry, the

Delhi Natya Sangh Award for

Puppetry dan Delhi Parsee

Anjuman Cultural Award.

Dia pernah bekerja dan

bekerjasama dengan beberapa

individu dan organisasiorganisasi

dalam penggunaan

seni boneka untuk

pendidikan dan hiburan, di

India dan luar negeri. Dia

sering menyelenggarakan

pertunjukan-pertunjukan

dan workshops di Eropa,

AS, Rusia, Jepang, Kanada,

Indonesia, Iran, Turki,

Singapura, Brazil, Australia,

Inggris, Sri Lanka, China dan

lain-lain. Dianggap sebagai

pedalang boneka modern

paling kreatif di India, dia

memadukan seni boneka

dengan seni tari, teater dan

seni-seni terkait. Dia berkarya

dengan tema-tema yang ada

relevansi sosialnya dengan

menggunakan seni boneka

dan teater, dan memperoleh

penghargaan karena telah

menciptakan sebuah sintesa

kreatifnya untuk medium

boneka dan pesan-pesan yang

disampaikannya.

Nukad Natak (Drama Bertetangga) – sebuah

pertunjukan bertopeng untuk menciptakan

kesadaran terhadap HIV dan penyalah

obat-obat terlarang (atas); Ishara Workshop

– memberi kehidupan kepada boneka

(kanan) dan figur-figur bertopeng (kanan

bawah).

memahami perubahan zaman

dan menyadari perlunya mereka

untuk merubah gaya dan teknik

produksi mereka, kualitas

pendalangan dan bercerita untuk

menyesuaikan diri dengan selera

penonton. Oleh sebab itu, perlu

sekali bagi semua yang terlibat

dalam bentuk seni boneka untuk

memahami sedalam-dalamnya

bahasa seni boneka dan

vokabulari zaman.

Terakhir mungkin tepat apa yang

dikatakan Dadi tentang apa arti

seni boneka sebagai sebuah

bentuk seni. “Saya menganggap

Dadi Pudumjee

diri saya sejajar dengan seorang

pelukis, penulis atau dramawan

yang memakai teknik-teknik baru

dalam suatu konteks tertentu

untuk meningkatkan derajat

karyanya ke tingkat universal dan

kontemporer yang dapat diterima

oleh masyarakat. Jika bentuk

seni ini tetap statis dia pasti akan

kehilangan penonton.” Dan sikap

statis inilah yang berusaha untuk

didobraknya.


Penulis adalah mantan Assistant Director

bagian penerbitan Katha, sebuah usaha

perintis nirlaba di bidang penerjemahan.

Dia menerbitkan Indialog sebagai Chief

Editor, dan pernah juga menjadi Editor,

Indian Horizons, sebuah jurnal triwulanan

mengenai seni dan kebudayaan yang

diterbitkan oleh Indian Council for Cultural

Relations, New Delhi.

Dadi Pudumjee

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 82 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 83


Penghormatan

Avinash Pasricha

Bismillah

&

Benaras

JUHI SINHA

Juhi Sinha

Saya dan tim saya telah

berada di Benaras selama

tujuh hari, dan dua hari

diantaranya kami pergunakan

untuk menemui Ustad

Bismillah Khan. Pekerjaan

kami untuk menyuting kota

Benaras, sungainya, the ghats

dan Benteng Ramnagar telah

selesai, tetapi pertemuan kami

dengan Penerima Bharat Ratna

Ustad Bismillah Khan masih

pending, dan saya tidak bisa

meninggalkan Benaras, tanpa

bertemu dengan orang paling

terkenal di kota tersebut,

Bismillah Khan. Akhirnya, ketika

saya hampir kehilangan harapan,

Benaras: Candi, Mesjid dan Ghat

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 84 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 85


saya menerima pesan telepon

bahwa saya diberi waktu untuk

bertemu dengan Ustad Bismillah

Khan pada pukul sebelas besok

paginya.

Bismillah Khan lahir pada

tanggal 21 Maret 1916, di kota

kecil Dumraon, negara bagian

Bihar, di India Timur. Sebelum

dia, ayah dan kakeknya adalah

pemain-pemain Shehnai pada

istana pangeran Dumraon. Ketika

Bismillah Khan berusia empat

tahun, dia, ibunya, dan seorang

kakak lelakinya, Shamsuddin,

pindah ke Benaras untuk tinggal

bersama kakek Bismillah (ayah

dari Ibunya) dan keluarganya.

Ayah Bismillah, Paighamber Bux,

merasa bahwa Benaras, sebagai

pusat penting seni musik dan

kesenian-kesenian lainnya akan

memberikan peluang-peluang

yang lebih bagus kepada putraputranya.

Apalagi, paman-paman

mereka yang menetap di Benaras

adalah pemain-pemain Shehnai

terkenal dan dapat membimbing

kedua bersaudara ini di bidang

musik.

Dalam perjalanan untuk menemui

Bismillah Khan, saya melewati

jalan-jalan sempit di Benia

Bazar, yang menuju ke sebuah

rumah sederhana yang sekurangkurangnya

telah berumur seratus

tahun, dan memang demikian

kenyataannya. Di kamar tempat

menerima tamu, saya disambut

oleh menantu lelaki Bismillah

Khan Sahib dan sekretarisnya

Khan, Javed, dan putra kedua

dari kelima orang putranya,

Nayyar Hussain. Kamarnya

dingin, dan gembira mendengar

bahwa Bismillah Khan berada di

lantai atas, di teras paling atas.

Saya dan rombongan dibawa ke

atas untuk menemui Khan Sahib

(Pak Khan), karena turun naik

tangga yang sempit dan tua itu

sangat sulit bagi lututnya yang

menderita arthritis itu. Toh, dia

juga sudah berumur delapan

puluh tujuh tahun.

Kesan pertama saya tentang Khan

Sahib adalah senyumnya: hangat,

spontan dan membuat sudutsudut

matanya berkerut sebagai

tanda bahwa dia tulus dan

gembira menerima kedatangan

kami. Tidak lama kemudian

kamera saya mulai beraksi dan

Khan Sahib mulai berbicara.

Saya segera bisa menyimpulkan

bahwa dia dilahirkan sebagai

pencerita, dia senang bercerita,

yang diselang-selingi oleh

anekdot-anekdot nakal dan

menggelitik tentang masa kanakkanaknya,

sampai kepada masa

remaja, pengalaman-pengalaman

spritualnya di tepi sungai Ganga,

pandangannya tentang musik

dan keyakinan bahwa musik ada

unsur ketuhanannya. “Musik, Sur

(nada), Namaz (salat) semuanya

sama. Mereka semuanya menuju

Allah!”

