Millennium Development Goals - UNDP

undp.or.id

Millennium Development Goals - UNDP

Millennium Development GoalsMEMBERANTAS KEMISKINANDAN KELAPARAN EKSTREMMEWUJUDKAN PENDIDIKANDASAR UNTUK SEMUAMENDORONG KESETARAAN GENDERDAN PEMBERDAYAAN PEREMPUANMENURUNKAN ANGKAKEMATIAN ANAKMENINGKATKAN KESEHATAN IBUMEMERANGI HIV DAN AIDS,MALARIA SERTA PENYAKIT LAINNYAMEMASTIKAN KELESTARIANLINGKUNGANPROMOTE GLOBAL PARTNERSHIPFOR DEVELOPMENT


Kita Suarakan MDGs Demi Pencapaiannya di IndonesiaLaporan ini adalah hasil konsultasi luas yang melibatkan Pemerintah, Kelompok Kerja Tematis MDGs, Organisasi MasyarakatSipil, Lembaga-lembaga PBB di Indonesia, media dan sektor swasta. Penyusunan Laporan ini memperolah dukungan teknisdan nansial dari Proyek TARGET MDGs – sebuah inisiatif bersama BAPPENAS dan UNDP dalam upaya pencapaian MDGs diIndonesia.Penulis: Peter StalkerMasukan Teknis: Kelompok Kerja Tematis MDGsTim Penyunting: Abdurrahman Syebubakar, Dr. Ivan Hadar, Dr. La Ega, Owais Parray, Riana Hutahayan dan Susilo Ady KuncoroDukungan Data dan Statistik: Badan Pusat Statistik (BPS)Desain dan Tata Letak: Anggoro Santoso Edy Widayat, Susilo Ady Kuncoro, Dwiati Novita RiniCetakan Kedua: Oktober 2008


MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONALSambutanDi penghujung abad lalu, Indonesia mengalami perubahan besar yaitu proses reformasi ekonomi dan demokratisasi dalam bidangpolitik. Tidak begitu lama kemudian, tepatnya pada tahun 2000, para pimpinan dunia bertemu di New York dan menandatangani“Deklarasi Milennium” yang berisi komitmen untuk mempercepat pembangunan manusia dan pemberantasan kemiskinan.Komitmen tersebut diterjemahkan menjadi beberapa tujuan dan target yang dikenal sebagai Millennium Development Goals(MDGs). Pencapaian sasaran MDGs menjadi salah satu prioritas utama bangsa Indonesia. Pencapaian tujuan dan target tersebutbukanlah semata-mata tugas pemerintah tetapi merupakan tugas seluruh komponen bangsa. Sehingga pencapaian tujuan dantarget MDGs harus menjadi pembahasan seluruh masyarakat.Untuk membantu terlaksananya proses ini, laporan pencapaian MDG dalam versi pendek ini ditulis dengan gaya bahasa informalyang dapat dipahami secara lebih mudah. Meskipun pendek dan hanya menyentuh secara singkat tujuan dan target MDGs,diharapkan pembaca akan mendapatkan gambaran mengenai tantangan yang dihadapi Indonesia dalam sasaran MDGs.Di negara yang sangat luas dan beragam seperti Indonesia, pengumpulan data merupakan pekerjaan yang sulit dilakukan.Meskipun data-data yang ditampilkan dalam laporan ini dapat menggambarkan pencapaian di tingkat nasional, dan dalambeberapa aspek mencapai juga di tingkat provinsi, namun belum menggambarkan capaian pada tingkat kabupaten. Padahal,banyak dari keputusan terpenting yang dapat mempengaruhi kemajuan pencapaian MDGs diambil pada tingkat kabupaten.Karena itu, laporan ini diharapkan bisa membantu memperkenalkan latar belakang MDGs kepada pembaca yang lebih luas,terutama para pengambil keputusan di tingkat daerah.Untuk beberapa tujuan, diantaranya kemiskinan, pendidikan, kesehatan dan perlindungan terhadap lingkungan, Indonesiabersama negara-negara lainnya, menetapkan target-target yang ambisius namun sangat mungkin untuk dicapai. Kebanyakan daritarget tersebut mesti dicapai pada 2015. Oleh karena itu, tahun 2008 menjadi penting, karena tahun ini adalah pertengahandari target 2015. Melihat pencapaian sampai saat ini, Indonesia sepatutnya berbangga hati.Kita telah secara nyata mengurangi kemiskinan, dan hampir semua anak laki-laki dan perempuan dapat masuk ke sekolah dasar.Tetapi masih menuntut kerja keras dalam bidang yang lain. Tingginya angka kematian ibu melahirkan dan belum cukup usahakita untuk melindungi lingkungan merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara sungguh-sungguh. Walaupun kitasudah mencapai banyak kemajuan, tetapi masih diperlukan kerja keras untuk mencapai semua sasaran MDGs.Akhir kata, saya berharap laporan ini dapat membantu kita dalam memperkuat komitmen dan menentukan prioritas di antaraseluruh pemangku kepentingan untuk bekerja bersama mencapai MDGs, baik di tingkat lokal maupun nasional.Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan NasionalH. Paskah Suzettai


