Analisis Penggunaan Teknologi Komunikasi Dan Informasi Pada ...

lib.unri.ac.id

Analisis Penggunaan Teknologi Komunikasi Dan Informasi Pada ...

Analisis Penggunaan Teknologi Komunikasi Dan Informasi

Pada sekolah di kota pekanbaru propinsi riau

Yenita Roza ........................................................ 1-7

Arah Kebijakan Pendidikan Dasar Kota Dumai Sebagai

Kawasan Ekonomi khusus

Caska ................................................................ 8-14

Peningkatan Hasil Belajar Biologi

DI Kelas XI A.5 dengan Pemberian Tugas

Dalam Proses Pembelajaran Di Sman 1 Pekanbaru

Wan Roswita ...................................................... 15-22

Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah

Pada Konsep Rancangan Eksperimen Dalam Mata

Kuliah Biometri

Suwondo ............................................................ 23-28

Peningkatan hasil belajar genetika melaui Model Pengajaran

Langsung (direct intruction) pada mahasiswa biologi

FKIP Universitas Riau

Darmawati ......................................................... 29-34

Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah

(Problembased- Learning) Pada Perkembangan Hewan

Untuk Peningkatan Penguasaan Konsep Dan

Berfikir Kritis Mahasiswa Pendidikan Biologi Fkip Unri

Arnentis dan Evi Suryawati .................................. 35-42

Peningkatan Hasil Belajar Writing Melalui

Tehnik Chain Card Game Pada Mahasiswa

Bahasa inggris fkip unri

Jismulatif ........................................................... 43-48

Model Pembinaan Dan Pembelajaran Anak Usia Sekolah

7-15 Tahun Pada Masyarakat Minoritas Dalam

Menuntaskan Program Wajib Belajar

Pendidikan Dasar 9 Tahun di Propinsi Riau

Achmad Hidir & Jahrizal Harun .......................... 49-58

Aktivasi Multipel Inteligensi Melalui Pendekatan

Pembelajaran Kontruktivis Untuk Meningkatkan

Hasil Belajar Struktur Aljabar Mahasiswa

Di Program Studi Pendidikan Matematika

Pmipa Fkip Universitas Riau

Syofni ................................................................. 57-66

0


JURNAL PENDIDIKAN

JOURNAL OF EDUCATION

Penanggung Jawab

Prof. Dr. Usman M. Tang, MS

(Ketua Lembaga Penelitian Universitas Riau)

Ketua Dewan Editor

Dr. Caska, M.Si

Anggota Dewan Editor

Prof. Dr. Almasdi Syahza, SE. MP.

Dr. Zulfaan Saam, MS

Dr. Gimin, M.Pd

Dr. Hasnah Fauziah, M.Hum

Dr. Dudung Burhanuddin, M.Pd

Mitra Bestari

Prof. Dr. Irwan Effendi, M.Sc (Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau)

Prof. Dr. Isjoni, M.Si (Ketua PGRI Provinsi Riau)

Prof. Dr. Suryana, M.Si (UPI Bandung)

Prof. Dr. Wahjoedi, ME (UNM Malang)

Prof. Dr. Rusdarti, M.Si (UNES Semarang)

Prof. Dr. Yunia Wardi, M.Si ( UNP Padang)

Prof. Dr. Dede Ruslan, M.Si (UNIMED Medan)

Editor Teknik

Didi Safriadi, SPi

Alamat Penerbit/Redaksi:

Lembaga Penelitian Universitas Riau

Kampus Binawidya Simpang Panam Pekanbaru

Telp. (0761) 567093

Fax (0761) 63279

Email: ur_jurnal_pendidikan@yahoo.com

Email: riodirgantoro@yahoo.com

Terbit 2 kali dalam satu tahun: April, Oktober

1


Yenita Roza

Jurnal Pendidikan

Analisis penggunaan teknologi komunikasi dan informasi

ANALISIS PENGGUNAAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI

PADA SEKOLAH DI KOTA PEKANBARU PROPINSI RIAU

Yenita Roza

Program Pendidikan Matematika FKIP Universitas Riau

Jalan HR. Subrantas KM 12,5 Simpang Panam Pekanbaru Indonesia 28293

rozayenita@yahoo.co.uk/ yenita_roza@unri.ac.id

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kondisi yang mendukung serta hal yang

menjadi kendala proses integrasi program Teknologi Komunikasi dan Informasi di sekolah yang ada

dikota Pekanbaru. Matapelajaran TIK sejak kurikulum KBK tahun 2004 sudah menjadi matapelajaran

wajib mulai dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Tujuan dari pembelajaran ini adalah

agar anak memahami perkembangan teknologi serta mengetahui keterbatasannya sehingga dapat

memanfaatkannya secara optimal. Disamping itu siswa juga diharapkan dapat meningkatkan

kemampuannya dalam matapelajaran lain dengan memanfaatkan TIK. Terdapat 37 sekolah yang

disurvey pada penelitian ini. Dari analisa data ditemukan bahwa 86.5% sudah menyajikan

matapelajaran TIK dan guru sudah menggunakan computer untuk kebutuhan kerjanya. Dalam

penelitian ini juga diungkapkan bahwa guru menggunakan beberapa bentuk pendekatan dalam

menyajikan matapelajaran TIK. Pendekatan yang dilakukan adalah penyajian kelas, praktek di lab

computer atau kombinasi kedua penyajian kelas dan praktek lab computer. Ketersediaan fasilitas

computer merupakan faktor kunci yang dihadapi guru dalam pembelajaran TIK.

Kata kunci: Integrasi ICT Kurikulum.

ANALYZING OF ICT (INFORMATION AND COMMUNICATION TECHNOLOGY)

INTEGRATION IN PEKANBARU SCHOOLS’ PROGRAM

ABSTRACT. This study attempts to analyze the conditions that facilitated the integration of

Information Communication Technology (ICT) in Pekanbaru Schools’ Program and the problems

that emerge during the process of integration. Information and Communication Technology (ICT) is a

course offer for student from primary to senior high schools by compentency based curriculum. This

course not only teach a computer as subject but also as utility for learning. Objectives of this course

are to make students aware of technology advantages, limitations and able to use it optimally. In

addition, student also expect to develop their ability in studying other subject by using computer . A

total of 37 schools from a different level were observed. Based on data analysis found 86.5% of

schools offer ICT course for student and teachers used ICT for doing their job. The findings also

revealed that teachers in this study employed a different approach in delivering ICT course. They were

classroom lecturer, computer lab or both classroom and computer lab. The availability of computer

facilities was found to be the main problems that the teachers faced during this process of integration

ICT into schools’ program. They were the essential and the supporting condition

Keywords: ICT integration in curriculum

1


Yenita Roza

PENDAHULUAN

Secara umum kualitas sumber daya manusia

bangsa Indonesia saat ini masih rendah jika

dibandingkan dengan negara lain bahkan dengan

beberapa negara sesama anggota ASEAN. Kita

juga sangat menyadari bahwa kesejahteraan

bangsa Indonesia di masa depan tidak bisa hanya

digantungkan pada sumber daya alam dan

modal yang bersifat fisik, tetapi justru pada pada

modal intelektual, modal sosial, dan kredibilitas

bangsa. Untuk memenuhi hal ini kita dituntut

untuk terus menerus memutakhirkan pengetahuan

anak bangsa. Mutu lulusan pendidikan tidak

cukup bila diukur dengan standar lokal atau

nasional saja sebab perubahan global telah sangat

besar mempengaruhi ekonomi suatu bangsa,

bangsa yang berhasil adalah bangsa yang

pendidikannya memiliki standar mutu yang

tinggi.

Salah satu faktor utama rendahnya kualitas

sumber daya manusia ini karena program

pendidikan nasional yang dirancang belum

berhasil menjawab harapan dan tantangan masa

kini maupun di masa depan. Menghadapi masa

depan dengan arus globalisasi dan keterbukaan

serta kemajuan dunia informasi dan komunikasi,

pendidikan akan semakin dihadapkan terhadap

berbagai tantangan dan permasalahan yang lebih

rumit dari pada masa sekarang atau sebelumnya.

Tanggung jawab sekolah yang besar dalam

memasuki era globalisasi adalah mempersiapkan

siswa untuk mengahadapi tantangan-tantangan

dalam masyarakat sangat cepat perubahannya.

Salah satu dari tantangan yang dihadapi oleh para

siswa adalah menjadi pekerja yang bermutu.

Kemampuan berbicara dalam bahasa asing dan

kemahiran komputer merupakan dua kriteria

utama yang pada umumnya diajukan sebagai

syarat untuk memasuki lapangan kerja di

Indonesia dan bahkan seluruh dunia. Kemajuan

komputer saat ini telah merambah segala

bidang kehidupan manusia, maka merupakan

tanggung jawab yang besar pendidikan kita

untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dan

kemahiran komputer bagi para siswa.

Dalam kurikulum pendidikan kita matakuliah

TIK (Teknologi Komunikasi dan Informasi)

Jurnal Pendidikan

Analisis penggunaan teknologi komunikasi dan informasi

sudah dimasukkan sebagai matapelajaran yang

harus disajikan mulai dari sekolah dasar sampai

sekolah menengah atas. Melalui matapelajaran

ini siswa tidak hanya diharapkan untuk mampu

menggunakan komputer tetapi diharapkan dapat

memanfaatkankan komputer untuk memberikan

kemudahan dalam matapelajaran lainnya.

Meskipun matapelajaran TIK sudah ada dalam

kurikulum sejak tahun 2004, namun demikian

implementasinya belumlah seperti yang

diharapkan. Implementasi kurikulum ini

membutuhkan sarana pendukung seperti lab

komputer, guru matapelajaran komputer dan

dukungan dari pihak sekolah dan komite sekolah.

Untuk melihat keterlaksanakan

matapelajaran TIK tersebut, penulis telah

melakukan survey di sekolah-sekolah yang ada di

kota Pekanbaru. Fakta tentang keadaan

dilapangan ini diharapkan akan dapat menjadi

pijakan bagi sekolah dan pemegang kebijakan

untuk pengembangan sekolah untuk menindak

lanjuti kondisi yang ada demi terlaksananya

tanggung jawab sekolah dalam menyiapkan anak

didik yang siap bersaing di era globalisasi.

METODE PENELITIAN

Data pada penelitian ini dikumpulkan dengan

melakukan survey ke sekolah-sekolah yang ada

di Pekanbaru. Pengambilan data dilakukan

dengan melihat langsung kondisi di lapangan. Di

samping itu juga dilakukan wawancara dengan

kepala sekolah, guru komputer dan murid.

Jumlah sekolah yang terlibat dalam penelitian ini

adalah 27 sekolah negeri dan 10 sekolah swasta.

Jika dilihat dari jenjang sekolah terdapat 9 buah

SMA, 11 buah SMP dan 15 buah SD. Untuk

sekolah swasta pada tingkat SMA terdapat

sebuah MAN dan untuk tingkat SMP terdapat

sebuah MTS. Kondisi sekolah ini sangat

bervariasi mulai dari sekolah popular, sekolah

biasa ataupun sekolah yang kualitasnya tidak

menonjol. Data sekolah yang diambil dapat

dilihat pada tabel 1 berikut:

Tabel 1: Data Sekolah yang di survey

Jenjang

Status

T

Sekolah

Sekolah N S otal

MAN EGERI 0 WASTA 1 1

2


Yenita Roza

Jurnal Pendidikan

Analisis penggunaan teknologi komunikasi dan informasi

MTS 0 1 1

SD 1 3 1

SMA 27 2 5 9

SMP 8 3 1

Total 2 1 1 3

7 0 7

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pelaksanaan Pelajaran TIK

Dari 37 buah sekolah yang disurvey ternyata

belum semua sekolah yang telah menyajikan

matapelajaran TIK. Data rinci tentang

keterlaksanan matapelajaran TIK dapat dilihat

pada tabel 2 berikut:

Tabel 2: Penyajian Matapelajaran TIK

Menurut Sekolah

Jenjang Sekolah

Penyajian MA M S SM S T

Mapel SEKOLAH TIK N TS D A M ot

NEGERI TIDAK 5 0 P 0 al 5

YA 7 7 8 2

TOTAL 1 7 8 2

SEKOLAH

2

7

SWASTA YA 1 1 3 2 3 1

TOTAL 1 1 3 2 3 01

0

Dari tabel 2 terlihat bahwa untuk sekolah

menengah pertama maupun sekolah menengah

atas, semua sekolah sudah menyajikan

matapelajaran TIK. Namun demikian dari 15

Sekolah dasar yang disurvey masih terdapat 5

sekolah yang belum menyajikan TIK. Semua

sekolah yang belum menyajikan matapelajaran

TIK ini adalah sekolah negeri. Sekolah yang

belum menyajikan matakuliah TIK menyatakan

mereka belum mempunyai guru yang akan

mengajarkan atau belum memiliki komputer

untuk murid. Meskipun ada sekolah yang

memiliki satu atau dua komputer mereka

menggunakannya untuk kebutuhan administrasi.

Ketersediaan Komputer di Sekolah

Tabel 3: Jumlah Komputer yang Tersedia

Menurut Sekolah

Jenjang Sekolah

JUMLAH M M S SM S T

KOMPUTER

SEKOLAH AN TS D A M ot

NEGERI 1-10 6 0 P 1 al 7

11- 20 4 0 2 6

21-50 1 3 4 8

51-70 0 2 1 3

70-100 0 1 0 1

>100 0 1 0 1

TOTAL 1 7 8 2

SEKOLAH

1

6

SWASTA 1-10 0 0 1 0 0 1

21-50 1 1 2 1 2 7

51-70 0 0 0 1 0 1

51-100 0 0 0 0 1 1

TOTAL 1 1 3 2 3 1

0

Tabel 3 mengungkapkan fakta tentang jumlah

komputer yang tersedia pada masing-masing

sekolah. Jumlah komputer yang dimiliki sekolah

sangat bervariasi. Ditemukan ada sekolah yang

memiliki hanya satu komputer yang digunakan

oleh kepala sekolah untuk keperluan surat

menyurat. Jumlah komputer yang dimiliki di

jenjang sekolah yang lebih tinggi kelihatannya

lebih memadai. Pada tingkatan SMA terdapat

paling tidak satu lab komputer dengan jumlah

komputer minimal 25 buah. Terdapat 2 sekolah

yang memiliki komputer sampai 100 buah, satu

SMA negeri dan satu SMP swasta. Dari hasil

wawancara didapatkan informasi bahwa lab ini

digunakan secara bergantian oleh seluruh murid,

sehingga sepanjang hari lab komputer terjadwal

penuh. Beberapa sekolah yang punya internet,

menyediakan lab komputer bagi murid yang

ingin mengunakan internet untuk keperluan

membuat tugas untuk matapelajaran lainnya.

Ketersediaan Guru TIK

Tabel 4: Jumlah Guru TIK Menurut Sekolah

Jenjang Sekolah

Jumlah Guru M M S S S T

TIK Sekolah TIK AN TS D M M ot

Negeri 0 2 0 0 2

1 4

A

3

P

2

al

9

2 1 1 3 5

3 2 2 3 7

4 0 1 0 1

Total 9 7 8 2

Sekolah

4

Swasta 1 0 0 2 1 0 3

2 1 1 1 1 2 6

4 0 0 0 0 1 1

Total 1 1 3 2 3 1

Ketersediaan guru merupakan faktor utama 0

untuk dapat menyajikan satu matapelajaran,

untuk itu pada survey ini setiap sekolah didata

berapa orang jumlah guru yang mengajarkan TIK

3


Yenita Roza

disekolah mereka. Tabel diatas menunjukan

bahwa ada 2 sekolah negeri yang tidak

mempunyai guru komputer sama sekali, sekolah

ini tidak menyajikan matapelajaran TIK. Jika

dihubungkan dengan data sebelumnya, berarti

terdapat tiga sekolah yang sudah mempunyai

guru matapelajaran TIK tetapi belum menyajikan

matapelajaran TIK disekolahnya. Ketika

diwawancarai kepala sekolah menyatakan

mereka belum menyajikan matapelajaran TIK

karena mereka belum mempunyai komputer

yang dapat digunakan murid untuk belajar.

Latar Belakang Pendidikan Guru TIK

Tabel 5: Latar Belakang Pendidikan Guru TIK

Menurut Sekolah

Jenjang Sekolah

Guru MA MT S SM SM T

Sekolah Mengajar TIK N S D A P ot

Negeri Tidak ada 5 0 0 al 5

Guru Lain 1 0 1 2

Guru TIK 6 7 7 20

Total 1 7 8 27

Sekolah

2

Swasta guru lain 1 0 0 0 0 1

guru TIK 0 1 3 2 3 9

Total 1 1 3 2 3 10

Mismatch antara latar belakang pendidikan

guru dan bidang studi yang diasuh menjadi

fenomena yang dalam pendidikan kita. Hal ini

biasanya sering ditemukan untuk mapelajaran

sain. Roza (2008) menemukan bahwa 18% dari

guru yang mengajar matematika di Propinsi Riau

dan Kepulauan Riau adalah guru yang tidak

punya latar belakang pendidikan matematika.

Sebagai sebuah matapelajaran baru hal ini diduga

juga akan terjadi pada matapelajaran TIK.

Meskipun dari hasil survey ditemukan guru yang

mengajar TIK bukanlah guru khusu TIK, namun

jumlahnya relatif sangat kecil (7% untuk sekolah

negeri, 10% untuk sekolah swasta).

Ketersediaan Internet Disekolah

Salah satu bagian TIK yang sangat

berpengaruh adalah ketersediaan internet.

Internet telah merambah hampir semua sisi

kehidupan masyarakat saat ini. Kita dapat

Jurnal Pendidikan

Analisis penggunaan teknologi komunikasi dan informasi

melihat kecendrungan terbentuknya e-societies,

e-business, e-government. Perkembangan ini

membawa pengaruh baik dan juga buruk, namun

demikian kehadirannya tidak dapat dihindari dan

mesti dimanfaatkan. Pada tabel berikut dapat

dilihat ketersediaan internet disekolah:

Tabel 6: Ketersediaan Internet Menurut Sekolah

Jenjang Sekolah

Ketersediaan

Internet SKLH NEGERI

MA

N

MT

S

S

D

Tidak Tersedia 1

2

SM

A

SM

P

T

ot

al

1 5 18

Tersedia 0 6 3 9

TOTAL 1 7 8 27

SKLH

SWASTA Tidak Tersedia 0 0

2

2 1 1 4

Tersedia 1 1 1 1 2 6

TOTAL 1 1 3 2 3 10

Internet merupakan salah satu topik yang harus

disajikan pada tingkatan SMA menurut

kurikulum TIK, namun demikian dari tabel

diatas dapat kita lihat masih ada 2 sekolah

tingkatan SMA yang belum menyediakan

internet. Secara umum 33% sekolah negeri dan

40 % sekolah swasta sudah punya internet.

Metode Mengajar TIK

Pada kurikulum tidak ada tuntutan strategi

apa yang harus digunakan guru dalam

mengajarkan mata pelajaran TIK, namun

demikian dikatankan bahwa dalam pengajaran

TIK guru harus melibatkan siswa secara aktif

untuk mendapatkan skill yang dibutuhkan. Dari

pengamatan kesekolah dan wawancara dengan

murid dan guru TIK, didapatkan informasi

seperti tabel 7 berikut.

Metoda Mengajar

SEKOLAH

NEGERI

MA

N

Jenjang Sekolah

MT

S

S

D

SM

A

SM

P

To

tal

Tidak ada 5 0 0 5

Praktek Saja 2 2 0 4

Teori Saja 0 0 1 1

Teori & Praktek 4 6 7 17

4


Yenita Roza

TOTAL 12 7 8 27

SEKOLAH

SWASTA

Teori & Praktek 1 1 3 2 3 10

TOTAL 1 1 3 2 3 10

Sebagian besar guru mengajarkan TIK dengan

cara teori dan praktek (100% untuk sekolah

swasta dan 63 % untuk sekolah negeri).

Pembelajaran dengan cara seperti ini menurut

guru TIK memudahkan mereka untuk

mengilirkan penggunaan fasilitas komputer

disekolah yang belum memadai.

Tabel 7: Stragegi Mengajar TIK

Teori diberikan dikelas dan praktek di lab

komputer, sehingga satu kelas hanyak masuk lab

satu kali dalam 2 minggu. Beberapa sekolah

yang sudah memiliki cukup komputer memilih

untuk memberikan teori dan praktek secara

bersamaan di lab komputer.

Materi Pelajaran TIK

Tabel 8: Materi Pelajaran TIK

MATERI

SEKOLAH

NEGERI

MA

N

Jenjang Sekolah

M

TS

S

D

SM

A

S

M

P

T

ot

al

Tidak Ada 5 0 0 5

1, 2 5 1 3 9

1,2,3,4 0 3 0 3

1,2,4 0 2 3 5

2 2 0 2 4

2,4 0 1 0 1

TOTAL 1 7 8 2

SEKOLAH

2

7

SWASTA 1,2,3 0 0 0 1 0 1

1,2,3,4 0 0 0 1 0 1

1,2,4 0 1 1 0 2 4

2 1 0 2 0 0 3

2,3 0 0 0 0 1 1

TOTAL 1 1 3 2 3 1

Keterangan : 1 Pengenalan Komputer, 2= MS 0

Office, 3= Program Lain, 4 = Internet

Pada kurikulum KTSP diberikan ramburambu

materi yang seharusnya disajikan pada

setiap tingkatan sekolah. Sesuai dengan

Jurnal Pendidikan

Analisis penggunaan teknologi komunikasi dan informasi

kharakteristiknya sekolah menentukan capaian

yang mereka inginkan untuk sekolahnya masingmasing.

Pada tabel 8 dapat dilihat materi yang

disajikan oleh masing-masing sekolah.

Pada tingkat SD pada umumnya materi yang

disajikan hanya pengenalan komputer dan

mengunakan komputer untuk mengetik. Namun

demikian ada satu SD yang mengajarkan internet

kepada murid-muridnya. Pada tingkatan

SMA masih ditemukan 1 sekolah negeri dan 1

sekolah swasta yang tidak mengajarkan internet

karena merekan belum memiliki fasilitas internet

disekolah.

Jumlah Guru yang Bisa Komputer

Tabel 9: Persentase Guru yang Bisa

Menggunakan Komputer

Jenjang Sekolah

Persentase GURU

BISA SKLH TIK NEGERI

0%

M

AN

M

TS

S

D

2

S

M

A 0

S

M

P 0

T

ot

al 2

1-10 % 4 1 2 7

11-50 % 6 2 4 1

51-100 % 0 4 2 26

TOTAL 1 7 8 2

SKLH SWASTA

2

7

51-100 % 1 1 3 2 3 1

TOTAL 1 1 3 2 3 01

0

Menurut kurikulum, pembelajaran komputer

tidak hanya punya target anak bisa komputer

pada matapelajaran tersebut tapi juga dapat

menggunakan komputer untuk mempermudah

matapelajaran lainnya. Guru yang akan

menugaskan murid menggunakan komputer tentu

guru yang bisa menggunakan komputer. Untuk

itu dalam survey ini juga didata jumlah guru

yang bisa menggunakan komputer pada tiap

sekolah. Dari tabel diatas terlihat masih ada

sekolah (tingkat SD) yang seluruh gurunya

belum bisa menggunakan komputer. Kondisi ini

kita lihat akan membaik sesuai dengan

tingakatan sekolah. Pada tingkat SMA pada

umumnya lebih dari 50% guru sudah bisa

menggunaka komputer.

5


Yenita Roza

Penggunaan Komputer oleh Guru

Tabel 10: Bentuk Penggunaan Komputer oleh

Guru

Penggunaan

Komp

SKLH

NEGERI TIdak

menggunakan

MA

N

Jenjang Sekolah

MT

S

S

D

SM

A

SM

P

T

ot

al

6 0 1 7

1 2 0 2 4

1,2 2 3 1 6

1,2,3 2 4 4 10

TOTAL 1 7 8 27

SKLH

SWASTA 1,2 0 1

2

1 1 2 5

1,2,3 1 0 2 1 1 5

TOTAL 1 1 3 2 3 10

Ket: 1 = Membuat bahan ajar, 2= Mengolah

Nilai, 3= Internet

Data pada tabel 10 memperlihatkan bentuk

penggunaan komputer oleh guru disekolah

ataupun diluar sekolah. Sangat menggembirakan,

hampir semua guru yang bisa menggunakan

komputer sudah memanfaatkan komputer untuk

membuat bahan ajar. Dari hasil diskusi kami

temukan guru mengetik rencana pembelajaran

yang akan diserahkan untuk sekolah dan bahan

ajar menggunakan komputer. Dampak negatif

yang timbul adalah terjadinya copy and paste

dari satu bahan ke bahan lainnya, sehingga ada

sekolah yang mewajibkan guru untuk membuat

rencana pembelajaran menggunakan tulisan

tangan. Jumlah guru yang menggunakan

komputer untuk pengolahan data cukup besar

(59% disekolah negeri, 100% di sekolah swasta).

Pada sekolah swasta 50% guru sudah

menggunakan internet, sedangkan pada sekolah

negeri baru 37% guru yang sudah menggunakan

internet.

Sumber Dana Pengadaan Komputer

Investasi komputer memerlukan dana yang

cukup besar terutama untuk pengadaan awal.

Jika sebuah sekolah akan mengadakan komputer

berarti juga harus membeli AC dan terali untuk

keamanan ruang komputer. Dengan

perkembangan teknologi komputer yang sangat

pesat, maka sekolah juga perlu dana untuk

Jurnal Pendidikan

Analisis penggunaan teknologi komunikasi dan informasi

upgrading komputer setelah waktu tertentu.

Disamping itu dana maintenance yang harus

disediakan juga cukup besar. Pada survey ini

juga dikumpulkan data tentang sumber

pembiayaan sekolah untuk pengadaan komputer.

Dari tabel 11 dapat dilihat sumber dana

pengadaan komputer sangat bervariasi seperti

dana komite sekolah, SPP, yayasan dan ada yang

mendapatkan komputer sebagai sumbangan dari

pihak luar yang tidak mengikat.

Tabel 11: Sumber Dana Pengadaan Komputer

Sumber Dana

SEKOLAH

NEGERI

MA

N

Jenjang Sekolah

MT

S

S

D

SM

A

SM

P

T

ot

al

Dana Komite 1 1 1 3

Dana Lain 1 2 2 5

Dana SPP 0 2 1 3

Dana SPP dan

2 1 0 3

Komite Tidak Ada

6 1 2 9

Dana Yayasan 2 0 2 4

TOTAL 1 7 8 27

SEKOLAH

SWASTA Dana Komite 1 0

2

0 0 1 2

SPP 0 0 1 0 0 1

Tidak Ada 0 1 0 1 1 3

Dana Yayasan 0 0 2 1 1 4

1 1 3 2 3 10

Program Sekolah untuk TIK

Setiap sekolah setiap tahunnya menyusun dan

merevisi rencana kerja sekolahnya. Rencana ini

akan menjadi pijakan untuk pelaksanaan

kegiatan dan pengembangan sekolah. Pada

survey ini peneliti juga menanyakan apakah

sekolah sudah mempunyai rencana atau

memasukan perencanaan untuk TIK pada

program sekolah. Informasi tentang perencanaan

ini dapat dilihat pada tabel 12 berikut:

Tabel 12: Perencanaan Sekolah Tentang TIK

PROGRAM

KOMPUTER

M

AN

Jenjang Sekolah

M

TS

S

D

SM

A

S

M

P

T

ot

al

SEKOLAH

NEGERI ADA 2 6 3 1

TIDAK 1

TOTAL 01

SEKOLAH

2

SWASTA

1 5 1

7 8 62

7

6


Yenita Roza

PROGRAM

Jenjang Sekolah

KOMPUTER

ADA

M

AN 1

M

TS 0

S

D 3

SM

A 1

S

M3 T

ot 8

TIDAK 0 1 0 1 P 0 al 2

TOTAL 1 1 3 2 3 1

0

Dari tabel diatas dapat dilihat untuk sekolah

negeri hanya 41% sekolah yang sudah

mempunyai perencanaan untuk TIK, sedangkan

untuk sekolah swasta sudah 80%. Diduga hal ini

juga dipengaruhi oleh wawasan kepala sekolah

tentang TIK, pada wawancara juga ditemukan

bahwa sebagian dari sekolah yang tidak punya

program TIK kepala sekolahnya juga tidak bisa

menggunakan komputer.

KESIMPULAN

Penerapan matapelajaran TIK disekolah

seharusnya tidak ditunda-tunda lagi. Untuk dapat

bersaing di era globalisasi anak bangsa ini harus

mampu mengunakan kemajuan TIK. Kesuksesan

implementasi TIK ini menyangkut banyak hal

dan banyak pihak. Visi dan misi dari pemerintah

dalam pengembangan pendidikan sangat

memberikan pengaruh disamping wawasan

tentang TIK kepala sekolah dan guru yang secara

langsung akan terlibat dalam hal ini. Ini dapat

dilihat pada sekolah yang kepala sekolahnya

tidak bisa mengunakan komputer cendrung untuk

memasukkan program komputer pada rencana

kegiatan sekolah.

Dari hasil temuan tersebut dapat dilihat

kendala bagi sekolah yang belum menyajikan

matapelajaran komputer adalah; Tidak

tersedianya fasilitas komputer, guru yang bisa

menggunakan komputer sangat kurang. Pada

sekolah yang sudah memiliki komputer tingkat

penggunaannya sudah bagus baik oleh guru

maupun murid. Guru sudah menggunakan

komputer untuk membuat bahan ajar dan

pengolahan nilai matapelajaran yang diasuhnya.

Sehubungan dengan temuan diatas peneliti

memberikan saran yang mungkin dapat

mempercepat dan meningkatkan tingkat

penggunaan komputer disekolah:

1. Dinas Pendidikan agar dapat memberikan

penekanan pada setiap sekolah untuk

Jurnal Pendidikan

Analisis penggunaan teknologi komunikasi dan informasi

memasukan program yang berhubungan

dengan TIK dalam rencana tahunan mereka.

Diharapkan Dinas Pendidikan juga dapat

memfasilitasi pengadaan komputer dan

pelatihan komputer bagi guru di sekolah.

2. Bagi Pimpinan Sekolah agar mendorong

semua guru untuk dapat menggunakan

komputer untuk kebutuhan kerjanya dan

memanfaatkan skill komputer murid dalam

mencapai tujuan pembelajarannya.

3. Bagi guru TIK untuk dapat menggunakan

strategi pembelajaran yang dapat

memaksimalkan ketersedian komputer

disekolah. Diharapkan juga guru TIK dapat

menjadi motor disekolah agar semua guru dan

staf administrasi disekolah dapat

menggunakan komputer.

DAFTAR PUSTAKA

Abbasi, A. et all. 2008. A Review of ICT Status

and Development Strategy Plan in Iran.

International Journal of Education and

Development ICT, Vol 4 No. 3. 2008.

Darhim. 1993. Workshop Matematika. Jakarta :

Depdikbud DitJen Pendidikan Dasar dan

Menengah.

Kemp, E., Jerrold. 1994. Proses Perancangan

Pengajaran. ITB. Bandung.

Roza, Yenita. 2008. Competencies of

Mathematics Teachers at Secondary

Schools“ Reflection on Certification

Program”. Proceeding the 4 th IMT-GT

Conference on Statistics and

Mathematics Applications.

Wibawanto H., 2004. Multimedia Untuk

Presentase. Semarang. Laboratorium

Komputer UNNES.

7


Yeni Rosita

Jurnal Pendidikan

Analisis penggunaan teknologi komunikasi dan informasi

ARAH KEBIJAKAN PENDIDIKAN DASAR KOTA DUMAI

SEBAGAI KAWASAN EKONOMI KHUSUS

Caska

Pusat Penelitian Kependudukan/Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Riau

Jalan HR. Subrantas KM 12,5 Simpang Panam Pekanbaru Indonesia 28293

e-mail: riodirgantoro@yahoo.com

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) kondisi pendidikan dasar; dan (2)

kebijakan pendidikan dasar. Metode yang digunakan yaitu metode survey dengan teknik

analisis gap (perbedaan). Hasil penelitian menunjukan bahwa: pertama, kondisi pendidikan

dasar di Kota Dumai secara umum dalam kondisi baik tetapi ada beberapa yang perlu

ditingkatkan dalam implementasinya; kedua, arah kebijakan pendidikan dasar di Kota Dumai

untuk lima tahun ke depan dalam rangka mempersiapkan kawasan ekonomi khusus diarahkan

pada: (1) pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan; (2) peningkatan mutu, relevansi

dan daya saing pendidikan; dan (3) tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik.

Kata Kunci: kebijakan pendidikan dasar, kawasan ekonomi khusus

BASIC EDUCATION POLICY DIRECTION DUMAI CITY

AS A SPECIAL ECONOMIC ZONE

ABSTRACT. This study aims to determine: 1) the condition of basic education and (2) basic

education policy. The method used is survey method with a gap analysis technique

(difference). The results showed that: first, basic education conditions in the city of Dumai in

general in good condition but there are some that need to be improved in its implementation;

second, basic education policy directions in Dumai City for the next five years in order to

prepare a special economic zone aimed at: (1) equality of education opportunity getting; (2)

improving quality, relevance and competitiveness of education; and (3) corporate governance,

accountability and public imaging.

Key Words: basic education policy, special economic zone

PENDAHULUAN

Kota Dumai yang mempunyai posisi

strategis bila dijadikan Kawasan Ekonomi

Khusus. Hal ini disebabkan karena Kota

Dumai terletak pada kawasan Selat

Malaka dan memiliki peranan penting

sebagai penghubung antar daerah baik

secara nasional maupun internasional. Di

samping itu, Kota Dumai telah didukung

dengan telah tersedianya sarana dan

prasarana infrastruktur jaringan

transportasi darat lokal maupun regional,

pelabuhan bertaraf internasional serta

bandara (Bapeda Kota Dumai, 2008).

Bila ditetapkannya Kota Dumai sebagai

Kawasan Ekonomi Khusus diharapkan

akan semakin memajukan dan mendorong

pertumbuhan ekonomi di daerah ini.

Meningngkatnya pertumbuhan ekonomi

disebabkan karena kegiatan penanaman

modal asing, penciptaan lapangan kerja,

meningkatkan kapasitas produksi, dan

meningkatkan kegiatan perdagangan

barang dan jasa di dalam negeri maupun

ekspor.

Menurut Pedoman yang dikeluarkan

Tim Nasional Kawasan Ekonomi Khusus

di Indonesia (Departemen Perindustrian,

2006): lokasi yang akan dipilih menjadi

KEK minimal harus memenuhi kriteria

ekonomi sebagai berikut: (1) terletak

dijalur perdagangan internasional dan atau

1


Yenita Roza

alur laut utama di Indonesia; (2) Terdapat

pasar potensial berskala internasional; (3)

Bagian dari wilayah yang memiliki

sumberdaya alam dan atau sektor

unggulan yang berdaya saing internasional

atau sektor unggulan yang berdaya saing

internasional; dan (4) Ketersediaan tenaga

kerja lokal, baik jumlah maupun kualitas.

Untuk melihat ketersediaan tenaga

kerja lokal dapat dilihat dari berbagi cara

dan metode. Salah satu cara yang paling

mudah walaupun banyak kelemahannya

adalah bagaimana capaian pendidikan

yang telah dilakukan di wilayah tersebut.