Guru dan mentor Khan Sahib

adalah pamannya (dari garis ibu),

Ustad Ali Baksh, seorang pemain

Shehnai yang terlatih yang main

secara reguler di Kuil Vishwanath.

Seperti yang dipercayai rakyat

setempat, para dewa di banyak

kuil di Benaras ‘terbangun’ pada

waktu subuh, setelah mendengar

alunan musik Shehnai yang

sangat indah dan syahdu. Ali

Baksh mendidik dan melatih

sendiri keponakannya, dan

memperkenalkannya, tidak saja

kepada musik, tetapi juga kepada

berbagai jenis kuliner yang lezat

di Benaras. Kota ini terkenal

Avinash Pasricha

akan sweetnya (penganan yang

manis-manis), dan Bismillah

sangat menyenangi berbagai

jenis makanan yang ditawarkan

Benares. Paman dan keponakan

khusus menikmati ‘mallaiya’,

sejenis es krim khas Benares.

Tetapi dalam kunjungannya ke

Dumraon, kakek Bismillah Khan,

Rasool Bux , memperingatkannya

akan bahaya terlalu banyak

makan, apalagi seorang pemain

Shehnai perlu menjaga kekuatan

hebat paru-parunya. Nasehatnya

kepada cucunya sederhana

sekali, “No health, no breath, no

music,” yang maksudnya: kalau

tidak sehat, tidak punya nafas

panjang, maka tidak bisa main

musik. Maka mulailah Bismillah

berolah raga dengan ketat di

tepi sungai Ganga. ‘Kushti’ atau

gulat adalah sejenis olah raga

dari zaman bahelak yang populer

di Benaras, dan Bismillah rutin

melakukannya. Setelah berlatih

musik selama berjam-jam dan

berolah raga dan mandi di sungai

Ganga, dia pulang untuk berlatih

lagi.

Dalam perjalanan pulang, Khan

Sahib melewati Dal Mandi,

sebuat tempat yang terkenal

dengan para penyanyinya. Para

wanita disini menghibur kaum

lelaki dengan lagu-lagu mereka

di malam hari dan diantara

para penyanyi berbakat dan

terkenal India berasal dari Dal

Mandi. Tertarik dengan musik

dan lagu-lagu yang datang dari

rumah-rumah para penyanyi

ini, Bismillah bercerita bahwa

dia akan berhenti di luar

setiap rumah yang dilewatinya

untuk menikmati lagu-lagu

mereka yang merdu. Dalam

tahun-tahun berikutnya,

banyak diantara lagu-lagu ini

menjadi bagian yang permanen

dari repertoirenya, dan dia

memainkannya bahkan pada

konser-konser resmi. Dalam

perjalanannya melalui Dal Mandi

inilah Bismillah Khan menghisap

rokok pertamanya bermerek

“Wills!”, ujarnya, kedua matanya

bersinar mengingat peristiwa

tersebut dengan perasaan geli.

Avinash Pasricha

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 86 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 87


Ketika Khan Sahib tumbuh

menjadi pemuda belasan

tahun, dia, seperti ‘Mamu’ nya

(paman dari garis ibu) biasa

bangun pukul 4-30 pagi, berjalan

menuju sebuah kamar berukuran

kecil, yang terletak tinggi datas

tepi sungai Ganga, dan mulai

latihan-latihan rutinnya setiap

hari.

“Di satu sisi terdapat kuil Balaji,

di sisi lain kuil Mangala Maiyya.

Dibawah mengalir sungai Ganga,

dan diantara tempat-tempat suci

ini, saya latihan meniup Shehnai

setiap pagi dalam suasana subuh

yang hening.”

Dan disinilah Khan Sahib

mengalami pengalaman

spritualnya yang pertama yang

tidak pernah dilupakannya. Dia

melihat sebuah penampakan

Baba Vishwanath berdiri di

depan Shehnainya dia meminta

kepada Khan Sahib untuk

memainkan musiknya untuknya,

tetapi anak yang baru berusia

belasan itu, karena ketakutan,

tidak bisa. Orang yang terlihat

dalam penampakan itu tertawa

dan berkata kepada Khan bahwa

dia akan menikmati hidupnya.

Melalui hidupnya, Bismillah

Khan percaya bahwa berkat Baba

Vishwanath itulah dia sukses

sebagai pemusik.

Benaras telah memberikan

banyak seniman kepada India,

tetapi hanya beberapa orang

seniman saja yang memilih

tetap tinggal disana sepanjang

hidupnya. Tetapi antara

Bismillah Khan dan Benaras serta

sungai Ganga terjalin sebuah

ikatan emosional yang begitu

kuat sehingga sulit baginya

untuk meninggalkan kota ini.

Banyak kota lain yang akan

menyambutnya dengan baik

tetapi batinnya tetap tertambat

kepada Benaras. Sekali pristiwa,

ketika berkunjung ke AS, seorang

kaya yang mengaguminya

meminta Bismillah Khan untuk

tinggal di AS secara permanen.

Apapun yang diinginkannya,

akan disediakannya, janjinya.

Bismillah lalu bertanya apakah

dia dapat memindahkan

sungai Ganga, Kuil Shiva dan

mesjidnya ke AS? Jika tidak, maka

apapun tidak bisa membuatnya

meninggalkan Benaras, karena

Perdana Menteri Dr. Manmohan Singh merilis perangko peringatan Ustad Bismillah Khan di New Delhi pada tanggal 21 Agustus 2008.

Menteri Komunikasi dan Teknologi Informasi, A. Raja dan Menteri Negara Komunikasi dan Teknologi Informasi,

Jyotiraditya Madhavrao Scindia juga terlihat dalam gambar.

Avinash Pasricha

kemanapun dia bepergian di

dunia ini, katanya, batinnya selalu

ada di Benaras.

Pertemuan saya dengan Bismillah

Khan telah selesai, dan ketika

saya meninggalkan rumahnya

saya tahu bahwa saya akan

selalu merasa terhormat bahwa

saya pernah bertemu dengan,

tidak saja salah seorang seniman

terbesar yang pernah dimiliki

India, tetapi seorang yang begitu

luar biasa dan sederhana. Status

monumental sebagai seorang

seniman, suksesnya yang luar

biasa di dunia musik, sangat

berbeda dengan kepribadian

dan gaya hidupnya yang simpel.

Dia telah meraih setiap bentuk

national award, termasuk award

tertinggi yang diberikan kepada

seorang sipil, yakni Bharat

Ratna, dan setiap konser yang

diselenggarakannya selalu

membawa jumlah besar uang

kedalam pundi-pundinya.