Sambutan dari United Nations Resident Coordinator di IndonesiaMerupakan sebuah kehormatan bagi saya untuk menulis pengantar singkat tentang laporan MDGs 2008, berjudul “Mari KitaSuarakan MDGs”. Setelah direvisi dan diperbaharui, laporan ini memuat kecenderungan dan capaian terkini MDGs di Indonesia.Laporan ini diterbitkan tepat waktu ketika dunia menghadapi ketidakpastian ekonomi yang ditandai oleh tingginya harga bahanbakar dan makanan serta ketidaksatabilan sistem nansial. Dalam era globalisasi, kondisi seperti ini akan berpengaruh terhadapbanyak negara yang sedang berusaha mencapai MDGs.Seperti ditumjukkan laporan ini, kita boleh optimis bahwa Indonesia akan mencapai banyak target MDG di tingkat nasional.Namun, hal yang sama tidak berlaku bagi propinsi dan kabupaten miskin yang dalam banyak hal pencapaiannya masih tertinggal.Selain itu, untuk beberapa target terkait nutrisi anak, kesehatan ibu, dan akses terhadap air bersih, termasuk secara nasional,masih belum menunjukkan kemajuan yang memuaskan.Kita pun sadar bahwa kemajuan pencapaian MDGs saat ini bukanlah jaminan bagi kemajuan pencapaian di masa depan.Laporan ini memberi penekanan pada hal tersebut sekaligus mengajak seluruh komponen bangsa untuk melakukan aksi bagipencapaian MDG. Sebagai Negara yang sangat luas, dengan beragam budaya serta tingkat pembangunan yang berbeda,kebijakan dan aksi pemerintah daerah akan menjadi kunci keberhasilan pencapaian tujuan global ini baik di tingkat nasionaldan di tingkat lokal.Ditulis dengan gaya populer, dan memiliki pesan yang jelas sebagai pemicu untuk bertindak, laporan ini bertujuan menyebarluaskanisu-isu kebijakan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencapaian MDGs bagi peningkatan kualitas hidupmasyarakat.Anggaplah laporan ini sebagai “peringatan” bagi kita semua untuk bekerja dengan memanfaatkan sumber daya yang adasemaksimal mungkin. Berbagai lembaga PBB berkomitmen sebagai “Sebuah Kesatuan” (One UN) mendukung pemerintahdalam berbagai bidang stategis untuk pembangunan Indonesia. Saya menyambut baik upaya Pemerinah Indonesia yang telahmemulai proses penyusunan Peta Jalan MDG (MDG Road Map) yang akan mejadi pedoman kebijakan strategis tidak hanya bagiIndonesia, tetapi juga bagi PBB dan lembaga internasional lainnya untuk berpartisipasi mendukung pencapaian MDGs secaralebih efektif.Kepala Perwakilan PBB - IndonesiaEl-Mostafa Benlamlihii


DAFTAR ISISambutan dari Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/ Kepala BAPPENASiSambutan dari Resident Coordinator PBB di IndonesiaiiDaftar IsiiiiDaftar GambarivDaftar SingkatanvPosisi Kita Sekarang: Status Pencapaian MDGs IndonesiaviBincang-Bincang tentang MDGs 1TUJUAN 1: Memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrem 4TUJUAN 2: Mewujudkan pendidikan dasar untuk semua 10TUJUAN 3: Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan 15TUJUAN 4: Menurunkan angka kematian anak 18TUJUAN 5: Meningkatkan kesehatan ibu 20TUJUAN 6: Memerangi HIV dan AIDS, malaria serta penyakit lainnya 23TUJUAN 7: Memastikan kelestarian lingkungan 28TUJUAN 8: Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan 35TUJUAN 9: Meng-Indonesiakan MDGs 39Catatan dan Referensi 41iii


DAFTAR GAMBARGambar 1.1 Proporsi Masyarakat Miskin berdasarkan Propinsi, 2008 5Gambar 1.2 Angka Kemiskinan Nasional, 1990-2008 6Gambar 1.3 Angka Kemiskinan 1 Dollar-per hari 6Gambar 1.4 Angka Pengangguran Penduduk berusia 15-24 Tahun 7Gambar 1.5 Kekurangan Gizi pada Anak di bawah Lima Tahun 8Gambar 1.6 Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi kurang dari Keperluan Konsumsi Harian 8Gambar 2.1 Angka Partisipasi di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama 10Gambar 2.2 Tingkat Putus Sekolah pada Murid yang masuk Sekolah Dasar pada 1999 11Gambar 2.3 Proporsi Kelulusan Anak-anak yang Memasuki Sekolah Dasar 11Gambar 2.4 Biaya-biaya Pribadi untuk Pendidikan yang harus dipikul 40% Rumah Tangga Paling Miskin 11Gambar 2.5 Angka Partisipasi Murni di Sekolah Menengah Pertama per Propinsi, 2006 12Gambar 3.1 Rasio antara Anak Perempuan dan Anak Laki-laki di berbagai Jenjang Pendidikan 15Gambar 3.2 Proporsi Anak Perempuan dan Anak Laki-Laki di Sekolah-sekolah Lanjutan Kejuruan, 2002/03 16Gambar 3.3 Sumbangan Perempuan dalam Kerja Berupah di Sektor Non-Pertanian 16Gambar 4.1 Laju Angka Kematian Bayi dan Balita 18Gambar 5.1 Rasio Kematian Ibu 20Gambar 5.2 Proporsi Kelahiran yang Dibantu oleh Tenaga Persalinan Terlatih 21Gambar 7.1 Kategori “Kawasan Hutan” dan Cakupan Hutan yang Sesungguhnya, 2006 28Gambar 7.2 Akses terhadap Sumber Air yang Terlindungi menurut Propinsi, 2006 31Gambar 7.3 Akses terhadap Sumber Air yang Terlindungi, Perkotaan dan Pedesaan 31Gambar 7.4 Proporsi Penduduk yang memiliki Akses Terhadap Fasilitas-Fasilitas Sanitasi yang Aman 32Gambar 8.1 Bantuan sebagai Proporsi dalam Pengeluaran untuk Pembangunan, 1990-2004 37Gambar 8.2 Utang Pemerintah 1996-2006 38Gambar 9.1 Penyebaran Anggaran Pemerintah 39iv


DAFTAR SINGKATANAIDSAKBAKBaAPBNAPKAPMASBappenasBLTBPSBOSCFCCGICO2DepkesDOTSDPRESDMFAOHIVIMFKLBKPALSMMDGsNAPZANTBNTTODAODHAPBBPDAMPenasunPosyanduPSKPuskesmasSakernasSDSDKISKRTSMASMPTBCUNDPUNESCOUNICEFWHOWTO: Acquired Immunode ciency Syndrome: Angka Kematian Bayi: Angka Kematian Balita: Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara: Angka Partisipasi Kasar: Angka Partisipasi Murni: Amerika Serikat: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional: Bantuan Langsung Tunai: Badan Pusat Statistik: Bantuan Operasional Sekolah: Chloro uorocarbons: Consultative Group on Indonesia: Karbon dioksida: Departemen Kesehatan: Directly-Observed Treatment Short-course: Dewan Perwakilan Rakyat: Energi dan Sumberdaya Mineral: Food and Agricultural Organisation: Human Immunode ciency Virus: International Monetary Funds: Kejadian Luar Biasa: Komisi Penanggulangan AIDS Nasional: Lembaga Swadaya Masyarakat: Millennium Development Goals: Narkotika, Psikotropika dan Zat Aditif Lainnya: Nusa Tenggara Barat: Nusa Tenggara Timur: Of cial Development Assistance: Orang Dengan HIV dan AIDS: Perserikatan Bangsa-Bangsa: Perusahaan Daerah Air Minum: Pengguna NAPZA Suntik: Pos Pelayanan Terpadu: Pekerja Seks Komersial: Pusat Kesehatan Masyarakat: Survey Angkatan Kerja Nasional: Sekolah Dasar: Survey Demogra dan Kesehatan Indonesia: Survey Kesehatan Rumah Tangga: Sekolah Menengah Atas: Sekolah Menengah Pertama: Tuberculosis: United Nations Development Programme: United Nations Educational, Scienti c and Cultural Organization: United Nations Children’s Fund: World Health Organization: World Trade Organizationv