Terlepas dari capaian pendidikan yang

ada, yang perlu dilikakukan adalah

membuat arah kebijakan pendidikan agar

sesuai dengan kebutuhan sebagai kawasan

ekonomi khusus.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka

penelitian ini ingin mengeksplorasi

capaian pendidikan menurut pendapat

masyarakat pengguna dan pelaku

pendidikan. Setelah diketahui posisi

capaian pendidikan maka disusun sebuah

arah kebijakan pendidikan yang sesuai

dengan kondisi dan harapan kebutuhan

dari sebuah daerah yang dijadikan

kawasan ekonomi khusus

Berdasarkan latar belakang yang telah

diuraikan maka permasalahan dalam

penelitian ini adalah: (1) Bagaimana

kondisi pendidikan dasar di Kota Dumai

dan (2) Bagaimana arah kebijakan

pendidikan dasar Kota Dumai yang sesuai

dengan tuntutan sebuah kawasan ekonomi

khusus

Tujuan penelitian adalah: (1)

untuk mengetahui kondisi pendidikan

dasar di Kota Dumai dilihat dari capaian

satuan pendidikan SD/MI dsn SMP/MTs;

dan (2) untuk mengetahui arah kebijakan

pendidikan dasar Kota Dumai yang sesuai

dengan tuntutan sebuah kawasan ekonomi

khusus.

Setelah penelitian ini dilakukan,

diharapkan informasi yang diperoleh dapat

digunakan sebagai masukan bagi

pemerintah Kota Dumai untuk

pengambilan keputusan dan kebijakan

dalam menentukan arah kebijakan

Jurnal Pendidikan

Analisis penggunaan teknologi komunikasi dan informasi

pendidikan dasar yang sesuai dengan

tuntutan sebuah kawasan ekonomi khusus.

Secara spesifik keluaran yang dihasilkan

adalah: (1) Bagi pemerintah daerah dapat

melahirkan arah kebijakan pendidikan

dasar yang sesuai dengan tuntutan sebuah

kawasan ekonomi khusus; (2) Dapat

menentukan program prioritas

pengembangan pendidikan dasar di Kota

Dumai.

METODOLOGI

Lokasi Penelitian

Penelitian ini menggunakan

metode survey di seluruh kecamatan ( 5

kecamatan) Kota Dumai.

Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan data

primer dan sekunder. Untuk data primer

pengumpulan data dilakukan dengan

kuesioner dan wawancara mendalam.

Selain data primer juga digunakan data

sekunder yang dikumpulkan dari Kantor

Camat dan UPTD Dinas Pendidikan

Kecamatan. Data sekunder ini

dikonfirmasikan dengan informasi dan

data primer yang didapatkan di tingkat

lapangan.

Responden dalam penelitian ini adalah

1) Camat sebanyak 5 orang, Kepala UPTD

Dinas Pendidikan Kecamatan sebanyak 5

orang, Kepala Sekolah sebanyak 29 orang,

Guru sebanyak 29 orang, Siswa sebanyak

87 orang, dan Orang Tua Siswa sebanyak

58 orang.

Analisis Data

Teknik analisis yang digunakan adalah

Analisis gap (discrepanacy analysis)

antara harapan masyarakat atas pendidikan

Kota Dumai selaras dengan tuntutan

peningkatan mutu pendidikan dibanding

dengan realita pendidikan Kota Dumai

saat ini.

Secara skematis, kerangka analisis

pelaksanaan kegiatan penelitian ini,

diilustrasikan pada Gambar 1.

2


Yenita Roza

Jurnal Pendidikan

Analisis penggunaan teknologi komunikasi dan informasi

HASIL PENELITIAN DAN

PEMBAHASAN

Kondisi Pendidikan Dasar Kota Dumai

Untuk melihat kondisi pendidikan

dasar Kota Dumai dapat dilihat pada tabel

1 tentang Penilaian Responden Terhadap

Kondisi Sekolah Dasar (SD)/Madrasah

Ibtidaiyah (MI) dan tabel 2 tentang

Penilaian Responden Terhadap Kondisi

Sekolah Menengah Pertama

(SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTS).

Tabel 1.

Penilaian Responden Terhadap Kondisi Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah

(MI) Di Kota Dumai Tahun 2009

No

Indikator

1. Kepemilikan

Tanah dan

bangunan

2. Visi dan misi

serta

karakteristik

khusus

sekolah

3. Jumlah siswa

rata-rata per

kelas

4. Rasio guru

dengan siswa

5. Memiliki staf

(tenaga non

guru)

6. Jumlah siswa

rata-rata per

sekolah

7. Angka

Partisipasi

Murni (APM)

8. Persentase

Kelulusa

9. Persentase

Melanjukan

ke SMP/MTs

Hasil

Penilaian

90% milik

sendiri tetapi

tidak bisa

menunjukkan

sertifikat

75% telah

memiliki

rata-rata

28/kelas

SD/MI

Interpretasi

Kepemilikan Tanah

dan bangunan sudah

baik tetapi perlu

legalitas kepemilikan

dalam bentuk

sertifikat tanah dan

bangunan

Visi dan misi serta

karakteristik khusus

sekolah sudah baik

tetapi

implementasinya

masih perlu

diselaraskan.

Sudah baik

1:28 Sudah baik

92% Sudah baik perlu

spesialisasi

rata-rata 8 Sudah baik

kelas per

sekolah

91% Sudah baik

98,3% Sudah baik

70,2% Sudah baik

2


Yenita Roza

Jurnal Pendidikan

Analisis penggunaan teknologi komunikasi dan informasi

No

Indikator

10. Kinerja

Kepala

Sekolah

11. Pemilikan

kurikulum

12. Pelaksanaan

Manajemen

Berbasis

Sekolah

13. Guru yang

mengalami

kesulitan

dalam

melaksanakan

Proses

Belajar

Mengajar

(BPM)

14. Guru

berkualifikasi

S-1

Guru

berkualifikasi

Diploma

15. Kelengkapan

Sarana dan

prasarana.

16. Kelengkapan

perabotan

17. Kelengkapan

Media

pendidikan

18. Kelengkapan

buku ajar

19. Kelengkapan

ruang kepala

sekolah

20. Kelengkapan

ruang guru

21. Kelengkapan

sarana

jamban

22. Kelengkapan

Sarana

bermain

23. Tingkat

kehadiran

guru

24. Ketersediaan

dana

investasi,

biaya

operasional

dan biaya

pemeliharaan

25. Kondisi

budaya

sekolah

SD/MI

Hasil

Penilaian

Interpretasi

83,70,2% Sudah baik

Kurikulum

nasional

sebesar

88,9%

kurikulum

lokal sudah

90%

Baik kurikulum

nasional maupun

lokal sudah tersedia

tetapi perlu

perbaikan

implementasi agar

pelaksanaan sesuai

dengan tuntutan

kurikulum

63% Masih perlu

peningkatan perbaikan

pelaksanaan

Manajemen Berbasis

Sekolah.

66,2% Masih perlu

perbaikan

pelaksanaan PBM

S-1 sebesar

35%

Masih perlu

perbaikan kualifikasi

guru, untuk SD/MI

harus memenuhi

kualifikasi S-1

PGSD

57,9% Masih perlu

ditingkatkan

51,9% Masih perlu

ditingkatkan

50,0% Masih perlu

ditingkatkan

52,0% Masih perlu

ditingkatkan

57,3% Masih perlu

ditingkatkan

58,9% Masih perlu

ditingkatkan

52,0% Masih perlu

ditingkatkan

43,3% Masih perlu

ditingkatkan

97,6% Sudah baik dan perlu

ditingkatkan lagi

63% . Masih perlu

ditingkatkan

52,5% Masih perlu

ditingkatkan

Sumber: Data hasil survey tahun 2009

2


Yenita Roza

Jurnal Pendidikan

Analisis penggunaan teknologi komunikasi dan informasi

Tabel 2. Penilaian Responden Terhadap Kondisi Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah

Tsanawiyah (MTS) Di Kota Dumai Tahun 2009

No

Indikator

1. Kepemilikan Tanah

dan bangunan

2. Visi dan misi serta

karakteristik khusus

sekolah

3. Jumlah siswa ratarata

per kelas

4. Rasio guru dengan

siswa

5. Memiliki staf

(tenaga non guru)

6. Jumlah siswa ratarata

per sekolah

7. Angka Partisipasi

Murni (APM)

8. Persentase

Kelulusan

9. Persentase

Melanjukan ke

SLTA

10. Kinerja Kepala

Sekolah

11. Pemilikan

kurikulum

12. Pelaksanaan

Manajemen

Berbasis Sekolah

13. Guru yang

mengalami

kesulitan dalam

melaksanakan

Proses Belajar

Mengajar (BPM)

14. Guru berkualifikasi

S-1

Hasil

Penilaian

95% milik

sendiri

tetapi tidak

bisa

menunjukk

an

sertifikat

100%

telah

memiliki

SMP/MTS

Interpretasi

Kepemilikan

Tanah dan

bangunan sudah

baik tetapi perlu

legalitas

kepemilikan

dalam bentuk

sertifikat tanah

dan bangunan

Visi dan misi

serta karakteristik

khusus sekolah

sudah baik tetapi

implementasinya

masih perlu

diselaraskan.

Sudah baik

rata-rata

35/kelas

1:28 Sudah baik

97% Sudah baik perlu

spesialisasi

rata-rata 3 Sudah baik

kelas per

sekolah

91% Sudah baik

87,3% Sudah baik

70,2% Sudah baik

84,6% Sudah baik

kurikulum

nasional

sebesar

100%

kurikulum

lokal sudah

100%

Baik kurikulum

nasional maupun

lokal sudah

tersedia tetapi

perlu perbaikan

implementasi

agar pelaksanaan

sesuai dengan

tuntutan

kurikulum

65% Masih perlu

peningkatan

perbaikan

pelaksanaan

Manajemen

Berbasis Sekolah.

64,2% Masih perlu

perbaikan

pelaksanaan PBM

S-1 sebesar

69%.

Masih perlu

perbaikan

kualifikasi guru,

untuk SMP/MTs

3


Yenita Roza

Jurnal Pendidikan

Analisis penggunaan teknologi komunikasi dan informasi

No

Indikator

15. Kelengkapan

Sarana dan

prasarana.

16. Kelengkapan

perabotan

17. Kelengkapan Media

pendidikan

18. Kelengkapan buku

ajar

19. Kelengkapan ruang

kepala sekolah

20. Kelengkapan ruang

guru

21. Kelengkapan sarana

jamban

22. Kelengkapan

Sarana bermain

23. Tingkat kehadiran

guru

24. Ketersediaan dana

investasi, biaya

operasional dan

biaya pemeliharaan

25. Kondisi budaya

sekolah

SMP/MTS

Hasil

Interpretasi

Penilaian

harus memenuhi

kualifikasi S-1

sesuai dengan

bidang studi

58,3% Masih perlu

ditingkatkan

53,4% Masih perlu

ditingkatkan

48,0% Masih perlu

ditingkatkan

53,0% Masih perlu

ditingkatkan

58,5% Masih perlu

ditingkatkan

57,2% Masih perlu

ditingkatkan

53,0% Masih perlu

ditingkatkan

42,7% Masih perlu

ditingkatkan

94,6% Sudah baik dan

perlu

ditingkatkan lagi

61% . Masih perlu

ditingkatkan

54,5% Masih perlu

ditingkatkan

Sumber: Data hasil survey tahun 2009

Arah Kebijakan Pendidikan Dasar

Arah kebijakan pembangunan

pendidikan dasar di Kota Dumai untuk

lima tahun ke depan dalam rangka

mempersiapkan kawasan ekonomi khusus

diarahkan pada penguatan kelembagaan

pendidikan dalam memberikan pelayanan

pendidikan. Penguatan kelembagaan

pendidikan dalam memberikan pelayanan,

diharapkan akan menjadi modal dalam

menyiapkan pendidikan yang bermakna

bagi masyarakat, sehingga memiliki

keunggulan kompetitif pada tingkat lokal

dan regional. Prioritas kebijakan yang

perlu dilakukan terutama pada:

(1)Pemerataan Kesempatan Memperoleh

Pendidikan; (2) Peningkatan Mutu,

Relevansi dan Daya Saing Pendidikan;

dan (3) Tata Kelola, Akuntabilitas dan

Pencitraan Publik.

Pemerataan Kesempatan Memperoleh

Pendidikan

Pada aspek pemerataan, harus

diprioritaskan pada penguatan pelayanan

bagi anak usia dini, perintisan wajib

belajar pendidikan menengah 12 tahun,

dan pendidikan menengah pada setiap

jenis kelembagaan satuan program

pendidikan, yang dapat diakses oleh

seluruh lapisan masyarakat sampai ke tiap

pelosok daerah.

Pemerataan pelayanan kelembagaan

pendidikan dasar dalam rangka merintis

wajib belajar pendidikan menengah 12

tahun, maka yang perlu dilakukan adalah

pengembangan program yang berkenaan

dengan: (1) Pemerataan pelayanan SD/MI,

SMP/MTs, SDLB/SMPLB, SLB Autis,

SD-SMP satu atap, SDLB-SMPLB satu

atap, pusat pendidikan anak korban

narkoba, MI-MTs satu ian SMP-MTs

Terbuka menjadi lembaga pendidikan

dasar terpadu berbasis keunggulan dalam

seni-budaya, keolahragaan, kecakapan

4


Yenita Roza

hidup dan entreupreneur, serta penerapan

teknologi dasar; (2) Pemerataan pelayanan

pendidikan MDA/MDW, Paket A/B, bagi

anak putus sekolah, pekerja anak dan anak

jalanan usia wajib belajar secara terpadu;

(3) Pemerataan UGB/RKB dan sarana

perlengkapan pada sekolah, PKBM/SKB

dan Pesantren penyelenggara satuan

pendidikan dasar berbasis keunggulan; (4)

Pemerataan peralatan laboratorium,

workshop, perpustakaan dan sumber

belajar/berlatih serta sarana peribadatan

yang mendukung proses pembelajaran

pendidikan dasar berbasis keunggulan; (5)

Pemerataan

guru/pelatih/ustadz/tutor/pamong belajar

laboran, pustakawan dan tenaga

administrasi kantor pada satuan program

pendidikan dasar berbasis keunggulan; (6)

Penyediaan biaya operasional manajemen

dan reward bagi sekolah, pemerintah desa

dan kecamatan yang berprestasi dalam

perintisan wajar dikmen; (7) Penyediaan

beasiswa bagi anak tidak mampu untuk

medapatkan pendidikan dasar dan anak

berprestasi untuk melanjutkan ke jenjang

pendidikan yang lebih tinggi.

Peningkatan Mutu, Relevansi dan Daya

Saing Pendidikan

Pada aspek peningkatan mutu,

relevansi dan daya saing, harus

diprioritaskan pada penguatan pelayanan

dalam proses pembelajaran dan pelatihan

pada setiap kelembagaan satuan program

pendidikan, sehingga memiliki lebih

banyak keunggulan kompetitif serta

memiliki relevansi yang tinggi dengan

tuntutan kebutuhan masyarakat.

Kebijakan dalam pendidikan dasar,

diprioritaskan pada penguatan relevansi

kurikulum pada setiap satuan program

pendidikan dasar, melalui program: (1)

Penguatan relevansi muatan kurikulum

pendidikan dasar berbasis religius, budipekerti,

kecakapan hidup dan

kewirausahaan, seni-budaya dan

keolahragaan, teknologi dasar, lingkungan

hidup, dan kebangsaan; (2) Penguatan

intensitas pendayagunaan sarana

pendidikan dasar berbasis keunggulan; (3)

Peningkatan kemampuan dan intensitas

Jurnal Pendidikan

Analisis penggunaan teknologi komunikasi dan informasi

pemeliharaan sarana perlengkapan

pendidikan dasar; (4) Penguatan

kualifikasi,

kompetensi

guru/ustadz/tutor/pamong belajar, laboran,

pustakawan dan tenaga administrasi pada

satuan program pendidikan dasar berbasis

keunggulan; (5) Penguatan penerapan TIK

dalam proses pembelajaran pendidikan

dasar berbasis keunggulan; (6) Penguatan

kreativitas, inovasi dan daya nalar peserta

didik

dan

guru/ustadz/tuto/TLD/laboran/pustakawan

pada satuan program pendidikan dasar

berbasis keunggulan; (7) Penyediaan biaya

operasional peningkatan mutu manajemen

kelembagaan pendidikan dasar berbasis

keunggulan; (8) Peningkatan

kesejahteraan ketenagaan pendidikan pada

kelembagaan pendidikan dasar.

Tata Kelola, Akuntabilitas dan

Pencitraan Publik

Aspek ini masih berkenaan dengan

efektivitas, efisiensi, dan produktivitas

administrasi dan manajemen

pembangunan pendidikan, yang

diharapkan telah memiliki perangkat

sistem yang memadai. Dalam hal ini harus

sudah diprioritaskan pada programprogram

yang bersifat pengembangan dan

peningkatan mutu tata-kelola,

akuntabilitas dan pencitraan publik

penyelenggaraan pembangunan

pendidikan.

a. Perencanaan dan Program

Kebijakan dalam perencanaan dan

program, diprioritaskan pada penguatan

pelayanan sistem perencanaan

pembangunan pendidikan yang lebih

aspiratif dan partisipatif, melalui

pengembangan program yang berkenaan

dengan: (1) Penguatan Peraturan Walikota

menjadi Peraturan Daerah tentang

Rencana Induk (Masterplan) Pendidikan;

(2) Penguatan rencana-rencana strategis

pada setiap bidang garapan pendidikan

pada setiap satuan pendidikan; (3)

Penguatan kualifikasi, kompetensi dan

kemampuan perencana pendidikan; (4)

Peningkatan kesejahteraan ketenagaan

pendidikan pada unit perencana program

pendidikan.

2


Yenita Roza

b. Organisasi Pelaksanaan Program

Kebijakan dalam organisasi

pelaksanaan program, diprioritaskan pada

peningkatan kinerja dan produktivitas

pelayanan organisasi pendidikan, melalui

pengembangan program yang berkenaan

dengan: (1) Penguatan Peraturan Walikota

menjadi Peraturan Daerah tentang Standar

Kinerja Individu dan Kelembagaan satuan

program pendidikan; (2) Penguatan

kompetensi dan kemampuan aparatur

pelaksana program pendidikan; dan (3)

Peningkatan kesejahteraan ketenagaan

pendidikan pada unit pelaksana program

pendidikan pendidikan.

c. Pengawasan dan Pengendalian

Program

Kebijakan dalam pengawasan dan

pengendalian program, diprioritaskan pada

peningkatan efektivitas dan produktivitas

sistem pengawasan dan pengendalian

pendidikan, melalui pengembangan

program yang berkenaan dengan: (1)

Penguatan Peraturan Walikota menjadi

Peraturan Daerah tentang Prosedur

Operasional Standar (POS) pengawasan

dan pengendalian program pendidikan; (2)

Penguatan kualifikasi, kompetensi dan

kemampuan pengawas program

pendidikan; dan (3) Peningkatan

kesejahteraan ketenagaan pendidikan pada

unit pengawasan program pendidikan.

d. Evaluasi Program

Kebijakan dalam evaluasi program,

diprioritaskan pada peningkatan

efektivitas dan produktivitas sistem

penilaian pembangunan pendidikan,

melalui pengembangan program yang

berkenaan dengan: (1) Penguatan

Peraturan Walikota menjadi Peraturan

Daerah tentang Prosedur Operasional

Standar (POS) penilaian program-program

pembangunan pendidikan; (2) Penguatan

kompetensi dan kemampuan aparatur

penilaian program-program pendidikan;

(3) Peningkatan kesejahteraan ketenagaan

pendidikan pada unit penilaian program

pendidikan.

e. Pelaporan dan Pertanggungjawaban

Program

Jurnal Pendidikan

Analisis penggunaan teknologi komunikasi dan informasi

Kebijakan dalam pelaporan dan

pertanggungjawaban

program,

diprioritaskan pada peningkatan pelayanan

sistem pelaporan dan pertanggungjawaban

pembangunan pendidikan,

melalui pengembangan program yang

berkenaan dengan: (1) Penguatan

Peraturan Walikota menjadi Peraturan

Daerah tentang POS pelaporan dan

pertanggungjawaban program pendidikan;

(2) Penguatan kualifikasi, kompetensi

tenaga penyusun laporan

pertanggungjawaban program pendidikan;

(2) Peningkatan kesejahteraan ketenagaan

pada unit pelaporan dan pertanggung

jawaban.

f. Penganggaran Biaya Program

Kebijakan dalam penganggaran biaya

program, diprioritaskan pada peningkatan

efektivitas dan efisiensi pendayaguna-an

anggaran biaya pendidikan, melalui

pengembangan program yang berkenaan

dengan: (1) Penguatan Peraturan Walikota

menjadi Peraturan Daerah tentang Standar

Anggaran Biaya pendidikan; (2)

Penguatan kompetensi dan kemampuan

tenaga kependidikan dalam menyusun

anggaran dan kebudayaan; (3)

Peningkatan kesejahteraan ketenagaan

pendidikan pada unit penganggaran

program pendidikan.

g. Partisipasi Masyarakat

Kebijakan dalam partisipasi

masyarakat dalam pendidikan,

diprioritaskan pada peningkatan peranserta

masyarakat, dunia usaha, dan stakeholders

pendidikan pembangunan pendidikan2dan

kebudayaan, melalui pengembangan

program yang berkenaan dengan: (1)

Penguatan Peraturan Walikota menjadi

Peraturan Daerah tentang POS kerjasama

kelembagaan dengan stakeholders; (2)

Penguatan kualifikasi, kompetensi dan

kemampuan tenaga hubungan masyarakat;

(3) Peningkatan kesejahteraan ketenagaan

pada unit hubungan dengan masyarakat.

h. Sistem Informasi Manajemen

Kebijakan dalam pengembangan sistem

informasi manajemen, diprioritaskan pada

peningkatan efektivitas dan produktivitas

Sistem Informasi Manajemen Pendidikan

3


Yenita Roza

(SIMP) pendidikan, melalui

pengembangan program yang berkenaan

dengan: (1) Penguatan fungsi dan peran

Sistem Informasi Manajemen (SIM)

Pendidikan berbasisk TIK; (2) Penguatan

intensitas pemeliharaan sarana TIK

Pendidikan; (3) Penguatan kompetensi dan

kemampuan tenaga bidang SIM dan TIK;

(4) Peningkatan kesejahteraan ketenagaan

pada unit SIM dan pemrosesan data.

i. Manajemen Sumber Daya Manusia

Kebijakan dalam manajemen SDM,

diprioritaskan pada peningkatan

efektivitas dan produktivitas manajemen

SDM kependidikan, melalui

pengembangan program yang berkenaan

dengan: (1) Penguatan Peraturan Walikota

menjadi Peraturan Daerah tentang Grand

Design Manajemen SDM pendidikan; (2)

Penguatan kompetensi dan kemampuan

tenaga bidang Manajemen SDM

kependidikan; (3) Peningkatan

kesejahteraan ketenagaan pendidikan pada

unit pengelola kepegawaian.

j. Administrasi Sarana Perlengkapan

Kebijakan dalam administrasi sarana

perlengkapan, diprioritaskan pada

peningkatan efektivitas dan efisiensi

pemanfaatan dan pemeliharaan sarana

prasarana pendukung operasional

administrasi dan manajemen

pembangunan pendidikan, melalui

pengembangan program yang berkenaan

dengan: (1) Penguatan Peraturan Walikota

menjadi Peraturan Daerah tentang POS

manajemen sarana prasarana milik negara

dan daerah; (2) Penguatan kompetensi dan

kemampuan tenaga administrasi dan

manajemen sarana pendidikan; (3)

Peningkatan kesejahteraan ketenagaan

pendidikan pada unit pengelola sarana,

prasarana dan barang milik negara/daerah.

KESIMPULAN

1. Kondisi pendidikan dasar di Kota

Dumai secara umum dalam kondisi

baik tetapi ada beberapa yang perlu

ditingkatkan dalam implementasi nya

di antaranya adalah: 1) pendataan

dan legalisasi tanah dan bangunan; 2)

implementasi visi dan misi; 3)

implementasi kurikulum; 4)

Jurnal Pendidikan

Analisis penggunaan teknologi komunikasi dan informasi

implementasi manajemen berbasis

sekolah; 5) peningkatan sarana dan

prasarana sekolah; 6) pemenuhan alat

dan perlengkapan sekolah; dan 7)

perbaikan suasana dan budaya

belajar peserta didik.

2. Arah kebijakan pendidikan dasar

Arah kebijakan pembangunan

pendidikan dasar di Kota Dumai

untuk lima tahun ke depan dalam

rangka mempersiapkan kawasan

ekonomi khusus diarahkan pada

penguatan kelembagaan pendidikan

dalam memberikan pelayanan

pendidikan. Penguatan kelembagaan

pendidikan dalam memberikan

pelayanan, diharapkan akan menjadi

modal dalam menyiapkan pendidikan

yang bermakna bagi masyarakat,

sehingga memiliki keunggulan

kompetitif pada tingkat lokal dan

regional. Prioritas kebijakan yang

perlu dilakukan terutama pada:

(1)Pemerataan Kesempatan

Memperoleh Pendidikan; (2)

Peningkatan Mutu, Relevansi dan

Daya Saing Pendidikan; dan (3) Tata

Kelola, Akuntabilitas dan Pencitraan

Publik.

DAFTAR PUSTAKA

Ace Suryadi, 2002, Pendidikan, Investasi

SDM, dan Pembangunan: Isu,

Teori dan Aplikasi, Jakarta: Balai

Pustaka.

Bapeda Kota Dumai, 2002, Properda Kota

Dumai.

Bapeda Kota Dumai, 2009, Masterplan

Pendidikan Kota Dumai.

-----------------------------------------, 2005,

Laporan Tahunan Sosial Ekonomi

Kota Dumai, Pemda Kota Dumai.

-----------------------------------------, 2008,

Kota Dumai Dalam Angka, Pemda

Kota Dumai.

-----------------------------------------, 2007,

Kota Dumai Dalam Angka, Pemda

Kota Dumai.

Departemen Pendidikan Nasional, 2006,

Rencana Strategis Pendidikan

4


Yenita Roza

Nasional:Konferensi Nasional

Revitalisasi Pendidikan, Jakarta:

Sesjen Depdiknas.

Departemen Pendidikan Nasional, 2003,

Visi dan Misi Pendidikan

Nasional

http://www.depdiknas.go.id/publi

Jurnal Pendidikan

Analisis penggunaan teknologi komunikasi dan informasi

kasi/Buletin/Padu/Perdana/padu_0

0.htmBalitbang – Depdiknas,

diakses tanggal 1 Desember 2007.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional

Nomor: 23 Tahun 2006 tentang

Standar Kompetensi Lulusan

untuk Satuan Pendidikan Dasar

dan Menengah.

Undang-Undang Nomor: 20 Tahun 2003

tentang Sistem Pendidikan

Nasional.

5


Wan Roswita

Jurnal Pendidikan

Pemberian tugas dalam proses pembelajaran

PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI

DI KELAS XI A.5 DENGAN PEMBERIAN TUGAS

DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI SMAN 1 PEKANBARU

Wan Roswita

Guru SMA Negeri 1 Pekanbaru

Jalan Sultan Syarif Kasim No. 159 Pekanbaru Riau Indonesia - 28141

email : ita_umarai@yahoo.com

ABSTRAK.Peserta didik sebelumnya yang memenuhi KKM hanya 10 orang dari 36 (20%). Pada siklus

satu peserta didik yang memenuhi KKM mencapai 88,6% (31 orang dari 35) sehingga ketuntasan kelas

tercapai. Rata-rata UH 1 sebesar 7,91. Peran serta dalam belajar terjadi peningkatan, sebelumnya hanya 2

orang (5.6%) yang selalu aktif pada siklus satu rata-rata menjadi 10 orang (28,6%) setiap pertemuan.

Pada siklus dua terjadi penurunan dibandingkan dari siklus satu. Ketuntasan kelas tidak tercapai karena

yang memenuhi KKM 26 orang (74,29%), rata-rata UH 2 sebesar 7,32. Partisipasi peserta didik juga

mengalami penurunan rata-rata hanya 5 orang (14,26%) setiap pertemuan. Namun secara keseluruhan

masih lebih baik dari proses pembelajaran sebelumnya.

Kata kunci: pemberian tugas, hasil belajar

ABSTRACT.This is a study of class action research with number of respondents are 36 students

consisting of 13 men and 23women. The measuring instrument was used in this study are: 1) success of

learners (students) in the knowledge and their understanding of concepts individually and classical, 2)

learner activities that include, 3) the activities of teachers. The Instruments tool for this research are

learning materials (syllabus, RPP, teaching materials, media equipment and learning aids), observation

sheet. The results of this result earlier learners who meet the KKM only 10 students out of 36 (20%). In

one cycle of learners who meet the KKM reached 88.6% (31 students from 35) so that the exhaustiveness

class is reached. Average of UH 1 is 7.91. Participation in learning increased, previously only 2 students

(5.6%) which is always active in one cycle average of 10 people (28.6%) of each meeting. Compare to

first cycle, the second cycle decrease in terms of value. In this case, class completeness is not achieved

because the class that meets KKM is only 26 students (74.29%), an average of 7.32 for the UH 2.

Learners' participation also declined on average only 5 people (14.26%) of each meeting. However,

overall this condiditon is still better than the previous learning process

.

Keywords: learning task.

PENDAHULUAN

Proses pembelajaran dewasa ini mengharapkan

peserta didik yang lebih berperan aktif dalam

kegiatan pembelajaran (student center) bukan lagi

terpusat pada guru (teacher center) di sekolah.

Peserta didik harus mampu menemukan sendiri

konsep bahan ajar / materi yang akan dipelajari.

Sehingga mereka memiliki pengalaman belajar

yang berharga dan tersimpan lama dalam alam

pemikirannya. Sesuai dengan tuntutan Kurikulum

Tingkat Satuan Pendidikan. Sehingga diharapkan

peserta didik mampu mengkaitkan materi yang

dipelajari dengan kehidupan sehari-hari. Direktorat

Pendidikan Menengah Umum (2004: 1) dalam

seminar nasional pendidikan IPA menyatakan:

"Pendidikan adalah suatu proses yang memberikan

kesempatan dan kemungkinan berkembangnya

kemampuan peserta didik secara utuh :

kemampuan intelektual, vokasional, personal, dan

kemampuan sosial, agar ia bisa menjalani

kehidupan secara efektif dan efisien sehingga

keberadaannya tidak saja berguna bagi diri sendiri

tetapi berguna juga bagi masyarakat dan

bangsanya".

Merujuk definisi di atas dapat simpulkan bahwa

melalui pendidikan kita harapkan anak dapat

menjalani hidupnya dengan berbagai kemampuan.

Kemampuan yang diperoleh peserta didik dalam

dunia pendidikan dapat dinilai melalui

keberhasilan dari aspek pengetahuan dan

pemahaman konsep, sikap dan praktik. Ketiga

aspek di atas harus dimiliki oleh setiap peserta

didik setelah selesai pada suatu tingkat pendidikan.

15


Wan Roswita

Jurnal Pendidikan

Pemberian tugas dalam proses pembelajaran

Keberhasilan segi pengetahuan dan pemahaman

konsep dapat dilihat dari nilai yang mereka peroleh

pada setiap materi yang diujikan, apakah

memenuhi kriteria ketuntasan minimal yang telah

ditetapkan. Pencapaian nilai minimal peserta didik

sangat tergantung pada bagaimana peserta didik itu

menjalani pengalaman belajarnya setiap hari.

Pada saat sekarang banyak peserta didik di

kelas XI A.5 yang kurang mampu memanfaatkan

waktu mereka untuk menjalani pengalaman

belajarnya dengan baik. Sehingga hasil

pengetahuan dan pemahaman konsep yang dimiliki

belum memenuhi nilai minimal ketuntasan yang

ditetapkan (KKM biologi 7,0). Apakah ini

diakibatkan oleh banyaknya beban materi belajar

yang harus diemban (belajar dari jam 07.00 –

15.15 Wib) dan ditambah lagi dengan harus

mengikuti bimbingan belajar setelah pulang

sekolah Kemudian peserta didik harus

menyelesaikan tugas yang diberikan oleh beberapa

guru mata pelajaran. Sehingga peserta didik tidak

sempat atau tidak mempunyai waktu

mempersiapkan diri untuk materi pelajaran

keesokan harinya.

Sebagai tenaga pendidik kita mempunyai

tanggungjawab moral untuk memberikan suasana

belajar yang sesuai dengan keinginan peserta didik

tetapi sekaligus memberikan pengalaman belajar

yang utuh dan bermanfaat bagi mereka. Mengingat

padatnya materi pelajaran yang dijalani oleh

peserta didik, maka proses pembelajaran dalam

dunia pendidikan memberikan beberapa cara untuk

menyampaikan materi pelajaran, diantaranya

adalah dengan memberikan tugas kepada peserta

didik.

Keyakinan dengan pemberian tugas dapat

meningkatkan hasil belajar peserta didik, maka

dilakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan cara

merubah strategi pemberian tugas. Selama ini

pemberian tugas diberikan setelah suatu materi

dipelajari, sekarang dicoba untuk memberikan

tugas saat proses pembelajaran berlangsung yaitu

diawal kegiatan inti.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan

pada kelas XI A.5 di SMAN 1 Pekanbaru. Jumlah

peserta didik sebanyak 36 orang yang terdiri dari

laki-laki sebanyak 13 orang dan perempuan 23

orang. Penelitian berlangsung mulai bulan Oktober

hingga November 2007, yaitu di semester ganjil

T.P 2007/2008 pada materi Sistem Gerak pada

Manusia.

Alat ukur yang dipakai dalam penelitian

ini adalah : 1) ketercapaian keberhasilan peserta

didik dalam pengetahuan dan pemahaman konsep

secara individual dan klasikal, 2) aktifitas peserta

didik yang meliputi : kesiapan mengikuti pelajaran,

kesungguhan dalam mengerjakan tugas, partisipasi

dalam pembelajaran, dan keberanian bertanya serta

mengeluarkan pendapat, 3) aktifitas guru yang

terdiri dari : kegiatan membuka pelajaran dengan

prasyarat dan motivasi, menyampaikan tujuan

pembelajaran, memberikan tugas, menyampaikan

materi, memberi kesempatan bertanya dan

mengeluarkan pendapat, memberikan

penghargaan, menyimpulkan materi dan memberi

tes.

Instrumen penelitian berupa perangkat bahan

pembelajaran (silabus, RPP, bahan ajar, alat peraga

dan media pembelajaran), lembar observasi. Di

dalam pelaksanaan penelitian dibagi dalam

beberapa tahapan yaitu tahap perencanaan,

pelaksanaan, evaluasi untuk refleksi.

Data yang diperoleh akan diolah secara

teknis analisa deskriptif.

1. Untuk mengetahui pengetahuan dan

pemahaman konsep secara individu, dapat

diketahui dengan menggunakan rumus :

KKM individu =

banyaknyaj awabanyangbenartiapindividu

x100%

jumlahsoal

KKM untuk pelajaran biologi kelas XI di SMAN 1

Pekanbaru adalah 7,0

2. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar

secara klasikal, dapat diketahui dengan

menggunakan rumus :

Ketuntasan klasikal =

Jumlahsiswayangtuntas

x100%

jumlahseluruhsiswa

Kriteria ketuntasan secara klasikal apabila

peserta didik telah mencapai ketuntasan

individual sebanyak 85% dari jumlah seluruh

peserta didik.