Tetapi kebutuhan-kebutuhannya

sendiri minim sekali.

Penghasilannya tidak saja

untuk membiayai keluarganya

yang besar tetapi juga banyak

keluarga-keluarga lain dan

tetangga-tetangganya yang

kekurangan.

Pada tanggal 21 Agustus 2006,

Bismillah Khan meninggal

dunia. Bangsa India bersedih

dengan kehilangan salah seorang

seniman besar mereka ini. Dia

diberi penghormatan dengan

21 tembakan meriam dan

pengibaran bendera nasional

India setengah tiang. Tributes

atau penghormatan berdatangan

dari seluruh dunia, dan semua

saluran televisi menyiarkan

langsung upacara pemakamannya

dari Benaras. Saya pun ikut

menyatakan rasa belasungkawa,

tetapi bagaimanapun juga

kenang-kenangan saya yang

langgeng dengan Bismillah Khan

sebagai seorang yang pernah saya

temui di Benaras adalah bahwa

dia adalah seorang lelaki yang

penuh daya hidup yang pada usia

hampir sembilan puluh tahun,

masih bisa tersenyum terhadap

ketimpangan-ketimpangan dan

keanehan-keanehan hidup dan

dunia.


Penulis adalah seorang sineas film

dokumenter.

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 88 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 89


Sebuah kombinasi yang luar

biasa berbakat antara Ibu

dan Putrinya, Daksha Sheth

dan Isha, walaupun sama-sama

cinta berat kepada seni tari, tetapi

mereka sangat berbeda, masingmasing

punya kepribadian sendirisendiri.

Daksha punya reputasi

sebagai choreographer/penari

dengan keahlian pada seni tari

Kathak, Mayurbhanj Chhau dan

Kalarippayattu. Isha yang masih

muda dan ahli main anggar dan

Ibu dan Putri

Dimana Tari adalah Kehidupan

LEELA VENKATARAMAN

Kalarippayattu, adalah seorang

penari, seorang aktris teater dan

film serta seorang aerialist, yang

sangat cekatan dengan teknik

menyeimbangkan diri diatas seutas

tali, sebuah seni akrobatik yang

berasal dari Mallakhamb, Kerala.

Kita mungkin bisa salah

menilai Daksha Sheth, melihat

dari luarnya yang kasual dan

sederhana. Tetapi kita dengan

mudah bisa mengetahui bahwa

Daksha dan Isha di kamar rias

figur yang mungil dan pendiam

ini memiliki tekad yang kuat,

watak yang keras, orang yang

sepanjang hidupnya keras

mempertahankan pilihanpilihannya,

apapun resikonya.

“Takdir telah menentukan

nasib saya dengan Tari. Kalau

bukan, bagaimana orang bisa

menerangkan bahwa Ibu saya

yang kebetulan sedang sibuk

mencari seorang guru tari Kathak

yang bagus untuk saya, di kota

Ahmedabad, (dimana kata Kathak

itu sendiri bahkan tidak dikenal

orang), tiba-tiba bertemu dengan

Kumud Behen (Kumudini Lakhia,

koreografer/guru tari Kathak

terkenal) yang , setelah menikah

dengan seorang lelaki Gujarat,

datang ke kota Ahmedabad untuk

menetap disana!” Guru utama

tari Kathaknya, Kumudini Lakhia,

(yang banyak membantu Daksha

Sheth dalam menjadikannya

seorang penari Kathak terkenal,

dengan sikap tubuhnya yang

berdiri lurus dan berjalan penuh

percaya diri seperti seorang ratu)

menambahkan, “Ibunya membawa

dia kepada saya sebagai seorang

gadis cilik. Melihat dia memakai

sepatu yang tumitnya miring, saya

putuskan bahwa yang pertama

kali yang harus saya lakukan

Subi Samuel

adalah melatihnya bagaimana cara

menyeimbangkan diri sepenuhnya

pada waktu berdiri. Kini dapat

saya katakan bahwa dia adalah

salah seorang seniwati terbaik

yang telah berhasil saya bentuk.”

Memang demikian kenyataannya.

Diatas panggung, Daksha adalah

seorang pribadi yang telah

berubah, setiap gerakannya sarat

dengan kekuatan dan ketenangan

yang dramatis, kualitas yang

mungkin selama bertahun-tahun

belum berhasil dikuasai seorang

penari. Dengan tubuhnya yang

sangat bagus keseimbangannya,

dia adalah pilihan yang tepat

dan alami untuk menarikan

Mayurbhanj Chhau, dengan satu

Isha (kiri) dan Daksha (bawah) dalam

pose-pose yang memukau.

Devissaro

Devissaro

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 90 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 91


Devissaro

kaki digoyang-goyangkan diudara,

dan satu kaki lagi bertahan diatas

lantai. Bahkan dalam tarian

yang harus dibawakan secara

berkelompok pun, dia selalu

terlihat lebih lincah dari penaripenari

lain. Pada awal 1980-an

pada waktu penyelenggaraan

Kathak Mahotsav (Festival

Tarian-Tarian Kathak) yang

diselenggarakan oleh sebuah

lembaga bernama Kathak Kendra,

penari ini (Daksha Sheth) dalam

presentasi solonya membawakan

sebuah tarian berjudul “The

Seasons”, yang gerakan-gerakan

khas tarian Kathak dikoregrafnya

sendiri, matching dengan musik

ciptaan komposer Barat Vivaldi.

Sebagian besar generasi muda

para penari Kathak tradisional,

dengan mata terbelalak seolaholah

tidak percaya dan tidak

setuju dengannya, langsung

mengerumuninya dibalik pentas

untuk memberikan ucapan

selamat dan menyatakan

kekaguman mereka terhadapnya.

“Bagi saya, menciptakan karya

sendiri seperti Toda, Tukda atau

Tihai adalah sebuah kebanggaan

dan kepuasan. Bukankah ini

hadiah paling besar yang dapat

dipersembahkan seorang murid

kepada gurunya? Sama saja

seperti orang tua yang merasa

bangga dengan prestasi dan

keberuntungan anak-anaknya

melebihi mereka. Cara saya ini

dalam menciptakan kesegaran

terhadap kesenian kita sendiri,

dan menambahkan bahwa apa

yang telah diberikan guru kepada

saya seperti “Kummiben” dan

Maharajji telah memberikan

kepuasan tersendiri bagi saya.”