POSISI KITA SEKARANGINDIKATOR 1990 SAAT INI TARGET STATUSTUJUAN 1: MENANGGULANGI KEMISKINAN DAN KELAPARANTarget 1A: Menurunkan hingga setengahnya Proporsi Penduduk dengan Tingkat Pendapatan Kurang dari US$ 1 perhari1 Kemiskinan (1$ per-hari) 20,6% 7,5% 10% Telah tercapai1.1a Kemiskinan (Nasional) 15,1 % 15,4% 7,5% Perlu kerja keras1.1b Kemiskinan (2$ per-hari) 49,0% Tinggi1.2 Indeks kedalaman kemiskinan 2,7% 2,77% Stagnan1.2a Indeks keparahan kemiskinan 0,76% Stagnan1.3 Proporsi konsumsi penduduk termiskin 9,3% 9,7% StagnanTarget 1B: Meneydiakan seutuhnya Pekerjaan yang produktif dan layak, terutama untuk perempuan dan kaum muda1.4 Pertumbuhan PDB per proporsi jumlah pekerja 4,3%1.5 Rasio pekerja terhadap populasi 67,3%1.6 Proporsi pekerja yang hidup dengan kurang dari $1 per-hari 8,2%1.7Proporsi Pekerja yang memiliki rekening pribadi dan anggota keluarga bekerjaterhadap jumlah pekerja total62% Perlu kerja kerasTarget 1C: Menurunkan hingga setengahnya Proporsi Penduduk yang Menderita Kelaparan1.8 Malnutrisi Anak 35,5% 28,7% 18% Perlu kerja keras1.9 Kecukupan konsumsi kalori 9% 6% 5% Sesuai TargetTUJUAN 2: MENCAPAI PENDIDIKAN UNTUK SEMUATarget 2A: Menjamin pada 2015 semua anak dimanapun, laki-laki maupun perempuan dapat menyelesaikan pendidikan dasar2.1 Partisipasi ditingkat SD (APM) 88,7% 94,7% 100% Sesuai Target2.1a Partisipasi ditingkat SMP (APM) 41,9% 66,5% 100% Sesuai Target2.2 Proporsi Murid yang bersekolah hingga kelas 5 75,6% 81,0% 100% Sesuai Target2.2a Proporsi Murid yang tamat SD 62,0% 74,7% 100% Sesuai Target2.3 Melek Huruf Usia 15-24 96,6% 99,4% 100% Sesuai TargetTUJUAN 3: MENDORONG KESETARAAN GENDER DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUANTarget 3A: Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan tahun 2005, dan disemua jenjang sebelum 20153.1a Rasio Anak perempuan di Sekolah Dasar 100,6% 100,0% 100% Telah tercapai3.1b Rasio Anak perempuan di Sekolah Menengah Pertama 101,3% 99,4% 100% Sesuai Target3.1c Rasio Anak perempuan di Sekolah Menengah Atas 98,0% 100,0% 100% Telah tercapai3.1d Rasio Anak perempuan di Perguruan Tinggi 85,1% 102,5% 100% Telah tercapai3.2 Rasio melek huruf Perempuan usia 15-24 Thn 97,9% 99,9% 100% Sesuai Target3.2 Kontribusi Perempuan dalam Pekerjaan Upahan 29,2% 33% 50% Perlu kerja keras3.3 Perempuan di DPR 12,5% 11,3%TUJUAN 4: MENGURANGI KEMATIAN ANAKTarget 4.A: Menurunkan Angka Kematian Balita sebesar dua-per-tiganya antara 1990 dan 20154.1 Tingkat Kematian Anak (1-5 tahun)/per 1,000 81 44 32 Sesuai Target4.2 Tingkat Kematian Bayi (per 1,000) 57 34 19 Sesuai Target4.3 Tingkat Imunisasi Campak - Usia 12 Bulan 44,5% 72%4.3a Tingkat Imunisasi Campak - Usia 12 - 23 Bulan 57,5% 76,4%TUJUAN 5: MENINGKATKAN KESEHATAN IBUTarget 5A: Menurunkan Angka Kematian Ibu sebesar tiga-per-empatnya antara 1990 dan 20155.1 Tingkat Kematian Ibu (Per 100.000) 390 307 110 Perlu Kerja keras5.2 Kelahiran yang dibantu tenaga terlatih 40,7% 73%Target 5B: Mencapai dan menyediakan akses kesehatan reproduksi untuk semua pada 20155.3 Wanita menikah usia 15-49 yang menggunakan Alat KB 50,5% 61,0%5.4 Tingkat Kelahiran Usia Muda (per 1000 perempuan usia 15-19)setidaknya satu kali berkunjung ke fasilitas kesehatan 93,3%vi