3. Untuk mengetahui skor rata-rata, dengan

menggunakan persamaan berikut :

_

X

X =

N

Keterangan :

X jumlah skor peserta didik

N = banyaknya peserta didik

16


Wan Roswita

Jurnal Pendidikan

Pemberian tugas dalam proses pembelajaran

4. Hasil pengamatan aktifitas peserta didik

dengan menggunakan lembaran observasi akan

dianalisa dengan persamaan rumus di bawah

ini :

F

P = x100%

(Sudijono, dalam Zeniyerti)

N

(4)

Keterangan :

P = Angka persentase

F = Frekwensi aktifitas peserta didik

N = Banyak individu

Kategori persentase interval yang berlaku

adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Interval dan Kategori Aktifitas Peserta

Didik

No Interval Kategori

1

2

3

4

75 – 100 %

65 – 74 %

55 – 64 %

Kecil dari 54 %

Baik sekali

Baik

Cukup

Kurang

Sumber : Anonim (1991)

Hasil pengamatan aktifitas guru dengan

menggunakan lembaran observasi akan dianalisa

dengan persamaan rumus di bawah ini :

p

F

N

x100%

(Sudijono, dalam Zeniyarti) (5)

Kategori persentase interval seperti di bawah ini :

Tabel 2. Interval dan Kategori Aktifitas Guru

No Interval Kategori

1

2

3

4

91 – 100 %

71 – 90 %

61 – 70 %

kecil dari 60 %

Sumber : Anonim (1991)

Baik sekali

Baik

Cukup

Kurang

HASIL DAN PEMBAHASAN

Proses pelaksanaan siklus satu

dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober, 1

November dan 7 November 2007 ( tiga kali

pertemuan ) dan ulangan harian dilaksanakan pada

tanggal 8 November. Sementara untuk siklus dua

dilaksanakan pada tanggal 14 dan 15 November

dan ulangan harian dilaksanakan pada tanggal 21

November 2007. Dalam pelaksanaan penelitian ini

peneliti dibantu oleh dua orang observer yang

bertugas mengamati aktifitas peserta didik dan

aktifitas guru pada setiap pertemuan. Setiap

observer diberikan lembaran pengamatan setiap

kali pertemuan.

Aktifitas Guru

Aktifitas guru selama proses pembelajaran

berlangsung setiap pertemuan dalam persentase

dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 3. Hasil Analisis Aktifitas Guru

No Siklus Persentase

Siklus 1 Aktifitas guru

Kategori

1 Pertemuan 1 100 % Baik sekali

2 Pertemuan 2 100 % Baik sekali

3 Pertemuan 3 100 % Baik sekali

Siklus 2

Rata-Rata

(Persentase)

100 % Baik sekali

4 Pertemuan 4 100 % Baik sekali

5 Pertemuan 5 100 % Baik sekali

Rata-Rata

(Persentase)

100 % Baik sekali

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa

setiap pertemuan guru telah melaksanakan

langkah-langkah yang dibutuhkan dalam suatu

proses pembelajaran, baik pada siklus satu maupun

siklus dua. Ini terbukti dari persentase yang

diperoleh pada kedua siklus sebesar 100 % dengan

kategori sangat baik. Mengarahkan konsentrasi

peserta didik dalam proses pembelajaran sangatlah

penting, seperti yang dikemukakan oleh M. Usman

bahwa tugas guru adalah membangkitkan motivasi

anak sehingga ia mau melakukan belajar. Hal ini

dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai

alat peraga pengajaran dalam penyajian materi

pelajaran kepada anak didik (2002: 29).

Dengan memusatkan perhatian peserta didik

dalam proses pembelajaran dapat mempengaruhi

aktifitas peserta didik ke arah yang lebih baik

sehingga dapat berdampak pada keaktifan dan

keberhasilan peserta didik. Menurut Slameto

(2003: 97) peranan dan fungsi guru sangat

menentukan serta mempunyai pengaruh yang

sangat besar terhadap peningkatan prestasi belajar.

Peranan guru untuk meningkatkan minat dan

rasa percaya diri peserta didik sangat dituntut

dalam proses pendidikan untuk mewujudkan

pembelajaran yang terpusat pada peserta didik

(student center). Para remaja akan percaya diri jika

mereka menyadari kemampunannya, dan untuk itu

guru harus menunjukkan percaya diri dan

17


Wan Roswita

Jurnal Pendidikan

Pemberian tugas dalam proses pembelajaran

kemampuan maksimal dalam proses belajar

mengajar (Hamalik, 2002: 123). Salah satu caranya

adalah memberikan penghargaan kepada peserta

didik terhadap keberhasilan,keberanian

mengemukakan pendapat dan mau bertanya.

Menurut pendapat Slameto penghargaan yang

diterima peserta didik akan mempengaruhi konsep

diri siswa secara positif yang meningkatkan

keyakinan diri siswa (2003: 159).

Aktifitas Peserta Didik

Siklus Satu

Dilihat dari hasil pengamatan dua orang

observer dalam pelaksanaan siklus satu terhadap

aktifitas peserta didik yang tertera pada tabel.4 dan

tabel. 5 dapat kita uraikan sebagai berikut:

Tabel 4. Angka Persentase Aktifitas Peserta Didik pada Siklus Satu

Siklus 1

N

Keterangan

Jenis Aktifitas

Pertemuan

Rata-Rata

o

Kategori

1 2 3

1 Siap mengikuti pelajaran 94,3 % 100 % 100 % 98 % Baik sekali

2 Memperhatikan penjelasan guru 97,1 % 100 % 100 % 99 % Baik sekali

3 Mencatat tujuan pembelajaran 97,1 % 100 % 100 % 99 % Baik sekali

4 Menerima tugas dari guru 100 % 100 % 100 % 100 % Baik sekali

5 Mengerjakan tugas dengan sungguh 2 100 % 100 % 100 % 100 % Baik sekali

6 Menyerahkan tugas tepat waktu 100 % 100 % 100 % 100 % Baik sekali

7 Mengikuti pembelajaran dengan baik 100 % 100 % 100 % 100 % Baik sekali

8 Berani mengemukakan pendapat & bertanya 80 % 52,8 % 22,9 % 52,4 % Kurang

9 Menerima penghargaan 65,7 % 54,3 % 20 % 46,7 % Kurang

10 Mendengarkan dan mencatat kesimpulan 100 % 100 % 100 % 100 % Baik sekali

Tabel 5. Rata-Rata Aktifitas Peserta Didik Pada Siklus Satu

No

Jenis

Aktifitas

1 1 - -

2 2 - -

3 3 - -

4 4 - -

5 5 - -

6 6 - -

7 7

Pertemuan

1 2 3

Skor Skor Skor

1 2 3 1 2 3 1 2 3

N/ % N/ % N/ % N/ % N / % N/ % N / % N / % N/ %

15

42,9%

14

40%

33

94,3%

34

97,1 %

35

100%

35

100%

35

100%

35

100%

6

17,1%

- -

- -

- -

- -

- -

- -

10

27,8%

36

100%

36

100%

36

100%

36

100%

36

100%

36

100%

- -

- -

- -

- -

- -

- -

8 8 15 3 10 16 3 - 4 1 -

21

58,3%

5

13,9%

32

91,4%

3

8,6%

35

100%

35

100%

35

100%

35

100%

35

100%

35

100%

-

18


Wan Roswita

Jurnal Pendidikan

Pemberian tugas dalam proses pembelajaran

No

Jenis

Aktifitas

9 9

10 10

Pertemuan

1 2 3

Skor Skor Skor

1 2 3 1 2 3 1 2 3

N/ % N/ % N/ % N/ % N / % N/ % N / % N / % N/ %

42,9% 8,6% 28,6% 44,4% 8,33% 11,4% 2,85%

7

20%

32

91,4%

3

8,6%

3

8,5%

3

8,6%

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat

kesungguhan dan keseriusan peserta didik dalam

belajar lebih terarah. Ini dapat dilihat

dari keterlibatan peserta didik dalam mengerjakan

tugas yang diberikan serta nilai hasil tugas dan tes

yang diperoleh dari setiap pertemuan cukup baik.

Slameto mengemukakan bahwa guru dapat

memberikan dorongan dan bimbingan kepada

peserta didik untuk dapat melakukan penemuan

sendiri, dengan kata lain dapat menyimpulkan

sendiri suatu konsep secara induktif atau deduktif

(2003: 152).

Peran serta dan keterlibatan peserta didik dalam

membahas materi pelajaran juga mengalami

perubahan yang positif. Biasanya hanya satu atau

dua orang saja yang aktif dalam memberikan

pendapat atau bertanya, selama kegiatan peneliltian

ini dilakukan jumlah peserta didik yang terlibat

-

7

19,4%

24

66,7%

3

8,33%

8

22,2%

2

5,56%

-

4

11,4%

35

100%

-

1

2,85%

- -

meningkat menjadi lima sampai sepuluh orang,

walaupun masih tergolong kategori kurang (


Wan Roswita

Jurnal Pendidikan

Pemberian tugas dalam proses pembelajaran

N

o

Jenis Aktifitas

Siklus 2

Rata2

Pertemuan

4 5

bertanya % % %

9 Menerima penghargaan

10

Mendengarkan dan mencatat

kesimpulan

27,27

%

23,64

%

25,46

%

Keterangan

Kategori

Kurang

100 % 100 % 100 % Baik sekali

Tabel 7. Rata-Rata Aktifitas Peserta Didik Pada Siklus Dua

Pertemuan

4 5

No Jenis Aktifitas

Skor

Skor

1 2 3 1 2 3

N % N % N % N % N % N %

1 1 - -

33

100%

- -

35

100%

2 2 - -

33

100 %

- -

35

100%

3 3 - -

33

100%

- -

35

100%

4 4 - -

33

100%

- -

35

100%

5 5 - -

33

100%

- -

35

100%

6 6 - -

33

100%

- -

35

100%

7 7

23

69,70%

7

21,21%

3

9,09%

22

62,86%

12

34,29%

1

2,86%

8 8

6

3

-

4

3

-

18,18% 9,09%

11,43% 8,57%

9 9

4

12,12%

1

3,03%

1

3,03%

4

11,43%

-

1

2,86%

10 10

32

96,97%

1

3,03%

-

33

94,29%

2

5,71%

-

Dari perubahan cara belajar dan

keaktifan yang ditunjukkan oleh peserta

didik dalam proses pembelajaran

membawa dampak yang baik pada hasil

belajar pengetahuan dan pemahaman

konsep peserta didik. Seperti yang

diungkapkan oleh Rostiyah: jika siswa kita

beri pengalaman dalam mempelajari

sesuatu, maka siswa akan memiliki hasil

belajar yang lebih mantap, terangsang

20


Wan Roswita

Jurnal Pendidikan

Pemberian tugas dalam proses pembelajaran

untuk meningkatkan belajar yang lebih

baik serta memupuk inisiatif dan berani

bertanggung jawab (2001: 133). Secara

keseluruhan jumlah peserta didik yang

sudah mau terllibat dalam pembelajaran

mengalami perubahan, yang dapat dilihat

pada grafik berikut ini :

40

30

20

10

31

4 7.91 88.6%

tuntas

tidak

tuntas

Rata UH 1

10

9

8

7

6

5

4

3

2

1

0

2

1

10

5

Sebelumnya

Siklus 1

Siklus 2

Gabar 2.1. Grafik Jumlah Rata-rata

Peserta Didik yang berpartisipasi

Hasil Belajar Peserta Didik

Siklus Satu

Hasil belajar yang diperoleh peserta

didik cukup baik dibandingkan dari hasil

belajar sebelumnya, dimana sebelumnya

hanya 10 orang (27%) yang memenuhi

KKM sementara sekarang pada siklus

pertama yang mencapai KKM sebanyak

31 orang (88.6%) dengan rata-rata ulangan

harian 7,91. Ini berarti ketuntasan kelas

sudah tercapai. Rata-rata nilai tugas pada

siklus satu adalah 8,15 dan rata-rata hasil

tes 8,19.

Siklus Dua

Pada siklus kedua yang mencapai

KKM sebanyak 26 orang (74,29%) dengan

nilai rata-rata ulangan harian sebesar 7,32

terjadi penurunan jika dibandingkan pada

siklus pertama sebesar 0,59. Begitu juga

dengan rata-rata hasil tugas di siklus dua

mengalami penurunan sebesar 0,11%

(8,04). Rata-rata hasil tes 7,34 juga turun

sebesar 0,85 dari siklus pertama.Untuk

lebih jelas dapat dilihat dari grafik

dibawah ini :

Gbr.3.1 Ketuntasan Individual & Klasikal

Siklus Satu

0

1

Gabar.3.2 Ketuntasan Individual &

Klasikal Siklus Dua

30

20

10

0

26

9 7.32

74.29%

1

tuntas

% klasikal

tidak tuntas

Rata2 UH 2

% klasikal

Perbedaan hasil belajar yang diperoleh

peserta didik di siklus satu dengan siklus

dua kemungkinan pertama disebabkan

oleh situasi dan kondisi yang kurang

kondusif di siklus dua. Hamalik

mengemukakan bahwa kondisi subjek

belajar turut menentukan kegiatan dan

keberhasilan belajar, seperti kesiapan

untuk melakukan kegiatan belajar,

pengalaman yang bertalian dengan

pelajaran serta minat untuk belajar (2003:

52). Kemungkinan kedua karena tugas

yang diberikan pada siklus kedua tidak

dituntun seperti pada siklus satu, sehingga

peserta didik merasa kurang percaya diri

terhadap penyelesaian tugas ini terllihat

dari rata-rata nilai tugas yang diperoleh

juga menurun. Purwanto mengatakan

bahwa dengan tugas yang jelas perhatian

siswa dapat diarahkan kepada hal-hal

khusus mana saja yang perlu dipelajari

dengan baik dan bagaimana cara

mempelajarinya, makin jelas tugas yang

diberikan oleh guru baik tujuan maupun

batas-batasnya, makin besar pula perhatian

dan kemauan siswa untuk mengerjakan

dan mempelajarinya (2007:116).

Namun secara keseluruhan hasil

tindakan yang dilakukan pada materi

2


Wan Roswita

Sistem Gerak pada Manusia di kelas XI

A.5 membawa perubahan yang baik dalam

proses pembelajaran, apakah itu dari

keikutsertaan peserta didik dalam

membahas materi, keberanian dalam

mengemukakan pendapat, mau membaca

dan belajar lebih serius dalam menanggapi

permasalahan yang diajukan, dan mau

bertanya. Hasil akhir yang diperoleh

adalah meningkatnya hasil belajar

pengetahuan dan pemahaman konsep

(nilai ulangan) peserta didik yang jauh

meningkat dibandingkan dari proses

pembelajaran sebelumnya.

Untuk melihat perbandingan perolehan

rata-rata nilai tugas dan tes yang dicapai

peserta didik di kedua siklus dan jumlah

siswa yang memenuhi KKM dengan

sebelumnya dapat dilihat pada gambar

berikut :

Gbr.3.3 Nilai hasil tugas dan Tes Siklus

Satu dan Dua

8.2

8

7.8

7.6

7.4

7.2

7

6.8

8.19

8.15 8.04

siklus satu

siklus dua

7.34

rata2 nilai

tugas

rata2 nilai tes

35

30

25

20

15

10

5

0

sebelum siklus 1 siklus 2

Series1 10 31 26

Gbr 3.4 Grafik Jumlah siswa yang

memenuhi KKM

Jurnal Pendidikan

Pemberian tugas dalam proses pembelajaran

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Peserta didik mempunyai kemauan

untuk membaca ketika diberi

kesempatan untuk mengerjakan tugas

yang diberikan (100%)

2. Peran serta peserta didik dalam proses

pembelajaran mengalami perubahan

dari proses sebelumnya yaitu semula

hanya satu atau dua orang peserta didik

saja yang mau terlibat, setelah

diberikan perlakuan bertambah menjadi

sepuluh orang peserta didik (aktifitas

meningkat).

3. Hasil belajar dan ketuntasan kelas juga

meningkat, pada siklus satu 88,6% dan

siklus dua 74,29%.

4. Aktifitas guru berdasarkan hasil

pengamatan observer 100%

dilaksanakan.

Saran

1. Mengingat peserta didik kebanyakan

tidak punya waktu banyak untuk

membaca dirumah, diharapkan guru

dapat memberikan waktu untuk

membuka memori dan kemampuan

yang ada pada peserta didik sebelum

pembahasan materi dilaksanakan.

2. Peserta didik hendaknya diberi waktu

yang cukup untuk menyelesaikan

tugas, agar jawabannya lebih mengenai

sasaran yang diharapkan.

3. Untuk penelitian selanjutnya, penelitian

ini hendaknya dilakukan lebih dari dua

siklus, sehingga ketika melakukan

refleksi kita dapat menemukan letak

kelemahan dari siklus sebelumnya.

UCAPAN TERIMA KASIH

Peneliti mengucapkan terima kasih

kepada Dirjen PMPTK yang telah

mendanai penelitian ini, Lemlit UNRI

yang telah memberikan kesempatan untuk

meneliti dan Kepala Sekolah SMAN 1

Pekanbaru yang telah memberi izin

melakukan penelitian. Kepada Ibu Yustini

yang telah membimbing dalam

penyelesaian PTK, serta Ibu Nurhasanah

dan Ibu Lusiana yang membantu dalam

penelitian ini.

3


Wan Roswita

DAFTAR PUSTAKA

Hamalik. (2003). Proses Belajar Mengajar.

Jakarta: Bumi Aksara.

Roestiyah. (2001). Strategi Belajar

Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Purwanto, M.N. (2007). Psikologi

Pendidikan. Bandung: Remaja

Rosdakarya.

Jurnal Pendidikan

Pemberian tugas dalam proses pembelajaran

Usman, M.U. (2002). Menjadi Guru

Profesional. Bandung: Remaja

Rosdakarya.

Zeniyarti. (2005). Penerapan Pembelajaran

Kooperatif Struktural Numbered

Heads Together (NHT) untuk

Meningkatkan Prestasi Belajar

Siswa di Kelas III.2 SLTP

Negeri 2 Tembilahan. Skripsi

Prodi FKIP-UNRI.

4


Suwondo

Jurnal Pendidikan

Penerapan model pembelajaran problem bases learning

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK

MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

PADA KONSEP RANCANGAN EKSPERIMEN

DALAM MATA KULIAH BIOMETRI

Suwondo

Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau

Jalan HR. Subrantas KM 12,5 Simpang Panam Pekanbaru Indonesia 28293

Email:wondo_su@yahoo.co.id

ABSTRAK. Telah dilakukan Penelitian Tindakan Kelas untuk meningkatkan kemampuan pemecahan

masalah pada konsep Rancangan Eksperimen dalam perkuliahan Biometri, untuk meningkatkan hasil

belajar mahasiswa. Penelitian dilakukan di Program Studi Pendidikan Biologi UNRI pada Semester

Genap Tahun ajaran 2007/2008. Subyek penelitian adalah mahasiswa yang mengambil mata kuliah

Biometri terdiri dari 47 mahasiswa ( 5 laki-laki dan 42 perempuan). Penelitian dilaksanakan dengan 2

siklus, dimana siklus pertama terdiri dari 2 kali pertemuan dan 1 kali tes ( kuis ). Sedangkan siklus ke

dua terdiri dari 3 kali pertemuan dan 1 kali tes (kuis) . Parameter yang diamati adalah Hasil belajar

dan Aktivitas mahasiswa selama proses pembelajaran, dimana analisis data dilakukan secara

deskriptif. Hasil peneltian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar setelah penerapan

model pembelajaran PBL. Mahasiswa yang memperoleh hasil belajar katagori baik sekali lebih

banyak yaitu 38 orang (80,85%). Aktivitas mahasiswa dalam poses belajar mengajar dikategorikan

baik, dengan rata-rata 67,69%, dan dalam melaksanakan percobaan dikategorikan baik sekali, dengan

rata-rata sebesar 84,21 %. Penerapan model pembelajaran PBL dipandang efektif diterapkan pada

mata kuliah Biometri pada konsep rancangan percobaan.

Kata Kunci : Model Pembelajaran Problem Based Learning, Konsep Rancangan Percobaan

APPLIED OF THE PROBLEM BASED MODEL LEARNING TO INCREASED ABILITY

PROBLEM SOLUTION AT CONCEPT DESIGN OF EXPERIMENT IN THE

BIOSTATISTIC LECTURE

ABSTRACT. Action Research has been conducted classes to improve on the concept of problem

solving in the design of experiments biostatistic lecture, to improve student learning outcomes.

Research conducted at the Departement Educational Biology Riau University for 2007/2008 academic

year. Research subjects were the students taken courses in biometric lecture consists of 47 students (5

male and 42 female). Research carried out with 2 cycles, where the first cycle consisted of 2 sessions

and 1-time test (quiz). Whereas the second cycle consists of 3 meetings and 1-time test (quiz). The

observed parameters were studied and the results of student activity during the learning process, which

conducted the data analysis descriptive. The results showed that increase learning outcomes after the

implementation of PBL learning model. Students who earn very good category to learn more of the 38

people (80.85%). Student activity in learning and teaching poses well categorized, with an average of

67.69%, and in carrying out the experiment very well categorized, with an average of 84.21%.

Application of PBL learning model was considered effectively applied biometric lecture on

experimental design concepts.

Keywords : Problem Based Learning Model, Concept Design Experiment

23


Suwondo

Jurnal Pendidikan

Penerapan model pembelajaran problem bases learning

PENDAHULUAN

Biometri adalah mata kuliah yang

mempelajari penerapan metode statistika untuk

pemecahan masalah biologi baik sebagai ilmu

biologi dasar maupun bidang terapannya.

Biometri membahas tentang unsur-unsur penting

dalam perancangan ekperimen, analisis

Rancangan Acak Lengkap (RAL), pembanding

berganda (beda nyata terkecil, uji Tukey, Duncan

Multiple Range Test) dan analisis Rancangan

Acak Kelompok (RAK).

Pada Program Studi Pendidikan Biologi FKIP

UNRI, mata kuliah Biometri merupakan mata

kuliah wajib bagi mahasiswa semester 5

Program Strata 1 dengan bobot 2 SKS (teori).

Tujuan mata kuliah ini agar mahasiswa dapat

memahami konsep eksperimen dengan

menggunakan rancangan percobaan. Mata kuliah

Biometri sangat mendukung penyelesaian tugas

akhir (skripsi) mahasiswa dan mata kuliah

lainnya yang menggunakan pendekatan

eksperimen .

Berdasarkan pra-refleksi atas pengalaman

belajar secara langsung melalui tatap muka

(observasi interaksi belajar mengajar) maupun

perolehan nilai mahasiswa selama ini (ujian mid

dan semester) terungkap bahwa penerapan

konsep rancangan eksperimen pada skala

lapangan dan analisis data sulit dipahami

mahasiswa dalam lingkup biometri. Kesulitan ini

banyak dikeluhkan oleh mahasiswa lebih tertuju

kepada karakteristik materi yang berisi banyak

contoh penelitian yang dipecahkan dengan

menggunakan rancangan eksperimen dan cara

analisis data yang rumit. Berdasarkan hasil

identifikasi yang menjadi akar permasalahannya

adalah lemahnya kemampuan mahasiswa dalam

hal mengkonstruksi suatu struktur kognitifnya

menjadi jaringan konsep yang utuh untuk

memahami konsep rancangan eksperimen ,

rendahnya motivasi untuk mencoba menganalisis

data secara kuantitatif dan rendahnya

kemampuan berfikir dalam memecahkan suatu

permasalahan.

Kurikulum Pendidikan Tinggi yang berbasis

kompetensi menuntut untuk dikembangkannya

inovasi pembelajaran yang kondusif sehingga

mutu pendidikan di Perguruan Tinggi meningkat.

Oleh karena itu dosen diharapkan mencari model

alternatif pembelajaran yang sesuai dengan

karakteristik mata kuliahnya. .

Karakteristik materi dari mata kuliah Biometri

adalah memecahkan masalah dengan pendekatan

statistik sehingga mahasiswa perlu dirangsang

dan dimotivasi untuk aktif dan bertanggung

jawab dalam belajar. Perbaikan dapat dilakukan

dengan menerapkan pendekatan dan model

pembelajaran yang menekankan pada kegiatan

belajar mahasiswa aktif (active learning) dan

melakukan langsung (learning by doing). Pada

mata kuliah Biometri banyak terdapat materimateri

yang bisa dikaitkan dengan permasalahan

yang autentik yang terjadi dalam kehidupan

sehari-hari, sehingga mahasiswa mudah

memahami materi yang diberikan. Model

pembelajaran yang diharapkan mampu

menciptakan kondisi proses pembelajaran yang

aktif dan kreatif bagi mahasiswa adalah

pembelajaran berbasis masalah (Problem Based

Learning).

Muslimin (2003), menyatakan bahwa

model pembelajaran Problem Based Learning

dapat mengembangkan keterampilan berfikir dan

memecahkan masalah. Kerja sama yang

dilakukan dalam pembelajaran berdasarkan

masalah, mendorong munculnya berbagai

keterampilan inquiri dan dialog sehingga akan

berkembang keterampilan sosial berpikir.

Selanjutnya menurut Ibrahim dan Nur (2002)

model pembelajaran ini memberikan kepada

mahasiswa situasi masalah yang autentik dan

bermakna yang dapat memberikan kemudahan

untuk penyelidikan dan inquiri.

Slavin, dkk (1995) menyatakan ciri-ciri

khusus pembelajaran berdasarkan masalah adalah

: (1) pengajuan masalah; (2) keterkaitan masalah

dengan disiplin yang lain; (3) pengamatan yang

autentik; (4) menyajikan hasil pemecahan

masalah dan (5) kerjasama antar peserta didik.

Model pembelajaran ini mempunyai tahapan

yang jelas dan terstruktur yaitu : (1) orientasi

mahasiswa pada masalah; (2) mengorganisasi

peserta didik untuk belajar; (3) Membimbing

penyelidikan secara kelompok atau individu; (4)

mengembangkan dan menyajikan hasil

pemecahan masalah dan (5) menganalisis dan

mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Dengan adanya permasalahan tersebut penulis

tertarik untuk menerapan model pembelajaran

problem based learning (PBL pada mata kuliah

biometri sehingga dapat meningkatkan

kemampuan pemecahan masalah pada konsep

rancangan eksperimen yang pada akhirnya dapat

meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Secara

umum, penelitian ini bertujuan untuk mencari

24


Suwondo

Jurnal Pendidikan

Penerapan model pembelajaran problem bases learning

alternatif model pembelajaran Biometri yang

efektif sesuai dengan tuntutan Kurikulum

Berbasis Kompetensi di Perguruan Tinggi.

METODE PENELITIAN

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan

di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UNRI

pada Semester Genap Tahun ajaran 2007/2008

dari bulan Maret sampai Mei 2008. Subyek

penelitian adalah mahasiswa Program Strata 1

Pendidikan Biologi yang mengambil mata kuliah

Biometri yang berjumlah 47 mahasiswa ( 5 lakilaki

dan 42 perempuan). Parameter Penelitian

adalah : (1) Hasil belajar yang dilihat dari daya

serap, diperoleh dari nilai Kuis pada setiap akhir

siklus dan ketuntasan individu mahasiswa , (2)

Aktivitas mahasiswa selama proses

pembelajaran

Penelitian tindakan kelas dilaksanakan 2

siklus. Siklus pertama terdiri dari 2 kali

pertemuan dan 1 kali tes ( kuis ). Siklus kedua

terdiri dari 3 kali pertemuan ,1 kali tes (kuis).

Setiap pertemuan untuk tindakan berlangsung

selama 2 X 50 menit. Tahapan pada setiap siklus

terdiri dari : Persiapan, Pelaksanaan, Observasi

,Evaluasi serta Refleksi.

Keberhasilan pelaksanaan tindakan diukur

melalui parameter hasil belajar meliputi : (a).

Daya Serap diukur dengan tes (kuis); (b).

Ketuntasan belajar individu jika mahasiswa

memperoleh nilai ≥ 65 . Selain itu juga diukur

aktifitas mahasiswa selama pembelajaran diamati

dengan menggunakan lembar observasi. Untuk

mengetahui aktivitas mahasiswa dapat diketahui

dengan menggunakan formulasi sebagai berikut :

P = F x 100%

N

Dimana : P = angka prosentase

F = frekuensi aktivitas mahasiswa

N = banyaknya mahasiswa

(Sudjiono, 2007)

Tabel 1 .Hasil Belajar Mahasiswa Setelah

Penerapan Model Pembelajaran Problem

Based Learning (PBL) Pada Mata Kuliah

Biometri.

o. Interval Katagori Hasil Belajar

1 81-100 Baik

Sekali

Sebelum

PBL

Setelah PBL

Pre Test Siklus1 Siklus 2

N (%) N (%) N (%)

8 ( 17,02) 32 (69,57) 38

(80,85)

2 66-80 Baik 10 (21,27) 8 (17,39) 9 (19,15)

3 56-65 Cukup 15 (31,

91)

5 (10,87) -

4 41-55 Kurang 9 (19,14) - -

5 0-40 Gagal 5 (10,63) 1 (2,17) -

Jumlah 47 (100%) 46(100%) 47(100%)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Belajar Mahasiswa

Hasil belajar mahasiswa dengan penerapan

model Problem Based Learning (PBL) disajikan

pada Tabel 1.

Berdasarkan Tabel diatas dapat terlihat bahwa

terdapat peningkatan hasil belajar antara sebelum

dan setelah penerapan model pembelajaran PBL.

Mahasiswa yang memperoleh hasil belajar

katagori baik sekali setelah pembelajaran PBL

lebih banyak yaitu 38 orang (80,85%)

dibandingkan sebelum pembelajaran PBL 8

orang (17,02%) , begitu juga mahasiswa yang

termasuk katagori kurang dan gagal mengalami

penurunan. Pada siklus 1 terdapat 1 orang

(2,17%) yang termasuk katagori gagal tetapi

setelah siklus ke 2 tidak terdapat lagi. Penerapan

model pembelajaran PBL dipandang efektif

diterapkan pada mata kuliah Biometri pada

konsep rancangan percobaan.

Terjadinya peningkatan hasil belajar setelah

penerapan model pembelajaran PBL erat

kaitannya dengan keterampilan berfikir

mahasiswa dalam memecahkan masalah yang

autentik sehingga mahasiswa aktif bekerjasama

dengan kelompoknya dan memudahkan

mahasiswa dalam melakukan penyelidikan,

mengerjakan LKM serta membuat laporan hasil

pemecahan masalah. Sesuai dengan pendapat

Ibrahim (2004), bahwa PBL dapat membantu

mahasiswa dalam meningkatkan kemampuan

berfikir, memecahkan masalah dan keterampilan

intelektual mahasiswa. Tujuan pembelajaran PBL

25


Suwondo

Jurnal Pendidikan

Penerapan model pembelajaran problem bases learning

adalah menyajikan kepada peserta didik situasi

masalah yang autentik dan bermakna, sehingga

dapat memberikan kemudahan dalam melakukan

penyelidikan dan inkuiri. Ketuntasan belajar

mahasiswa dengan penerapan Model

Pembelajaran Problem Based Learning Pada

Mata Kuliah Biometri disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil Belajar Mahasiswa Berdasarkan

Ketuntasan Individu Sebelum Dan

Setelah Penerapan Model

Pembelajaran Problem Based Learning

Pada Mata Kuliah Biometri.

Evaluas

i

Jumlah

Mahasisw

a

Jumla

h

Tuntas

Pre Test 47 33 70,2

1

Tes

Siklus 1

Tes

Siklus 2

46 45 97,8

2

% Jumla

h

Tidak Tuntas

%

14 29,7

9

1 2,18

47 47 100 0 0

Dilihat dari ketuntasan belajar individu

mahasiswa, penerapan model pembelajaran PBL

memberikan dampak positif terhadap

peningkatan hasil belajar pada pokok bahasan

rancangan percobaan (Tabel 2 ), sebelum

perlakuan yang tuntas 70,21% dan setelah

penerapan model pembelajaran PBL siklus 1 (

70,21%) dan ke 2 (100%) . Hal ini tidak terlepas

dari kemampuan mahasiswa dalam memecahkan

masalah yang diberikan lebih kritis, sehingga

dapat meningkatkan kemampuan berfikir dan

lebih mandiri dalam memecahkan masalah . Pada

saat berdiskusi mahasiswa terlihat lebih aktif dan

melakukan kerja sama yang baik dalam belajar

sehingga memperoleh hasil belajar yang baik

pula.

Aktivitas Belajar Mahasiswa

1. Aktivitas Mahasiswa dalam Proses Belajar

Mengajar

Aktivitas mahasiswa dalam proses belajar

mengajar dengan penerapan model PBL disajikan

pada Tabel 3.

Tabel 3. Aktivitas Mahasiswa dalam Proses

Belajar Mengajar Setelah Penerapan

Model Problem Based Learning

(PBL) Pada Mata Kuliah Biometri.

No

1.

2.

3.

4.

5.

Aktivitas

Mahasiswa

Mengemu

kakan

ide/gagasa

n

Aktif

memecahk

an masalah

Bekerjasa

ma dalam

kelompok

Mengajuka

n

pertanyaan

Menangga

pi

pertanyaan

Pertemuan Ke-

1 2 3 4 5

N (%) N (%) N (%) N

(%

)

12

(26,0

9)

32

(69,5

6)

40

(86,9

6)

33

(71,7

4)

12

(26,0

9)

17

(37,78)

41

(91,11)

42

(93,33)

35

(77,78)

22

(48,89)

17

(39,5

3)

40

(93,0

2)

41

(95,3

5)

40

(93,0

2)

23

(53,4

9)

14

(31

,89

)

41

(93

,18

)

39

(88

,64

)

40

(90

,91

)

21

(47

,73

)

Rata-rata 56,09 69,78 75,35 70,

47

Kategori

Cuku

p

Baik

Baik

Sekali

Bai

k

N

(%

)

11

(23

,40

)

45

(95

,74

)

45

(95

,74

)

37

(78

,72

)

20

(42

,55

)

67,

23

Bai

k

Ratarata

31,74

(kura

ng)

88,52

(baik

sekali

)

92,00

4

(baik

sekali

)

82,43

(baik

sekali

)

43,75

(kura

ng)

67,69

Baik

Dari Tabel 3 di atas terlihat bahwa rata-rata

aktivitas mahasiswa mengalami peningkatan

pada pertemuan I sampai pertemuan III,

sedangkan pada pertemuan IV dan V mengalami

penurunan. Pada pertemuan I, rata-rata aktivitas

mahasiswa adalah 56,09 % (cukup), pertemuan II

adalah 69,78 % (baik), pertemuan III adalah

75,35 % (baik sekali), pertemuan IV adalah 70,47

% (baik) dan pertemuan V adalah 67,23 % (baik).

Secara keseluruhan aktivitas mahasiswa dalam

proses pembelajaran dikategorikan baik dengan

nilai rata-rata 67,69 %.

Rata-rata aktivitas mahasiswa yang

mengemukakan ide/gagasan adalah 31,74 % yang

dikategorikan kurang. Hal ini disebabkan karena

mahasiswa masih memahami materi secara

konseptual, sehingga mahasiswa kesulitan dalam

menghubungkan dan memberi contoh antara

konsep dengan permasalahan di lapangan.

Disamping itu cakupan materi pada pokok

bahasan konsep rancangan lebih banyak

memahami tentang analisis data. Pokok bahasan

ini memang sulit dipahami mahasiswa jika hanya

dengan membaca wacana atau buku teks. Jadi,

26


Suwondo

Jurnal Pendidikan

Penerapan model pembelajaran problem bases learning

mahasiswa lebih banyak bertanya kepada dosen

untuk penjelasan materi daripada mengemukakan

ide atau menanggapi pertanyaan. Disinilah peran

dosen untuk memotivasi mahasiswa, baik dalam

bertanya maupun cara dosen dalam menjawab

pertanyaan atau menjelaskan materi.

Sebagaimana dikemukakan oleh Ishaq (2002),

bahwa peran pengajar adalah sebagai motivator

yaitu sebagai pemberi rangsang kepada peserta

didik untuk terus belajar.