Ketika ditanya mengapa dia masih

menginginkan latihan-latihan

Daksha dengan Devissaro (atas) dan dalam

Search for my Tongue (halaman samping).

dibawah bimbingan Pandit Birju

Maharaj, setelah bertahun-tahun

sukses dalam menciptakan inovasi

sendiri dibawah bimbingan

Kumudini Lakhia, Daksha

Sheth menjawab, “Untuk dapat

memahami dalamnya tradisi tarian

Kathak ini. Saya tidak mencari

koreografi-koreografi baru dari

Maharajji. Dia adalah seorang

‘gharanedar’, (pendukung

tradisi), saya menemuinya untuk

memahami lagi dengan sebaikbaiknya

rahasia-rahasia tradisi,

dan dia memberikannya dalam

jumlah yang sangat banyak.”

Tetapi rasa lapar Daksha

yang belum terpuaskan akan

pengalaman-pengalaman di

bidang seni tari, pada hal Pandit

Birju Maharaj dan Kumudini

Lakhia telah mewariskan

semuanya kepadanya, telah

mendorongnya untuk belajar

ke Mayurbhanj Chhau,

setelah Daksha menyaksikan

Guru Krishnachandra Nayak

memberikan pelajaran tari di

Bharatiya Kala Kendra. Disini

jugalah dia (Daksha ) bertemu

dengan penari Australia, dengan

gaya footloose dan fancy-freenya,

bernama Devissaro, yang

Dhiraj Chawla

ditakdirkan untuk menjadi parner

hidupnya. Tinggal sekamar

dengan seorang murid pemusik

Dhrupad Fahimuddin Dagar,

Devissaro yang menyukai seni

Dhrupad (musik vokal klasik

India) memiliki pengetahuan

yang mendalam tentang musik

India. Karena sama-sama

berpikiran independen, dan tidak

terintimidasi oleh masyarakat dan

kebiasaan-kebiasaannya, Daksha

dan Devissaro segera menjadi

pasangan yang tak terpisahkan,

Daksha malah sampai mau

(bahkan membuat Devissaro

kaget) dibawa ber-hitchhiking

dengan membonceng pada sepeda

Devissaro yang sudah sering

masuk bengkel itu, dan berkalikali

onderdilnya diganti. Karena

sering menjadi bahan gosip yang

enak, dimana cewek-cewek

mau diboncengi oleh cowok

dengan sepedanya adalah suatu

hal yang sangat tidak lumrah di

India, pasangan ini memutuskan

untuk menikah. Kedua orang

tua Daksha (ayahnya seorang

businessman kaya) tidak gembira

ketika dia memperlihatkan

sebuah foto Devissaro dengan

pakaian Yoga, yang menegaskan

kekhawatirannya bahwa

putrinya telah menetapkan

pilihan yang bertentangan

dengan keinginan mereka. Lalu

datanglah sebuah telegram

bahwa ibu Daksha sedang sakit,

ini berarti sebuah alasan yang

kuat untuk menjauhkan Daksha

dari Devissaro. Tetapi Daksha

menjawab dengan tenang bahwa

ada empat orang anak lagi di

rumah yang dapat merawat

Ibu jika memang diperlukan.

Tetapi dalam perjalanan waktu

dan melalui interaksi-interaksi

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 92 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 93


Devissaro

Devissaro

Daksha dalam komposisi-komposisi berbeda (atas dan halaman samping)

Avinash Pasricha

yang lebih dekat, kedua orang

tuanya akhirnya berubah sikap

dan, untuk mengutip Devissaro,

“Kedua mertua saya, yang

sebelumnya enggan menerima

saya, ternyata paling manis dan

kooperatif.”

Tanpa sepengetahuan guru-guru

tari Kathaknya, Daksha pergi

ke Baripada (di Orissa), tempat

asalnya aliran Mayurbhanj

Chhau. Walaupun kota ini

terbagi kedalam kasta-kasta

(para penari dianggap berkasta

tinggi di salah satu sisi sungai

dekat istana, dan terpisah dari

orang-orang berkasta rendah

yang tinggal di sisi lainnya),

Daksha tidak mengindahkan

para tetua yang melarangnya

dan menyuruhnya kembali ke

tempat asalnya karena Chhau

hanya diperuntukkan bagi kaum

lelaki dan bukan untuk seorang

gadis “berkasta tinggi”. Setelah

banyak belajar dari tokoh-tokoh

seperti Lal Mohan Patro, seorang

musisi yang banyak mengetahui

tentang tari, Krishnachandra Sen

dan lain-lain, Daksha berhasil

menguasai banyak komposisi,

sebuah tape recorder kepunyaan

seorang teman Amerikanya

telah membantunya merekam

semua lagu-lagunya. “Chhau

telah merubah persepsi saya

dan membuka banyak pintu

bagi saya, karena saya selalu

menyenangi gerakan-gerakan

kaki di udara, kontras dengan

gerakan-gerakan kaki di lantai

pada tari Kathak. Dengan

gerakan-gerakan indah kaki di

udara, aliran tari Chhau telah

memberikan suatu keseimbangan

vokabulari yang bagus bagi saya

untuk berkarya.”

Setelah menikah, pasangan

Daksha-Devissaro pindah ke

Brindavan. “Sayalah yang selalu

mengambil keputusan-keputusan

berdasarkan intuisi-intuisi, tanpa

memperdulikan baik buruknya.

Dan Brindavan dengan penyair

oktogenaria (berusia 80-an)

Kavi Kalyan Sharma, pada masa

itu menjadi sorga yang penuh

peluang dengan syair-syairnya

yang sering dinyanyikan. Dengan

mengklaim Vallabhacharya

sebagai guru keluarganya,

Dhrupad, Dhamar, seluruh

koleksi syair penyair Ashtachhap

bisa diperoleh melaluinya.

“Saya punya seorang teman

penyanyi hebat dari Barsana,

dan Kalyanjilah yang menulis

kembali komposisi Govindlila

sendiri, untuk membuatnya

cocok untuk ditarikan. Ketika

saya mengkoreograf tari Kathak

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 94 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 95


Devissaro

Isha dalam Sarpa-gati (halaman samping) dan dalam Bhukham

Devissaro

sesuai dengan komposisikomposisi

ini, para penonton

sangat menyukainya dan kuil-kuil

seperti Radha Raman, Banke

Bihari, Govindlila, semuanya

mulai mengundang saya untuk

menarikan Kathak sebagai

persembahan kepada Dewa. Ini

benar-benar sebuah pengalaman

yang tak terlupakan, sebab ketika

sebuah tarian menjadi sebuah

persembahan kepada dewa,

(nritya-seva), nadanya sangat

indah sekali. Hanya saya, tarian,

dengan Dewa yang ada di depan.