INDIKATOR 1990 SAAT INI TARGET STATUSsetidaknya empat kali berkunjung ke fasilitas kesehatan5.6 Kebutuhan KB yang tidak terpenuhi 9,1%TUJUAN 6: MEMERANGI HIV/AIDS DAN PENYAKIT MENULAR LAINNYATarget 6A: Mengendalikan Penyebaran HIV/AIDS dan mulai menurunkan kasus baru pada 20156.1 Prevalensi HIV dan AIDS (per 100.000) 5,66.2 Penggunaan Kondom pada Hubungan Seks Resiko Tinggi 59,7%6.2a Penggunaan Kondom sebagai alat Kontrasepsi 1,3% 1,3%6.3aPersentase Populasi usia 12-24 Tahun yang memiliki pengetahuankomprehensif tentang HIV/AIDSLaki-laki 67,3%Perempuan 66,0%Rasio murid yatim dan/atau piatu terhadap non yatim/piatu berusia 10-146.4tahunTarget 6B: Terseianya akses universal untuk perawatn terhadap HIV/AIDS bagi yang memerlukan, pada 20106.5Proporsi populasi dengan tingkat penyebaran HIV tinggi terhadap aksesdengan obat antiretroviralTarget 6C: Mengendalikan Penyakit Malaria dan muali menurunnya kasus Malria dan Penyakit lainnya tahun 20156.6 Kasus Malaria (Per 1,000) 8,56.6a Jawa dan Bali (Per 1,000) 28,06 18,96.6b Luar Jawa dan Bali (Per 1,000) 0,21 0,156.9 Prevalensi TBC (Per 100,000) 786 2626.10a Angka Penemuan Kasus 76%6.10b Kesembuhan dengan DOTS 90% 91%MelawanpenyebaranPerlu Kerja kerasTUJUAN 7: MEMASTIKAN KELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUPTarget 7A: Memadukan Prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan program nasional serta mengembalikan sumberdaya yang hilangTarget 7B: Mengurangi laju hilangnya keragaman hayati, dan mencapai pengurangan yang signikan pada 20107.1 Kawasan tertutup hutan 60,0% 49,9%7.2 Emisi CO2 2.536 kg/kapita1.34 metric ton/KapitaMengurangiRasio Penggunaan Energi terhadap PDB 1,595,3 kg minyak-eq/1,000 $7.3 Konsumsi CFC - Pengurangan Ozon 7.815 6.544 Mengurangi7.4 Proporsi Persediaan Ikan dalam batasan biologis yang aman7.5 Proporsi dari Sumberdaya Perairan yang digunakan7.6a Kawasan Perlindungan Daratan 26,4% 29,5%7.6b Kawasan Perlindungan Laut 11%7.7 Proporsi jumlah spesies yang terancam punahTarget 7C: Menurunkan hingga separuhnya proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada 20157.8 Proporsi Penduduk terhadap Air Bersih 38,2% 57,2% 67% Sesuai Target7.8a Air Minum Perpipaan Kota 30,8% 67,7% Perlu usaha keras7.8b Air Minum Perpipaan Desa 9,0% 52,8% Perlu usaha keras7.8c Sumber Air terlindungi - Perkotaan 87,6% 76,1% Telah tercapai7.8d Sumber Air terlindungi - Perdesaan 52,1% 65,5% Sesuai Target7.9 Sanitasi yang baik 30,9% 69,3% 65,5% Telah tercapai7.9a Rumah Tangga di Perkotaan 81,8% 78,8% Telah tercapai7.9b Rumah Tangga di Perdesaan 60,0% 59,6% Telah tercapaiTarget 7D: Memperbaiki kehidupan penduduk miskin yang hidup di pemukiman kumuh pada 20207.10 Proporsi Masyarakat Urban yang tinggal di kawasan Kumuh7.10a Proporsi kepastian kepemilikan lahan 87,7% 84,0% Sesuai Targetvii


BINCANG-BINCANG TENTANG MDGsApa yang anda inginkan untuk masa depan? Bagianda, jawabannya mungkin keluarga yang sehatdan bahagia, juga pendidikan bermutu bagi anakanak.Selain itu, anda tentu saja berharap mampumenyediakan sandang dan pangan berkecukupanserta memiliki rumah idaman. Anda pun dipastikanmendambakan kebebasan, yaitu hidup dalamsebuah negeri bernama Indonesia yang demokratis,di mana kebebasan untuk mengungkapkanpendapat dan mengatur kehidupan, dijamin olehundang-undang.Bukankah itu yang diinginkan semuaorang?Rasanya ya. Menggembirakan bahwa saat inisemakin banyak orang Indonesia menjadi lebihmakmur. Dibandingkan sekitar 60 tahun laluketika Republik ini didirikan kita telah mengalamikemajuan pesat. Kita menjadi lebih kaya denganrata-rata penghasilan lima kali lipat penghasilansaat itu.Tapi, saya tidak merasa sekaya ituBoleh jadi tidak. Ini hanyalah ukuran rata-rata.Sebagian dari kita memang lebih beruntungdibandingkan yang lain. Namun, saat ini, sudahlebih banyak orang yang menjadi semakinsejahtera. Bukan sekedar dari ukuran penghasilan.Coba perhatikan berbagai kemajuan di sekitaranda. Kini tersedia lebih banyak jalan, sekolah,pusat kesehatan dan tempat-tempat hiburan.Juga semakin banyak polusi, kebisingan,dan korupsiMemang tidak semuanya menjadi lebih baik.Terkadang, situasinya malah memburuk. Mungkinsaja anda kehilangan pekerjaan, anak anda jatuhsakit atau rumah yang dilanda banjir. Situasipun bisa berubah menjadi buruk bagi negarasecara keseluruhan. Sepuluh tahun lalu, misalnya,terjadi krisis moneter. Tiba-tiba banyak yang jatuhmiskin. Meskipun demikian, dalam menapakiperiode panjang sejak kemerdekaan, nampaknyaIndonesia telah menuju arah yang tepat, terlihatdengan capaian ‘pembangunan manusia’berupa peningkatan penghasilan dan perbaikanpendidikan. Orang Indonesia saat ini pun, hiduplebih lama dan lebih sehat.Bila berhasil, mengapa Indonesia masihmiskin?Sebenarnya, Indonesia sudah dikategorikansebagai negara “berpenghasilan menengah”. Halini dikarenakan penghasilan masyarakat Indonesiaberdasarkan Gross National Index (GNI), yangdihitung dari nilai pasar total dari barang dan jasayang dihasilkan oleh suatu negara dalam periodetertentu, penghasilan per kapita Indonesia tahun2007 adalah $ 1.650. Nilai ini setara dengan Rp.1.250.000 per bulan. Jika dibandingkan dengannegara lain, Indonesia masuk urutan ke-142 dari209 negara di dunia (World Bank GNI, 2008).Urutan ke-142? Kedengarannya tidakterlalu bagus.Akan lebih baik kalau Indonesia di urutan yanglebih tinggi. Namun urutan tidak terlalu penting.Terkadang ada negara yang berkembang cepat,sementara yang lain lebih lambat. Namun,yang perlu dicermati adalah apa yang terjadi diIndonesia. Apakah semakin banyak penduduknyakeluar dari kemiskinan? Lalu, semakin banyakkahyang mampu membaca dan menulis? Atau, apakahsemakin banyak anak yang diimunisasi sehingga1