Aktivitas mahasiswa dalam bekerjasama

dengan kelompoknya dan aktivitas mahasiswa

yang aktif memecahkan masalah dikategorikan

baik sekali, dengan rata-rata yaitu 92,004 % dan

88,52 %. Peningkatan aktivitas mahasiswa ini

disebabkan karena pada penerapan model

pembelajaran berbasis masalah disajikan materi

yang sesuai dengan lingkungan sekitar, sehingga

mahasiswa lebih aktif, bersemangat dan mudah

dalam memecahkan permasalahan yang

diberikan. Selain itu mahasiswa juga tidak

mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan

kelompoknya. Hal ini sesuai dengan pendapat

Akinoglu & Tandagon (2007), yang menyatakan

bahwa salah satu kelebihan dari PBL adalah

dapat mengembangkan sikap sosial dan keahlian

berkomunikasi mahasiswa dalam belajar dan

bekerja dalam kelompok.

Aktivitas mahasiswa dalam mengajukan

pertanyaan kepada dosen atau teman dapat

dikategorikan baik sekali dengan nilai rata-rata

82,43 %. Berbeda dengan aktivitas mahasiswa

dalam menanggapi pertanyaan yang hanya

dikategorikan kurang dengan nilai rata-rata 43,75

%. Hal ini disebabkan karena mahasiswa

mengalami kesulitan dalam memahami materi

yang diberikan. Sehingga mahasiswa lebih

banyak bertanya untuk penjelasan materi dari

pada menanggapi pertanyaan. Hal ini sesuai

dengan teori belajar menurut Vygotsky (dalam

Suparno, 1997) yang mengemukakan bahwa

komunikasi verbal dengan orang-orang yang

dianggap lebih mengetahui akan

mengembangkan pengertian belajar dan

memudahkan dalam penyelesaian kesulitan.

2. Aktivitas Mahasiswa dalam Melaksanakan

Percobaan

Aktivitas mahasiswa dalam

melaksanakan percobaan dengan menerapkan

model Problem Based disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Aktivitas Mahasiswa dalam

Melaksanakan Percobaan Melalui Penerapan

Model Problem Based Learning Pada Matakuliah

Biometri.

No

1.

Aktivitas

Mahasiswa

Mengajukan

Masalah

Pertemuan ke-

3 4 5

N (%) N (%)

11 (25,58) * *

2. Membuat hipotesis 43 (100) * *

3.

4.

5.

Melakukan

percobaan

Melakukan

pengamatan

Membuat

kesimpulan

43 (100) * *

* 42 (95,45) *

* *

N

(%)

47

(100)

Rata-rata

25,58

Kurang

100

Baik Sekali

100

Baik Sekali

95,45

Baik Sekali

100

Baik Sekali

Rata-rata 75,19 95,45 100 84,21

Kategori

Baik Sekali

Baik

Sekali

Baik

Sekali

Baik Sekali

Pada pertemuan IV, aktivitas yang

dilakukan oleh mahasiswa adalah melakukan

pengamatan terhadap percobaan yang telah

mereka lakukan pada pertemuan sebelumnya.

Sedangkan pada pertemuan V, aktivitas yang

dilakukan oleh mahasiswa adalah membuat

kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan yang

telah mereka lakukan. Jadi, aktivitas-aktivitas

mahasiswa pada saat melaksanakan percobaan

tidak dilakukan secara bersamaan, melainkan

secara bertahap. Oleh karena itu aktivitas

mahasiswa dalam melaksanakan percobaan ini

tidak bisa diselesaikan hanya pada 1 kali

pertemuan.

Dari data pada tabel di atas terlihat

bahwa aktivitas mahasiswa dalam melaksanakan

percobaan dikategorikan baik sekali dengan ratarata

84,21 %. Pada aspek mengajukan masalah

25,58 % (kurang), membuat hipotesis 100 %

(baik sekali), melakukan percobaan 100 % (baik

sekali), melakukan pengamatan 95,45 % (baik

sekali), dan membuat kesimpulan 100 % (baik

sekali).

Aktivitas mahasiswa dalam

melaksanakan percobaan diperoleh kategori baik

sekali (84,21%). Hal ini disebabkan karena

konsep rancangan percobaan menghendaki

aplikasi langsung, yaitu dengan menerapkan

eksperimen secara langsung di laboratorium atau

di lapangan. Dengan demikian pemahaman

mahasiswa terhadap materi konsep rancangan

percobaan tidak hanya bersifat konseptual. Sesuai

dengan pendapat Bruner dalam Dahar (1989),

27


Suwondo

Jurnal Pendidikan

Penerapan model pembelajaran problem bases learning

yang menyatakan bahwa belajar merupakan

proses penemuan dengan pencarian pengetahuan

secara aktif, sehingga memberikan hasil yang

baik. Selanjutnya berusaha sendiri untuk mencari

pemecahan masalah serta didukung oleh

pengetahuan yang menyertainya, akan

menghasilkan pengetahuan yang benar-benar

bermakna.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :

1. Hasil belajar Biometri pada mahasiswa,

setelah penerapan model Problem Based

Learning (PBL) mengalami peningkatan yang

signifikan dengan katagori baik sekali

sebanyak 38 orang (80,85%) dengan interval

nilai 81 sampai 100.

2. Aktivitas mahasiswa dalam poses belajar

mengajar dengan menerapkan model Problem

Based Learning (PBL) pada mata kuliah

Biometri dikategorikan baik, dari rata-rata

aktivitas belajar sebesar 67,69%. Sedangkan

aktivitas mahasiswa dalam melaksanakan

percobaan dengan menerapkan model

Problem Based Learning (PBL) pada mata

kuliah Biometri dikategorikan baik sekali,

dengan rata-rata sebesar 84,21 %.

3. Model Problem Based Learning (PBL) efektif

diterapkan untuk meningkatkan kemampuan

pemecahan masalah pada konsep rancangan

percobaan pada mata kuliah Biometri di

Program Studi Biologi T.A. 2007/2008. Hal

ini berdasarkan dari hasil belajar mahasiswa

dan aktivitas belajar mahasiswa .

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1991. Petunjuk Operasional

Peningkatan Mutu Pendidikan.

Departemen Pendidikan dan kebudayaan

Kantor Wilayah Propinsi Riau.

Pekanbaru.

Akinoglu, O. & Tandagon , R. O. 2006. The

Effects of Problem-Based Active

Learning in Science Education on

Students Academic Achievement, Attitude

and Concept Learning. Eurasia Journal

of Mathematics, Science & Technology

Education, 2007, 3(1), 71-81. Tersedia

[On line] : http: www.ejmdte.com. 8

Maret 2008.

Dahar,RW. 1989. Teori-Teori Belajar.

Erlangga.Jakarta

Ibrahim & Nur. 2002. Pengajaran Berdasarkan

Masalah. UNESA University Press.

Surabaya.

Ishaq, I. 2002. Mengajar Efektif. Pedoman

Praktis Bagi Guru dan Calon Guru.

UNRI PRESS. Pekanbaru.

Muslimin Ibrahim. 2003. Pengajaran

Berdasarkan Masalah. Depdiknas. Jakarta.

Slavin, R.E. 1994. Education Psychology :

Theories and Practice. Fourth Edition.

Massachusett : Allyn and Bacon

Publisher.

Sudjiono, A. 2007. Pengantar Statistik

Pendidikan. PT Raja Grafindo Persada.

Jakarta.

Suparno, P. 1997. Filsafat Konstruktivisme

dalam Pendidikan. Kanasius Yogyakarta.

28


Darmawati

Jurnal Pendidikan

Model pengajaran langsun

PENINGKATAN HASIL BELAJAR GENETIKA MELALUI

MODEL PENGAJARAN LANGSUNG (DIRECT INSTRUCTION) PADA MAHASISWA

BIOLOGI FKIP UNRI

MAKE-UP OF RESULT LEARN GENETICA THROUGH

DIRECT MODEL INSTRUCTION ( DIRECT INSTRUCTION) AT BIOLOGICAL STUDENT

OF FKIP UNRI

Darmawati

Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UNRI

Kampus Bina Widya km 12,5 Simpang Baru Panam Pekanbaru.

ABSTRAK. Telah dilakukan penelitian untuk meningkatkan hasil belajar genetika melalui pengajaran

langsung pada mahasiswa biologi FKIP UNRI. Sampel penelitian yaitu mahasiswa semester 4 (empat)

yang berjumlah 40 orang. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas. Instrumen penelitian berupa

perangkat pembelajaran dan alat pengumpul data ( lembar test dan lembar observasi mahasiswa). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa daya serap mahasiswa pada siklus 1 adalah 74,00 (baik), sedangkan

pada siklus 2 adalah 84,38 (baik sekali). Untuk ketuntasan belajar secara klasikal adalah tidak tuntas

(75,00%) pada siklus 1 dan siklus 2, tuntas (100,00%). Sedangkan aktivitas mahasiswa pada siklus 1

adalah 54,66% (kurang) dan siklus 2 yaitu 62,00% (cukup). Dengan demikian penerapan model

pengajaran langsung dapat meningkatkan hasil belajar genetika pada mahasiswa biologi.

Kata kunci: genetika, hasil belajar, pengajaran langsung

ABSTRACT. Have been done by research to increase result of learning genetica through direct

instruction at biological student of FKIP UNRI. Sampel Research that is semester student 4 amounting

to 40 people. Research type is research of class action. Research instrument in the form of study

peripheral and data collector sheet test and student observation sheet. Result of research of showing that

student absorpsion at cycle 1 is 74,00 ( goodness), while at cycle 2 is 84,38 ( very well). To be complete

learn by klasikal is is not complete ( 75,00%) at cycle 1 and cycle 2 is, complete ( 100,00%). While

student activity at cycle 1 is 54,66% ( less ) cycle 2 that is 62,00% ( enough). Thereby applying model

direct instruction can improve result learn genetica at biological student.

Keywords: genetica, result of learning, direct instruction

PENDAHULUAN

Genetika merupakan mata kuliah yang

disajikan pada mahasiswa program studi

biologi FKIP UNRI. Dari pengamatan

penulis sebagai dosen pengampu mata

kuliah genetika dalam proses

pembelajaran ,mahasiswa kurang aktif

dan kurang termotivasi untuk mempelajari

dan mendalami materi genetika, terbukti

dengan nilai yang diperoleh masih ada

nilai kurang (D) dan banyak yang nilai

cukup (C). Agar penguasaan materi dan

hasil belajar genetika meningkat

diperlukan perbaikan yang inovatif dalam

proses pembelajaran, yaitu dengan

menerapkan model pengajaran langsung

(Direct Instruction). Keunggulan dari

model pengajaran langsung adalah dapat

membuat pengajaran lebih jelas dan

konkrit, pengajaran lebih menarik

,mahasiswa dirangsang aktif untuk

30


Darmawati

mencoba melakukan sendiri, materi

disajikan dalam tahap-tahap sehingga

mahasiswa mudah memahami konsepkonsep

yang sedang dipelajari dan akan

dapat diingat lebih lama.(Winataputra,

2001). Model pengajaran langsung secara

sistematis menuntun dan membantu siswa

bekerja melalui langkah-langkah

pembelajaran, selanjutnya siswa akan aktif

bekerja sendiri dengan adanya latihan

terbimbing. Dengan fase-fase pada model

pengajaran langsung diharapkan dapat

memotivasi siswa sehingga materi bisa

dikuasai dengan baik, dan dapat

meningkatkan hasil belajar.( Kardi, 2000).

Permasalahannya sebagai berikut: Apakah

melalui model pengajaran langsung dapat

meningkatkan hasil belajar genetika pada

mahasiswa biologi. Penelitian ini

bertujuan untuk meningkatkan hasil

belajar genetika pada mahasiswa biologi

melalui penerapan model pengajaran

langsung pada mahasiswa biologi.

METODE PENELITIAN

Lokasi penelitian ini di laksanakan di

program studi biologi pada mahasiswa

semester 4 dengan subjek penelitian 40

orang, waktu penelitian pada bulan

Februari hingga bulan Desember 2009.

Prosedur penelitian dalam

penelitian ini terdiri atas 4 tahap, yaitu

(Suyanto,1997)

a. Tahap Persiapan

- Menetapkan jumlah siklus.

- Menetapkan kelas penelitian.

- Menetapkan materi dalam proses

pembelajaran.

- Menyiapkan perangkat pembelajaran .

- Menyiapkan alat pengumpul data.

- Merencanakan refleksi setiap akhir satu

siklus.

- Menetapkan jenis data dan cara

pengumpulan data.

- Mengelompokkan mahasiswa kedalam

kelompok belajar

b. Tahap Pelaksanaan Tindakan

Tahap pelaksanaan tindakan dalam

proses pembelajaran meliputi :

a. Pendahuluan

--Dosen mengkondisikan kelas

--Dosen memotivasi mahasiswa tentang

topik yang akan dibahas.

Jurnal Pendidikan

Model pengajaran langsun

- Menyampaikan tujuan pembelajaran

(fase 1).

b. Kegiatan inti

- Dosen menyampaikan pengetahuan

deklaratif setahap demi setahap (Fase

2)

- Dosen memberi bimbingan awal

dengan meminta mahasiswa untuk

mengulangi materi yang telah

disampaikan dosen (Fase 3)

-Dosen memberikan LTM dan meminta

mahasiswa untuk menjawab LTM,

-Dosen mengecek pemahaman

mahasiswa dengan meminta beberapa

perwakilan kelompok untuk

membacakan jawaban dari LTM yang

sudah dikerjakan (fase 4).

-Dosen meminta mahasiswa atau

kelompok lain untuk menanggapi

jawaban yang di berikan oleh temannya.

-Dosen memberikan kesempatan

melakukan pelatihan lanjutan. (fase 5)

c Penutup

-Dosen bersama mahasiswa

merangkum materi pelajaran.

- Dosen memberi post test

- Dosen melakukan tindak lanjut.

c. Tahap Observasi

Tahap observasi dilakukan bersamaan

dengan pelaksanaan tindakan observasi

,dilakukan oleh 1 orang observer untuk

mengamati aktivitas mahasiswa .

d . Tahap Refleksi

Data yang diperoleh dari hasil kuis dan

kegiatan observasi pada siklus I

selanjutnya dianalisis, hasilnya dijadikan

pedoman untuk tindakan pada siklus

berikutnya.

Data dianalisis secara diskriptif.

Komponen yang dianalisis

Daya serap=

Jumlah jawaban yang benar x 100%

Jumlah Soal

Dengan menggunakan kriteria sebagai

berikut : (Tabel I)

Menurut anonim (1995) ketuntasan

belajar dapat diketahui dengan

menggunakan rumus

Ki = SS x 100% SM

Dimana :

KI= Persentase ketuntasan belajar secara

individu

SS = Skor yang diperoleh mahasiswa

2


Darmawati

SM= Skor maksimal

Menurut Sudijono (2004) aktivitas

mahasiswa dapat dikethui dengan

menggunakan rumus berikut ini :

P = F x 100%

N

Dimana

P= Angka persentase

F= Frekuensi aktivitas

N=banyaknyaindividu

HASIL DAN PEMBAHASAN

Daya Serap

Dari tabel 2 di atas dapat dilihat nilai

post test siklus I dengan rata-rata post

test pada pertemuan I adalah 83,75

(kategori baik sekali), pertemuan 2 yaitu

85,50 (kategori baik sekali) dan

pertemuan ke3 adalah 85,88 (baik sekali)

sehingga terlihat adanya peningkatan

daya serap siswa dari pertemuam I ke

pertemuan berikutnya.

Untuk tabel 3 daya serap siswa

melalui nilai post test pada siklus II,

lebih baik dari siklus I, hal ini dapat

dilihat dari nilai rata-rata post test pada

pertemuan I adalah 83,25 (kategori baik

sekali), pertemuan ke 2 yaitu 85,16

(kategori baik sekali) dan pertemuan ke

3 adalah 87,12 (kategori baik sekali) .

Untuk nilai kuis siklus I dengan

rata-rata 74,00 (kategori baik) dan untuk

nilai kuis siklus II rata- rata 84,38

(kategori baik sekali). Terjadi

peningkatan hasil belajar dari siklus I ke

siklus II

Hal ini disebabkan karena dengan

adanya model pengajaran langsung dapat

membantu mengembangkan kemampuan

berpikir siswa, membantu siswa terampil

dalam belajar mandiri. Pengajaran

langsung dapat membuat pengajaran

lebih jelas dan lebih konkrit, sehingga

menghindari verbalisme, proses

pengajaran lebih menarik, siswa

dirangsang untuk aktif mengamati dan

mencoba untuk melakukan sendiri.

Dengan demikian konsep-konsep yang

dipelajari akan teringat lama, karena

mahasiswa tidak hanya mendengar dan

mengamati tetapi mencoba atau

melakukan sendiri setahap demi setahap

seperti yang sudah di modelkan dosen

Jurnal Pendidikan

Model pengajaran langsun

Model pengajaran langsung secara

sistematis menuntun dan membantu

siswa bekerja melalui langkah-langkah

pembelajaran, selanjutnya siswa akan

aktif bekerja sendiri dengan adanya

latihan terbimbing. Dengan fase-fase

pada model pengajaran langsung

diharapkan dapat memotivasi siswa

sehingga materi bisa dikuasai dengan

baik, dan dapat meningkatkan hasil

belajar.( Kardi, 2000)

Faktor lain yang mempengaruhi

meningkatnya daya serap mahasiswa

pada siklus II adalah pengalaman dosen

melihat kelemahan pada siklus I

sehingga hal tersebut tidak terjadi pada

siklus II, sebagaimana yang

dikemukakan oleh Sagala dalam Rosnian

(2003) hasil yang diperoleh dari hasil

program pembelajaran memberikan

petunjuk kepada dosen tentang bagianbagian

mana dari pembelajaran tersebut

yang berhasil dilaksanakan dan mana

pula yang tidak berhasil dalam upaya

mencapai tujuan yangtelahditetapkan.

Ketuntasan Belajar

Berdasarkan tabel 4 di atas dapat

dilihat bahwa ketuntasan belajar

mahasiswa pada siklus ke I secara

individual 30 orang (75 ,00%) yang

tuntas dan 10 orang yang tidak tuntas

(25,00%),jadi secara klasikal tidak

tuntas. Sedangkan pada siklus ke II

secara individual 40 orang (100,00%)

tuntas dan 0 orang (0,00 %) tidak

tuntas,jadi secara klasikal kelas tersebut

tuntas.

Ketidaktuntasan belajar

mahasiswa pada Siklus I disebabkan

karena mahasiswa masih banyak

memperoleh nilai kuis dibawah 70. Hal

ini disebabkan pada kegiatan

pembelajaran mahasiswa tersebut

kurang aktif dalam belajar, kurang

memperhatikan penjelasan dosen pada

saat mendemonstrasikan pengetahuan

sehingga tugas atau soal yang dikerjakan

tidak dapat dijawab.

Ketuntasan belajar siswa ini tidak

terlepas dari keaktifan guru dalam

memberikan motivasi pada mahasiswa

selama proses pengajaran dan juga

keaktifan dalam diri siswa itu sendiri

3


Darmawati

sehingga proses pengajaran berjalan

dengan baik (Slameto,2003)

Disamping itu setiap mahasiswa

memiliki tingkat kecerdasan yang

berbeda-beda. Berdasarkan teori

belajar menurut Piaget dalam Anonim

(2004) diasumsikan bahwa seluruh

peserta didik tumbuh dan melewati

urutan perkernbangan yang sama,

namun berlangsung pada kecepatan

yang berbeda serta perkembangan

kognitif seseorang bergantung pada

seberapa besar anak aktif

memanipulasi dan aktif berinteraksi

dengan lingkungannya.

Dengan demikian tidak semua

mahasiswa dapat menguasai materi

sepenuhnya. Hal ini disebabkan karena

setiap individu memiliki kognitif atau

tingkat IQ dan kemampuan akademis

yang berbeda pula.Pada siklus II kelas

sudah tuntas artinya semua mahasiswa

sudah memperoleh nilai 70 keatas.

Mahasiswa sudah terbiasa dengan

pengajaran langsung, mahasiswa

sudah aktif dalam proses pembelajaran

dan aktif dalam mengikuti pelatihan

yang diberikan dosen dan bersungguhsungguh

mengikuti pembelajaran ,

sehingga tugas atau soal dapat dikerjakan

dengan sempurna. Menurut Muhammad,

N (2000) menyatakan bahwa model

langsung ini lebih berhasil dan

memperoleh tingkat keterlibatan yang

tinggi dari pada mereka yang

menggunakan metode- metode informal

dan berpusat pada siswa.

Aktivitas Belajar

Dari tabel 5 diatas dapat dilihat

bahwa pada Siklus I, pertemuan I ratarata

aktivitas mahasiswa adalah 52,50%

(kurang), pertemuan II adalah 54,00%

(kurang), pertemuan III adalah 57,50%

(cukup). Rata-rata aktifitas mahasiswa

pada siklus I adalah 54,66% (kurang).

Sedangkan pada Siklus II, rata-rata

aktivitas mahasiswa pada pertemuan I

adalah 65,50% (baik), pertemuan II

adalah 58,00% (cukup) dan pertemuan

III adalah 62,50% (cukup). Rata-rata

aktifitas mahasiswa pada siklus II adalah

62,00% (cukup).

Jurnal Pendidikan

Model pengajaran langsun

Rata-rata aktivitas mahasiswa yang

mengerjakan LTM yaitu 100% (baik

sekali), untuk semua pertemuan baik

pada Siklus I maupun pada Siklus II, hal

ini disebabkan karena pertanyaanpertanyaan

dalam LTM sesuai dengan

materi yang sedang dipelajari.

Aktivitas mahasiswa bekerja sama

dalam kelompok pada setip pertemuan,

baik pada Siklus I dan Siklus II adalah

100% (baik sekali). Hal ini disebabkan

mahasiswa memiliki rasa ketergantungan

pada teman dalam kelompoknya, saling

berbagi jawaban dalam menuntaskan tugas

yang di-LTM. .Pelaksanaan pembelajaran

langsung dapat berbentuk ceramah ,

demonstrasi, pelatihan, praktek dan kerja

kelompok.(Kardi,2000)

Aktivitas mahasiswa dalam presentasi,

memperlihatkan bahwa terjadi

peningkatan dari siklus I yaitu 41,62

(kurang) ke siklus II 78,17(baik sekali).

Aktivitas menanggapi hasil presentasi

terjadi peningkatan yaitu pada Siklus I

yaitu 15,00 (kurang). Sedangkan pada

Siklus II diperoleh 16,67% (kurang). Hal

ini disebabkan karena tidak

memungkinkan lagi mahasiswa untuk

menanggapi lebih banyak lagi karena

keterbatasan waktu yang sudah ditetapkan.

Walaupun rata-rata aktivitas mahasiswa

dalam menanggapi hasil presentasi

tergolong kurang, tapi mahasiswa jauh

lebih aktif menanggapi dalam proses

pembelajaran dengan pengajaran langsung

dibandingkan dengan menggunakan

metode diskusi informasi (metode

konvensional).

Sedangkan aktivitas mahasiswa dalam

bertanya pada dosen masih tergolong

kurang terlihat pada Siklus I yaitu 16,67%

dan Siklus II adalah 14,17% (kurang). Hal

ini disebabkan karena mahasiswa sudah

mengerti tentang materi pelajaran, terbukti

dari nilai postest ataupun nilai kuisnya

yang sudah baik, sehingga mahasiswa

tidak banyak lagi yang akan

ditanyakannya.

Secara keseluruhan aktivitas

mahasiswa pada siklus 1 adalah 54,66%

(kurang) dan siklus II adalah 62,00%

(cukup). Walaupun aktifitas mahasiswa

kurang tapi mahasiswa sudah lebih aktif

dari pembelajaran sebelumnya .Pengajaran

langsung dapat membuat pengajaran lebih

4


Darmawati

jelas dan lebih konkrit, sehingga

menghindari verbalisme, proses

pengajaran lebih menarik, siswa

dirangsang untuk aktif mengamati dan

mencoba untuk melakukan sendiri

(Zainuri,2007).

Jurnal Pendidikan

Model pengajaran langsun

Antar Universitas PPAI, Dikti

Departemen Pendidikan

Nasional , Jakarta

Zainuri, (2007). Pengajaran Langsung.

http//www.geogle.com/search/

Pengajaran Langsung/2007htm.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang

telah dilakukan dengan menggunakan

model pengajaran langsung, maka dapat

diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Rata-rata daya serap mahasiswa dari

nilai kuis mengalami peningkatan

pada siklus I yaitu 74,00 (cukup) dan

Siklus II yaitu 84,38 (baik sekali)

2. Rata-rata ketuntasan belajar siswa dari

nilai kuis mengalami peningkatan

pada siklus I yaitu 75,00 % (tidak

tuntas) dan siklus II yaitu 100,00 %

(tuntas).

3. Rata-rata aktifitas belajar siswa

mengalami peningkatan pada siklus I

yaitu 54,66% (kurang) dan pada siklus

II yaitu 62,00%( cukup).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim,(1995). Petunjuk Pelaksanaan

Proses Belajar Mengajar,

Departemen pendidikan dan

Kebudayaan, Jakarta.

Kardi,S dan Muhammad, N, (2000),

Pengajaran Langsung, Surabaya

Pusat

Pengembangan

Matematika dan Sains Sekolah

Dasar Program Pasca Sarjana,

Universitas Negeri Surabaya.

Mohammad Nur.( 2000 ). Pembelajaran

langsung. Pusat Sains dan

matematika Sekolah Universitas

Negeri Surabaya .

Sudijono, (2004). Pengantar Statistik

Pendidikan, Raja Grafindo

Persada, Jakarta.

Sudjana, (2000). Penilaian Hasil Proses

Belajar Mengajar, P.T. Remaja

Rosdakarya, Bandung.

Suyanto, (1997). Penelitian Tindakan

Kelas, Dikti, Yogyakarta.

Syahza, A, (2006).Panduan Penjaminan

Mutu Perkuliahan FKIP UNRI,

Cendikia Insani, Pekanbaru.

Winataputra, U.S .(2001), Model-Model

Pembelajaran Inovatif, Pusat

5


Arnentis & Evi Suryawati

Jurnal Pendidikan

Peningkatan berfikir kritis mahasiswa

PENERAPAN PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH (PROBLEM BASED-

LEARNING) PADA PERKEMBANGAN HEWAN UNTUK PENINGKATAN PENGUASAAN

KONSEP DAN BERFIKIR KRITIS MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI FKIP UNRI

Arnentis 1) , dan Evi Suryawati 2)

1,2)

Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau Pekanbaru

e mail : ar_tis11@yahoo.co.id

ABSTRAK.Telah dilakukan penelitian perbaikan pembelajaran dalam melalui Penelitian Tindakan

Kelas. Penelitian dengan penerapan model Pembelajaran Berdasarkan Masalah.. Penelitian ini bertujuan

untuk meningkatkan penguasaan konsep yang dilihat dari hasil belajar, dan berfikir kritis mahasiswa yang

dilihat dari kemampuan pemecahan masalah pada matakuliah perkembangan hewan program studi

pendidikan biologi FKIP UNRI pada semeter genap tahun akademis 2008/2009 berjumlah 58 orang,

terdiri dari 49 orang wanita dan 9 orang pria. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kemampuan

kemampuan berfikir kritis dari penilaian lembar tugas 74.48% (baik) pada siklus I dan 77.08% (baik)

pada siklusII. Nilai berfikir kritis tertinggi pada aspek mengumpulkan data dan terendah aspek menilai

pemecahan masalah. Rata-rata kemampuan berfikir kritis dari penilaian aktivitas pelaksanaan diskusi

rata-rata 78.80 % (baik) pada siklus I dan rata-rata 82.29 (baik sekali) pada siklus II. Nilai aktivitas

tertinggi pada aspek kerjasamaa dan terendah aspek memberi argumentasi. Ketuntasan belajar mahasiswa

mengalami peningkatan dari 75 % pada siklus I dan 96.46 % pada siklus II. Dari hasil penelitian dapat

disimpulkan penerapan pembelajaran berdasarkan masalah pada mata kuliah perkembangan hewan dapat

meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan penguasaan konsep.

Kata Kunci: Pembelajaran berdasarkan masalah, berfikir kritis, penguasaan konsep

IMPLEMENTATION OF PROBLEM BASED-LEARNING IN ANIMAL DEVELOPMENT

SUBJECT TO IMPROVE CONCEPTUAL MASTERING AND CRITICAL THINKING OF THE

STUDENTS IN BIOLOGY EDUCATION FKIP UNRI

ABSTRACT. It has been held an improvement learning research through Class Action Research. The

research had been done by implemented Problem Based Learning model. The aim of this study was to

improve conceptual mastering and critical thinking of students which could be indicated by learning

result, of the students which be shown by problem solving ability in Animal Development subject at

Departement of Biology Education FKIP UNRI on even semester 2008/2009. Students as the object

could be described as 58 students consist of 49 females and 9 males. Result of this research showed

average of critical thought ability taken from students’ work sheet. The average by cycle I was 74.48%

(good) and by cycle II was 77.08% (good). The highest score of critical thought was in collecting data

aspect and the lowest one was in evaluate of problem solving. The average of critical thinking ability

from evaluation of discuss activity by cycle I was 78.80% (good) and 82.29% (very good) by cycle II.

The highest score of learning activities was in cooperating each others and the lowest one was in giving

argumentation. Students’ learning mastering got improvement from 75% by cycle I to 96.46% by cycle II.

From the result of this research can be concluded that implementation of problem based learning in

Animal Development subject was able to improve critical thought ability and conceptual mastering of the

students.

Key words: Problem Based-Learning, Conceptual Mastering , Critical Thinking

35


Arnentis & Evi Suryawati

Jurnal Pendidikan

Peningkatan berfikir kritis mahasiswa

PENDAHULUAN

FKIP UNRI merupakan salah satu LPTK yang

menghasilkan tenaga kependidikan berusaha untuk

memperbaiki mutu pembelajaran sehingga

dihasilkan tenaga guru yang berkualitas dan

mampu bersaing menghadapi perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi. Upaya yang dilakukan

antara lain dengan penyempurnaan kurikulum dan

perbaikan proses pembelajaran. Program studi

pendidikan biologi telah melakukan berbagai

kegiatan untuk peningkatan kualitas pembelajaran,

diantaranya seminar dan lokakarya penyusunan

perangkat pembelajaran, penulisan buku ajar, dan

penelitian perbaikan pembelajaran. Perbaikan

pembelajaran pada setiap mata kuliah tidak

terlepas dari pemilihan strategi pembelajaran,

metode, media dan model pembelajaran yang tepat

yang akan digunakan dalam proses belajar

mengajar.

Perkembangan Hewan merupakan mata kuliah

keahlian berkarya pada Program Studi Pendidikan

Biologi FKIP UNRI dengan jumlah 3 SKS (2 SKS

tatap muka dan 1 SKS Praktikum). Pada mata

kuliah Perkembangan Hewan dipelajari tentang

prinsip perkembangan, gametogenesis, fertilisasi,

embriogenesis, kelainan perkembangan,

metamorfosis dan regenerasi.

Pengalaman dosen pengasuh selama 20 tahun

(sejak tahun 1989) pelaksanaan proses

pembelajaran perkembangan hewan masih

menemukan berbagai kendala, antara lain hasil

belajar masiswa sebagian besar masih berada pada

nilai minimal (60), kemampuan mahasiswa untuk

menyelesaikan tugas berupa permasalahan autentik

masih rendah, serta dalam tugas kelompok disiplin

dan tanggung jawab juga masih rendah. Hasil

belajar mahasiswa pada tahun akademis 2005/2006

dengan batas kelulusan minimal 60% dan peserta

43 orang diperoleh nilai A (12,20 %), B (25 %), C

(50 %), D (8,92 %) dan E (3,54 %). Berdasarkan

hasil tersebut tim dosen mata kuliah perkembangan

hewan pada tahun akademis 2006/2007 dengan

peserta 42 orang, melakukan perbaikan proses

pembelajaran pada topik yang memiliki

penguasaan konsep paling rendah pada tahun

sebelumnya yaitu organogenesis dengan

memberikan hand out dan penyajian materi dengan

gambar yang lebih bervariasi sesuai topik yang

diajarkan. Gambar-gambar yang disajikan

dikumpulkan dari berbagai sumber (scanning dari

buku teks dan down load). Upaya ini ternyata

cukup berhasil, terlihat dari perolehan hasil belajar

pada tahun 2007/2008 sebagai berikut: nilai A

(26.9 %), B (40.0 %), C (30,9 %), D ( 2.,20 %)

dan nilai E (0 %). Dari hasil tersebut terlihat

terdapat peningkatan mahasiswa yang mendapat A

dan B serta tidak ada yang mendapat nilai E.

Agar penguasaan mahasiswa lebih baik

khususnya pada perkembangan hewan, diperlukan

upaya terus menerus oleh dosen dalam

memperbaiki proses belajar mengajar dan suasana

pembelajaran yang menyebabkan mahasiswa

termotivasi, aktif dan kreatif. Pada semester genap

tahun ajaran 2008/2009 ini berdasarkan hasil

refleksi tahun sebelumnya dan kesepakatan tim

dosen mata kuliah, perbaikan yang dipilih adalah

menerapkan model Pembelajaran Berdasarkan

Masalah (Problem Based Learning) .

Pembelajaran Berdasarkan Masalah merupakan

salah satu bentuk pembelajaran yang berlandaskan

pada konstruktivisme yang sangat mementingkan

mahasiswa dan berorientasi pada proses belajar

mahasiswa (student-centered learning).

Pembelajaran Berdasarkan Masalah berfokus pada

penyajian suatu permasalahan kepada siswa,

kemudian siswa diminta mencari pemecahannya

melalui serangkaian kegiatan investigasi

berdasarkan teori, konsep, dan prinsip yang

dipelajarinya (Pannen,dkk 2001). Menurut

Ibrahim. (2003) ciri utama Pembelajaran

berdasarkan masalah meliputi: mengorientasikan

mahasiswa kepada masalah autentik, multidisiplin,

menuntut kerja sama dalam penyelidikan, dan

menghasilkan hasil karya.

Inti dari pembelajaran berdasarkan masalah

adalah pemecahan masalah (problem solving )yang

menyebabkan mahasiswa memiliki pengalaman

belajar yang menantang, menyenangkan, dan

melatih berfikir kritis (Lasley, et.al, 2002).

Kemampuan pemecahan masalah merupakan

kemampuan dasar yang perlu dikembangkan dalam

diri mahasiswa (Susilo, 2003). Kemampuan ini

dapat dikembangkan melalui latihan karena dapat

melatih mahasiswa ke arah keterampilan berfikir

tinggi, mereka dapat menilai dengan bukti dan

menemukan alternatif penyelesaian masalah

(Browne & Keeley, 1990). Menurut Ruggiero

(1988) berfikir merupakan suatu kegiatan mental

yang membantu merumuskan dan memecahkan

masalah, membuat keputusan, atau berfikir adalah

pencarian jawaban, sebuah pencapaian makna.

Johnson (2002) menyatakan berfikir kritis

merupakan suatu proses yang terarah dan jelas

yang digunakan dalam kegiatan mental seperti

pemecahann masalah, mengambil keputusan,

menganalisis, dan melakukan investigasi ilmiah.

36


Arnentis & Evi Suryawati

Jurnal Pendidikan

Peningkatan berfikir kritis mahasiswa

Berfikir kreatif dan kritis memungkinkan

mahasiswa untuk mempelajari masalah secara

sistematis, mampu menghadapi tantangan,

mengajukan pertanyaan inovatif, dan merancang

penyelesaian masalah yang ditemukan dalam

kehidupan sehari-hari

Pemilihan model pembelajaran berdasarkan

masalah ini dirasa cocok karena sesuai dengan

karakteristik materi pembelajaran dan mahasiswa.