“Kami menghadirkan sebuah

pemandangan yang ganjil, karena

pada waktu itu saya dan kedua

anak-anak dan Isha yang masih

berusia enam tahun dan Tao

yang lebih kecil akan masuk

dulu kedalam sebuah riksya,

lalu diikuti oleh para musisi

mengikuti dari belakang dengan

riksya lain. Maka menjadilah kami

sebuah rombongan pemusik

pengelana dan masyarakat pun

ikut memberikan dorongan

besar mereka. Tetapi masa-masa

yang sangat menggembirakan

ini tiba-tiba berakhir dengan

meninggalnya Kalyanji yang

menderita TBC stadium akhir

(kami tidak pernah tahu hal ini),

dan hidup di Brindavan menjadi

sulit. Kami putuskan untuk

pindah.”

Kemudian keluarga ini memulai

usaha lain lagi setelah pindah

ke Thiruvananthapuram

(Trivandrum) di Kerala, dimana

setelah melalui tahun-tahun

pertama yang sulit, pasangan ini

mendirikan sebuah kampus yang

cukup bagus. Keempat mereka,

selama bertahun-tahun dengan

menggunakan kenderaan roda

dua, berkeliling, bukan untuk

berpiknik tetapi untuk memajukan

usaha mereka. Mereka bahkan

pernah mengalami sebuah

kecelakaan, tetapi tidak ada

dari mereka yang terluka. Ayah

Daksha tidak lama kemudian

mengirimkan sebuah mobil untuk

mereka, dan berkata, “Pakai

mobil ini. Tidak boleh lagi pakai

kenderaan roda dua karena saya

belum siap mendengar kalian

mendapat kecelakaan lagi.”

Meniti karir sebagai senimanseniman

mapan di bidang seni

tari Kathakali dan Kalarippayattu,

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 96 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 97


tidaklah mudah. Meskipun

kurang cocok, mereka menyewa

beberapa penari muda untuk ikut

mereka, “yang kami gaji untuk

mempelajari seni tari dan menjadi

bagian dari rombongan tari kami.

Saya pikir hanya kamilah contoh

guru-guru tari yang membayar

murid-muridnya yang mau datang

untuk belajar, dan bukannya

dibayar untuk mengajar. Tetapi,

berkat masa-masa sulit yang

kami lalui itu, mutu karya-karya

kami dan undangan-undangan

untuk mengadakan pertunjukan

di luar negeri, telah membuat

kami berkesinambungan.

Profesionalisme kami,

pencayahaan kami, ketrampilan

organisatoris kami, semuanya

mendapat penghargaan.”

Rombongan kami diminta untuk

mengadakan pertunjukan di

Kennedy Centre, New York, tahun

berikutnya. Setelah berkeliling ke

berbagai negara, Daksha berkata

bahwa pengalamannya yang

paling bagus dan mengesankan

adalah mengadakan pertunjukan

di Indonesia, “meskipun kami

memperoleh standing ovation

dimana-mana.”

Dimana rumah kami disitulah

jantung kami – hal ini jelas dari

ucapan pasangan ini tentang

rumah mereka. “Kami telah

menanam 600 batang pohon di

halaman kami. Kami bertetangga

dengan sebuah keluarga yang

memelihara banyak anjing dan

kucing – dan jangan lupa ular-ular

kobra yang sering berkunjung ke

studio kami ketika kami sedang

berlatih. Kami mengusir mereka

secara pelan-pelan dan mereka

pun pergi secara diam-diam, dan

kami pun terus berlatih. Semua

orang tahu bahwa disini tidak

seorang pun boleh membunuh

makhluk hidup apapun. Kita

harus berbagi bumi ini,” kata

Devissaro tegas.

Dengan memadukannya

dengan apa yang diperolehnya

dari aliran-aliran Kathak, dari

Kalarippayattu, dari Chhau dan

inovasi-inovasinya sendiri, karyakarya

Daksha mempunyai ciri-ciri

dan gaya yang unik, dimana yang

tradisional bercampur dengan

yang kontemporer dalam suatu

bentuk baru. ‘Sarpa-gati’ pada

tahun 1996, dengan Isha dan

Daksha dalam sebuah postur yang menonjol

parner prianya mempertunjukkan

Mallakhamb dengan merayap

seperti ular turun naik tali yang

tergantung dari loteng cukup

membuat penonton ternganga.

Mahishasura-mardini, Bhukham,

Kal Chakra, Vastra (karya ini

sedang dalam penyelesaian),

Silence is a Rhythm, Govindlila,

Ashtayam, Yagna , Chhaya,

Time Piece, – semua karya-karya

Daksha ini adalah ciptaannya

dalam berbagai manifestasi.

Dalam menarikan, Search for my

Tongue Daksha secara tiba-tiba

muncul dari tumpukan daun-daun

Avinash Pasricha

kering dengan gerakan-gerakan

yang dramatis. Period costume,

pencahayaan, konsepsualisasi

musik dan aural direction adalah

ide Devissaro. Dengan menyebut

dirinya sebagai seorang penjudi

yang alami, Daksha mengakui

bahwa dia memang nyaman

dengan ketidakpastian. “Saya

mendambakan keberhasilan,

tetapi saya tidak khawatir dengan

kegagalan”.

Anak-anak dari pasangan ini yang

sangat berbeda dari senimanseniman

biasa lainnya harus

bersikap individual menurut

kemampuan sendiri. Dan memang

begitulah adanya.

Putra mereka, Tao, yang telah

menjadi sebuah rhythm machine

pada waktu baru berumur dua

tahun, dan mahir bermain dengan

matra-matra 7,9, dan 11, padahal

dia baru saja mulai belajar bicara,

kini telah menjadi seorang

pemusik hebat dengan semua

jenis alat perkusi.

Putri mereka, Isha yang sibuk

berlatih setiap hari dari pukul 6.30

sampai 8.30 malam, menganggap

dirinya seorang aktor yang juga

menari atau seorang penari

yang juga kadang-kadang juga

berakting. “Saya berpendapat

bahwa saya termasuk hanya

kedalam satu kategori saja, yaitu

seorang performing artist. Dan

ibu telah merencanakan karir

saya seperti itu, sehingga saya

bisa siap dengan peran apa saja

yang diinginkan oleh peran apa

saja, kapan saja. Saya juga berlatih

Yoga, dan itulah yang membuat

saya bisa menjalani skedul-skedul

saya yang berat dalam menekuni

pekerjaan saya,” ujar Isha.