kebal campak, cacar air atau polio? Selanjutnya,apakah rata-rata kita berumur lebih panjang?Jawabannya?Ya, dibandingkan 60 tahun lalu. Mereka yang lahirtahun 1960an rata-rata hanya punya harapanhidup 41 tahun. Namun anak-anak kita yang lahirpada 2007, bisa berharap untuk hidup sepanjang68 tahun. Dulu, pada tahun 1960an, hanya sekitar30% penduduk yang melek huruf. Kini, hampirsemua remaja yang memasuki usia dewasa, palingtidak memiliki ketrampilan dasar baca tulis. Namuntentu saja masih banyak yang harus dilakukan.Jutaan penduduk masih hidup dalam kemiskinan.Sekitar seperempat dari anak-anak Indonesia punmasih kekurangan gizi. Juga terlalu banyak sekolahdi negara ini yang kekurangan buku, peralatan atauguru yang kompeten. Indonesia pun masih tetapsebuah negara berkembang dan masih butuhwaktu untuk mencapai standar-standar yang telahdicapai banyak negara kaya.Berapa lama lagi?Tergantung bidangnya. Bagi pemerintah, biasanyalebih mudah memperbaiki bidang pendidikanketimbang kesehatan. Kemajuan dalam bidangpendidikan, umumnya berkat sekolah. Sementaraperbaikan di bidang kesehatan, diperlukan lebihdari sekedar pelayanan yang efektif. Faktor lain,seperti apakah seseorang merokok, atau apakahia memiliki pola makan baik, berperan cukupsigni kan. Meskipun demikian, apapun bidangnya,sangat mungkin untuk menetapkan target danmengupayakan pencapainnya. Misalnya, kitadapat menetapkan target bahwa setiap orangbisa mendapatkan air minum yang bersih padatahun tertentu. Begitu pula dalam pemberantasanmalaria, demam berdarah atau mengatasibanjir dan kemacetan. Tentu saja, ada hal yangpencapaiannya memerlukan waktu lebih lamadibandingkan yang lain.Siapa yang menetapkan target-targettersebut?Bisa siapa saja. Anda, misalnya, dapat menetapkantarget untuk komunitas, sekolah, atau puskesmasdi sekitar anda. Begitu pula pemerintah daerahdapat menetapkan target pembangunan pusatkesehatan baru, atau ruang kelas sekolah.Pemerintah Pusat juga dapat melakukan halyang sama. Sebenarnya, selama ini keduanyamelakukan hal tersebut. Sebagai contoh, adatarget untuk mewujudkan pendidikan dasar 9tahun pada 2009. Dan hal yang sama juga terjadidi tingkat global, khususnya melalui kesepakataninternasional. Sejak sekitar 20 tahun terakhir telahbanyak pertemuan internasional di mana Indonesiabergabung dengan negara-negara di dunia untukmenetapkan target global terkait produksi pangan,“pendidikan untuk semua” serta pemberantasanpenyakit seperti malaria dan HIV/AIDS. Boleh jadi,anda belum pernah mendengarnya, namun masihbanyak target yang sepantasnya menjadi sasaranbersama masyarakat dunia.Baiklah, tapi apa urusan saya denganberbagai hal tersebut?Mungkin, anda merasa semua itu bukan urusananda. Sementara negara negara anggota PBB,termasuk Indonesia, berupaya mengusung sekianbanyak tujuan dan sasaran pembangunan yangbelum tersosialisasikan. Pada September 2000,para pemimpin dunia bertemu di New Yorkmengumumkan ”Deklarasi Milenium” sebagai tekaduntuk menciptakan lingkungan “yang kondusif bagipembangunan dan pengentasan kemiskinan”.Dalam rangka mewujudkan hal ini, kemudiandirumuskan 8 (delapan) Tujuan PembangunanMilenium (Milennium Development Goals).Hanya delapan?Benar, hanya ada delapan tujuan umum, sepertikemiskinan, kesehatan, atau perbaikan posisiperempuan. Namun, dalam setiap tujuanterkandung “target-target” yang spesi k dan terukur.Terkait perbaikan posisi perempuan, misalnya,ditargetkan kesetaraan jumlah anak perempuandan laki-laki yang bersekolah. Begitu pula berapabanyak perempuan yang bekerja atau yang dudukdalam parlemen. Delapan tujuan umum tersebut,mencakup kemiskinan, pendidikan, kesetaraangender, angka kematian bayi, kesehatan ibu,beberapa penyakit (menular) utama, lingkunganserta permasalahan global terkait perdagangan,bantuan dan utang.Jadi, kita sedang berupaya memberantaskemiskinan dan penyakit. Rasanya, takmungkin tercapai.Tapi, perlu anda ketahui bahwa semua target yangditetapkan cukup realistis. Memang ada tujuanjangka panjang untuk memberantas kemiskinan2