Dengan penerapan model pembelajaran

berdasarkan masalah yang berbasis kompetensi ini

kualitas pembelajaran dan peningkatan hasil

belajar mahasiswa dapat dicapai. Penelitian ini

bertujuan untuk meningkatkan penguasaan konsep

yang dilihat dari hasil belajar, dan berfikir kritis

mahasiswa yang dilihat dari kemampuan

pemecahan masalah pada matakuliah

perkembangan hewan program studi pendidikan

biologi FKIP UNRI.

METODE PENELITIAN

Penelitian perbaikan pembelajaran ini

merupakan Perbaikan dan Peningkatan Kualitas

Pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas

dilaksanakan bersama antara tim dosen mata

kuliah perkembangan hewan pada program studi

pendidikan biologi FKIP UNRI dengan jumlah

mahasiswa yang mengikuti perkuliahan semeter

genap tahun akademis 2008/2009 berjumlah 58

orang, terdiri dari 49 orang wanita dan 9 orang

pria.

Parameter dan instrumen pada penelitian

ini terdiri dari:

1. Kemahiran berfikir kritis dalam

pemecahan masalah dengan lembar

penilaian Lembar Tugas dan aktivitas

selama perkuliahan menggunakan lembar

observasi.

2. Penguasaan konsep mahasiswa yang

terdiri dari daya serap pada setiap

kompetensi dasar menggunakan tes

tertulis bentuk soal essay, dan soal

objektif pada Ujian Akhir Semester

(UAS).

Prosedur penelitian terdiri dari 4 tahapan

utama Penelitian Tindakan Kelas (Kemmis &

Taggart, 1992) yaitu Perencanaan, Tindakan,

Observasi, Analisis dan Refleksi :

Tahap Perencanaan

1. Menetapkan kelas penelitian yaitu mahasiswa

reguler yang mengambil mata kuliah

perkembangan hewan pada semester genap

tahun 2008/2009 Program Studi Pendidikan

Biologi FKIP UNRI.

2. Menetapkan jadwal dan jumlah siklus yaitu dua

siklus. Menetapkan materi dan media dalam

proses pembelajaran yaitu : siklus 1

organogenesis, dan kelainan perkembangan,

siklus 2 regenerasi dan metamorfosis dengan

penerapan model pembelajaran berdasarkan

masalah.

3. Merekonstruksi SAP sesuai dengan model

pembelajaran yang digunakan.

4. Menyiapkan pedoman lembar tugas mahasiswa,

dan lembar observasi Keterampilan berfikir

pemecahan masalah pada lembar tugas dinilai

dengan 6 aspek iaitu

1) Mengidentifikasi masalah

2) Mengumpulkan data

3) Menganalisis data

4) Memilih alternatif pemecahan masalah

5) Menemukan prinsip yang tepat

6) Menilai pemecahan masalah

Keterampilan berfikir mahasiswa dalam

pemecahan masalah pada diskusi

kelas dinilai dengan 4 aspek yaitu:

1) Kerjasama

2) Disiplin

3) Presentasi/mengajukan pertanyaan

4) Memberi argumentasi

5. Menyiapkan test berupa essay test untuk

mengukur daya serap pada setiap pertemuan

dan objektif test untuk mengukur ketuntasan

belajar pada ujian akhir semester.

6. Membagi mahasiswa kedalam kelompok yang

berjumlah 4-6 orang.

Tahap Pelaksanaan Tindakan

Tahap pelaksanaan tindakan dalam proses

pembelajaran meliputi :

Pelaksanaan proses belajar mengajar melalui

model pembelajaran berdasarkan

masalah.

I. Pendahuluan

Memberikan prasyarat sebelum proses

pembelajaran dimulai

Mengorientasikan

(F1)

mahasiswa pada masalah

Menyampaikan tujuan pembelajaran

37


Arnentis & Evi Suryawati

Jurnal Pendidikan

Peningkatan berfikir kritis mahasiswa

II. Kegiatan inti

Mengorganisasikan mahasiswa untuk belajar

(F2)

Memfasilitasi kegiatan penyelesaian tugas

dengan scaffolding (F3)

Membimbing dan memfasilitasi mahasiswa

menyajikan hasil pemecahan masalah (F4)

III. Penutup

Mengevaluasi proses pemecahan masalah,

pemberian post test (F5)

Tindak lanjut

Tahap Observasi

Observasi dilaksanakan bersamaan dengan

pelaksanaan tindakan untuk mengamati aktivitas

mahasiswa dalam pembelajaran.

Tahap Analisis dan Refleksi

Perolehan data pada setiap pertemuan pada

siklus I dianalisis bersama oleh semua anggota tim

peneliti, hasilnya dijadikan acuan untuk melakukan

perbaikan tindakan pada siklus II.

Analisis data secara deskriptif untuk

kemampuan berfikir kritis dan penguasaan

konsep.Kemampuan berfikir kritis dinilai dengan

dua aspek yaitu kemampuan menyelelesaikan

tugas dari penilaian Lembar Tugas dan aktivitas

selama diskusi. Penguasaan konsep dinilai dari

daya serap dan ketuntasan belajar.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian perbaikan pembelajaran ini

dilaksanakan pada mata kuliah perkembangan

hewan program studi pendidikan biologi FKIP

Universitas Riau Pekanbaru. Pada semester genap

2008/2009 mata kuliah Perkembangan Hewan

diikuti 58 orang peserta. Pelaksanaan penelitian

disesuaikan dengan jadual perkuliahan yang

ditetapkan fakultas untuk semester Genap

2008/2009 yaitu pada hari Selasa jam 8.00 – 9.40

dan Rabu jam 8.00 – 11.00 di Laboratorium

Pendidikan Biologi dengan kapasitas ruangan

maksimal 40 orang. Kondisi ruangan kurang

memadai.

Kondisi ruang perkuliahan serta sarana dan

prasarana yang kurang memadai ini menimbulkan

beberapa hambatan dan menjadi keterbatasan

dalam pelaksanaan penelitian ini, antara lain:

1 Kapasitas ruangan maksimal 40, dalam

penelitian ini jumlah mahasiswa peserta

matakuliah sebanyak 58 orang. Kondisi

ruangan yang tidak memadai ini menyebabkan

suasana perkuliahan kurang kondusif.

2 Media pembelajaran berupa LCD yang tidak

dapat digunakan setiap pertemuan yang

disebabkan karena (1) overlap penggunaannya

dengan kelas lain (digunakan untuk seminar

proposal dan hasil penelitian), (2) Terputusnya

aliran listrik karena pemadaman bergilir oleh

PLN. Untuk mengatasi hal ini peneliti telah

menyiapkan hand out untuk setiap pertemuan

yang telah diprint ditambah dengan

penambahan informasi pada setiap pertemuan

yang berupa wacana dan gambar-gambar yang

didownload oleh mahasiswa dan dosen.

Dalam melaksanakan pemecahan masalah,

mahasiswa secara mandiri aktif untuk

menyelesaikan tugas dan kemudian secara

kelompok untuk menyelesaikan pemecahan

masalah yang akan dipresentasikan pada proses

pembelajaran. Dalam proses pembelajaran di kelas

mahasiswa secara berkelompok mempresentasikan

dan memberi argumen dari hasil kerja kelompok.

Sementara kelompok yang lain aktif mengajukan

pertanyaan dan memberi tanggapan. Selama

pelaksanaan diskusi, mahasiswa difasilitasi oleh

dosen dan asisten yang ditunjuk oleh dosen.

Selama pelaksanaan proses pembelajaran di kelas,

secara umum mahasiswa terlihat aktif dan serius

melaksanakan diskusi. Berikut hasil penelitian

yang di dapatkan.

38


Arnentis & Evi Suryawati

Jurnal Pendidikan

Peningkatan berfikir kritis mahasiswa

Tabel 1. Persentase Kemampuan Berfikir Kritis Mahasiswa melalui Penilaian Lembar Tugas

pada Siklus I Melalui Pembelajaran Berdasarkan Masalah

Nilai Lembar Tugas Pertemuan

No Aspek Penilaian

I II III IV Rerata %

% % % %

1. Mengidentifikasi masalah 71.43 75.00 75.00 78.57 75.00 Baik

Kategori

2. Mengumpulkan data 85.71 82.14 87.50 89.29 86.16 Baik

Sekali

3. Menganalisis data 67.86 66.07 69.64 69.64 68.30 Cukup

4. Memilih alternatif 71.43 71.43 73.21 75.00 72.77 Baik

pemecahan masalah

5. Menemukan prinsip yang 75.00 76.78 78.57 83.92 78.57 Baik

tepat

6. Menilai pemecahan masalah 62.50 66.07 62.50 71.43 65.63 Cukup

Rerata 72.32 72.92 74.40 78.27 74.48 Baik

Kategori Baik Baik Baik Baik Baik

Tabel 2.

Persentase Kemampuan Berfikir Kritis Mahasiswa melalui Penilaian Lembar Tugas

pada Siklus II Melalui Pembelajaran Berdasarkan Masalah

N

o.

Aspek Penilaian

Nilai Lembar Tugas

I II III

% % %

Rerata %

Kategori

1. Mengidentifikasi masalah 76.79 78.57 80.36 78.57 Baik

2. Mengumpulkan data 85.71 92.86 87.50 88.69 Baik Sekali

3. Menganalisis data 69.64 75.00 75.00 73.21 Baik

4. Memilih alternatif pemecahan 73.21 75.00 76.79 75.00 Baik

masalah

5. Menemukan prinsip yang tepat 76.78 78.57 83.92 79.75 Baik

6. Menilai pemecahan masalah 62.50 66.07 73.21 67.26 Cukup

Rerata 74.11 77.68 79.46 77.08 Baik

Kategori Baik Baik Baik Baik

Tabel 3. Persentase Aktifitas Mahasiswa dalam Proses Belajar Mengajar pada Siklus I Melalui

Pembelajaran Berdasarkan Masalah

No

Aktifitas Mahasiswa Yang

Diamati

Aktifitas mahasiswa Yang Diamati Tiap Pertemuan

I II III IV

% % % %

Rerata

(%)

Kategori

1. Kerjasama 89.29 96.42 94.64 100 95.09 Baik

Sekali

2. Disiplin 91.07 96.43 94.64 96.43 94.64 Baik

Sekali

3. Presentasi/mengajukan 67.85 69.64 67.85 73.21 69.64 Cukup

pertanyaan

4. Memberi argumentasi 50 53.67 57.14 62.5 55.82 Kurang

Rerata 53.57 54.01 56.25 60.71 78.80 Baik

Kategori Kurang Kurang Kurang Cukup Baik

39


Arnentis & Evi Suryawati

Jurnal Pendidikan

Peningkatan berfikir kritis mahasiswa

Tabel 4. Persentase Aktifitas Mahasiswa dalam Proses Belajar Mengajar pada Siklus II Melalui

Pembelajaran Berdasarkan Masalah

Aktifitas pada pertemuan ke

Rerata

No. Aktifitas Mahasiswa

I II III

Kategori

%

% % %

1. Kerjasama 94.64 96.42 100 97.02 Baik Sekali

2. Disiplin 96.43 94.64 96.43 95.83 Baik sekali

3. Presentasi/mengajukan 69.64 71.42 73.21 71.42 Baik

pertanyaan

4. Memberi argumentasi 62.50 66.07 66.07 64.88 Cukup

Rerata 80.80 82.13 83.93 82.29

Kategori Baik Sekali Baik Sekali Baik sekali Baik

Sekali

Secara keseluruhan kemampuan berfikir kritis

mahasiswa dari penilaian LTM pada dalam mata

kuliah perkembangan hewan tergolong baik.

Kemampuan berfikir yang tertinggi pada aspek

mengumpulkan data, dan terendah pada aspek

menilai pemecahan masalah. Hal ini menunjukkan

mahasiswa telah mampu dalam mengumpulkan

data, dalam hal ini mengumpulkan informasi

berkaitan dengan tugas yang diberikan dari

berbagai sumber. Sebagian besar mahasiswa

mengumpulkan informasi melalui internet dan

mendownload artikel dan gambar-gambar entang

organogenesis dan tentang kelainan perkembangan

pada manusia.

Setelah mereka mampu mengumpulkan data

dan informasi, sebagian besar masih mengalami

kesulitan untuk menganalisis dan mengevaluasi

informasi yang diperoleh. Hal ini terlihat dari tugas

yang dikerjakan, dalam memaparkan penyelesaian

kasus dan menjawab permasalahan, argumen yang

dituliskan masih sekedar menyalin kembali dan

meringkas dari informasi yang didapat. Juga ada

ditemukan yang keliru dalam menginterpretasikan

tugas yang diberikan dan menyalin dari teman

yang kebetulan mendapat topik yang sama.

Berdasarkan hal ini dapat direfleksikan bahwa

kemungkinan mahasiswa belum seluruhnya

mampu menyerap informasi yang mereka peroleh.

Untuk itu peran dosen dalam membimbing dan

memberikan tugas-tugas yang bervariasi dan

menantang sangat diperlukan. Aktivitas

pemecahan masalah yang baik menurut Bransford

et al. (1999) mengenalkan mereka pada konsepkonsep

kunci yang disyaratkan dalam kurikulum.

Martin et al. (2002) menyatakan peserta didik

dapat meningkatkan kemampuan berfikir dengan

pemahaman ilmiah untuk menyelesaikan berbagai

permasalahan, dan secara berkelanjutan dapat

boleh menyerap dan mengolah informasi yang

diperoleh.

Dari hasil observasi saat perkuliahan

menunjukkan aktivitas dalam berdiskusi baik

sekali untuk aspek bekerjasama dan disiplin. Hal

ini terlihat hampir semua kelompok dapat

menyelesaikan tugas berupa makalah sesuai

dengan tema yang diberikan. Aspek disiplin juga

memperlihatkan hasil yang baik, mereka dapat

mengumpulkan dan mempresentasikan tugas tepat

waktu. Menurut Slavin (1991) untuk melaksanakan

pemecahan masalah, peserta didik dilatih bekerja

sebagai saintis. Untuk itu peserta didik harus

memiliki sikap saintik diantaranya teliti, cermat,

jujur , disiplin, bertanggungjawab, dan mampu

bekerja sama. Kerjasama sangat diperlukan pada

kegiatan berkelompok.

Penguasaan konsep mahasiswa dari penilaian

kuis dan ujian akhir semester berada pada kategori

baik dengan mahasiswa yang mencapai ketuntasan

sebanyak 94.83%. Hasil ini menunjukkan rata-rata

mahasiswa memiliki penguasaan konsep yang

cukup baik dan telah mampu mengerjakan soalsoal

yang mengukur aspek kognitif yang lebih

tinggi. Soal pada kuis diberikan dalam bentuk

essay yang lebih memungkinkan untuk mengukur

aspek kognitif yang lebih tinggi seperti analisis,

sintesis dan evaluasi. Sedangkan soal pada ujian

akhir semester dibuat dengan bentuk yang dapat

mengukur seluruh aspek kognitif dalam bentuk

soal objekktif dan terstruktur. Distribusi soal ujian

akhir semester dibuat mencakup seluruh aspek

kognitif seimbang antara soal aspek kognitif

rendah (ingatan dan pemahaman), konitif sedang

(aplikasi) dan aspek kognitif tinggi (analisis,

sintesis, dan evaluasi).

40


Arnentis & Evi Suryawati

Jurnal Pendidikan

Peningkatan berfikir kritis mahasiswa

Tabel 5. Daya Serap dan Penguasaan Konsep

mahasiswa melalui Pembelajaran Berdasarkan

Masalah.

Siklus

UAS

1 2

No. Interval Kategori

Jumlah Jumlah Jumlah

(%) (%) (%)

1. 80-100 Sangat 5 (8.93) 51(89,47) 22(37,93)

Baik

2. 70-79 Baik 21(37,50) 2(3,51) 25(43,10)

3. 60-69 Cukup 16(28,57) 2(3,51) 8(13,79)

4. 50-59 Kurang 9(16,07) 2(3,51) 3(5,17)

5. ≤ 49 Sangat 5(8,93) - -

Kurang

Jumlah 56 57 58

Tabel 6. Distribusi Nilai Akhir Mata Kuliah

Perkembangan Hewan Semester Genap

Tahun 2008/2009

No Rentang Nilai Kriteria Jumlah

(%)

1

2

3

4

5

100

>75-

65-75

55-69

45-59

≤ 45

A (Lulus)

B (Lulus)

C (Lulus)

D (Lulus)

E (Tidak Lulus)

3 (5,17)

30 (51,73)

24 (41,38)

1 (1,72)

-

Total 58 (100)

Pembelajaran berdasarkan masalah selain dapat

meningkatkan kemampuan berfikir kritis, juga

dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar.

Hasil penelitian ini sesuai Kronberg dan Griffin

(2000) yang menyatakan pembelajaran

berdasarkan masalah dapat meningkatkan

kemampuan menjawab pertanyaan terbuka, dan

pada akhirnya mampu meningkatkan kemampuan

berfikir kritis berupa peningkatan dari pemahaman,

ke aplikasi, analisis, dan sintesis. Selanjutnya

Liliasari (2001) menyatakan bahwa model

pembelajaran yang mampu meningkatkan

keterampilan berfikir konseptual dikategorikan atas

dua kelompok yaitu teoritis dan praktis. Pada

penlitian ini kegiatan pembelajaran dilaksanakan

dengan menggunakan berbagai metode terutama

penugasan, diskusi dengan memnfaatkan berbagai

sumber pembelajaran dengan menggunakan model

pembelajaran berdasarkan masalah.

KESIMPULAN

Penerapan Pembelajaran berdasarkan masalah

pada mata kuliah perkembangan hewan dapat

meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan

penguasaan konsep. Perbaikan kualitas

pembelajaran dengan Penelitian Tindakan Kelas

melalui penerapan model pembelajaran

berdasarkan masalah, telah memberi kontribusi

pada peningkatan keterampilan berfikir dan

penguasaan konsep pada mahasiswa. Bagi dosen

penerapan berbagai strategi pembelajaran dapat

dijadikan sarana untuk pengembangan kompetensi

profesional. Disarankan kepada tenaga pengajar

untuk selalu mencobakan strategi pembelajaran

inovatif yang berorientasi Student Centered

Learning untuk memfasilitasi mahasiswa memiliki

keterampilan berfikir kritis dan kreatif. dengan

memanfaatkan berbagai-bagai media dan sumber

belajar .

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih disampaikan kepada

Universitas Riau melalui Lembaga Penelitian atas

bantuan dana pada penelitian perbaikan

pembelajaran di LPTK .

DAFTAR PUSTAKA

Bransford, J. D., Brown, A.L., & Cocking ,R.R.

(1999). How People Learn: Brain, Mind,

Experience, and School. Washington DC :

National Academy Press, p10

Browne, M. N. & Keeley, S. M. (1990). Asking the

Right Question: A Guide to critical

thinking. Third ed. New Jersey : Prentice

Hall.

Ibrahim, M.(2003). Pengajaran Berdasarkan

Masalah. Jakarta:Direktorat Pendidikan

Lanjutan Pertama Dirjen Dikdasmen

Departemen Pendidikan Nasional.

Johnson, E. B. ()2002. Contextual Teaching and

Learning:What it is and why it’s here to

stay. California: Corwin Press,Inc.

Kamisah Osman & Subhan Mohd Meerah. (2004).

Critical thinking: A critical analysis and how

it could be embedded within the Malaysian

secondary science curriculum. The Korean

Journal of Thinking & Problem Solving, 14

(4), 57-72.

Kemmis,S., Mc.Taggart,R., (1992). The Action

Research Planner. Victoria: Deaken

University.

Korberg,J.K. & Griffin, M.S.,(2000). Analysis

Problem- A Means to Developing Student

Critical- Thinking Skills: Pushing the

Boundaries of Higher-Oder Thinking.

Journal College Science Teacher. 24 (5):

348-352

Lasley, T.J., Matcynski,T.J.,and Rowley,J.B.

(2002). Instructional Models: Strategies for

41


Arnentis & Evi Suryawati

Jurnal Pendidikan

Peningkatan berfikir kritis mahasiswa

Teaching in diverse society. Singapore,

Wadsworth Thomson Learning.

Lambros, Ann, (2004) Problem-Based`Learning in

Middle and High school classrooms: A

teacher’s Guide to Implementation.

California: Corwin Press.

Liliasari. (2001). Model Pembelajaran IPA untuk

meningkatkan keterampilan berfikir tinggi

calon guru sebagai kecenderungan baru pada

era globalisasi. Jurnal Pengajaran MIPA,

2(1). 54-56.

Martin, R., Sexton, C., & Gerlovich, J. (2002).

Teaching Science for All Children:

Methods for constructing understanding.

Boston: Allyn and Bacon.

Pannen,P., Dina, M., dan Mestika,S. (2001)

Kostruktivisme dalam Pembelajaran .

Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan

Tinggi Depdiknas.

Ruggiero,V. (1988). Teaching Thinking Across the

Curriculum. New York : Harper & Row.

Slavin, R. E. (1991). Educational Psychology:

Theory into Practice. Englewoods Cliff,

New Jersey: Prentice Hall.

Susilo, H. (2003). Kapita Selekta Pembelajaran

Biologi. Jakarta: Pusat Penerbitan

Universitas Terbuka.

42


Jismulatif

Jurnal Pendidikan

Teknik chain card game

PENINGKATAN HASIL BELAJAR WRITING MELALUI TEKNIK CHAIN CARD GAME PADA

MAHASISWA BAHASA INGGRIS FKIP UNRI

Jismulatif

Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni

Fakultas Keguruan Ilmu dan Pendidikan –Universitas Riau

Kampus Bina Widya Simpang Baru-Pekanbaru

e-mail.faizjis@yahoo.co.id

ABSTRAK. Rendahnya kemampuan siswa pada mata kuliah writing jurusan pendidikan bahasa dan seni

mengispirasikan penulis mengadakan penelitian ini. Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk

melihat keefektifan Chain Card Game dalam meningkatkan kemampuan siswa membuat kalimat

sederhana. Sebagai sample penelitian ini adalah mahasiswa yang mengambil mata kuliah writing

berjumlah 27 orang. Hasil observasi pada siklus I berkisar (42,95%) dan skor hasil test siswa berkisar

(62,30). Hasil ini belum memenuhi kriteria yang ditetapkan untuk ketuntasan siswa yaitu 70. Sehingga

diadakan tindakan ke dua (II) dengan melanjutkan pengajaran dengan menggunakan permainan kartu

berantai. Disamping itu mahasiswa juga diberi kesempatan latihan membuat kalimat di dalam dan di luar

kelas. Setelah diadalan tindakan pada siklus ke II berdasarkan observasi dan tes yang dilakukan ternyata

kemampuan siswa meningkat menjadi (77, 22%) dan skor hasil test menjadi 72. Hasil penelitian ini

memperlihatkan bahwa hasil yang telah dicapai siswa melebihi kriteria yang ditentukan. Dengan

demikian permainan kartu berantai (Chain Card Game) telah dapat meningkatkan prestsi siswa dalam

membuat kalimat yang terdapat pada mata kuliah writing.

Kata kunci : kemampuan rendah, permain kartu berantai, menulis

INCREASING THE STUDENT’S ABILITY IN WRITING SUBJECT THROUGH CHAIN CARD

GAME AT ENGLISH DEPARTMENT FKIP UNRI

ABSTRACT. The student’s low ability in writing subject inspired writers to conduct this research. The

aim of this classroom action research is to see the effectiveness of Chain Card Game to increase student’s

ability in making simple sentences. The sample respondents were 27 students engaged in writing subject.

Before the treatment was conducted, the sample was given pre-test and after the treatment, post-test was

also held. The result of observation (42, 95%) and mean score of test of cycle I (62, 30) cannot full fill the

minimum criteria applied, 70. The action is continued at cycle II by continuing to apply Chain Card Game

activities at cycle I and give more motivation and support to be more active in doing Chain Card Game

activities. Beside that, special guidance for those who need is also provided outside class. In fact, there is

a high increase of observation and test result at cycle II compare to the increase in cycle I. The student’s

ability in doing Chain Card Game activities becomes 77, 22 % and the mean score of the test is 72, 00.

The result this research shows that the criteria applied has been achieved and this means that Chain Card

Games strategy is very active to increase student’s ability in comprehending content subject Writing.

Key words : Low ability, Chain Card Games, Writing

PENDAHULUAN

Secara umum dalam belajar bahasa Inggris

mahasiswa harus menguasai empat keterampilan

berbahasa, yaitu: keterampilan mendengar

(listening), berbicara (speaking), membaca

(reading) dan menulis (writing). Dari ke empat

keterampilan tersebut menulis (writing) masih

dianggap siswa sebagai hal yang sulit untuk

dilakukan. Oleh sebab itu penelitian ini hanya

difokuskan pada masalah yang timbul dalam mata

kuliah writing, khususnya dalam membuat kalimat

bahasa Inggris. Yang dimaksud kemampuan

membuat kalimat bahasa Inggris adalah

kemampuan siswa dalam menuangkan ide atau

gagasan dalam bentuk kalimat. Dalam membuat

kalimat perlu memperhatikan dua hal, yaitu

subtansi dari hasil tulisan itu (ide yang

diekspresikan) dan aturan struktur bahasa yang

benar (gramatical form and syntactic pattern).

Membuat kalimat termasuk ke dalam kegiatan

keterampilan menulis, karena itu membuat kalimat

44


Jismulatif

Jurnal Pendidikan

Teknik chain card game

juga berarti mengungkapkan ide pada orang lain

melalui simbol-simbol bahasa (Harris, 1988).

Mata kuliah writing merupakan mata kuliah

wajib yang mulai diberikan pada mahasiswa

bahasa Inggris semester pertama. Secara umum

tujuan mata kuliah writing ini adalah untuk

memberikan pengetahuan tentang dasar-dasar

membuat kalimat sederhana.

Salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut

adalah mengoptimalkan tugas dosen dalam

kegiatan belajar mengajar. Lingkungan yang

kondusif, perencanaan pembelajaran yang tepat

dan strategi pembelajaran yang menarik

merupakan hal yang sangat mendukung terhadap

keberhasilan proses belajar mengajar. Strategi

pembelajaran sangat berperan penting dalam

proses pembelajaran yang nantiknya akan

menentukan hasil belajar siswa.

Umumnya mata kuliah writing yang

disampaikan di prodi bahasa Inggris, dari sisi

teknik pengajaranya kurang inovatif dan bervariasi,

sehingga daya serap mahasiswa rendah.

Penyampaian materi kuliah lebih bersifat monoton,

mahasiswa kurang diberi motivasi dan

kepercayaan diri. Dalam metode penyampain

materi, dosen sering bersifat pasif, sehingga hal ini

berdampak pada rendahnya kemampuan siswa

untuk menulis dalam bahasa Inggris.

Hal ini terlihat dari nilai yang diperoleh

mahasiswa pada semester genap 2008, diantara 28

orang mahasiswa yang mengikuti mata kuliah

writing, hanya 2 orang ( 7,1 %) yang memperoleh

nilai A, 10 orang (35,7 %) yang memperoleh nilai

B, dan 16 orang (57,1%) yang memperoleh nilai C.

Banyak strategi pembelajaran writing yang

telah ditawarkan dalam upaya memperbaiki

kemampuan siswa menulis dalam bahasa Inggris.

Menggunakan Game merupakan salah satu strategi

yang belakangan dipandang sangat bermanfaat dan

berdaya guna dalam pembelajaran writing karena

Game dapat membangkitkan semangat dan

memotivasi siswa dalam belajar bahasa Inggris.

Rendahnya kemampuan siswa dalam membuat

kalimat dalam bahasa inggris ini tentunya

dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain: 1) Cara

mengajar yang monoton, yang disebabkan

kurangnya alat bantu pada hakekatnya akan

menimbulkan kejenuhan pada peserta didik. Tentu

saja hal ini akan menimbulkan suasana yang

kurang kondusif dalam proses pembelajaran. 2)

Kurangnya variasi dalam mengajar serta

kurangnya latihan-latihan yang diberikan yang

meyebabkan rendahnya penyerapan oleh

mahasiswa terhadap materi yang disajikan, dan

kurangnya latihan penyelesaian soal baik mandiri

maupun kelompok.

Untuk mengatasi masalah kurangnya

kemampuan siswa dalam membuat kalimat

sederhana dalam mata kuliah writing, penulis

menggunakan strategi Chain Card Game atau

Permainan Kartu Berantai. Dalam penerapan

teknik Chain Card Game terlebih dahulu

mahasiswa dibekali dengan materi pelajaran

writing kemudian masing-masing siswa dibagi

dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri

4-5 mahasiswa. Kemudian dilakukan latihan

membuat kalimat dengan menggunakan kartu

Chain Card Game. Kalimat yang dibuat siswa

diharapkan sesuai dengan pola dan struktur yang

benar. Di harapkan dengan menggunakan kartu ini

mahasiswa termotivasi membuat kalimat – kalimat

dalam bahasa Inggris sehingga kemampuan siswa

dalam mata kuliah writing lebih meningkat dan

menyenangkan.

METODE PENELITIAN

1. Teknik Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan

kelas yang dilakukan dalam 2 siklus. Siklus

pertama dilakukan dalam 5 kali pertemuan, dengan

pokok bahasan writing basic sentences didalam

bentuk simple present tense, past tense, present

continous dan future tense. Potongan kata-kata

pada kartu terdiri dari topik bahasan Sport, family,

animal, daily activities, education dan health.

Siklus kedua dilakukan dalam 5 kali pertemuan,

dengan topik bahasan clothes, food, film, tourism,

movie, music, art, job, dan flora and founa.

Sehingga seluruh pertemuan berjumlah 10 kali

tatap muka.

Penelitian ini dikembangkan dengan prosedur

spiral penelitian tindakan kelas yang meliputi

phase-phase : perencanaaan, melakukan tindakan,

pengamatan, dan refleksi. Secara lebih rinci

penelitian tindakan ini dapat dijabarkan sebagai

berikut :

(a) Perencanaan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaaan

ini adalah sebagai berikut : menyiapkan skenario

pembelajaran sesuai dengan prosedur pelaksanaan

penelitian, menyiapkan rencana pembelajaran,

materi pembelajaran, menyiapkan instrument

untuk pretest dan post-test, dan menyiapkan

lembaran observasi dan dan kartu Chain Card

Game.

(b) Pelaksanaaan Tindakan

44


Jismulatif

Jurnal Pendidikan

Teknik chain card game

Rencana yang telah disusun dicobakan sesuai

dengan langkah yang telah dibuat yaitu proses

peningkatan prestasi dan gairah belajar mahasiswa

dalam mata kuliah writing. Kegiatan yang

dilaksanakan dalam tahap ini adalah melakukan

pre-test, melaksanakan skenario pembelajaran

dengan menggunakan strategi Chain Card Game,

yang telah direncanakan, dan diakhir tindakan

diberikan post-test.

(c) Observasi.

Pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap

pelaksanaaan tindakan untuk mengamati

pelaksanaan pembelajaran dengan strategi Chain

Card Game. Observasi ini dilakukan untuk melihat

pelaksanaan apakah semua rencana yang telah

dibuat dengan baik tidak ada penyimpangan –

penyimpangan yang dapat memberikan hasil yang

kurang maksimal dalam peningkatan prestasi dan

gairah belajar mahasiswa pada mata kuliah writing.

(d) Refleksi

Pada tahap refleksi dilakukan pembahasan hasil

kegiatan dari tindakan siklus I, dan II. Kemudian

dianalisis untuk mengetahui tentang kondisi

pembelajaran dengan menggunakan teknik Chain

Card Game, dan juga refleksinya terhadap

mahasiswa. Hasil analisa tersebut dibandingkan

dengan kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu

≥ 70 %. Ini berarti, penelitian tindakan kelas ini

dianggap sudah berhasil apabila paling kurang

70% dari mahasiswa sudah mencapai nilai ≥ 70

(nilai B). Kalau hasil analisa belum mencapai

kriteria keberhasilan yang ditetapkan, maka

selanjutnya akan dianalisa strategi penggunaan

Chain Card Game dalam pembelajaran writing.

Analisa pada tahap ini akan dipergunakan untuk

melaksanakan siklus selanjutnya.

2. Lokasi Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di

prodi bahasa Inggris FKIP Universitas Riau pada

kelas mata kuliah writing semester ganjil tahun

ajaran 2008/ 2009 oleh dua orang dosen bahasa

Inggris.

3. Populasi dan Sample

Populasi penelitian ini adalah mahasiswa prodi

bahasa Inggris yang mengambil mata kuliah

writing, yang jumlahnya 27 orang. Semua populasi

digunakan sebagai sampel.

3. Variabel yang diselidiki

Variabel yang diselidiki untuk menjawab

permasalahan penelitian ini adalah

a. Kemampuan mahasiswa menggunakan Chain

Card Game (CCG) dalam membuat

kalimat .

b. Kemampuan siswa menggunakan Chain Card

Game dalam membuat kalimat

sederhana dengan pola S + V + O

c. Kemampuan siswa membuat kalimat dengan

Chain Card Game dengan pola S + V +

O dengan strukturnya yang benar.

3. Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini dikumpulkan

menggunakan lembar pengamatan dan tes hasil

belajar writing. Pengamatan dilakukan terhadap

aktivitas yang dilakukan dosen dan mahasiswa

selama proses pembelajaran. Teknik pengumpulan

data menggunakan intsrument sebagai berikut :

a. Lembaran Observasi, untuk mengumpulkan data

tentang situasi pembelajaran siswa.

b. Lembaran test, untuk mengumpulkan data

tentang kemampuan mahasiswa dalam membuat

kalimat sederhana tentang materi yang disajikan.

4. Kriteria Keberhasilan

Kriteria keberhasilan dalam penelitian ini dilihat

dari hasil observasi, jika telah mencapai rata-rata

kualitas cukup atau mampu lebih besar dari 70%,

dan hasil test yang juga mencapai kompetensi

minimal 70 %. Kompetensi minimal yang

dimaksud adalah nilai rata-rata yang diperoleh

mahasiswa dimana kalau nilai rata-rata mereka

sudah mencapai 70 maka nilai tersebut dianggap

sudah memenuhi kriteria keberhasilan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Pre-test

Pre-test dilaksanakan pada pertemuan

pertama. Pretes ini dilaksanakan untuk

mengetahui kemampuan mahasiswa sebelum

strategi chain card game diterapkan. Dari hasil

pre-test diperoleh skor rata-rata mahasiswa

adalah 58,53. Ini berarti tingkat penguasaan

mahasiswa pada pre test mencapai 58,53 %.

2. Hasil Penelitian Siklus 1

Hasil Observasi dan Evaluasi siklus 1.

Dari hasil observasi yang dilakukan pada

siklus 1 selama proses perkuliahan pada

pertemuan 2, 3, 4, dan 5, diperoleh rata-rata

kemampuan mahasiswa mengikuti aktifitas

Chain Card Game adalah sebesar 42,95 %.

Dari post – test pada siklus I didapat rata rata

skor mahasiswa adalah 62,30%. Ini berarti

45


Jismulatif

Jurnal Pendidikan

Teknik chain card game

rata-rata tingkat penguasaan mahasiswa pada

siklus I baru mencapai 62, 30 %.

3. Hasil analisis dan Refleksi Siklus 1

Dari hasil observasi ( kemampuan membuat

kalimat sederhana, menyusun kalimat sesuai

dengan pola S + V + O dengan struktur yang

benar) dapat dianalisa bahwa siswa masih

kurang mengikuti aktifitas aktifitas strategi

Chain Card Game. Pada siklus satu rata-rata

mahasiswa mampu membuat kalimat dengan

CCG berkisar 15,20%, sedangkan mahasiswa

yang mampu membuat kalimat dengan pola S

+ V + O berkisar 12,25 %, dan mahasiswa

yang mampu membuat kalimat sesuai dengan

pola S + V + O dengan struktur yang benar

berkisar 15,50%..