Duet tali Sarpa-gati

“Menurut anda, apakah prestasi anda

terbesar dalam hidup sejauh ini?”

“Sejak dari dulu saya menilai

bahwa saya dilatih oleh orang

tua saya dalam gaya hidup satvik,

sejak di Kerala, kampung saya.

Kami sangat dekat dengan bumi.

Kami cinta dengan aromanya,

kami menanam bahan-bahan

pangan dan sayur-sayuran kami

sendiri – kami berbagi lahan

dengan makhluk-makhluk hidup

lainnya, bekerja mengolah tanah

berjam-jam setiap hari, makan

makanan satvik. Bukan saja Yoga

sebagai olah raga kami, tetapi

menjalankan hidup sebagai

Peyoga. Kakak lelaki saya menjadi

anggota sebuah Band dan hebat

dalam ritme(rhythm). Saya

mencintai hidup ini.”

Devissaro

Bagaimana karir anda

dibandingkan dengan karir dalam

industri film?

“Sangat berbeda”, katanya sambil

tertawa. “Di dalam studio saya

tidak akan berpikir dua kali untuk

menyapu lantai tempat saya

menari. Saya tidak bisa melakukan

ini ketika sedang berlatih untuk

film. Tetapi saya tidak suka

mencari glamour seperti itu.

Hidup ini terlalu pendek. Saya

ingin memanfaatkan hidup ini

sepenuhnya. – semakin banyak

ketrampilan yang bisa saya raih,

semakin bagus. Saya selalu

berusaha sebaik-baiknya untuk

apapun yang saya kerjakan.”

Bagaimana dengan ikatan

romantisnya?

“Belum ada sampai saat ini. Saya

sudah merasa senang karena

dapat melakukan apa yang ingin

saya lakukan. Saya tidak suka

berakting untuk iklan-iklan, ini

bukan sebuah pernyataan. Jadi

diri saya sendiri adalah penting

bagi saya.”

Secara ringkas Isha berkata

tentang karirnya. “Bagi saya

bekerja adalah adalah hidup. Saya

tidak perduli tentang bagaimana

orang menyebutnya: sukses,

gagal. Saya tidak mengejar

pakaian-pakaian sesuai mode dan

bagus-bagus. Saya adalah apa

adanya saya. Kegembiraan itu

ada dalam perjalanan hidup itu

sendiri, bukan dalam mencapai

apa yang diangan-angankan.

Kebahagiaan terletak dalam

keinginan itu sendiri.”


Penulis adalah seorang pengamat seni tari

dan telah menulis sejumlah buku tentang

seni tari klasik India.

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 98 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 99


Karya Lukis Pada

India House, London

ASOKE MUKERJI

Ketika Sir Herbert Baker mendesain gedung baru untuk Komisi Tinggi India

(India House) di London pada tahun 1920-an, dia merencanakan high vaulted

ceilings (atap-atap lengkung yang tinggi) untuk lantai dasar, serta sebuah

kubah tengah yang besar, sebagai ruang-ruang (spaces) yang siap untuk didekorasi.

Komisaris Tinggi India, Sir Atul Chatterjee, yang mengusulkan pembangunan India

House pada tahun 1925, diminta oleh Sir William Rothenstein (1872-1945), Principal

(Dekan) Royal College of Art di London, agar memilih para pelukis dari India

untuk melukis ruang-ruang kosong ini di bagian resepsi gedung baru itu. Pekerjaan

membuat lukisan-lukisan dinding (murals) itu baru dimulai setelah gedung tersebut

diresmikan pembukaannya pada tanggal 8 Juli 1930 oleh Raja King George V, dan

rampung pada bulan Januari 1932.

Ciri yang paling mengesankan dari India House dilihat dari bidang seni adalah

ikatan organisnya dengan gerakan-gerakan kontemporer dalam kesenian

India, khususnya Aliran Kesenian Bengala. Kenyataan ini pada umumnya lebih

disebabkan oleh visi Rothenstein, yang pernah aktif dalam Royal Society of

Arts di London. Bersama dengan Ernest Binfield Havell (1861-1934), mantan

Dekan The Government School of Art di Calcutta pada tahun 1896-1905, Ananda

Coomaraswamy (1877-1947), Lady Christiana Herringham (1852-1947), dan Thomas

Arnold, antara lain, Rothenstein mendirikan India Society pada tanggal 13 Januari

1910 dengan maksud agar masyarakat dapat menghargai seni rupa India. Adalah

Coomaraswamy yang memperkenalkan Rothenstein kepada karya-karya seniman

terkemuka India dari aliran “Calcutta”, Abanindranath Tagore.

Rothenstein dalam sebuah tulisannya menceritakan tentang kunjungannya ke

India yang disebutnya sebagai “An Indian Pilgrimage”, bahwa keputusannya untuk

melancong ke India pada tahun 1910 untuk menyaksikan sendiri perkembangan

kesenian di India adalah berkat Lady Herringham. Sebelum melakukan kunjungan

ke India, Rothenstein pernah diperingatkan oleh Sir Richmond Ritchie, Secretary

pada Political and Secret Department di India Office, bahwa “simpatinya untuk

bangsa India dan segala sesuatu yang berbau India akan mendorong kaum

Nasionalis” tetapi peringatan ini tidak diindahkannya.

Kuadran Barat yang dilukis oleh Sudhansu Sekhar Choudhury

Kuadran Timur dilukis oleh Lalit Mohan Sen

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 100 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 101


Masa kanak-kanak (Balyavastha) oleh Dhirendra Krishna Deb Barman

Kerja (Karma) oleh Dhirendra Krishna Deb Barman

Kunjungan Rothenstein ke Benaras meninggalkan kesan yang mendalam pada

dirinya, “pemandangan yang padat dengan manusia, sarat dengan warna-warna dan

sangat sibuk” itu mengingatkannya kepada sebuah “kota klasik; kepada Corinth atau

Carthage; dan lagi-lagi kepada jalan-jalan yang padat dengan manusia, pada zaman

pertengahan di Roma”. Lukisannya berjudul “Sunset at Benaras” dihadiahkan kepada

India House setelah gedung tersebut dibuka pada tahun 1930, dan tergantung di

Nehru Hall gedung tersebut dewasa ini.