sampai tuntas. Namun tujuan MDGs hanyamematok target pengurangan kemiskinan menjadiseparuh. Sementara untuk HIV/AIDS, tujuannyaadalah meredam persebaran epidemik. Sedangkanuntuk pendidikan, targetnya lebih ambisius yaitumemastikan bahwa 100% anak memperolehpendidikan dasar 9 tahun.Kapan semuanya ditargetkan terwujud?Sebagian besar ditargetkan pada 2015, denganpatokan tahun 1990. Sebagai contoh, di Indonesia,proposi penduduk yang hidup di bawah gariskemiskinan pada 1990 berjumlah sekitar 15,1%.Pada 2015, kita harus mengurangi angka tersebutmenjadi separuh, yaitu 7,5%.Apa yang telah kita capai?Terkait kemiskinan, belum banyak kemajuan yangdicapai. Pada 2008 ini, angka kemiskinan kita(15,4%) masih lebih tinggi dibandingkan tahun1990. Jadi, dalam delapan tahun ke depan,banyak yang harus kita dilakukan. Sementara,untuk beberapa tujuan MDGs yang lain, kita lebihberhasil. Sebagai contoh, angka partisipasi anak disekolah dasar, telah mencapai 94,7%. Namun, biladicermati lebih rinci seperti terbaca dalam uraianpada bab berikut, kondisi kemiskinan sebenarnyatidak seburuk angka yang ditampilkan. Sebaliknya,kondisi pendidikan tidak sebaik yang terungkapdalam angka tadi. Untuk mengetahuinya secararinci, silahkan baca laporan ini hingga selesai.Tampaknya, saya perlu terus membacaMenurut saya ya. Isu-isu yang diusung MDGsangat penting, meskipun terkesan sederhanakarena terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnyakuantitatif. Sebagai contoh, di sektor pendidikan,adalah baik bahwa 94,7% anak-anak terdaftardi sekolah dasar. Namun ketika sekolah merekabocor, atau hanya memiliki buku dalam jumlah yangterbatas serta guru-guru yang kurang kompeten,maka bersekolah tidak akan membuat anak-anakmendapatkan pendidikan bermutu. Sayangnya,tujuan pendidikan dalam MDGs tidak mengkajiaspek kualitas.Kenapa demikian?Karena memang lebih sulit mengukur kualitas,meskipun tidak mustahil. Anda mungkin bisamenilai kuali kasi para guru, atau hasil-hasil ujian,namun sulit untuk mengukur dan mendapatkaninformasi tentang kualitas. Hal ini, membawakita ke masalah besar berikutnya. Di negara yangsangat besar dan beragam seperti Indonesia,angka nasional saja tidak terlalu bermanfaat.Ambil contoh, usia harapan hidup secara nasionaladalah 68 tahun. Namun, bervariasi antara73 tahun di Yogyakarta hingga 61 tahun di NTB.Selain itu, meskipun ada angka provinsi, belumjuga mengungkapkan kondisi kabupaten. Karenaitu, secara keseluruhan, data-data MDGs memilikiketerbatasan.Jadi, tidak terlalu bergunaBaiknya, jangan terlalu cepat mengambilkesimpulan. MDGs bukan sekedar soal ukurandan angka-angka, namun lebih untuk mendorongtindakan nyata. Mencegah terjadinya kematianibu lebih penting daripada sekedar menghitungberapa banyak perempuan meninggal sewaktumelahirkan. Yang penting tidak hanya menghitungberapa banyak anak Indonesia yang kekurangangizi, namun juga memastikan bahwa semua anakmemperoleh asupan yang cukup. Salah satumanfaat dari MDGs adalah berbagai persoalanyang diusung menjadi perhatian berbagai pihaktermasuk masyarakat secara luas. Namun, laporantentang kemajuan MDGs di tingkat kabupaten jugasangat diperlukan.Lalu buat apa ada laporan MDGs nasional?Anggaplah ini sebagai titik awal, yaitu cara untukmemperkenalkan berbagai masalah tersebutsecara umum, sehingga masyarakat di seluruhnegeri yang luas ini dapat mulai berpikir tentangpenyelesaiannya. Sebuah laporan nasional jugabisa dimasukkan ke dalam sistem internasionalyang mencatat pencapaian-pencapaian MDGsdi seluruh dunia. Dan, karena anda masih terusmembaca, baiklah kita segera membahas Tujuan1 dari MDGs.3


TUJUAN 1:MEMBERANTAS KEMISKINAN DANKELAPARAN EKSTREMMemberantas kemiskinan dan kelaparanekstremSeandainya tidak ada orang miskin, hampir semuamasalah kita praktis terselesaikan. Ketika andapunya uang, anda tentu bisa memeriksakan dirike dokter yang baik. Anda juga bisa memperolehsambungan jaringan air minum serta makananberkualitas. Karena itu, tujuan pertama dalam MDGsadalah mengurangi jumlah penduduk miskin.Kedengarannya kita hanya perlu satu tujuanTujuan pertama ini, memang merupakan tujuanpaling penting. Namun, jangan melihatnya sebagaihal yang terpisah dari tujuan MDGs yang lain.Pada dasarnya, semua tujuan berkaitan satu samalain. Benar bahwa jika anda memiliki uang, andabisa mendapatkan perawatan kesehatan yangbaik. Namun hal sebaliknya, bisa juga terjadi. Jikaanda sakit, bisa membuat anda menjadi lebihmiskin – anda akan kehilangan waktu kerja atauharus membelanjakan uang untuk obat-obatan.Artinya, perbaikan kesehatan otomatis mengurangikemiskinan. Demikian pula dengan pendidikan.Anak-anak yang menikmati pendidikan bakalterbantu memperoleh pekerjaan dengan gaji yanglebih baik.Bila demikian, buat apa membahaskemiskinan?Karena ada juga berbagai cara untuk mengatasikemiskinan secara langsung, misalnya menciptakanlapangan kerja yang lebih baik, atau menyediakanjaring pengaman sosial bagi penduduk termiskin.Namun sebelum kita berbicara terlalu jauh, sebaiknya,kita mengetahui jumlah penduduk miskin.Cukup sederhana. Tanyakan saja berapauang yang dibelanjakan.Benar, namun kita juga harus mengetahui berapauang yang dibutuhkan. BPS menghitung berapabiaya 32 keperluan dasar, mulai dari pakaian,rumah hingga tiket bis. Pada 2008, misalnya, BPSmenyimpulkan bahwa untuk bisa membayar semuaitu, seseorang memerlukan Rp. 182.636 per bulan.Jika pengeluaran anda kurang dari jumlah tersebut,berarti anda berada di bawah “garis kemiskinan.”Berapa banyak dari kita yang berada dibawah garis kemiskinan?Untuk mengetahuinya, BPS melakukan survei sosialekonomi nasional (Susenas) terhadap sampelrumah tangga. Pada 2008, sekitar 35 juta pendudukIndonesia berada di bawah garis kemiskinan. Namunitu merupakan jumlah nasional. Situasinya berbedabeda,dari satu daerah ke daerah lain. Hidup diperkotaan, misalnya, umumnya membutuhkan biayayang lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.Jadi, lebih mungkin menjadi miskin diJakarta?Tidak serta-merta demikian. Jika anda tinggal disebuah kota besar, anda juga punya kemungkinanuntuk mendapat penghasilan lebih besar. Untuk2008, sebagai tahun paling akhir yang memilikiinformasi per propinsi, angka kemiskinan untukJakarta hanya sekitar 4,3%, namun di Papuaangkanya sekitar 37.1%. Selain itu, masih banyakvariasi di setiap propinsi dan kabupaten, sepertiterlihat pada Gambar 1.1 berikut ini.4