Dari hasil analisa di atas, dapat dikemukakan

bahwa hasil penelitian pada siklus 1 yaitu

Penerapan strategi Chain Card Game untuk

meningkatkan kemampuan mahasiswa

membuat kalimat sederhana belum

memuaskan. Hal ini dapat dilihat dari:

1. Kemampuan mahasiswa dalam mengikuti

kegiatan-kegiatan perkuliahan dengan

menerapkan strategi Chain Card Game

belum memuaskan, baru mencapai ratarata

42,95 %.

2. Nilai rata-rata post- test pada siklus 1

adalah 62,30%. Ini berarti rata-rata tingkat

penguasaan mahasiswa baru mencapai 62,

30%,

Dari hasil analisa tersebut, pertanyaan yang

direfleksi adalah: Mengapa dengan menggunakan

strategi Chain Card Game dalam pengajaran

writing hasil belajar mahasiswa belum mencapai

nilai 70 .

Hasil refleksi berupa tindakan yang akan di

implementasikan pada siklus II adalah sebagai

berikut :

1. Tetap mempertahankan cara kerja tindakan

pada siklus I.

2. Memberi bimbingan kepada mahasiswa yang

terlihat kurang percaya diri terhadap kalimat

yang dibuatnya.

3. Memotivasi mahasiswa untuk lebih rajin dalam

mengikuti permainan CCG atau berlatih

menggunakan CCG dalam membuat kalimat.

4. Membuka kesempatan bagi mahasiswa yang

mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan

pembelajaran Chain Card Game.

4. Hasil Penelitian Siklus II

Hasil Observasi dan Evaluasi Siklus II

Pada siklus II, observasi dilaksanakan selama

pertemuan 6, 7, 8 dan 9 Variabel yang diobservasi

pada siklus II sama dengan variable yang

diobservasi pada siklus I. Dari hasil observasi

diperoleh rata-rata kemampuan mahasiswa

mengikuti kegiatan dalam penerapan strategi

Chain Card Game adalah 77,22%. Dan hasil Post

Test pada siklus 2, diperoleh rata-rata kemampuan

mahasiswa sebesar 72,00

Hasil analisis siklus II

Dengan mengaplikasikan hasil refleksi siklus 1,

hasil observasi pada siklus 2 menunjukan bahwa

siswa telah mampu mengikuti kegiatan-kegiatan

perkuliahan dengan strategi Chain Card Game.

Pada siklus 1, mahasiswa yang mampu mengikuti

perkuliahan dengan penerapan strategi Chain Card

Game hanya 42,95% adapun pada siklus II

meningkat menjadi 77,22%.

Dari hasil observasi siklus II, ditemukan bahwa

mahasiswa yang mampu membuat kalimat

menggunakan CCG berjumlah 20%, sedangkan

mahasiswa yang mampu membuat kalimat dengan

pola S + V + O berjumlah 22,22 %, dan

mahasiswa yang mampu membuat kalimat sesuai

dengan pola S + V + O dengan struktur yang

benar mencapai 35,00%..

Hasil Post-test siklus 2 menunjukan bahwa rerata

skor mahasiswa adalah 72,00 (rerata skor

mahasiswa pada siklus 1 adalah 62,30). Jika

dihubungkan dengan kriteria keberhasilan, jelaslah

bahwa hasil observasi dan hasil Post-test pada

siklus 2 sudah memenuhi kriteria tersebut. Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan

startegi Chain Card Game dapat meningkatkan

kemampuan mahasiswa dalam membuat kalimat

sederhana dalam bahasa Inggris.

5. Pembahasan

Hasil Penelitian tindakan kelas dengan

menerapkan teknik Chain Card Game dalam

pembelajaran writing yang terdiri 2 siklus ternyata

dapat menjawab tujuan penelitian yang dikemukan

sebelumnya. Dengan kata lain, kemampuan

mahasiswa membuat kalimat sederhana telah

miningkat secara signifikan setelah strategi Chain

Card Game diterapkan dalam perkuliahan. Hal ini

dapat dibuktikan dengan hasil observasi dan hasil

post-test pada siklus 2. Untuk lebih jelasnya

berikut disajikan hasil observasi pada siklus 1 dan

2 dan hasil post test siklus 1 & 2.

46


Jismulatif

Jurnal Pendidikan

Teknik chain card game

Tabel 4.1 Rekaman data hasil observasi siklus 1

dan 2

No Variabel yang diamati

1 Kemampuan siswa

membuat kalimat

dengan menggunakan

Chain Card Game

2 Kemampuan siswa

membuat kalimat

dengan Chain Card

Game sesuai dgn pola S

+ V + O

3. Kemampuan siswa

membuat kalimat

dengan Chain Card

Game sesuai dengan

pola S+V+O dengan

struktur yang benar

Siklus

I

Siklus

II

15.20% 20%

12,25% 22,22%

15.50% 35,00%

Dari tabel diatas dapat dilihat peningkatan skor

mahasiswa dari siklus 1 dan siklus 2, yang rata-rata

sudah memenuhi kriteria yang ditetapkan. Ini

menunjukan bahwa strategi Chain Card Game

sangat tepat digunakan untuk meningkatkan

kemampuan siswa dalam membuat kalimat

sederhana dalam bahasa Inggris.

Tabel 4. 2. Rata-rata Skor pre- Tes, Post- Test 1

(siklus 1), Post-test 2 (Siklus 2)

Pre-test Post –test 1 Post –test 2

∑ 1547 ∑ 1682 ∑ 1944

Rata-rata :

57,30

Jumlah siswa

27

Rata-rata 62,30 Rata-rata :

72,00

Jumlah siswa 27

Jumlah siswa

27

Hasil Observasi (%)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Penerapan strategi Chain Card Game dalam

mata kuliah writing tidak hanya meningkatkan

skor pembelajaran tetapi juga dapat

meningkatkan semangat belajar siswa. Hal ini

terlihat dari hasil test akhir siswa, kalau siswa

semangat belajar dan menyenangkan akan

berakibat baik terhadap prestasi belajar mereka.

2. Penerapan Chain Card Game pada siklus I

belum sepenuhnya dapat meningkatkan

kemampuan mahasiswa sesuai dengan kriteria

yang ditetapkan. Kemampuan mahasiswa

mengikuti kegiatan perkuliahan sesuai dengan

variable yang diobservasi baru mencapai 42,95

% dan rata-rata hasil post –test adalah 62,30

yang berarti penguaasaan mahasiswa baru 62,30

%

3. Penerapan Srategi Chain Card Game pada

siklus 2 sudah dapat meningkatkan kemampuan

siswa sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.

Kemampuan mahasiswa mengikuti kegiatan

sesuai dengan variable yang diobservasi sudah

mencapai 77,22%, dan rata – rata hasil post test

pada siklus 2 adalah 72,00. hasil penelitian ini

sudah melebihi kriteria yang ditetapkan yaitu

70 %. Dengan demikian, tujuan penelitian

tindakan ini sudah tercapai dimana penerapan

strategi Chain Card Game dapat meningkatkan

kemampuan siswa dalam membuat kalimat

sederhana dalam bahasa Inggris.

Saran

Dengan hasil penemuan ini dimana penerapan

strategi Chain Card Game dapat meningkatkan

kemampuan siswa dalam mata kuliah Writing,

terutama dalam membuat kalimat, kemudian

kegairahan siswa dalam belajar juga sangat

meningkat. Dari hasil temuan tersebut dapat

disarankan bahwa strategi Chain Card Game atau

permainan kartu berantai dapat diaplikasikan

dalam pengajaran Writing.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, suharjono & Supardi. (2006).

Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:Sinar

Grafika Offset.

Bello, T. (1997). Writing topics for adult ESL

students. Paper presented at the 31th

Annual Teachers of English to Speakers of

Other Languages Convention,

Orlanco, FL.

Carrier, M. 1982. Game and activities for the

language learner. London: Harrap.

Deporter, B., Reardon, M. & Singer-Nourie, S.

2001. Quantum teaching.

Bandung: Kaiffa.

Ersoz, A. (2000, June). Six games for EFL/ESL

classroom. The Internet TESL Journal,

6(6), retrieved February 11, 2005 from

http://iteslj.org/Lessons/Ersoz-Games.html

47


Jismulatif

Jurnal Pendidikan

Teknik chain card game

Harfield, J. 1984. Elementary Communication

Games Thomas Nelson and Son Ltd.

Harris, D.R 1988. Testing English as a second.

New york: McGraw-Hill Book Company.

Hatch, Evelyn and Anne Lazaraton. 1991. The

Research Manual. Design and

Statistics for Applied Linguistics. Boston,

Massachussette: Heine & Heine

Publishers

Krashen, S.D. (1985). The input hypothesis: Issues

and implications. New York: Longman.

Lee, S. K. (1995) Creative games for the language

class. Forum, 33(1), 35. Retrieved

February 11, 2006 from

http://exchanges.state.gov/forum/vols/vol3

3/no1/P35.htm

Peyton, J.L. (1993). Dialogue journals: Interactive

writing to develop language and

literacy. ERIC Digest. Washington,

DC:National Clearinghouse for ESL Literacy

Education (EDRA No.ED 354 789).

Smith, C., and T.W. Bean. (1980) The guided

writing procedure: Integrating content

reading and writing improvement. Reading

World 19: 290-298.

Tangpermpoon,Thanatkun. 2008. Integrated

Approaches to Improve Students Writing

Skills for English Major Students. ABAC

Journal Vol.28, No 2 (May-August

2008, p.1

Ur, Penny. 1996. A Course in Language Teaching.

Practice and Theory. Cambridge:

Cambridge University Press.

Wright, A., Betteridge, D., & Buckby, M. (2005).

Games for language learning (3 rd ed.). New York:

Cambridge University Press.

48


A. Hidir &J. Harun Jurnal Pendidikan

Model pembinaan dan pembelajaran

anak usia sekolah 7 – 15 tahun

MODEL PEMBINAAN DAN PEMBELAJARAN ANAK USIA SEKOLAH 7-15 TAHUN PADA

MASYARAKAT MINORITAS DALAM MENUNTASKAN PROGRAM WAJIB BELAJAR

PENDIDIKAN DASAR 9 TAHUN

DI PROPINSI RIAU

Achmad Hidir dan Jahrizal Harun

Pusat Penelitian Kependudukan/Program Sosiologi FISIP/FE Universitas Riau

Jalan HR. Subrantas KM 12,5 Simpang Panam Pekanbaru Indonesia 28293

e-mail: hidir09@yahoo.com

ABSTRAK.Masyarakat yang belum tersentuh oleh layanan pendidikan dalam rentangan usia sekolah (7 –

15 tahun) jumlahnya cukup banyak. Masyarakat ini umumnya banyak bermukim di daerah-daerah

pedesaan yang jauh dari layanan pendidikan yang memadai. Untuk kasus ini; terutama adalah mereka dari

kelompok-kelompok minoritas yang lazimnya disebut sebagai komunitas adat terpencil atau oleh

sebagian lain dengan menyebutnya sebagai masyarakat adat. Kajian ini mencoba menemukan bagaimana

alternatif model pembinaan dan pembelajaran Anak Usia Sekolah pada masyarakat minoritas, khususnya

suku Talang Mamak, Suku Akit dan Suku Laut.

Kata Kunci: Pendidikan Dasar, Suku Asli

TRAINING AND EDUCATION MODEL ON 7-15 TH CHILDREN FROM MINORITY ETNIC

FOR OBLIGATION OF 9 YEAR’S EDUCATION IN RIAU PROVINCE

ABSTRACT. There are Some youth in a society ( 7-15 year age) that they have not connected to

education yet. This society mostly are located in rural area and far from education facilites. For this

case:The society is the original tribe as minority and others which called a remote cultural societies The

purpose of study is to find out an alternative model on training and educating those youth school

minority societies, especesially Talang Mamak tribe, Akit Tribe, and Sea Tribe

Key words: Basic education, Original Tribe

PENDAHULUAN

Pemerintah Indonesia telah terpicu untuk

mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan.

Itulah sebabnya target dari program Kabinet

Indonesia Bersatu, salah satunya adalah

pemberantasan jumlah penduduk buta aksara.

Program ini diarahkan untuk; kesetaraan,

keaksaraan, pendidikan anak usia dini dan

kecakapan hidup yang memerlukan keseriusan

semua pihak, baik aparat pada tingkat pusat

maupun daerah. Program kesetaraan pendidikan ini

menyangkut; akses anak-anak usia sekolah untuk

mendapatkan pelayanan pendidikan. Sasaran

program ini antara lain; anak jalanan, anak

nelayan, anak petani miskin juga termasuk dalam

hal ini adalah anak-anak dari suku – suku terpencil

(Komunitas Adat Terpencil). Untuk kasus Riau,

sebagaimana terjadi di daerah lain. Rendahnya

mutu pendidikan Riau, terletak pada masalah

rendahnya kualitas guru dan kekurangan sarana

dan prasarana pendidikan yang memadai (Riau

Pos, 11 Juli 2005). Selain masalah sebagaimana

disebutkan tadi, juga rendahnya sumber daya

manusia untuk sebagian masyarakat Riau tidak

terlepas dari rendahnya tingkat pendidikan

masyarakatnya, terutama pada usia sekolah.

Rendahnya kualitas SDM tersebut disebabkan oleh

banyak hal, misalnya ketidakmampuan anak usia

sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang

yang lebih tinggi, sebagai akibat dari kemiskinan

yang melilit kehidupan keluarganya, atau oleh

sebab lain yang disebabkan oleh angka putus

sekolah yang juga jumlahnya cukup tinggi.

Selain faktor sosial ekonomi sebagaimana

dijelaskan di atas, faktor sosiobudaya dan juga

faktor layanan pendidikan disinyalir turut

memperparah rendahnya pemerataan pendidikan di

daerah Riau, sehingga banyak dari mereka tidak

berkesempatan mengeyam pendidikan yang baik

dan layak sebagai akibat belenggu sosiobudaya

mereka serta minimnya layanan pendidikan yang

diberikan.

50


A. Hidir &J. Harun Jurnal Pendidikan

Model pembinaan dan pembelajaran

anak usia sekolah 7 – 15 tahun

Di daerah Riau, diindikasikan bahwa

masyarakat yang belum tersentuh oleh layanan

pendidikan dalam rentangan usia sekolah (7 – 15

tahun) jumlahnya cukup banyak. Masyarakat ini

umumnya banyak bermukim di daerah-daerah

pedesaan yang jauh dari layanan pendidikan yang

memadai. Untuk kasus ini; terutama adalah mereka

dari kelompok-kelompok minoritas 1 yang lazimnya

disebut sebagai komunitas adat terpencil atau oleh

sebagian lain dengan menyebutnya sebagai

masyarakat adat.

Maka persoalannya sekarang adalah; model

pendidikan dan pembelajaran yang bagaimanakah

yang paling tepat untuk dilakukan pada mereka

yang sesuai dengan karakteristik mereka . Esensi

dari jawaban pertanyaan itulah, maka sisi penting

penelitian ini jadi penting untuk dilakukan. Yaitu

untuk mencari model pendidikan dan model

pembelajaran pada anak usia sekolah 7 – 15 tahun

pada masyarakat adat sebagai bagian untuk

menunjang program wajib belajar 9 tahun.

Luaran dari hasil penelitian, diharapkan akan

berguna untuk menunjang:

1. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam

penyelenggaraan pendidikan dan menuntaskan

program wajib belajar pendidikan dasar 9

tahun.

2. Meningkatnya kualitas dan kuantitas peserta

didik dari masyarakat adat dalam dunia

pendidikan.

3. Terbentuknya model dan pola pembelajaran

yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik

masyarakat yang hendak dibina.

4. Menuntaskan masalah kemiskinan dan

kebodohan terhadap masyarakat yang

diindikasikan masih banyak terdapat pada

masyarakat marjinal di daerah Riau.

METODE PENELITIAN

Tipe penelitian akan digunakan pendekatan

perpaduan antara kuantitatif dan kualitatif (mixing

method of analysis). Pendekatan kuantitatif bersifat

statistik deskriptif sedangkan pendekatan kualitatif

memfokuskan pada analisis pemahaman

(verstehen), untuk memahami masyarakat adat di

daerah Riau dalam kaitannya dengan lingkup

masalah – masalah kependidikan di daerahnya.

Upaya yang dilakukan adalah berusaha memahami

esensi perilaku mereka dalam partisipasi, keluhan,

kesulitan dan aksesnya terhadap dunia pendidikan,

dengan demikian data yang dihasilkan berupa

data deskriptif yang berasal dari subyek yang

diteliti (perspektif emic), dengan tujuan untuk

menemukan dan memetakan sistem perilaku

berdasarkan ukuran dan persepsi mereka sendiri,

yang kemudian akan dilakukan interpretasi oleh

peneliti (perspektif etic) untuk dituangkan dalam

hasil laporan penelitian.

Lokasi penelitian diarahkan pada daerah-daerah

komunitas adat terpencil di daerah Riau, yaitu

Kabupaten Indragiri Hulu, Indragiri Hilir dan

Bengkalis. Dari 3 lokasi itu lokasi penelitian

ditentukan secara purposive pada daerah-daerah

sentra permukiman mereka (suku Talang Mamak,

suku Sakai dan suku Laut) pada setiap

Kabupatennya. Subyek penelitian adalah

masyarakat adat terdiri dari suku Talang Mamak,

Sakai dan suku Laut (cultural bearing unit) yang

berstatus sebagai komunitas adat terpencil. Pusat

perhatian (unit of analysis) dalam penelitian ini

bukan pada individu mereka, tetapi pada apa yang

mereka pahami dan persepsikan dalam hal

pendidikan usia sekolah anak-anaknya. Pemilihan

subyek digunakan teknik accidental, yaitu

mewawancarai mereka secara insidentil

berdasarkan ukuran dan kriteria subyek yang

diamati (dalam hal ini adalah komunitas adat

terpencil di 3 lokasi penelitian). Prinsip

penggunaan accindental sampling sangat cocok

digunakan dalam populasi yang kecil dan bersifat

spesifik.

Selain itu, karena sebaran populasi tersebar

secara tidak merata dan mengelompok pada sentrasentra

permukiman tertentu, maka subyek

penelitian (sampel) dari orang tua diambil secara

proporsional sebesar 15 %. Sedangkan untuk

Tokoh masyarakat (Toma) dan guru diambil

besaran sampelnya diambil berdasarkan subyektif

tim peneliti dengan tetap mempertimbangkan azas

kepatutan dan keterwakilannya secara purposive.

Dari jumlah itu kemudian dilacak secara insidental

di lapangan sesuai kondisi dan karakteristik lokasi

dan amatan subyek penelitian.

Analisis data akan digunakan pendekatan

mixing method. Penggunaan analisis ini mengikuti

saran dari Julia Brennan (1999) yang mengatakan

untuk memudahkan hasil analisis kajian, sebaiknya

memadukan antara pendekatan kuantitatif dengan

kualitatif agar saling melengkapi.

1 Masyarakat Minoritas dimaksudkan disini adalah kelompok

masyarakat adat atau komunitas adat terpencil yang banyak

bermukim di desa-desa di wilayah Propinsi Riau.

51


A. Hidir &J. Harun Jurnal Pendidikan

Model pembinaan dan pembelajaran

anak usia sekolah 7 – 15 tahun

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Hasil Penelitian

secara umum masyarakat Riau dalam usia 13-

15 tahun masih banyak yang belum tertampung di

SMP. Secara umum masalah utama dalam bidang

pendidikan pada masyarakat terpencil di Riau

berdasarkan kajian dapat disebutkan :

1. Anak-anak tersebut tinggal didaerah (terutama

daerah terpencil) yang layanan pendidikannya

tidak dapat menjangkau semua anak atau sama

sekali tidak ada layanan pendidikan. Dengan

kata lain sekolah yang tersedia belum dapat

menampung semua anak.

2. Kemiskinan dan akses terhadap dunia

pendidikan yang cenderung rendah.

3. Budaya masyarakat yang menganggap bahwa

pendidikan tidak begitu perlu.

Rendahnya animo masyarakat terhadap

pendidikan dasar di Riau dapat disebutkan

karena kombinasi dari masalah ekonomi,

minimnya fasilitas sosial yang ada dan budaya

mereka yang kurang kondusif terhadap

pendidikan.

1. Masalah ekonomi adalah masalah klasik dari

masalah bangsa kita. Kemiskinan telah

menyebabkan mata rantai yang menggelinding

dan terus semakin membesar karena persoalan

ini tidak pernah tuntas diselesaikan dengan

baik. Maka pada gilirannya telah menyebabkan

multidimensi dalam berbagai lini kehidupan

masyarakat. Sebagaimana dijelaskan bahwa

masyarakat komunitas adat terpencil mereka

sangat tergantung pada kemurahan alam dalam

bermata pencaharian. Mereka umumnya

sebagai petani/peladang dan nelayan yang

penuh ketidak pastian pendapatan, maka ratarata

pendapatan mereka jadi minimal. Kalaupun

mereka berhasil dalam panenan tetapi

pemasaran hasil panen nyaris tidak ada,

sehingga berhasil/tidak nya suatu panenan

adalah sama saja bagi mereka. Kondisi ini

ditemui di desa Titi Akar (Rupat Utara) dan

Talang Mamak Indragiri Hulu.

2. Untuk kasus desa Sungai Laut; anak sekolah

masih dipungut untuk uang bangku atau uang

sabun, sehingga inipun menyebabkan animo

masyarakat jadi kecil untuk bersekolah.

Menurut pihak sekolah pungutan ini dilakukan

karena memang bangku tidak ada dan memang

kurang.

3. Bagi mereka yang berkeinginan untuk tetap

bersekolah; karena kemiskinannnya itu

menyebabkan mereka meminjam pada sesama

suku mereka untuk kebutuhan sekolah; pada hal

mereka adalah sesama kaum miskin. Sehingga

sirkulasi kemiskinan terjadi diantara mereka,

sementara roda penggerak untuk keluar dari

kemiskinan nyaris tidak ada, stimulus ekonomi

berupa kredit kecil nyaris tidak menyentuh oleh

mereka.

4. Fasilitas sosial, khusus di bidang pendidikan di

desa-desa penelitian sangat minim. Baik secara

kuantitas maupun kualitas. Banyak lokal dibagi

2 karena minimnya ruang belajar. Jarak antar

dan lokasi sekolah sebagian besar dianggap

jauh oleh penduduk. Bahkan menurut salah

seorang kepala sekolah di Talang Gedabu, jarak

itu bisa mencapai 7-12 Km yang tidak mungkin

ditempuh oleh anak usia 8-10 tahun dengan

berjalan kaki.

5. Untuk kasus Rupat Utara, banyak pulau-pulau

kecil disekitar pulau Rupat yang tidak tersedia

SD. Selain tidak ada SD di daerah Rupat Utara

juga banyak kekurangan guru, sehingga banyak

guru merangkap baik di SD maupun di SLTP.

Konsekuensinya konsentrasi guru menjadi

terbagi dan tidak concern dalam mengajar.

6. Minimnya fasilitas sosial ini; maka banyak

anak – anak sekolah di kawasan Rupat Utara

harus menyebrang dengan sampan ke desa Titi

Akar dengan mendayung sendiri. Karena di

sekitar pulau-pulau itu memang tidak tersedia

SD sama sekali. Sehingga pilihan satu-satunya

harus menyebrang ke Titi Akar. Hal ini telah

menyulitkan bagi orang tua dan anak-anak usia

di bawah 10 tahun untuk menyebrang dengan

sampan sendiri.

7. Angka kemiskinan berkorelasi dengan

kemampuan melanjutkan studi. Karena

kemiskinannya, banyak dari mereka putus

sekolah di kelas 3 dan 4 SD. Mereka hanya

memiliki target bisa baca-tulis saja sudah

cukup. Anak putus sekolah kelas 3-4 SD ini

sekitar 9 – 11 tahun untuk usia anak desa.

Dengan rentang usia ini banyak dari mereka

melibatkan dan dilibatkan untuk tenaga

produksi keluarga dengan bekerja sebagai

peladang maupun mencari kerang di pinggir

pantai.

8. Angka putus sekolah juga disebabkan fasilitas

sosial untuk jenjang pendidikan setingkat SLTP

dan SLTA tidak cukup tersedia di daerah

penelitian. SMP dan SMA banyak tersedia di

kecamatan, ini cukup menyulitkan bagi

masyarakat Talang mamak, Akit dan suku Laut,

52


A. Hidir &J. Harun Jurnal Pendidikan

Model pembinaan dan pembelajaran

anak usia sekolah 7 – 15 tahun

karena harus menyekolahkan anak-anak mereka

ke luar desa.

9. Minimnya fasilitas sosial selain sarana

pendidikan, juga transportasi dan penerangan.

Jalan-jalan di desa penelitian hampir seluruhnya

harus ditempuh dengan jalan kaki dan dengan

kondisi yang jelek. Apalagi untuk menuju

Rupat Utara dan Sungai Laut harus

menggunakan jasa speedboat. Untuk sarana

penerangan hanya hidup waktu malam hari saja

dan dilakukan secara bergilir 2 hari sekali.

10. Faktor budaya menurut tim peneliti sebenarnya

tidak begitu menjadi kendala utama; sepanjang

ada stimulus yang positif dalam dunia

pendidikan. Memang dalam budaya mereka;

anak adalah faktor produksi serta ada

sinyalemen bahwa; sekolah dan tidak sekolah

adalah sama saja karena mereka akan menjadi

peladang/nelayan juga akhirnya. Tetapi pameo

ini dapat diubah; karena sebenarnya mereka itu

tidaklah bodoh dan merekapun sudah mengerti

akan arti pentingnya pendidikan. Tetapi karena

tidak adanya stimulus ekonomi dan fasilitas

sosial yang ada ditambah minimnya reference

group ( kelompok teladan) dari orang-orang

yang berhasil dikalangan mereka sendiri

menjadikan mereka apatis terhadap dunia

pendidikan secara umum.

11. Stigmatisasi dari kalangan umum yang

menyebutkan mereka adalah kalangan

terbelakang; miskin; barbar dan lain sebagainya

memberikan efek psikologis bagi rasa percaya

diri mereka. Ini menyebabkan mereka minder

untuk bergaul, bersosialisasi dengan dunia lain

yang seolah-olah “ bukan “ miliknya. Maka

sekat ini harus dihilangkan dengan jalan

membuka akses dalam bidang pendidikan dan

komunikasi (transportasi) serta kesempatan

untuk mereka berkiprah pada sektor-sektor lain

yang berpeluang untuk mereka masuki; yang

pada gilirannya secara tidak langsung

memberikan wadah untuk tampilnya referencereference

group baru dari kalangan mereka.

Upaya yang telah dilakukan oleh masyarakat

untuk mendukung penuntasan Wajar Dikdas 9

tahun, seperti Gerakan Nasional Orang Tua

Asuh (GNOTA) yang selama ini telah

dirasakan manfaatnya, terutama oleh para

peserta didik. Kendatipun demikian, ternyata

tidak semudah itu untuk melibatkan masyarakat

untuk bersekolah. Dari fakta dan temuan

memberikan beberapa informasi penting, antara

lain ;

1. Untuk kasus suku Akit (Rupat Utara):

Perbandingan anak usia sekolah dengan mereka

yang tidak sekolah masih tergolong tinggi

dengan rasio sebesar 1: 2,19. Artinya masih ada

anak yang tidak sekolah sebesar 2,19 orang

diantara 1 anak yang sudah sekolah. Tetapi bila

seluruh anak usia sekolah tersebut bersekolah,

maka akan ada kelebihan siswa yang tidak

tertampung untuk sekolah di desa Titi Akar,

terutama untuk SLTP yang jumlahnya hanya 1

(di Tanjung Medang).

Rasio untuk kebutuhan dan kecukupan guru

dengan anak usia sekolah cukup besar dimana

diperoleh hasil 1: 31, 35 (dengan catatan

seluruh anak usia sekolah tersebut bersekolah).

Tetapi dari hasil yang ada perbandingan guru

dengan anak sekolah hanya sebesar 1: 14,25. Ini

artinya bahwa rasio guru dengan siswa cukup

kecil yang menandakan anak yang bersekolah

masih minim. Dengan rata-rata siswa

persekolah (SD) hanya sebesar 55,25 siswa

untuk seluruh kelas dari kelas 1 sampai kelas 6.

Rasio Guru dengan sekolah masih sangat

minim dengan perbandingan 1: 3,87. Ini

menandakan bahwa setiap sekolah hanya

tersedia sebanyak 3,87 (4) orang guru saja

(dalam hal ini termasuk guru honor). Bila

dihitung guru PNSnya saja maka dipastikan

akan jauh lebih besar lagi angka rasionya.

2. Untuk Kasus Talang Mamak (Inhu).

Kondisi di Indragiri Hulu lebih buruk daripada

di Rupat Utara. Di mana rasio anak usia sekolah

dengan anak yang bersekolah jumlahnya cukup

besar yaitu: 1: 5,17. Ini artinya masih ada

sekitar 5 orang anak yang tidak sekolah diantara

1 anak yang bersekolah.

Rasio kecukupan guru dengan anak usia

sekolah sebesar 1:61, sedangkan dengan anak

sekolah sebesar 1: 11,95. Ini juga menandakan

bahwa banyak anak usia sekolah yang tidak

sekolah. Indikasi ini dilihat dari perbandingan

guru - anak usia sekolah dibandingkan dengan

rasio guru – anak sekolah. Karena rasio gurusiswa

sebenarnya kecil, di mana guru rata-rata

hanya memiliki siswa sebesar 11, 95 (12) orang

saja per kelas. Sementara itu rata-rata siswa per

SD hanya sebesar 10,2 siswa. Tetapi

sebaliknya; bila seluruh anak usia sekolah

tersebut bersekolah, maka akan terjadi

kekurangan guru yang sangat besar di daerah

Talang Mamak sebesar 1: 61 siswa.

53


A. Hidir &J. Harun Jurnal Pendidikan

Model pembinaan dan pembelajaran

anak usia sekolah 7 – 15 tahun

Rasio kecukupan guru per sekolah sebesar

1:4,2. Jumlah ini mengindikasikan bahwa setiap

sekolah masih terjadi kekurangan guru, di mana

setiap sekolah hanya tersedia guru sebanyak 4

orang (termasuk guru honor).

Untuk SLTP di daerah Rakit Kulim belum

tersedia, karena kecamatan ini merupakan

pengembangan dari Kecamatan Kelayang.

Maka bila anak-anak Talang Mamak akan

melanjutkan ke SLTP harus keluar

desa/kecamatan.

3. Kasus Suku Laut (Inhil).

Perbandingan anak usia sekolah dengan mereka

yang tidak sekolah masih di daerah suku Laut

juga masih tergolong tinggi dengan rasio

sebesar 1: 3,31 lebih tinggi dibandingkan

dengan di suku Akit (Rupat Utara) tetapi lebih

rendah dibandingkan dengan suku Talang

Mamak di Indragiri Hulu. Ini juga artinya

masih ada anak yang tidak sekolah sebesar 3,31

orang diantara 1 anak yang sudah sekolah di

kalangan mereka. Untuk kasus sekolah SLTP di

desa kajian tidak tersedia.

Kemudian untuk rasio kebutuhan dan

kecukupan guru dengan anak usia sekolah di desa

Sungai L:aut cukup besar dimana diperoleh hasil 1:

34 (inipun tetap dengan catatan bila seluruh anak

usia sekolah tersebut bersekolah). Tetapi dari hasil

yang ada perbandingan guru dengan anak sekolah

di desa Sungai Laut hanya sebesar 1: 10,28. Inipun

artinya bahwa rasio guru dengan siswa cukup kecil

yang menandakan bahwa anak yang bersekolah

masih minim, di mana rata-rata guru hanya

mengajar 10 orang saja. Dengan rata-rata siswa

persekolah (SD) hanya sebesar 36 siswa untuk

seluruh kelas dari kelas 1 sampai kelas 6.

Untuk rasio Guru dengan sekolah masih sangat

minim dengan perbandingan 1: 3,5 hampir mirip

dengan kasus di Titi Akar. Inipun menandakan

bahwa setiap sekolah hanya tersedia sebanyak 3,4

(4) orang guru saja (dalam hal ini termasuk guru

honor). Bila dihitung guru PNSnya saja maka

dipastikan akan jauh lebih besar lagi angka

rasionya.

Dari temuan itu menjelaskan bahwa kondisi

belajar- mengajar di desa-desa kajian masih sangat

minim sekali. Pada hal menurut idealnya rasio guru

: siswa di Indonesia minimal 1: 25 atau 1 : 30

orang, dan setiap guru harus memiliki keahlian

menurut bidang studinya masing-masing, sehingga

tidak ada lagi guru merangkap berbagai bidang

studi (Sudirman, 2001).

Dari informasi di atas, guru masih merupakan

barang langka untuk beberapa daerah di Riau. Pada

hal seharusnya guru benar-benar menjadi "agen

perubahan" dan menjadi sosok profesional yang

senantiasa bersikap responsif dan kritis terhadap

berbagai perkembangan dan dinamika peradaban

yang terus berlangsung di sekitarnya. Tetapi di sisi

lain; guru di daerah tersebut masih langka,

kalaupun ada masih sebatas guru honor.

Kehidupan guru memang masih serba minim,

menurut mereka (para guru) mengatakan; guru di

daerah berbeda dengan guru diperkotaan; mereka

hanya berbekalkan pengabdian semata dan

senantiasa dihadapkan pada situasi pilihan yang

serba sulit. Mereka bekerja dengan fasilitas

seadanya sehingga mereka menjadi skeptis

terhadap dunia profesi yang ditekuninya. Bukti ini

dapat dilihat dari:

1. Guru honor di Rupat Utara menerima gaji 3

bulan sekali dengan honor yang minimal dan itu

harus diambil di Tanjung Medang.

2. Honor seringkali mengalami keterlambatan,

akibatnya mereka mengajar malas-malasan

yang pada gilirannya mereka banyak putar

haluan dan menyebrang menjadi TKI ke

Malaysia.

3. Minimnya tenaga guru, telah menyebabkan

terjadinya pengalih fungsian siswa. Di mana

siswa yang dianggap pandai sering disuruh

membantu guru untuk memberikan bekal

pengajaran di kelas.

Dari fenomena ini tampak begitu buramnya

pendidikan di Indonesia. Pada hal seharusnya

dunia pendidikan harus berfungsi bagaikan

"magnet" yang mampu mengundang daya pikat

anak-anak bangsa untuk berinteraksi, berdialog,

dan bercurah pikir dalam suasana lingkungan

pembelajaran yang menarik dan menyenangkan.

Dengan cara demikian, tidak akan terjadi proses

deschooling society di mana sekolah mulai dijauhi

oleh masyarakat akibat ketidakberdayaan

pengelola sekolah dalam menciptakan institusi

pembelajaran yang "murah-meriah" di tengah

merebaknya gaya hidup hedonistik, konsumtif,

materialistik, dan kapitalistik.

Tetapi nyatanya tidaklah demikian, masyarakat

yang rata-rata berpendidikan rendah tidak perduli

dengan dunia pendidikan, animo masyarakat untuk

menyekolahkan anak-anak mereka rendah. Daya

beli dan rasa ingin merubah nasib di kalangan

masyarakat juga cenderung rendah. Daya tarik

sekolah sebagai magnet perubahan tidak ada di

mata masyarakat. Guru dengan profesinya tidak

54


A. Hidir &J. Harun Jurnal Pendidikan

Model pembinaan dan pembelajaran

anak usia sekolah 7 – 15 tahun

menjadi daya tarik bagi mereka. Guru juga tidak

lebih dengan mereka yang sama-sama bergelut

dengan kemiskinan.