Ketika tiba di Calcutta, Rothenstein disambut oleh Abanindranath Tagore, dan

saudaranya Goganendranath, yang membawanya ke rumah keluarga mereka,

Jorasanko. Rothenstein dipertemukan dan berinteraksi dengan para seniman yang

tergabung dalam Indian Society of Oriental Art di Calcutta. Selain Abanindranath dan

Goganendranath Tagore, kelompok ini juga dianggotai oleh Nandalal Bose dan Asit

Halder. Abanindranath dan para kontemporernya telah mempopulerkan gerakan seni

kontemporer mereka, yang kemudian terkenal sebagai “Bengal School” atau Aliran

Bengala. Mereka melihat ke mural-mural purba dan lukisan-lukisan miniatur India

dari zaman pertengahan untuk mendapatkan inspirasi dalam pemilihan subject matter

dan dalam penggunaan bahan-bahan seperti tempera. Secara signifikan, gaya-gaya

dan pengaruh-pengaruh ini diekspresikan secara ekswisit dalam corak kesenian India

House dua puluh tahun kemudian.

Pada bulan Februari 1911, Rothenstein untuk pertama kalinya bertemu dengan

paman Abanindranath, Rabindranath Tagore. Rothenstein sangat terkesan dengan

Rabindranath, yang dilukiskannya sebagai “salah seorang manusia paling cemerlang

pada masa ini.” Pertemuan antara pujangga India dan seniman Inggris ini terbukti

sangat penting artinya dalam mempropagandakan daya tarik dan kreativitas pemikiran

kaum nasionalis India di Barat. Rabindranath mengunjungi Inggris pada tahun 1912

dan 1913. Diatas kapal yang ditumpanginya, dia membawa puisi-puisinya dalam

Gitanjali, menuliskan terjemahan-terjemahan Inggrisnya dalam sebuah buku catatan.

Setelah tiba di Inggris pada tanggal 16 Juni 1912, Tagore mencari Rothenstein, yang

mengambil buku catatan Tagore yang berisi terjemahan-terjemahan puisi-puisinya itu

dan mengetik salinannya. Pada tanggal 7 Juli 1912 Rothenstein mempersiapkan sebuah

acara untuk pembacaan puisi-puisi Tagore tersebut di rumah sewaannya di Hampstead

oleh penyair W.B. Yeats. Pada tanggal 1 Nopember 1912, India Society menerbitkan

sebuah edisi terbatas (750 eksemplar, 500 diantaranya untuk anggota dan 250 untuk

dijual kepada umum) dari Gitanjali: Song Offerings berisikan terjemahan-terjemahan

Inggris dari 103 puisi, dengan sebuah kata pengantar oleh Yeats dan sebuah sketsa

(lukisan) pensil dari diri Tagore yang dibuat oleh Rothenstein. Gitanjali memenangkan

Hadiah Nobel untuk Sastra pada tahun 1913. Tagore mempersembahkan penerbitan

tersebut kepada Rothenstein.

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 102 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 103


Viceroy’s House – sekarang menjadi Rashtrapati Bhawan (Istana

Presiden) – di New Delhi. Dia juga adalah salah seorang yang ikut

kompetisi untuk membuat lukisan-lukisan mural di India House.

Ranada Charan Ukil adalah yang termuda dari Ukil Bersaudara

yang terkenal itu. Sarada Ukil (1889-1940), adalah mantan murid

Abanindranath Tagore, yang datang ke Delhi pada tahun 1918 sebagai

Guru Seni (Arts Teacher) pertama di Modern School, yang terletak di

Daryaganj No. 24 dan dikelola oleh teman Sarada Lala Raghubir Singh.

The Sarada Ukil School of Art didirikan di Delhi pada tahun 1926. Dua

tahun kemudian, melalui “inisiatif yang aktif dan sungguh-sungguh

dari Ukil Bersaudara yang terkenal itu: Sarada, Barada dan Ranada”,

berdirilah All India Fine Arts and Crafts Society (AIFACS) di New Delhi,

untuk “menyebarluaskan seni dan kebudayaan di India dan di luar

negeri, dan untuk mengupayakan peningkatan dan perbaikan nasib

seniman-seniman di India khususnya.”

Dhirendra Krishna Deb Barman, lahir tahun 1903, belajar seni di

Santiniketan dibawah bimbingan Nandalal Bose antara 1919 dan 1928.

Dia meneruskan kuliahnya untuk berspesialisasi di bidang melukis

mural di Royal College of Art in London. Setelah menyelesaikan

proyeknya di India House, dia ditunjuk sebagai Principal dari Kala

Bhawan di Santiniketan.

Kubah Tengah yang megah

Komisaris Tinggi Sir Atul Chatterjee meneruskan proposal untuk

melukis interior India House tersebut kepada Pemerintah India di

New Delhi. Chief Commissioner Delhi, Sir John Perronet Thomson,

mengetuai sebuah panitia tingkat tinggi dan pantia inilah yang memilih

empat orang seniman dari delapan puluh orang yang melamar.

Keempat seniman yang sukses ini adalah Lalit Mohan Sen (Lucknow),

Ranada Charan Ukil (Delhi), Dhirendra Krishna Deb Barman

(Santiniketan) dan Sudhansu Sekhar Choudhury (Calcutta). Mereka

diberangkatkan ke Inggris untuk mendapatkan pelatihan lebih lanjut di

Royal College of Art dibawah pengarahan Rothenstein.

Sudhansu Sekhar Choudhury, lahir pada tahun 1903, belajar dibawah

bimbingan Abanindranath dan Gogendranath Tagore di Indian Society

of Oriental Arts, Calcutta. Dia mengunjungi Thailand dan Kamboja

pada tahun 1928, dan juga ikut kompetisi melukis mural di India

House setahun kemudian. Choudhury, yang tinggal di Inggris antara

Lantai ruang masuk mempunyai dua belas lambang-lambang indah

dari provinsi-provinsi di India

Keempat seniman ini relatif kurang dikenal, tetapi lukisan-lukisan

mereka memiliki semangat seni dan teknik seni kontemporer India.

Lalit Mohan Sen, lahir di kota Nadia di Bengala pada tahun 1898,

pindah ke Lucknow pada tahun 1912. Setelah mempelajari seni lukis

dinding (mural) di Royal College of Art, London, pada tahun 1926, dia

kembali ke Lucknow untuk bekerja sebagai Superintendent, Drawing

and Teacher’s Training Class (Sekolah Guru Melukis dan Menggambar)

pada tahun 1929. Pada tahun itu, juga Sen terpilih untuk medekor

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 104 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 105


1929 dan 1932, pernah menyelenggarakan eksebisi solo di Fine Arts Society yang

prestigious di New Bond Street, London. Setelah kembali ke India, Choudhury

membuat lukisan-lukisan mural di berbagai bioskop di India utara.