40%35%30%25%20%15%10%5%0%Nusa Tenggara TimurBengkuluSulawesi BaratKepulauan RiauBaliPapuaMaluku UtaraKalimantan TengahBangka BelitungSulawesi TenggaraJambiSulawesi TengahNusa Tenggara BaratLampungKalimantan SelatanKalimantan BaratGorontaloSumatera SelatanRiauSulawesi SelatanSumatera UtaraSumatera BaratJakartaJawa TimurIndonesiaYogyakartaMalukuAcehJawa TengahPapua BaratKalimantan TimurJawa BaratSulawesi UtaraBantenBedanya jauh sekaliPada 2008, angka kemiskinan nasional adalah15,4%, atau terdapat hampir 35 juta pendudukmiskin. Berdasarkan angka tersebut, artinyapencapaian MDGs kita tidak mengalami kemajuanberarti. Untuk kemiskinan, target yang dipatok adalah7,5% berdasarkan separuh angka kemiskinan tahun1990 yang berjumlah 15,1%. Sebenarnya, kondisisaat ini bahkan lebih parah. Namun, mencermatiGambar 1.2, akan terlihat bahwa situasi yang adatidak terlalu buruk. Meski angkanya cukup tinggi,namun kecenderungannya menurun. Menyusulkrisis moneter pada 1998, terjadi kenaikan tajamangka kemiskinan menjadi 24,2%. Sejak itu, angkakemiskinan terus turun untuk kemudian naik pada2006, kemungkinan akibat melonjaknya harga-hargabahan makanan dan bahan bakar minyak.Mungkinkah kta mencapai Target tersebutpada 2015?Bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Andamungkin akan terhibur mengetahui bahwamenggunakan ukuran kemiskinan yang lain, wajahIndonesia terlihat lebih baik. Garis kemiskinannasional yang dirumuskan oleh BPS didasarkanpada jenis pangan yang dikonsumsi, serta berbagaiproduk lain yang biasanya dibeli masyarakat. Namun,tentu saja, garis kemiskinan nasional ini mempersulitperbandingannya dengan negara-negara lain.Buat apa menggunakan garis kemiskinanyang bisa diperbandingkan?Mungkin saja anda tidak merasa perlu, namun adasaja yang melakukannya. Mereka menggunakan”garis kemiskinan internasional” yang ditetapkanpada angka 1 dollar AS per hari. Pada pertengahan2008, nilai rata-rata satu dollar setara dengansekitar Rp. 9.400. Dengan demikian, anda mungkinmengira bahwa garis kemiskinan untuk Indonesiasekitar Rp. 288.000 per bulan. Tetapi di sini, adadua kerumitan. Pertama, nilai dollar di sebuahnegara bisa lebih tinggi dibandingkan nilainya dinegara lain. Menyewa rumah, misalnya, lebih murahdi Bandung dibandingkan di New York. Selain itu,nilai dollar sendiri berubah dari waktu ke waktu.Kedua, dalam kenyataannya, nilai dollar saat ini jauhberkurang dibandingkan nilainya beberapa tahunlalu. Jadi jika anda ingin menggunakan 1 dollar perhari sebagai patokan angka kemiskinan, anda perlumempertimbangkan dua hal tersebut.Gambar 1.1Proporsi MasyarakatMiskin berdasarkanPropinsi, 2008Sumber:BPS- Berita ResmiStatistik, 20085


Jumlah Penduduk Miskin (Juta)605040302010015.1199017.5199624.2199823.4199919.1200018.4200118.2200217.4200316.7200416.7200517.8200616.6200715.4200830.025.020.015.010.05.00.0Persentase Penduduk Miskin (%)DesaKotaTotalBila menggunakan garis kemiskinantersebut, kita terlihat mencapai kemajuan,mengapa kita tidak memakainya?Alasan utamanya, garis kemiskinan tersebut kurangpas diterapkan pada kondisi Indonesia. Karena yangditunjukkan hanyalah apa yang terjadi pada penduduktermiskin. Hal ini memang penting dan sangatmenggembirakan bahwa kita telah mengentaskankemiskinan ekstrim. Meskipun demikian, bagiIndonesia yang dikategorikan PBB sebagai negaraberpenghasilan menengah, garis kemiskinan yanglebih pas mungkin 2 dollar per hari, atau sekitar Rp195.000 per bulan. Menggunakan ukuran ini, makahampir separuh penduduk Indonesia masih beradadi bawah garis kemiskinan.Gambar 1.2Angka KemiskinanNasional, 1990-2007Sumber:BPS - Susenas berbagai tahundan Berita Resmi Statistik, 2007.Catatan:Saat ini, cara mengukur angkakemiskinan sedikit berubahdibandingkan 1996. Jika angkaangkawaktu itu dihitung ulangdengan memakai ukuran saat ini,angka 1990 seharusnya menjadisedikit lebih tinggi daripada 15%.Namun karena kita tidak memilikiangka tersebut, kita akan tetapmenggunakan angka 15%.Gambar 1.3Angka Kemiskinan 1Dollar-per hariSumber:World Development Report(World Bank), dihitung dariberbagai tahunSaya tidak yakin, berkeinginan mengetahuisemua hal ini.......dan juga tidak terlalu perlu. Namun, Bank Duniatelah menjelaskan hal tersebut. Jika ingin membuatorang lain terkesan, anda dapat mengatakan bahwaini adalah “garis kemiskinan 1 dollar per orang/hari, sebanding daya beli dollar tahun 1993”. Jikatidak, anda cukup melihat hasilnya. Pada 2006,disimpulkan bahwa garis kemiskinan 1 dollar-perharidi Indonesia setara dengan Rp. 97.000 perbulan, atau kurang dari separuh garis kemiskinannasional versi BPS. Berdasarkan Gambar 1.3, angkakemiskinan adalah sekitar 20,6% pada 1990 dan7,5% pada 2006. Artinya, menggunakan gariskemiskinan ini Indonesia telah mencapai sasaranMDGs – meskipun, tampaknya berhenti di situ,belum ada peningkatan.Suatu lonjakan tajamYa. Hal ini juga menunjukkan sesuatu yang menarik.Ternyata, banyak dari kita masih hidup di sekitar gariskemiskinan. Anda hanya perlu sedikit menaikkangaris tersebut maka akan banyak orang yang beradadi bawahnya dan tergolong miskin. Sebenarnya,banyak dari kita yang sangat rentan, misalnya ketikakehilangan pekerjaan atau ketika harga hasil panenberanjak turun. Kita pun bisa tiba-tiba beradadi bawah garis kemiskinan akibat meningkatnyapengeluaran karena melonjaknya harga bahanpokok, atau transportasi. Kenaikan tajam angkakemiskinan pada 1998, misalnya, terjadi karenadua hal. Pertama, akibat banyak orang kehilanganpekerjaan. Kedua, karena terjadi lonjakan hargaberas. Semua itu, menimbulkan “pergerakan”, adayang jatuh miskin, lainnya terbebas dari kemiskinan.Artinya, meskipun kemiskinan menunjukkan angkayang sama dari tahun ke tahun, angka itu tidakmengacu pada orang-orang yang sama.Bagaimana mereka tiba-tiba menjadimiskin?Karena yang dibahas disini hanyalah “kemiskinanyang diukur dari penghasilan (income poverty)”,sementara harga-harga bisa berubah secara tibatiba.Meskipun miskin, boleh jadi anda tidakmerasa sedang jatuh atau sebaliknya terbebas darikemiskinan dari waktu ke waktu. Lebih realistis,anda merasa miskin karena banyak alasan selainpendapatan, misalnya rumah yang buruk dan kumuh,kekurangan air bersih, pendidikan atau informasi.Itulah sebabnya kemiskinan kadang-kadang disebut“memiliki banyak dimensi”.6