Model Alternatif Pendidikan Dasar.

Minimnya infrastruktur pendidikan di daerah

Riau (baik di Indragiri Hulu, Bengkalis dan

Indragiri Hili) telah menyebabkan munculnya

beberapa masalah. Namun masalah-masalah

dimaksud sebaiknya dipecahkan sesuai dengan

kondisi dan kemampuan yang ada pada setiap

daerah. Karena setiap daerah memiliki

karakteristik yang berbeda.

Tetapi secara umum; adanya pola permukiman

yang memencar dan berkelompok-kelompok yang

dilakukan oleh suku-suku komunitas adat terpencil

telah menyebabkan kebutuhan akan sekolah

menyebar berdasarkan kelompok-kelompok kecil

yang ada, baik di Talang Mamak, Akit maupun

suku Laut.

Tetapi berdasarkan temuan dan kajian

lapangan, sebenarnya bentuk-bentuk sekolah dan

model pendidikan konvensional masih mungkin

untuk dilakukan pada mereka. Karena sebetulnya

mereka kini adalah sama dengan masyarakat lain.

Tetapi karena faktor ekonomi, suriteladan, dan

fasilitas sosial pendidikan yang minim

menyebabkan mereka seolah-olah “kurang perduli

“ terhadap pendidikan. Selain itu pola nomaden

yang disinyalir sebagian pihak masih terjadi

terhadap mereka, ternyata kini tidaklah pula

seluruhnya benar. Kaum Talang Mamak, Akit dan

Suku Laut lambat laun kini mulai menetap.

Dengan model permukiman menetap ini, maka

untuk penuntasan program wajib belajar,

sebenarnya lebih mudah untuk dilakukan.

Alternatif yang dapat dilakukan untuk penuntasan

program wajar dikdas 9 tahun, antara lain:

1. Di daerah Talang Mamak (Indragiri Hulu)

dapat dilakukan dan dikembangkan model

sekolah lokal jauh (SLJ). Penekanan sekolah

lokal jauh berbeda dengan sistem pendidikan

jarak jauh. Sistem pendidikan jarak jauh

adalah peserta didiknya terpisah dari pendidik

dan pembelajarannya; menggunakan berbagai

sumber belajar melalui teknologi komunikasi,

informasi, dan media lain. Sedangkan sekolah

lokal jauh adalah tetap menggunakan sistem

pendidikan konvensional tetapi

penyelenggaraan pendidikan berdasarkan

kekhasan lokasi daerah yang bersangkutan.

2. Beberapa catatan yang perlu diperhatikan

dalam pelaksanaan lokal jauh adalah:

Sarana dan Prasarana pendidikan harus cukup

tersedia dan dapat menampung seluruh anak usia

sekolah.Rasio kecukupan guru dan siswa harus

seimbang. Pendirian SLJ harus benar-benar

representatif dengan kondisi lapangan dan

aksesibilitas penduduk.Adanya komitmen

pemerintah dan stakeholder pendidikan untuk turut

mensukseskan kegiatan di maksud.

Untuk terlaksananya model ini harus ada Sekolah

Induk sebagai payung dan pembina sekolah lokal

jauh. Kenyataan beberapa SD yang sudah ada kini

sudah dijadikan sebagai SD induk yang berfungsi

membina SLJ-SLJ yang ada. Skema dan

sistematika model sekolah lokal jauh yang dapat

diterapkan adalah sebagai berikut:

Model ini dirasakan cocok untuk menjangkau

anak usia sekolah yang jauh jaraknya dengan

tempat sekolah induk. Pemilihan sekolah lokal

jauh merupakan bentuk dari SD filial yang

merupakan kelompok belajar (POKJAR), pada

lokasi (sentra-sentra permukiman penduduk yang

representatif) terjangkau dan layak yang dapat

menampung siswa usia sekolah.

Pola ini sebenarnya sudah dilaksanakan di

Indragiri Hulu dengan bantuan tenaga pengajar (

Guru Huni ), pada beberapa bangunan darurat yang

dibangun secara swadaya. Maka ini kiranya perlu

dikembangkan lebih lanjut pada daerah-daerah lain

yang serupa.

Pelaksanaan Sekolah lokal jauh ini koordinasi

Pemerintah Provinsi Riau dengan Pemerintah

Daerah Kabupaten Indragiri Hulu. Diperoleh data

bahwa gaji guru huni sebesar Rp. 750,000,-

dipotong PPh 15 % serta diberi kelengkapan

pakaian ( pakaian sekolah dan sepatu olahraga

serta buku dan alat tulis). Kendatipun demikian, di

daerah Indragiri Hulu lembaga pendidikan yang

ada seperti SD induk dan SLJ belum dapat

menjangkau dan memberikan pendidikan dasar

kepada anak usia sekolah seluruhnya. Jarak yang

jauh dan sulit ditempuh mengakibatkan pendidikan

55


A. Hidir &J. Harun Jurnal Pendidikan

Model pembinaan dan pembelajaran

anak usia sekolah 7 – 15 tahun

jadi tidak efektif, juga masih banyak jalan yang

belum disirtu sesuai dengan rencana Pemda. Maka

ke depan perlu dipikirkan untuk kelengkapan

sarana dimaksud dengan membangun lebih banyak

kelas-kelas jauh. Beberapa bentuk keunggulan

sekolah lokal jauh antara lain adalah:

1. Dapat menampung siswa yang tidak terjangkau

akses pendidikan

2. Program tatap muka yang diadakan di beberapa

tempat oleh guru (baik guru kunjung maupun

guru huni) tidak kalah efektif dengan bentuk

sekolah biasa, asal dilakukan secara benar dan

tepat.

3. Waktu belajar bisa fleksibel disesuaikan dengan

kebutuhan siswa dan guru pengajar; tetapi tetap

dengan pedoman waktu yang jelas dan terukur.

Selain itu pendidikan ini juga harus diarahkan pada

upaya peningkatan mutu pendidikan. Dengan

model pembelajaran "joyful learning" atau yang

lebih dikenal dengan model pembelajaran PAKEM

(Pembelajaran Aktif, Efektif dan Menyenangkan).

Sehingga akan menimbulkan motivasi siswa untuk

terus bersekolah dan akan terjadinya estafet sesama

mereka dari anak sekolah ke anak usia sekolah lain

yang belum sekolah.

1. Di daerah suku Akit (Rupat Utara-Bengkalis)

dan suku Laut (Tanah Merah- Indragiri Hilir).

Pola permukiman mereka cenderung

mengelompok pada sentra-sentra permukiman

tertentu. Pada daerah ini jumlah SD dan SLTP

memang sangat kurang sebagaimana telah

dijelaskan pada sub bab terdahulu.

2. Tetapi karena jumlah siswa yang sedikit,

pembangunan unit sekolah baru (baik untuk SD

maupun SMP) terkadang tidak efisien.

Sementara dilain pihak daerah-daerah ini

merupakan daerah Angka Partisipasi Kasar

(APK) nya rendah dalam bidang pendidikan.

Maka cara yang paling mudah untuk dilakukan

adalah sama dengan membentuk SLJ (seperti di

daerah Indragiri Hulu untuk kasus sekolah

dasarnya).

3. Tetapi untuk kasus SLTP (baik di Inhu, Inhil

dan Bengkalis), cara yang dapat digunakan

untuk mendekatkan SMP dengan tempat

konsentrasi anak-anak yang belum

mendapatkan layanan pendidikan SLTP ( tanpa

harus membuat unit sekolah baru). Adalah

dengan mengembangkan Pendidikan Dasar

Terpadu atau SD-SMP satu atap.

Pengembangan pendidikan dasar terpadu adalah

dengan memanfaatkan berbagai sumberdaya

yang ada di SD yang telah ada untuk digunakan

secara bersama.

4. Pendirian SD-SMP secara terpadu ini dikelola

dalam satu manajemen dan kelembagaan;

gunanya untuk memperluas pemerataan layanan

pendidikan dasar pada daerah terpencil,

terisolir, dan terpencar-pencar guna menunjang

penuntasan wajib belajar sembilan tahun.

Karena di daerah-daerah ini banyak lulusan SD

yang tidak melanjutkan SMP. Karena itu, SD-

SMP Satu atap layak digunakan, konsep awal

pembentukannya berangkat dari semangat

untuk menunjang penuntasan program wajib

belajar sembilan tahun, dengan menerapkan

sistem kelas dari I hingga IX. Kelas I-VI adalah

setara SD, sedangkan siswa kelas I-III SMP

pada umumnya.

5. Penerapan SD-SMP terpadu, tetap harus

ditunjang dengan pasokan sarana dan prasarana

pendidikan, terutama guru dan fasilitas bahan

ajar lainnya. Karena tidak ada gunanya bila

gedung dibuat atau disatupadukan tetapi guru

dan bahan ajarnya tidak ada.

Dalam menerapkan sekolah-sekolah lokal jauh dan

SD-SMP terpadu ini pendekatan pendidikan yang

dilakukan harus tetap memperhatikan broad based

education. Terdapat 4 alasan mengapa sistem

broad based education diperlukan yaitu:

1. Alasan ekonomis. Karena ketidakmampuan

orang tua atau faktor kemiskinan, maka tidak

semua tamatan SD dan SLTP dapat

melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih

tinggi (misalnya ke SMA/SMK).

2. Alasan kemampuan intelektual. Secara nasional

cukup banyak (sekitar 40 persen) anak yang

dengan susah payah menyelesaikan SD dan

tidak mempunyai kemampuan intelektual untuk

mengikuti pelajaran di SLTP/SLTA;

3. Alasan tidak berminat; Untuk mengakomodasi

kebutuhan pendidikan bagi lulusan SD dan

SLTP yang tidak dapat melanjutkan pendidikan

ke jenjang yang lebih tinggi, sistem broad

based education dalam bentuk pendidikan

keterampilan sudah merupakan suatu

kebutuhan, agar mereka memiliki life skill yang

relevan dengan peluang kesempatan kerja yang

tersedia di daerah mereka.

4. Pendidikan harus tetap mengedepankan

pendidikan kontekstual yang sesuai dengan

kebutuhan masyarakatnya yang disesuaikan

dengan kondisi geografis dan budaya mereka.

56


A. Hidir &J. Harun Jurnal Pendidikan

Model pembinaan dan pembelajaran

anak usia sekolah 7 – 15 tahun

Hal ini didasari karena adanya beberapa

permasalahan pokok sebagai berikut: (1) pada usia

muda mereka sudah menjadi tenaga kerja keluarga

atau bekerja pada orang lain; (2) waktu musim

tanam atau panen, mereka bekerja melebihi jam

kerja normal dan sekolah mereka tinggalkan; (3)

untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga

mereka wajib kerja mencari upah; (5) mereka tidak

ingin berbaur dengan teman sebaya yang melek

huruf, meskipun usia mereka sama; (7) merasa

takut terhadap situasi belajar mengajar yang

sifatnya formal.

Pendidikan berdasarkan sistem broad based

education ialah konsep pendidikan yang mengacu

pada life skill. Tujuan utamanya adalah untuk

mengakomodasi kebutuhan pendidikan masyarakat

yang tidak dapat melanjutkan pendidikan ke

jenjang yang lebih tinggi. Beberapa alasan

mendasar yang perlu mendapat perhatian antara

lain: a) tidak semua lulusan SD dan SLTP

memiliki potensi intelektual untuk belajar pada

jenjang pendidikan yang lebih tinggi; terutama

bagi mereka suku terpencil; b) SLTP yang ada

masih bersifat umum, dan lulusannya dipersiapkan

untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang

lebih tinggi, akibatnya lulusan SD yang tidak

memiliki potensi intelektual untuk belajar di SLTP

umum menjadi putus sekolah karena tidak tersedia

SLTP keterampilan; c) ketidak-mampuan orang tua

karena masalah kemiskinan merupakan faktor

dominan yang mempengaruhi lulusan SD dan

SLTP tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang

yang lebih tinggi.

Untuk memecahkan masalah ini, perlu

pendidikan keterampilan yang sesuai dengan

peluang kesempatan kerja yang dibutuhkan

masyarakat dengan mempertimbangkan bakat dan

minat , serta kemungkinan mereka dapat bekerja

mandiri atau bekerja pada orang lain. Pendekatan

ini sifatnya manusiawi, artinya bahwa terdapat

pengakuan bahwa mereka memiliki potensi untuk

dapat berkembang. Karena itu, gagasan untuk

mendirikan SLTP yang menekankan pada

keterampilan sudah merupakan kebutuhan yang

dirasakan bagi anak-anak SD yang tidak mampu

melanjutkan pendidikan di SLTP umum.

Selain itu untuk meningkatkan perluasan dan

pemerataan, pendidikan di kalangan komunitas

adat terpencil ini; strategi pembangunan yang

harus ditempuh adalah dengan melaksanakan:

1. Pemberian subsidi bagi sekolah lokal jauh

untuk lebih berdaya

2. Melakukan penggabungan (regrouping) sekolah

SD dan SLTP terutama di daerah-daerah

perdesaan yang sulit dengan azas representatif

berdasarkan sentra-sentra permukiman

masyarakat.

REKOMENDASI.

1. Untuk menata manajemen pendidikan,

utamanya perbaikan kualitas dan gaji guru di

era otonomi daerah terutama untuk kasus-kasus

di pedesaan Komunitas Adat Terpencil, adalah

sebagai berikut:

Perlu dilakukan need assessment terhadap

kebutuhan guru dan operasional sekolah yang

terkait. Disarankan kepada Pemda dan Diknas

setempat untuk lebih fokus meningkatkan

anggaran bagi perbaikan kualitas guru, terutama

untuk gaji/pendapatan guru, studi lanjut, dan

kegiatan pelatihan, dan yang paling penting

adalah penambahan jumlah guru.

Perlunya penerapan SBB (school based

budgeting) yang didasarkan pada kebutuhan ril

sekolah, sehingga tidak terjadi kekurangan dan

kelangkaan bahan ajar dan bahan pendukung

lainnya. Dinas Diknas kabupaten/kota perlu

memberikan wewenang dan pembinaan kepada

sekolah dan Komite sekolah untuk bersama

mengatur rumah tangga sekolah secara

transparan dan akuntabiltas.

Penerapan five C’S (Commitment,

Collaboration, Concern, Consideration, and

Change) yang realistis, sinergis dan

berkesinambungan pada Pemda, Dinas Diknas,

sekolah, dan LPTK yang ada untuk bersama

maju membangun daerahnya masing-masing.

2. Untuk memberdayakan pendidikan sebagai

pranata sosial yang kuat dan berwibawa perlu

dialokasikan anggaran secara memadai baik

oleh pemerintah pusat (APBN) maupun daerah

(APBD), Berdasarkan SPN 2003, pasal 49 (1)

sektor pendidikan mendapatkan anggaran

minimal 20% dari APBD. Agar masyarakat

bersedia berpartisipasi dengan sukarela,

program itu dapat didukung dengan melakukan

pengurangan dan penghapusan pajak untuk

pendidikan bagi pihak-pihak yang

menyumbang program pendidikan secara

finansial. Di samping itu, pemerintah dapat

memungut pajak kekayaan yang dikhususkan

untuk pendidikan.

3. Pendekatan model pendidikan konvensional

dirasakan masih cocok untuk dikembangkan

disetiap lokasi kajian. Karena sebenarnya

keinginan dan kemauan belajar dan merubah

57


A. Hidir &J. Harun Jurnal Pendidikan

Model pembinaan dan pembelajaran

anak usia sekolah 7 – 15 tahun

hidup pada generasi-generasi penerus di

kalangan mereka sudah tumbuh dan sadar akan

pentingnya arti pendidikan. Tetapi karena

minimnya fasilitas sosial yang tersedia, serta

sebarannya tidak merata dan adanya belenggu

kemiskinan di kalangan mereka sendiri, maka

akses mereka untuk bersekolah jadi tersumbat.

Maka ke depan perlu perbaikan, penambahan

dan pemerataan sarana-prasarana pendidikan

yang ada dengan mempertimbangkan

aksesibiltas sosial, ekonomi dan budaya pada

mereka.

4. Untuk itu di setiap lokasi kajian (Bengkalis,

Inhu dan Inhil) perlu memperbaiki dan

meningkatkan kualifikasi, kamampuan dan

kesejahteraan guru, serta kepala sekolah

sebagai faktor yang mempengaruhi secara

langsung terhadap mutu pendidikan;

melengkapi sarana dan prasarana pendidikan;

mengoptimalkan pendayagunaan sumberdaya

pendidikan agar lebih efisien.

5. Untuk efektifnya proses wajib belajar usia 9

tahun pada; sekolah Induk, harus

memperhatikan;

Untuk di daerah Talang Mamak, perlu

memprioritaskan pengangkatan PNS, bagi Guru

honor yang telah mengabdi pada lokasi (pada

sekolah-sekolah marjinal) tersebut yang

memenuhi persyaratan sedangkan guru honor

yang latar belakang non pendidikan di beri

kesempatan untuk mengikuti pendidikan Akta

IV.

Penambahan sarana Gedung, mebeler, dan

mengingat kondisi alam yang sulit, para Guru

dilengkapi dengan sepeda motor. Memberikan

insentif bagi guru melalui dana APBD

Kabupaten, serta menambah Sekolah Lokal

Jauh. Memprioritas pengangkatan PNS/Guru

bagi tanaga honorer yang memenuhi

persyaratan. Membangun bangunan / lokal

Pokjar minimal di masing-masing desa pada

lokasi mayoritas penduduknya.

Perlu difasilitasi berdirinya Sekolah Lanjutan

Pertama yang komperhensif pada posisi yang

strategis;

6. Untuk di Rupat Utara (desa Titi Akar) perlu

dibangun sarana pendidikan prasekolah dan

Taman Kanak-Kanak untuk menstimulus

masyarakat memasuki sekolah dasar serta

diiringi dengan pembentukan SLJ pada pulaupulau

kecil sekitarnya. Sementara untuk jenjang

pendidikan lanjutan, perlu dibangun SD-SMP

terpadu yang dapat menampung anak usia

sekolah. Dan dalam jangka panjang kebutuhan

SMK (bisnis dan manajemen) perlu

dikembangkan di daerah ini, karena potensi

masyarakatnya yang menginginkan SMK.

7. Untuk menstimulus pembangunan ekonomi di

daerah Rupat Utara (Titi Akar) pembangunan

pola kemitraan melalui PIR (dan sejenisnya)

sangat berpotensi untuk dikembangkan sesuai

dengan keinginan masyarakatnya. Dan untuk

masyarakat suku Laut perlu penekanan pada

program K2I pada sektor kelautan/perikanan.

8. Selain masalah diungkapkan di atas, juga di Titi

Akar perlu juga penambahan sarana dan

prasarana gedung yang representatif di setiap

sentra lokasi permukiman penduduk, karena

selama ini lokasi sekolah hanya tersedia di

desa-desa utama yang menyulitkan para anak

didik untuk bersekolah, karena mereka sulit

untuk menyebrang laut/selat antar pulau apalagi

untuk ukuran seorang anak kecil yang masih

terbatas kemampuan fisiknya.

9. Untuk kasus suku Laut, mereka sebenarnya

sudah berkeinginan untuk sekolah, tetapi sarana

dan prasarana pendukung kurang memadai,

baik dari sisi internal (individu) mereka sendiri

yaitu karena faktor budaya dan kemiskinannya

juga karena fasilitas sosial yang tersedia

memang kurang. Maka hal ini perlu

pembenahan lebih lanjut untuk peningkatan

kualitas dan kuantitas pembelajaran pada

mereka.

10. Secara umum stigma sebagai suku terbelakang

dan miskin pada mereka, perlu diubah karena

sebenarnya mereka adalah orang-orang yang

memiliki budaya dan juga berkeinginan maju.

Seperti misalnya ; untuk suku Laut guna

memicu prestasi di kalangan mereka maka

perlu adanya tokoh-tokoh kunci yang benarbenar

representatif dan layak dari kalangan

mereka sendiri untuk dilibatkan dalam berbagai

kegiatan pembangunan sebagai stimulus dan

reference (contoh teladan) bagi mereka; bahwa

dari kalangan merekapun ternyata mampu dan

dihargai. Karena selama ini menurut mereka

keterlibatan dari tokoh-tokoh mereka sangat

kurang.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Program Direktorat Pendidikan Lanjutan

Pertama Dalam Rangka Pembinaan SMP Negeri

dan Swasta di Seluruh Indonesia, Ditjen PLP,

Diknas Jakarta, 2005

58


A. Hidir &J. Harun Jurnal Pendidikan

Model pembinaan dan pembelajaran

anak usia sekolah 7 – 15 tahun

Anonim, Program Pengembangan Kurikulum

Berbasis Kompetensi, Ditjen PLP, Diknas Jakarta,

2005

Ahmad, Muchtar, 2003. Desentralisasi Pendidikan

Dalam Otonomi Daerah, Dalam Jurmal Ilmu

Politik Program Pascasarjana Universitas Riau,

Vol I No.I, Riau.

Bafadal, Ibrahim, 2003. Manajemen Peningkatan

Mutu Sekolah Dasar : Dari Sentralisasi Menuju

Desentralisasi, Bumi Aksara, Jakarta.

Furchan, Arief, Pengantar Metode Penelitian

Kualitatif, Usaha Nasional Surabaya, 1992

Huda, N, 1999. Desentralisasi Pendidikan :

Pelaksanaan dan Permasalahannya , dalam Jurnal

Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 017,

Depdikbud, Jakarta.

Mastuhu, 2003. Menata Ulang Pemikiran Sistem

Pendidikan Nasional Dalam Abad 21, Safiria

Insani Press, Yogyakarta.

Sudirman, Indonesia Masih Kekurangan Guru,

Kompas 12 Juni 2001

Soerwatoyo, 2003, Persepsi Masyarakat Terhadap

Desentralisasi Pendidikan, Pustaka Sinar Haparan,

Jakarta

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 Tentang

Sistem Pendidikan Nasional.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang

Sistem Pendidikan Nasional.

Hadderman, Margaret. 1999. “School Based

Budgeting” [On line]. Tersedia:

http://www.ed.gov/databases/ERIC_Digest/Ed434

401.html. (17 September 2002)

Kompas. 27 Agustus 2002. “SK Kenaikan

Pangkat Guru”

Kompas, 11 September 2002. “Guru Honorer

Minta Diprioritaskan”.

Kompas, 11 September 2002. “Soal Kualifikasi

Guru SD-SLTP Minimal S1, Usulan Pemerintah

Dinilai Tak Produktif”.

Soedjito, Aspek Sosial Budaya Dalam

Pembangunan Pedesaan, Tiara Wacana

Yogyakarta, 1987.

Solihin, Dadang dan Putut Marhayudi, Panduan

Lengkap Otonomi Daerah, ISMEE Jakarta, 2002.

Tayibnapis, Farida Yusuf, Evaluasi Program,

Rineka Cipta Jakarta, 2000

Tilaar, H.A.R. 1998. Manajemen Pendidikan

Nasional: Kajian Pendidikan Masa Depan. Kata

Pengantar Makagiansar, M. Bandung: Remaja

Rosdakarya

59


Syofni

Jurnal Pendidikan

Aktivasi multipel intelegensi melalui pendekatan

pembelajaran kontrutikvis

AKTIVASI MULTIPEL INTELIGENSI MELALUI PENDEKATAN PEMBELAJARAN

KONTRUKTIVIS UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR STRUKTUR ALJABAR

MAHASISWA DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA PMIPA FKIP

UNIVERSITAS RIAU

Syofni

Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Riau

Jalan HR. Subrantas KM 12,5 Simpang Panam Pekanbaru Indonesia 28293

e-mail:

ABSTRAK. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan hasil

belajar mahasiswa pada mata kuliah Struktur Aljabar dengan memperbaiki proses pembelajaran.

Perbaikan yang dilakukan adalah dengan aktivasi multipel intelegensi (kercedasan ganda) dengan

pendekatan konstruktivis. Ada lima iltelegensi yang diaktifkan yaitu 1. kecerdasan linguistic, 2.

kecerdasan logis-matematis,3. kecerdasan spasial, 4.kecerdasan interpersonal dan 5. kecerdasan

intrapersonal. Ada dua data yang diperlukan yaitu data hasil belajar dan data tentang proses

pembelajaran. Data hasil belajar dikumpulkan dengan tes uraian disetiap akhir siklus dan data tentang

proses pembelajaran dilakukan oleh mahasiswa dengan merefleksi dengan memberikan kesan,pesan,

saran perbaikan untuk pembelajaran selanjutnya. Berdasarkan analisis data yang dilakukan dapat

disimpulkan bahwa, tindakan pada siklus 2 menghasilkan skor hasil belajar lebih baik dari pada siklus 1.

Berikut adalah yang dapat disimpulkan dari refleksi pembelajaran oleh mahasiswa. Hal-hal positif yang

dirasakan mahasiswa ; dapat meningkatkan kemandirian, keaktifan, kesiapan, interaksi, melatih

keberanian tampil dan mengemukakan pendapat. 3. Saran perbaikan pembelajaran yang diungkapkan

mahasiswa adalah, membuat dan menggunakan bahan ajar yang berbahasa Indonesia, membuat Lembar

Kerja Mahasiswa (LKM) sebagai panduan, meningkatkan bimbingan dari dosen, mahasiswa memperbaiki

diri dengan berpikir positif terhadap mahasiswa lain yang menangggapi atau mengajukan pertanyaan.

Kata Kunci: aktivasi, multipel inteligensi, konstruktivis, hasil belajr

INTELLIGENCE MULTIPLE ACTIVITY THROUGH CONSTRUCTIVE LEARNING

APPROACH TO IMPROVE THE RESULT OF ALGEBRA STRUCTURE LEARNING

STUDENTS IN STUDY PROGRAM MATHEMATIC PMIPA FKIP RIAU UNIVERSITY

ABSTRACT. Multiple intelligence theory is a cognitive theory which is explained that a man has seven

basic intelligence : 1. Intelligence linguistic, 2. Intelligence logical mathematic, 3. intelligence special, 4.

intelligence body-kinetis, 5. intelligence music, 6. intelligence interpersonal, and 7. intelligence

interpersonal. The some function with different way to the different people. Constructions knowledge by

doing self is one of the students should do, because the component should be knowledge intelligence

activity. And it promise about more understanding knowledge than just wait explanation from lecture or

instructor. In fact students of university passive study in class teaching, they don’t give question and

don’t give respond or the answer question to appear in learning, the knowledge to takes notes dominant.

To improve the lack learning situation like above, the research about class activity was be done with

aljabar structure intelligence multiple activity through constructive. The are two siklus study that we

do in research, which is siklus 1 and siklus 2, this second siklus the close by applied constructive. The

different is do mean that for siklus 2 to form can for siklus 1 the based evaluation by lecture and

university of students.The data could be collected into 2 ways, they are the test technique in essays and

questionnaire to collect the students response through the lesson to answer the problem that had

formulated the data was analyzed in descriptive by serving in table, diagram. The based information

could be conclusion that, the done for siklus 2 the good for result skor study siklus 1, the conclusion could

be learning evaluation by many students. The students things positive can increase to stand, active, ready,

interaction, practice to perform and express our opinion with menunjang for PPL. 3. The learning

opinion express students is, the make do teaching material by speak Indonesia, the make LKM, as the

guide increase by lecture, students to solve thinking positive to another students propose asking

quotations, the students increase copulation and activity the adjust, the time well.

Key word : Inteligency multiple, activitation,constructive.

60


Syofni

Jurnal Pendidikan

Aktivasi multipel intelegensi melalui pendekatan

pembelajaran kontrutikvis

PENDAHULUAN

Menurut Herman Hudoyo, belajar matematika

akan lebih berhasil bila sipelajar menemukan

sendiri pola ,hubungan dan struktur ini, sehingga

materi yang dipelajari bertahan lebih lama dalam

ingatan (Hudoyo 1985;34). Hasil penelitian

Soedijarto menunjukan bahwa satu-satunya

variabel sekolah yang secara signifikan

menentukan keberhasilan belajar mahasiswa

adalah tingkat partisipasi mahasiswa. Dalam

kegiatan belajar mengajar, para mahasiswa perlu

dilibatkan secara aktif (Soedijarto,1981;318).

Pendapat diatas sejalan dengan teori belajar

kontruktivis, yang mengatakan bahwa, salah satu

prinsip yang paling penting dari psikologi

pendidikan adalah dosen tidak dapat hanya sematamata

memberikan pengetahuan kepada mahasiswa.

Mahasiswa harus membangun pengetahuan

didalam benaknya sendiri. Dosen dapat mambantu

proses ini, dengan cara – cara mengajar yang

membuat informasi menjadi sangat bermakna dan

sangat relevan bagi mahasiswa, dengan

memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk

menemukan atau manerapkan sendiri ide – ide, dan

dengan mengajak mahasiswa agar menyadari dan

secara sadar menggunaka strategi – strategi mereka

sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi

mahasiswa tangga yang dapat membantu

mahasiswa mencapai tingkat pemahaman yang

lebih tinggi, namun harus diupayakan agar

mahasiswa sendiri yang memanjat tangga tersebut.

Setiap manuasia normal dapat mengembangkan

tujuh kecerdasan yang dimilikinya sampai tingkat

penguasaan tertentu (Amstrong; 2002). Setiap

kecerdasan akan muncul pada titik tertentu dimasa

kanak-kanak yang berpotensi unutuk berkembang.

Pembelajaran dengan mengaktifkan kecerdasankecerdasan

multiple intelegensi merupakan salah

satu cara yang dipandang dapat membantu guru

untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Multiple inteligensi akan menerapkan variasivariasi

belajar yang dapat mengaktifkan

mahasiswa dalam pembelajaran dan dapat

meningkatkan daya ingat mahasiswa. Kecerdasan -

kecerdasan yang akan diaktifkan adalah

kecerdasan linguistik, kecerdas logis-matematis,

kecerdasan spasial/visual dan kecerdasan

intrapersonal. Menurut Armstrong (2002) dengan

mengaktifkan kecerdasan - kecerdasan yang

dimiliki mahasiswa dalam proses pembelajaran

sama halnya dengan memfasilitasi pengembangan

berfikir mahasiswa. Secara tidak langsung

pembelajaran dengan mengaktifkan multiple

inteligensi sejalan dengan tujuan pendidikan

matematika secara nasional.

Kecerdasan linguistic akan melatih cara berfikir

dan bernalar, kecerdasan logism – matematis akan

melatih kemampuan pemecahan masalah,

kecerdasan spasial akan melatih mengembangkan

aktivitas kreaktif yangmelibatkan imajinasi serta

kecerdasan intrapersonal akan melatih mahasiswa

untuk berkomunikasi dan menyampaikan

pendapat.

Mata kuliah Struktur Aljabar adalah mata

kuliah wajib di Program Studi Pendidikan

Matematika FKIP UNRI. Mata kuliah ini

merupakan mata kuliah lanjutan, yang

penekanannya bukan pada perhitunganperhitungan,

tetapi pada kemampuan berfikir logis

dan bernalar secara sistematis dalam

menyelesaikan masalah, sehingga pembelajaran

matakuliah ini membutuhkan kecerdasan dan

mampu meningkatkan kecerdasan.

Kenyataan yang dialami selama penulis

mengajar mata kuliah Struktur Aljabar (lebih

kurang empat belas tahun, dari tahun 1995 sampai

sekarang) adalah mahasiswa sangat pasif dalam

kegiatan pembelajaran. Sebagian besar mahasiswa

jarang sekali bahkan tak pernah mengajukan

pertanyaan, dan kegiatan yang dominan adalah

mencatat. Hasil yang diperoleh jauh dari harapan.

Kenyataan ini tentu tidak sesuai dengan bagaimana

seharusnya belajar matematika itu. Apalagi untuk

mata kuliah Struktur Aljabar yang tujuannya

adalah penataan nalar dan pemecahan masalah.

Beberapa usaha telah dilakukan agar mahasiswa

terlibat aktif dalam usaha pemerolehan ilmu,

seperti mewajibkan mahasiswa membuat

pertanyaan di rumah, mengelompokkan dalam

kelompok heterogen secara akademis untuk

mengerjakan tugas dan memberikan skor tambahan

untuk mahasiswa – mahasiswa yang dengan

sukarela atau ditunjuk mau mengemukakan

pendapatnya. Namun hasilnya belum dapat

menggembirakan hati.

Penelitian yang penulis laksanakan pada tahun

2000 menyimpulkan bahwa,”Hasil belajar dan

motivasi mahasiswa yang dilibatkan dengan kadar

tinggi dalam pemecahan masalah lebih baik secara

signifikan dari hasil belajar mahasiswa yang

dilibatkan dengan kadar rendah dalam pemecahan

masalah”.(Syofni; 2000).

Berdasarkan refleksi yang penulis lakukan

terhadap pembelajaran yang dilaksanakan,

penyebab kurang aktifnya mahasiswa dalam proses

pembelajaran disamping berasal dari mahasiswa

61


Syofni

Jurnal Pendidikan

Aktivasi multipel intelegensi melalui pendekatan

pembelajaran kontrutikvis

sendiri, yang tak kalah penyebabnya adalah dari

penulis sendiri. Mengingat keterbatasan waktu dan

materi perkuliahan yang banyak, penulis kurang

sabar membimbing dan melatih mahasiswa secara

scaffolding untuk dapat mengkonstruksi dan

menggunakan kecerdasan yang dimiliki dalam

belajar.

Aleks mengemukakan dalam makalahnya

bahwa jika seorang guru, dosen atau seorang

praktisi pendidikan lainya merasakan ada suatu

yang tidak beres dalam pembelajaran yang

dilaksanakannya, maka dia seyoyanya berusaha

memperjelas masalah apa yang dihadapinya,

kemudian merencanakan tindakan yang

dianggapnya paling baik untuk memecahkan

masalah tersebut (Aleks 2002).

Berdasarkan uraian diatas, jelas terdapat

kesenjangan antara kenyataan dengan

harapan.serta kekeliruan pembelajaran yang

dilakukan Oleh sebab itu perlu direncanakan suatu

tindakan aktif yang akan menciptakan suatu

kondisi dalam rangka meningkatkan keaktifan

mahasiswa dalam pembelajaran yang dapat

mengaktivasi lebih banyak iltelegensi

(kecerdasan).

Beberapa pengertian yang tercakup pada kata

belajar ialah : Belajar adalah usaha aktif dari

seseorang yang dilakukan secara sadar

untukmengubah perilakunya sendiri. Belajar

adalah suatu perubahan perbuatan atau perilaku

(pengetahuan, keterampilan, sikap mental) sebagai

akibat dari mengalami.Belajar adalah proses

perbaikan pengetahuan dan keterampilan dengan

cara mengalami sendiri.Belajar adalah mengubah

perbuatan, pengetahuan dan ketreampilan, yang

hasilnya dapat benar atau salah.Belajar adalah

suatu proses untuk mendapatkan kemampuan agar

dapat menggantikan perilaku yang buruk menjadi

baik.(Margono Slamet, 1999; 127)

Berdasarkan beberapa defenisi belajar seperti

dikutip diatas, dapat disimpulkan bahwa balajar

adalah suatu kegiatan aktif yang dilakukan secara

sadar untuk mendapatkan kemampuan baru

melalui pengalaman berkenalan dan berinterasksi

dengan obyek atau materi yang dipelajari. Dengan

pengertian semacam itu dosen dalam usaha

membelajarkan mahasiswa perlu memikirkan

bagaimana dapat memberi pengalaman kepada

mahasiswa agar mereka secara efektif melakukan

kegiatan mengenal dan berinteraksi dengan materi

pelajaran untuk mandapatkan kemampuan baru.