Keempat pelukis muda ini dikirim ke London pada bulan Agustus 1929 dengan

beasiswa pemerintah. Mereka juga melakukan kunjungan-kunjungan ke Florence,

Roma dan kota-kota Eropa lainnya untuk mempelajari teknik melukis diatas plaster.

Setelah menyelesaikan latihan-latihan mereka, para pelukis tersebut dipekerjakan

untuk mendekorasi India House.

Mereka mulai mengerjakan persiapan-persiapan di sebuah studio sementara yang

didirikan dalam sebuah ruangan (dengan diterangi cahaya matahari) diatas lantai

atas India House. Mereka menghabiskan waktu kira-kira sepuluh bulan untuk

merampungkan persiapan-persiapan mereka. Pada tanggal 9 April 1931 para pelukis

tersebut mulai melukis. Karena alasan-alasan teknis mereka terpaksa memutuskan

untuk menggunakan tempera-telur yang dibuat dengan mencampurkan tepung

pigmen-pigmen dengan kuning telur dan air – sebagai pengganti minyak. Dalam

tradisi Bengal School, mitologi India dan sejarah India memberikan inspirasi yang

tematis.

Pada Entrance Hall (Ruang Masuk), dua orang dari keempat pelukis ini, Ukil dan

Choudhury, melukis delapan bagian pendentif yang menggambarkan enam musim

di India, serta senja dan subuh. Sapuan-sapuan kuas yang halus dalam pemilihan

tema dilakukan dengan sangat indahnya di sekitar puisi lirikal gubahan penyair

Roza (Puasa) oleh R. Ukil (halaman samping) dan

Buddha dengan murid-muridnya oleh Lalit Mohan Sen (bawah).

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 106 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 107


Varsha (musim hujan, Juli/Agustus)

Sheet (musim dingin, Desember/Januari)

Kalidasa berjudul Ritusamhara, atau “The Pageant of Seasons”. Musimmusim

itu adalah Grishm, (musim panas, Mei/Juni); Varsha (musim

hujan, Juli/Agustus); Sharad (awal musim gugur, September/Oktober);

Hemant (musim gugur akhir, November/Desember); Sheet (musim

dingin, Desember/Januari) dan Basant (musim bunga, Maret/April).

Dalam lunet-lunet yang terdapat di Ruang Tamu/Ruang Baca di lantai

dasar terdapat sebuah legenda yang menyedihkan tentang Anarkali,

serta tema mengenai Shasti Puja (menyembah dewi kesuburan) yang

dilukis oleh Choudhury. Dua lunet lainnya, End of Roza (Akhir Puasa)

dan tema Todi Ragini, dilukis oleh Ukil.

Di lobi yang terdapat di lantai pertama, Barman melukis satu set

yang terdiri dari delapan pendentif untuk menggambarkan delapan

fase hidup: Kelahiran (Janma), Masa Kanak-Kanak (Balyavastha),

Masa-Masa Sekolahan (Vidyarthi Jeewan), Cinta (Prem), kehidupan

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 108 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 109


erkeluarga (Grahstha), masa-masa bekerja (Karma), masa penolakan atau

renunsiasi (Vanprastha), dan akhirnya Nirvana (Sorga).

Dalam Ruangan Perpustakaan dimana Raja George V secara resmi meresmikan

penggunaan gedung baru India House pada bulan Juli 1930, Sen melukis lunet

Buddha dengan Murid-Muridnya.

Secara keseluruhan keindahan lukisan-lukisan mural yang terdapat di India House

paling bagus terlihat di Kubah Tengah yang magnificent itu, yang merupakan ciri

Shasti Puja (pemujaan terhadap dewi kesuburan) dilukis oleh Choudhury

paling dominan dari gedung ini. Mural-mural yang terdapat di Kubah ini saling

berpadu dengan sangat harmonisnya, yang menggambarkan empat penguasa dalam

sejarah India. Keempat pelukis ini berusaha keras selama sepuluh bulan lebih untuk

mentransformasikan pristiwa-pristiwa bersejarah yang spektakuler kedalam muralmural

yang kaya warna; daun-daun emas 24-karat digunakan sebagai latar belakang

untuk lukisan-lukisan yang dibuat dengan menghabiskan biaya sebesar seribu rupee

ini, yang pada waktu adalah sebuah jumlah yang sangat besar.

Kuadran selatan dilukis oleh Ukil, melukiskan adegan dimana Alexander the

Great (Iskandar Yang Agung) memberi hormat kepada keperkasaan Raja India

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 110 INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 111


Porus setelah kekalahannya dalam Pertempuran Sungai Hydaspes (kini Jhelum)

pada tahun 326 SM. Kuadran Barat dilukis oleh Choudhury, yang memperlihatkan

Kaisar Chandragupta, Maurya, yang naik tahta Magadha pada tahun 322 SM, yang

sedang menerima penghormatan pada pagi hari dari pasukan bodyguardnya yang

terdiri dari serdadu-serdadu wanita. Deb Barman melukis Kuadran utara yang

memperlihatkan Kaisar Ashoka (304 SM-232 SM) mengirim putrinya Sanghamitra

ke Sri Lanka untuk menyebarluaskan ajaran-ajaran Buddha. Kuadran Timur dilukis

oleh Sen, dengan menggambarkan Kaisar Mughal Akbar (1542-1605) dan arsiteknya

sedang membicarakan rencana untuk pembangunan ibu kota yang baru di

Fatehpur Sikri.

Ukil dan Choudhury melukis “Langit dan Burung-Burung (Balaka)” pada coved

ring diatas kubah serta kubah dan langit-langit sebagai basis bergantungnya lampu

kristalnya. Lukisan-lukisan ini termasuk kedalam sebuah kelompok lukisan yang

terdiri dari delapan panil, yang dikerjakan dengan warna-warna pastel ringan,

menggambarkan burung-burung yang sedang berkelahi di langit yang berawan.

Rabindranath Tagore mengunjungi India House pada tahun 1931 bersama

Rothenstein untuk menemui para pelukis tersebut. Tagore gembira melihat bahwa

semua subyek dan tema-tema yang dipilih untuk mural-mural ini semuanya khas

India. Pembuatan lukisan-lukisan mural dirampungkan pada bulan Januari 1932.

Semangat nasionalisme India telah menemukan ekspresi kreatifnya di jantung kota

London.


Penulis pernah menjabat sebagai Deputy High Commissioner of India untuk Inggris.

“Matahari Terbenam di Benaras” oleh Sir William Rothenstein (bawah) dan Todi Ragini oleh Ukil (halaman samping)

INDIA PERSPECTIVES VOL 24 NO. 3/2010 112

More magazines by this user
Similar magazines