Hasil penelitian Syofni menunjukkan bahwa,

hasil belajar mahasiswa yang dilibatkan dengan

kadar tinggi dalam pemecahan masalah lebih baik

secara signifikan dari hasil belajar mahasiswa yang

dilibatkan dengan kadar rendah dalam pemecahan

masalah dan motivasi belajar mahasiswa yang

dilibatkan dengan kadar tinggi dalam pemecahan

masalah meningkat secara sangat signifikan dari

motivasi belajar sebelum pembelajaran (Syofni,

2000 :)

Tugas utama dosen terhadap mahasiswa adalah

melaksanakan pembelajarannya, artinya dosen

harus berusaha membelajarkan mahasiswa,

membuat mahasiwa mengalami proses belajar.

Sangat banyak cara untuk membuat mahasiswa

belajar, tetapi tidak ada cara terbaik untuk semua

situasi yang dihadapi. Oleh sebab itu sudah

selayaknyalah seorang dosen senantiasa berpikir

dan berusaha mencari cara yang lebih baik untuk

dilaksanakan.

Menurut pandangan konstruktivisme bahwa

belajar adalah proses mengkonstruksi pengetahuan

dari abstraksi pengalaman baik alami maupun

manusiawi. Proses konstruksi ini dilakukan secara

pribadi dan sosial, proses ini adalah proses yang

aktif ( Suparno dalam Elin, 2003;15). Selanjutnya

Soparno menyatakan bahwa, mengajar bukanlah

mentransfer pengetahuan dari orang yang sudah

tahu (guru) kepada yang belum tahu (mahasiswa),

melainkan membantu seseorang agar dapat

mengkonstruksi sendiri pengetahuannya lewat

kegiatannya terhadap fenomena dan objek yang

ingin diketahuinya.

Pendekatan kontruktivis dalam pembelajaran

menekankan pada pengajaran top-down daripada

bottom-up. Dalam pembelajaran top-down

mahasiswa mulai dari suatu tugas yang kompleks,

lengkap dan autentik, artinya bahwa tugas-tugas itu

bukan merupakan bagian atau penyederhanaan dari

tugas-tugas yang akhirnya dapat dilakukan

mahasiswa, melainkan tugas itu merupakan tugas

yang sebenarnya.(Mohamad Nur, 2000 : 7).

Dalam pelaksanaannya pendekatan kostruktivis

menerapkan pembelajaran kooperatif secara luas,

berdasarkan teori bahwa mahasiswa lebih mudah

menenmukan dan memahami konsep-konsep yang

sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah

tersebut dengan temannya. Mahasiswa secara rutin

bekerja dalam kelompok ( 4 orang dalam satu

kelompok) untuk saling membenatu memecahkan

masalah-masalah yang kompleks.

Dalam buku Frames of Mind (Howard

Gardner, 1983) yang dikutip oleh Linda Campbell

dan Dee Dickinson (2002), merupakan teori

multiple inteligensi yang memperkuat perspektif

62


Syofni

Jurnal Pendidikan

Aktivasi multipel intelegensi melalui pendekatan

pembelajaran kontrutikvis

tentang kognitif manusia. Teori multiple inteligensi

adalah teori fungsi kognitif yang menyatakan

bahwa manusia memiliki tujuh kecerdasan dasar

yaitu 1. kecerdasan linguistic, 2. kecerdasan logis -

matematis,3. kecerdasan spasial, 4. kecerdasan

kinetis - jasmani,5. kecerdasan musik,6.

kecerdasan interpersonal dan 7. kecerdasan

intrapersonal. Yang berfungsi bersamaan dengan

cara yang berbeda-beda pada setiap orang.

Gardner mendefinisikan bahwa kecerdasan

adalah suatu kemampuan dengan proses

kelengkapannya yang sanggup menangani

kandungan masalah yang spesifik di dunia ini.

Lebih lanjut Gardner menjelaskan bahwa teori

multiple inteligensi adalah model kognitif yang

berupaya menjelaskan bagaimana seseorang

menggunakan kecerdasan-kecerdasan mereka

untuk memecahkan masalah dan menghasilkan

suatu hasil. Teori multiple inteligensi percaya

bahwa setiap kecerdasan mempunyai proses

kognitif yang terpisah dalam bidang memori,

perhatian, persepsi, dan pemecahan masalah.

Penerapan teori multiple inteligensi telah

banyak diterapkan dalam dunia pendidikan. Seperti

Campbell dan Campbell (2002) dalam buku,

Multiple Intellegences and student achieviement :

success stories from six schools menunjukan

peningkatan hasil belajar mahasiswa.Demikian

juga penelitian yang dilakukan oleh Sosog, W

(1999) yang menerapkan pendekatan multiple

inteligensi didua sekolah SMU di Singaraja, juga

menunjukan hasil belajar matematika siswa

meningkat dari yang sebelumnya.

Aplikasi teori multiple dalam pembelajaran

dikelas lebih berorientasi pada pengembangan

ranah kecerdasan dasar yang dimiliki mahasiswa.

Manurut Chapmann (1994) dikutip oleh Sosog, W

(1999) menguraikan secara garis besar makna

komponen-komponen kecerdasan dasar ini serta

aplikasinya dalam bidang pendidikan antara lain :

1. Kecerdasan linguistik yang digunakan untuk

menjelaskan hal-hal yang berkaiatan dengan

bahasa. Maksudnya adalah kemampuan menulis

dan berbicara secara fasih.

2. Kecerdasan logis-matematis dipergunakan

untuk meningkatkan kemampuan berfikir

induktif dan deduktif.

3. Kecerdasan visual / spasial yang dipergunakan

untuk mengamati dunia penglihatan baik nyata

maupun abstrak. Maksudnya adalah

kemampuan memvisualisasikan bentuk akhir

dari sesuatu atau membayangkan sesuatu dalam

pikiran.

4. Kecerdasan kinetis-jasmani yang dipergunakan

dalam membangun keharmonisan gerak fisik

dan fikiran. Maksudnya adalah kemapuan

mengontrol gerak tubuh dan kemahiran

mengelola objek.

5. Kecerdasan musik yang dipergunakan untuk

mengenal unsur-unsur musik.

6. Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan

untuk memahami dan bekerjasama dengan

orang lain.

7. Kecerdasan intrapersonal dipergunakan untuk

membantu membentuk kebijaksanaan dalam

mengambil keputusan dengan kata lain

kecerdasan ini mengunakan pemahamannya

sendiri untuk membimbing hidupnya.

Pada mata kuliah Struktur Aljabar, tidak

memungkinkan semua kecerdasan yang dimaksud

diatas diaktifkan atau dilatih, karena kecerdasan

kinetic jasmasi dan musik tidak memungkinkan,

maka ada lima kecerdasan yang akan dilatihkan

atau diaktifkan dalam pembelajaran ini.

Setiap pribadi adalah unik, orang dapat

mencapai tingkat penguasaan yang tinggi dalam

enam atau tujuh kecerdasan sekaligus.

Sebaliknya ada sebagian orang tampaknya hanya

mengembangkan salah satu kecerdasan atau

beberapa kecerdasan saja sampai ketingkat tinggi

(Armstrong, 2002).

Dalam penelitian ini direncanakan suatu

tindakan yang yang mengaktifkan lima kecerdasan

dengan mengaplikasikan pendekatan konstruktivis

yang mengkombinasikan pengajaran top-down,

scaffolding dan pembelajaran

kooperatif.Tindakan di atas diasumsi tepat untuk

dilaksanakan karena mahasiswa yang mengikuti

mata kuliah Struktur Aljabar adalah mahasiswa

senior atau mahasiswa yang telah lulus mata kuliah

pra-syarat.

Tindakan terbagi menjadi dua siklus yaitu

siklus 1,dan siklus 2. Siklus 1 adalah pembelajaran

yang dilaksanakan pada setengah semester pertama

dan Siklus 2 adalah setengah semester kedua dan

setiap siklus diakhiri dengan tes(ujian), yaitu ujian

tengah semester dan ujian semester. Berikut ini

adalah rencana aktifitas pembelajaran untuk setiap

siklus.

1. Siklus 1

1. Sebelum pembelajaran mahasiswa secara

berkelompok ditugasi mempelajari dan

mengerjakan latihan sesuai dengan materi yang

akan dipelajari ( Teori pembelajaran top-down

dan kooperatif)

63


Syofni

Jurnal Pendidikan

Aktivasi multipel intelegensi melalui pendekatan

pembelajaran kontrutikvis

2. Diawal perkuliahan, mahasiswa yang

dikategorikan mampu secara acak diminta

untuk mempresentasikan materi serta latihan

yang dikerjakan dan dipertanggung jawabkan

secara kelompok. Dosen memberikan bantuan

seperlunya, sambil memberi motivasi dan

mengobservasi keaktifan mahasiswa. (Teori

scaffolding)

3. Mahasiswa kelompok lain diwajibkan

mengajukan pertanyaan, sanggahan atau saran.

(Pembelajaran Kooperatif).

4. Mahasiswa yang mengajukan pertanyaan atau

memeberi saran diberi skor keaktifan.

5. Dosen dan mahasiswa melakukan refleksi

terhadap pembelajaran pada siklus 1 dan

berdasarkan hasil refleksi bersama ini

direncanakan pembelajaran pada siklus 2 kirakira

sebagai berikut.

2. Siklus 2

1. Mahasiswa ditugasi mempelajari dan

mengerjakan latihan sehubungan dengan

materi yang dipelajari .

2. Penyajian materi yang tidak terlalu sulit

dilakukan oleh mahasiswa yang menyanggupi

dengan bantuan dosen.

3. Mahasiswa kelompok lain diwajibkan

mengajukan pertanyaan, sanggahan atau

saran, dan diberi skor.

4. Materi dan soal yang dikategorikan sulit,

dipresentasikan oleh mahasiswa yang mampu

dalam kelompok yang ditugasi, pada

pelaksanaannya dosen membimbing tahap

demi tahap jika diperlukan

Prosedur Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas merupakan proses

pengkajian melalui sistem bersiklus (daur) dari

kegiatan pembelajaran. Pada pelaksanaannya

penelitian tindakan kelas diawali dengan kesadaran

akan adanya permasalahan yang dirasakan

mengganggu, yang dianggap menghalangi

pencapaian tujuan pembelajaran. Selanjutnya

dicarikan alternatif pemecahan masalah yang

dinilai terbaik. Kemudian melaksanakan tindakan

perbaikan. Tindakan perbaikan ini dinilai dan

direfleksikan dengan mengacu pada kriteriakriteria

perbaikan. Setelah dilakukan refleksi

terhadap proses dan hasil tindakan, biasanya

muncul permasalan baru serta pemikiran baru.

Sehingga pada gilirannya perlu perencanaan ulang,

tindakan ulang, pemgamatan ulang dan refleksi

ulang. Demikian seterusnya sampai suatu

permasalahan dinggap teratasi. Berikut ini

disajikan prosedur pelaksanaan penelitian tindakan

kelas. Rancangan tindakan yang direncanakan

dilakukan untuk tiap siklus dapat disajikan pada

diagram berikut ini.

Bagan Siklus Penelitian Tindakan Kelas

METODE PENELITIAN

Wardani dalam bukunya menyatakan bahwa

penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang

dilakukan oleh guru/dosen didalam kelasnya

sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan

memperbaiki kinerjanya sebagai guru/dosen,

sehingga hasil belajar mahasiswa/mahasiswa

menjadi meningkat (Wardani, 2003). ). Sesuai

dengan pendapat di atas maka penelitian ini dapat

dikategorikan penelitian tindakan kelas, karena

peneliti yang dosen mata kuliah Struktur Aljabar,

merasa perlu untuk memperbaiki proses

pembelajaran mata kuliah yang diasuh, agar

mahasiswa dapat menyerap materi kuliah secara

maksimal yang ditandai dengan hasil belajar yang

lebih baik.

Keterangan :

Refleksi awal → Rencana Tindakan 1 →

Pelaksanaan Tindakan 1 →

Observasi 1 → Refleksi 1 →

Rencana Tindakan 2 →

Pelaksanaan Tindakan 2 →

Observasi 2 → Refleksi 2

Penelitian ini membutuhkan dua macam data,

yaitu data kualitatif yang berkenaan dengan

pelaksanaan pembelajaran, dan data kuantitatif

yaitu data hasil belajar mahasiswa. Oleh sebab itu

64


Syofni

Jurnal Pendidikan

Aktivasi multipel intelegensi melalui pendekatan

pembelajaran kontrutikvis

ada dua macam instrument pengumpul data

sebagai berikut

1.Tes, tes digunakan untuk mengetahui daya serap

mahasiswa terhadap materi ajar yang disajikan

pada pembelajaran. Ada dua tes yang dipakai pada

penelitian ini yaitu Tes 1 dan Tes 2 yang

dilaksanakan pada akhir siklus 1 dan siklus 2.

Bentuk tes yang digunakan adalah uraian,

sebab tes uraian ini dapat mengukur kemmpuan

kognitif tingkat tinggi mahasiswa, dapat

meningkatkan kemampuan berbahasa tulis, dapat

mengembangkan kemampuan pemecahan masalah,

dapat melihat secara langsung proses berfikir

mahasiswa serta dapat melatih kemampuan berfikir

teratur, yaitu berfikir logis, analitis dan sistematis.

Hal ini sesuai dengan mata kuliah Struktur Aljabar

yang merupakan mata kuliah lanjut yang

penekanan pada kemampuan berfikir logis, kritis

dan bernalar secara sistematis dalam

menyelesaikan masalah.

Lembaran Refleksi Pembelajaran (Lembar

Observasi) digunakan untuk menjaring pendapat

dan respon mahasiswa tentang pelaksanaan

pembelajaran yang akan digunakan untuk

merefleksi tindakan. Pendapat dan respon ditulis

secara individu pada Lembaran Refleksi

Pembelajaran. Untuk mengisi lembaran refleksi

pembelajaran ini mahasiswa diberikan panduan

secara lisan, yaitu dengan meminta bantuan

mahasiswa untuk menuliskan a). tingkat kesetujuan

nya tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan

disertai alasan yang jelas, b). kelemahankelemahan

yang ada pada pembelajaran, serta c).

saran perbaikan yang operasional atau yang dapat

dilaksanakan untuk memperbaiki proses

pembelajaran selanjutnya.

Rasional penggunaan lembaran refleksi

pembelajaran seperti ini adalah, 1). mahasiswa

adalah manusia dewasa yang mempunyai rasa

tanggung jawab terhadap pembelajarannya, 2)

mahasiswa yang merasakan pembelajaran yang

dilaksanakan, 3). Mahasiswa akan merasa dihargai,

jika pendapatnya digunakan dalam proses

perbaikan pembelajaran. Iskandar (2003)

menyatakan bahwa “Dalam Sistem Jaminan Mutu,

mahasiswa dilibatkan dalam pemantauan

berkelanjutan terhadap kegiatan akademik.

Mahasiswa akan ikut duduk sebagai anggota dalam

berbagai komisi atau kelompok koordinasi”.

Data yang sudah diperoleh melalui lembar

refleksi pembelajaran maupun hasil tes belajar (tes

1 dan tes 2), dianalisis secara analisis deskriptif.

Menurut Sugiyono (2007) statistik deskriptif

adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis

data dengan cara mendeskripsikan atau

menggambarkan data yang telah terkumpul

sebagaimana mestinya. Analisis Deskriptif pada

penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan

pembelajaran berdasarkan refleksi mahasiswa.

Data hasil belajar akan memperlihatkan

perkembangan atau peningkatan hasil belajar.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Untuk melihat keberhasilan tindakan, hasil

belajar dari dua kali tes, disajikan pada tabel

distribusi frekwensi berikut.

Tabel 1. Skor Tes Hasil Belajar dari Tes 1

(X 1 ) dan Tes 2 (X 2 )

No. X 1 X 2 X 2 - No. X 1 X 2 X 2 -

X 1

X 1

1 65 81 + 23 46 66 +

2 59 70 + 24 57 62 +

3 60 78 + 25 36 58 +

4 45 44 - 26 68 73 +

5 58 63 + 27 62 52 -

6 85 68 - 28 74 89 +

7 74 85 + 29 82 75 -

8 32 50 + 30 70 74 +

9 80 83 + 31 55 69 +

10 75 75 0 32 63 63 0

11 39 54 + 33 68 65 -

12 50 58 + 34 79 70 -

13 90 78 - 35 58 57 -

14 78 63 - 36 63 89 +

15 83 90 + 37 59 58 -

16 64 70 + 38 81 62 -

17 45 55 + 39 78 98 +

18 55 60 + 40 73 93 +

19 60 94 + 41 61 70 +

20 66 62 - 42 90 100 +

21 71 98 + 43 60 73 +

22 54 89 + - - - -

Berdasar kan sebaran skor yang diperoleh

mahasiswa seperti tabel 2 diatas, terdapat 28 orang

mahasiswa yang mengalami kenaikan skor dan 13

orang mahasiswa mengalami penurunan skor dan 2

orang dengan skor tetap

65


Syofni

Jurnal Pendidikan

Aktivasi multipel intelegensi melalui pendekatan

pembelajaran kontrutikvis

Tabel 2. Statistik Dasar Skor Tes 1( X 1 ) dan

Skor Tes 2 (X 2 )

No. Statistik X 1 X 2

1. Skor Tertinggi 90 100

2. Skor Terendah 32 44

3. Rata-rata 64,44 71,67

Tabel 3 diatas memperlihatkan bahwa skor

terendah, skor tetinggi dan rata-rata skor Tes 2

lebih tinggi dibandingkan dengan skor terendah,

skor tetinggi dan rata-rata skor pada Tes 1. Hal ini

juga merupakan indikasi perbaikan hasil belajar

mahasiswa dari siklus 1 ke siklus 2.

Jika data pada tabel 2 disajikan dalam bentuk

distribusi frekwensi, maka akan diperoleh tabel 4

berikut.

Tabel 3. Distribusi Frekwensi Skor Tes 1 dan

Skor Tes 2

No. Interval F 1 F 1 F 2 F 2 lebih

Skor

lebih

dari

dari

1. 29 --- 40 3 43 0 43

2. 41 --- 52 4 40 3 43

3. 53 --- 64 16 36 13 40

4. 65 --- 76 10 20 14 27

5. 77 --- 88 8 10 5 13

6. 89 --- 100 2 2 8 8

Tabel 3 diatas menunjukkan bahwa telah

terjadi peningkatan hasil belajar dari skor tes 1 ke

skor tes 2. Hal ini dapat dilihat bahwa pada interval

skor rendah ( 29 – 52) terjadi penurunan frekwensi

dari yaitu dari 7 orang menjadi 3 orang. Kalau

diperhatikan pada interval skor tinggi (77 – 100)

terjadi peningkatan frekwensi dari 10 menjadi 13

orang. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa terjadi

penurunan jumlah siswa yang berskor rendah

disertai dengan peningkatan jamlah siswa yang

berskor tinggi.

Refleksi pembelajaran oleh mahasiswa

dilakukan diakhir siklus 1. Hasil refleksi

mahasiswa terhadap pembelajaran dapat

dipaparkan sebagai berikut. Dari 43 orang

mahasiswa hanya 38 orang yang mengumpulkan

lembaran refleksi. Tiga puluh lima (35) orang

diantaranya menyatakan setuju, sangat setuju dan

bagus sekali pembelajaran yang dilakasanakan,

hanya tiga orang yang menyatakan kurang setuju.

Hampir semua mahasiswa mengatakan bahwa

pembelajaran pada siklus kedua lebih baik dari

pembelajaran pada siklus pertama.

Alasan yang diberikan oleh mahasiswa

menunjukkan bahwa mereka menyadari sekali

akan keterlibatan dan konstruktivis dalam

pembelajaran sangat penting dilakukan karena

dapat meningkatkan lebih banyak kecerdasan

(Multipel Intelegensi). Alasan yang diberikan

antara lain;1) Meningkatkan kesiapan belajar dan

tanggung jawab (Intelegensi Logis Matematic) 2).

Pembelajaran yang dilakukan dapat melatih

mahasiswa untuk lebih mandiri.(Intelegensi

Intrapersonal) 3). Belajar dengan serius dan

sungguh-sungguh, rajin dan aktif (Intelegensi

Intrapersonal)4). Meningkatkan interaksi

mahasiswa-mahasiswa dan mahasiswa dosen

(Intelegensi Interpersonal, Intelegensi Linguistik)

5). Melatih untuk berani tampil, yang akan sangat

bermanfaat untuk PPL(Intelegensi Linguistik) 6).

Mengurangi ketergantungan dengan dosen.

(Intelegensi Intrapersonal)7). Meningkatkan

pemahaman.( Intelegensi Logis Matematic)

Adapun kendala-kendala yang mereka

temui pada saat mengerjakan tugas konstruktivis

secara berkelompok dan mencoba menyampaikan

hasil diskusi didepan kelas adalah;a). Merasa

kurang percaya diri( ragu-ragu)dan kurang mampu

menguasai materi, b). Bahan ajar yang berbahasa

Inggris juga menjadi kendala, c). Adanya rasa

malas untuk berdiskusi sebelum pembelajaran

dikarenakan kurang biasa dan merasa terbebani, d).

Sebagian anggota kelompok kurang bertanggung

jawab, e)..Memakan waktu lebih lama,

f). Adanya kesan bahwa pertanyaan dari teman lain

dirasakan mempersulit danmenjatuhkan yang

sedang presentasi.

Berdasarkan kendala-kendala yang

dirasakan mahasiswa, maka mahasiswa juga

menyarankan beberapa hal sebagai berikut 1).

Membuat dan menggunakan bahan ajar yang

berbahasa Indonesia, 2) Membuat Lembar Kerja

Mahasiswa (LKM) sebagai panduan, 3).

Meningkatkan bimbingan dari dosen, 4).

Mahasiswa memperbaiki diri dengan berpikir

positif terhadap mahasiswa lain yang

menangggapi atau mengajukan pertanyaan, 5).

Mahasiswa meningkatkan kerja sama dan

keaktifan,6). Mahasiswa membagi waktu dengan

baik

Berdasarkan saran perbaikan dari mahasiswa

diatas, tiga saran pertama ditujukan untuk dosen

dan tiga berikutnya untuk dilaksanakan oleh

mahasiswa sendiri.

66


Syofni

Jurnal Pendidikan

Aktivasi multipel intelegensi melalui pendekatan

pembelajaran kontrutikvis

SIMPULAN

Berdasarkan informasi diatas dapat

disimpulkan bahwa, tindakan pada siklus 2

menghasilkan skor hasil belajar lebih baik dari

pada skor hasil belajar tindakan pada siklus 1.

Berikut adalah hal-hal yang dapat

disimpulkan dari refleksi pembelajaran oleh

mahasiswa.1. Hal-hal positif yang dirasakan

mahasiswa selama tindakan; dapat meningkatkan

kemandirian, keaktifan, kesiapan, interaksi

mahasiswa mahasiswa dan mahasiswa dosen,

melatih keberanian tampil dan mengemukakan

pendapat serta sangat menungjang untuk PPL. 2.

Adapun kendala yang dirasakan mahasiswa selama

proses tindakan diantaranya; merasa kurang

percaya diri( ragu-ragu) dan kurang mampu

menguasai materi, bahan ajar yang berbahasa

Inggris, malas untuk berdiskusi sebelum

pembelajaran dikarenakan kurang biasa, sebagian

anggota kelompok kurang bertanggung jawab,

butuh waktu lebih lama, adanya kesan bahwa

pertanyaan dari teman lain dirasakan mempersulit

dan menjatuhkan teman yang sedang presentasi,

maupun yang akan bertanya atau merespon. 3.

Saran perbaikan pembelajaran yang diungkapkan

mahasiswa adalah, membuat dan menggunakan

bahan ajar yang berbahasa Indonesia, membuat

Lembar Kerja Mahasiswa (LKM) sebagai panduan,

meningkatkan bimbingan dari dosen, mahasiswa

memperbaiki diri dengan berpikir positif terhadap

mahasiswa lain yang menanggapi atau mengajukan

pertanyaan, mahasiswa meningkatkan kerja sama

dan keaktifan, mahasiswa membagi waktu dengan

baik

DAFTAR PUSTAKA

Amstrong, T, Ter jemahan Yudhi Martono 2002.

Multiple Intellegences In The

Classroom: Sekolah Para Juara,

Menerapkan Multiple Intelegensi Dalam

Dunia Pendidikan, Kaifa, Bandung

Campbell, L,Campbell, B dan Dickinson, D. 2002,

Terjemahan Tim Inisiasi: Teaching and

LearningThrough Multiple intellegences:

Melesatkan Kecerdasan, Inisiasi Press,

Depok

Depdikbud, (1975). Filsafat Ilmu, Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan Universitas

Terbuka, Jakarta.

Hudoyo, Herman (1985). Pengaruh Cara

Penyampaian dan Jenis Kelamin

Terhadap Hasil Belajar. (Makalah).

Kozulin, A. (1995). Mediated Learning Experience

and Psychologist tools; Vygotsky”s and

Feuerstein”s perspectives in astudy of

student learning, Educational

Psychologist.

Maryunis, Aleks (2002). Action Research untuk

Peningkatan Mutu Pendidikan (Makalah

tidak diterbitkan).

Nur Mohamad dkk.(2000). Pengajaran berpusat

Kepada Mahasiswa dan Pendekatan

Konstruktivis dalam Pengajaran, Pusat

Studi Matematika dan IPA Sekolah

Universitas Negeri Surabaya.

Polya (1973), How to solve it.

Slamet, Margono (1999), Pembelajaran Bermutu di

Perguruan Tinggi, Direktorat Jenderal

Pendidikan Tinggi, Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

Sogog, W, 1999, Peningkatan Proses Pembelajaran

Matematika SMU dengan Pendekatan

Multiple Intelegensi. Majalah Ilmiah

Aneka Widya STKIP Singaraja

Soedijarto (1971) Faktor-Faktor yang

Mempengaruhi Kualitas Hasil Belajar

Pelajar Kelas Terakhir SD, Bandung.

Sudjana (1988), Desain dan Analisis Eksperimen,

Tarsito, Bandung.

Syofni (2000), Pengaruh Keterlibatan Mahasiswa

dalam Pemecahan Masalah Terhadap

Hasil Belajar Struktur Aljabar

Mahasiswa Program Studi Pendidikan

Matematika FKIP UNRI. (Laporan

Penelitian).

Wardani I.G.A.K (2003), Penelitian Tindakan

Kelas, Pusat Penerbitan Universitas

Terbuka.

67


PANDUAN UNTUK PENULIS

Tujuan dan Ruang Lingkup

Jurnal Pendidikan adalah suatu jurnal monodisipliner berskala nasional yang

mencakup berbagai pokok persoalan dalam kajian ilmu pendidikan. Secara khusus jurnal

pendidikan menaruh perhatian pada pokok-pokok persoalan tentang perkembangan ilmu

pendidikan dan keguruan serta pembangunan bidang pendidikan dan keguruan. Tujuan dari

jurnal pendidikan ini adalah menyebarluaskan pemikiran-pemikiran konseptual maupun hasilhasil

penelitian yang telah dicapai dalam bidang Pendidikan.

Penyerahan Naskah

Penulisan menyerahkan 3 (tiga) ekslemplar naskah disertai dengan file elektronik

dalam disket atau compact dist kepada: Redaksi Jurnal Pendidikan, Lembaga Penelitian

Universitas Riau Kampus Binawidya Simpang Panam Pekanbaru Telp. (0761)567093 Fax

(0761) 63279 Email: ur_jurnal_pendidikan@yahoo.com atau faizjis@yahoo.co.id. disertai

dengan surat pernyataan bahwa naskah belum pernah diterbitkan dan tidak sedang dalam

proses penerbitan pada jurnal lain. Setelah melewati proses review yang dilakukan oleh 2

penelaah, penulis diharuskan menyerahkan 1 (satu) eksemplar naskah yang telah direvisi oleh

penulis (naskah akhir), disertai file elektronik dalam disket atau campact disc.

Format Naskah

Artikel yang dimuat dalam jurnal ini dapat berupa kajian konseptual dan atau hasilhasil

penelitian pada disiplin ilmu pendidikan. Secara umum, sistematika artikel terdiri atas

pendahuluan /introduksi yang menguraikan latar belakang dan permasalahan yang dikaji

yang ditunjang oleh referensi yang relevan, metode, hasil, dan pembahasan, dan

simpulan/rekomendasi. Pada kajian yang bersifat konseptual, bagian metodologi dapat

ditiadakan bila dianggap tidak perlu.

Naskah ditulis pada kertas berukuran A4 , dengan panjang tulisan maksimal 20

halaman berspasi ganda, termasuk daftar pustaka, tabel, dan lampiran. Setiap halaman

memiliki batas kiri-kanan dan atas-bawah 3 cm. Naskah ditulis dengan menggunakan bahasa

Indonesia yang baik dan benar. Naskah juga dapat ditulis dalam bahasa Inggris.

Naskah dimulai dengan halaman pertama yang memuat:

- Judul singkat ( running head). Penulis diminta untuk membuat judul singkat.

- Judul lengkap (dalam bahasa Indonesia dan Inggris)

- Nama penulis, afiliasi dan alamat korespondensi (mis.E-mail)

Abstrak

- Abstrak dalam bahasa Indonesia, tidak lebih dari 250 kata. Absrak mencakup

permasalahan , metode , dan temuan serta kesimpulan

- Abstrak dalam bahasa Iinggris, tidak lebih dari 200 kata.

Kata Kunci

- Tuliskan maksimal 5 kata-kata kunci (key words)

Gambar dan Tabel

- Untuk kepentingan penyuntingan, gambar dan tabel disertakan secara terpisah dari

badan karangan (tidak dimasukan ke dalam teks). Dalam hal ini, penulis

menunjukkan di mana gambar dan atau tabel harus diletakkan pada badan karangan.

- Gambar yang akan ditampilkan dalam jurnal adalah gambar hitam-putih. Bila

menginginkan, penulis dapat menyertakan gamabar berwarna, namun penulis akan

dikenai biaya percetakan gambar berwarna tersebut.

- Gambar dalam bentuk file elektronik, diharapkan ditulis di dalam MS Power Point

atau dengan format.JPG

- Gambar dan tabel diberi nomor sebagai berikut : Gambar 1, Gambar 2 dan

seterusnya. Tabel 1, Tabel 2, dan seterusnya.

- Gambar dan Tabel yang substansinya sama, ditampilkan salah satu.

- Tabel berbentuk pivot table.

Penulisan sub judul (heading) pada setiap bagian

2


- Subjudul tingkat pertama semuanya dicetak tebal ditulis dengan huruf kapital,

misalnya: PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MELALUI METODE

SIMULASI.

- Subjudul tingkat kedua, semuanya dicetak tebal dan ditulis dengan huruf kecil,

kecuali huruf pertama dari setiap kata, misalnya: Faktor-faktor yang

Mempengaruhi Hasil Belajar

- Subjudul tingkat ketiga, semuanya ditulis dengan huruf miring dan huruf kecil

kecuali huruf pertama dari setiap kata, misalnya: Faktor Tingkat Kecerdasan Siswa

Ucapan Terimakasih

- Penulis dapat menuliskan ucapan terimakasih kepada individu, lembaga pemberi dana

penelitian dan sebagainya. Ucapan terimakasih ditulis sebelum Daftar Pustaka.

Daftar Pustaka

Kepustakaan yang dicantumkan dalam daftar pustaka hanya kepustakaan yang dikutip

atau yang dijadikan rujukan dan ditulis dalam teks. Penulisan rujukan dalam badan karangan

dilakukan sebagai berikut:

- Apabila terdiri dari satu orang penulis, ditulis sebagai berikut: McNeely (2010) atau

(McNeely, 2010).

- Apabial terdiri dari 2 orang penulis, ditulis sebagai berikut: McNeely & McCurdy

(2010) atau ( McNeely & McCurdy, 2010).

- Apabila terdiri dari tiga orang penulis atau lebih, ditulis sebagai berikut: McNeely et

all. (2010) atau (McNeely et all, 2010). Kata/ istilah et al., hanya digunakan untuk

referensi berbahasa asing. Untuk referensi berbahasa Indonesia digunakan istilah

dkk., misalnya Suparman, dkk. (2010).

Penusisan daftar pustaka dilakukan sebagai berikut:

Sumber Buku:

- Strahler, A.N. (1957). Physical geography. New York: Wiley.

- Farrington, J., Turton, C., & James, A.J. (Eds.). (1999). Participatory wareshed

development: Challenges for the twenty–first century. New Delhi: Oxford University

Press.

- Shaxson, T. F. (2000). People’s invovement in watershed management: Lessons from

working among resource-poor farmers. In R.Lal (Ed.), Intergated watershed

management in the global ecosystem (pp.345 – 363). Boca Raton, FL :CRC Press.

- Van Noordwijk, M., van Roode, M., McCallie, E.L., & Lusiana, B.(1998). Erosion

and sedimentation as multiscale, fractal processes: Implications for models,

eksperiments and the real world. In F.W.T. Penning de Vries, F. Agus , & J. Kerr

(Eds.), Soil erosion at multiple scales (pp. 223–253). New York: CAB International.

Sumber Jurnal:

- Tomich, T.P., Fagi, A. M., de Foresta, H. Michon, G., Michon, G., Murdiyarso, D.,

Stolle, F., & Van Nooordwijk, M. (1988). Indonesia’s fires:smoke as a problem,

smoke as a symptom. Agroforestry Today, 10(1), 4-7.

Sumber Prosiding Seminar:

- Fay, C., de Foresta, H, & Sirait, M. (1998). Progress towards recognizing the rights

and management potensials of local communities in Indonesian state-defined forest

area. Peper presented at the workshop of participatory natural resource management

in developing countries, Mansfield College, Oxford, April 6-7.

Sumber Internet

- Knox McCulloch, A., Meinzen-Dick, R., & Hazell, P. (1998). Property rights,

collective action and technologies for natural resource management: A conceptual

framework. CAPRi Working Paper No. 1. Washington DC, USA: International Food

Policy Research Institute. http://www. Capri.cgiar.org/pdf/capriwp01.pdf.

Sumber Disertasi/Thesis:

- Zandbergen, P. (1998). Urban watershed assesment: Linking watershed healt

indicator to mangement. Ph.D. Thesis. Resource Management and Environmetal

Studies, University of British Columbia, Vancaouver.

2


Satuan, singkatan, nomenklatur, dan lambing:

- Satuan dan singkatan menggunakan sistem SI ( System International)

- Nomenklatur nama ilmiah tumbuhan dan hewan ditulis lengkap dengan nama authornya.

Nama ilmiah sesuai dengan aturan nomenklatur harus digunakan nama

penulisnya yang pertama kali, selanjutnya dapat disingkat sesuai dengan aturan yang

berlaku dan atau menggunakan nama daerah.

- Penggunaan lambang ditulis sebagai berikut: contoh, lambang alpha ditulis dengan

bukan dengan huruf a.

2


KONTRUBUSI PENULIS ARTIKEL

Perlu kami informasikan, bahwa setiap artikel yang dimuat pada Jurnal Pendidikan terhitung

sejak penerbitan Vol.1, No.1, April 2010 dikenakan biaya sebesar

Rp. 200.000,00 (dua ratus ribu rupiah) bagi penulis artikel.

Penulis atau Penulis Utama artikel (untuk setiap judul) akan mendapatkan jurnal sebanyak

3(tiga) buah

Kampus Binawidya Simpang Panam Pekanbaru

Telp. (0761)567093

Fax (0761) 63279

Email: ur_jurnal_pendidikan@yahoo.com

ATAS PERHATIAN DAN KERJA SAMANYA,

KAMI UCAPKAN TERIMAKASIH

2

More magazines by this user
Similar magazines