40%35%30%25%20%15%10%5%0%Nusa Tenggara TimurBengkuluSulawesi BaratKepulauan RiauBaliPapuaMaluku UtaraKalimantan TengahBangka BelitungSulawesi TenggaraJambiSulawesi TengahNusa Tenggara BaratLampungKalimantan SelatanKalimantan BaratGorontaloSumatera SelatanRiauSulawesi SelatanSumatera UtaraSumatera BaratJakartaJawa TimurIndonesiaYogyakartaMalukuAcehJawa TengahPapua BaratKalimantan TimurJawa BaratSulawesi UtaraBantenLebih mudah tetap pada penggunaan istilah”miskin”Anda mungkin benar. Namun anda juga perlumemikirkan tentang isu-isu lain ketika membahaspengurangan kemiskinan akibat kurangnyapenghasilan. Ketika menginginkan generasimuda berpenghasilan lebih baik, anda pun harusmemberikan mereka pendidikan yang lebih baik.Tetapi, anda juga bisa langsung berpikir tentangpenghasilan masyarakat, dimulai dengan lapanganpekerjaan dan upah. Secara keseluruhan, pemerintahperlu mempertimbangkan dan memastikantumbuhnya ekonomi yang bermanfaat pada daerahdan penduduk termiskin. Pemerintah pun harusmemberi perhatian lebih pada kawasan perdesaankarena sekitar dua pertiga dari rumah tangga miskinbekerja di sektor pertanian. Contohnya, membantupetani meningkatkan penghasilan dengan caraberalih ke tanaman berharga jual lebih, atau denganmemperbaiki sistem irigasi dan akses jalan.Boleh jadi benar, bahwa ketika banyakyang bekerja terjadi penurunan tingkatkemiskinan. Tetapi, banyak teman saya yangbekerja 12 jam sehari namun tetap miskinBenar, khususnya mereka yang bekerja sendiri sepertipetani dan pedagang kaki lima, yaitu mereka yangbekerja di sektor informal. Saat ini, pekerja sektorinformal jummlahnya sangat banyak. Mereka seringmerasa kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya.Karena itu, seharusnya kita mempunyai tujuan barumengenai pekerjaan yang layak dan produktif untuksemua. Tidak semua pekerjaan dapat membawaseseorang keluar dari kemiskinan. Yang kita butuhkanadalah pekerjaan yang layak.Pekerjaan yang Layak?Jenis pekerjaan yang produktif dan memberikanpenghasilan yang cukup adalah pekerjaan yanglayak. Lebih dari itu, pekerjaan seyogyanya membuatkeluarga anda lebih kuat secara ekonomi, memilikisuasana kerja yang sehat dan memungkinkananda untuk turut serta mengambil keputusanyang mempengaruhi kehidupan dan penghidupananda. Sederhananya, pekerjaan yang layak akanmengeluarkan anda dari kemiskinan.Cukup menarik, tetapi apakah itu cukup?Kita juga harus memikirkan mengancai caramembantu kaum termiskin dengan memberikansubsidi bidang kesehatan dan pendidikan, ataudalam beberapa kausu, memberikan uang tunai.Sekma terakhr pernah dilakukan ketika hargabahan bakar naik dan pemerintah melaksanakanGambar 1.4Angka PengangguranPenduduk berusia 15-24TahunSumber:BPS – Sakernas, Februari 20067


Gambar 1.5Kekurangan Gizi padaAnak di bawah Lima TahunSumber:BPS – Susenas, berbagai tahunGambar 1.6Proporsi Penduduk yangMengkonsumsi kurangdari Keperluan KonsumsiHarianSumber:World Development Report (WorldBank, 2006)8program Bantuan Langsung Tunai untuk membantumasyarakat miskin. Saat ini pemerintah sedangmelaksanakan program Keluarga Harapan untkmembantu anggota keluarga miskin membayarpengeluaran terkait pendidikan dan kesehatan. Akantetapi, dalam jangka waktu panjang, solusi terbaikmenanggulangi kemiskinan adalah pertubuhanekonomi yang menyediakan lebih banyak pekerjaandan pendapatan – terutama bagi kaum miskin.Apa yang bisa kita lakukan saat ini?Sebenarnya, banyak sekali yang bisa kita lakukanuntuk memperbaiki berbagai persoalan dengancepat. Salah satunya ialah terkait dengan makanan.Karena, ada satu ukuran penting MDGs tentangkemiskinan terkait gizi, yaitu apakah masyarakatmengkonsumsi makanan berkecukupan. Jika tidak,mereka tergolong ”kekurangan gizi”.Tampaknya, kita baik-baik saja. Di Indonesia,biasanya tidak terlihat anak-anak yangkelaparan.Untungnya tidak. Namun, tidak berarti bahwa semuaanak memperoleh asupan makanan yang layak.Dengan asupan makanan yang tepat dan dalamjumlah mencukupi, anak-anak akan mempunyaiberat badan pada kisaran yang sama. Jadi ketikamenimbang anak, anda dapat memeriksa apakah“berat badannya sesuai usia” atau tidak. Jika lebihrendah, berarti mereka “kekurangan gizi”. Memangada cara lain mengukur kekurangan gizi, namun inimerupakan cara paling lazim.Bagaimana mengetahui berapa seharusnyaberat badan anak saya?Jika rutin membawa anak anda ke Posyandu,ia bisa ditimbang disana. Untuk mendapatkangambaran nasional, pada Susenas 2006 dilakukanpenimbangan sejumlah anak sebagai sampel.Hasilnya, mencemaskan, karena lebih dariseperempat anak-anak Indonesia kekurangan gizi.Mencermati Gambar 1.4, terlihat bahwa situasitersebut belum membaik sepanjang beberapa tahunterakhir. Target kedua MDGs adalah mengurangijumlah anak-anak yang kekurangan gizi hinggaseparuhnya. Pada 1990, angka kekurangan gizipada anak-anak sekitar 35,5%, jadi harus ditekanmenjadi sekitar 17,8%. Melihat kecenderungansejak 1990, tampaknya tidak terlalu sulit mencapaitarget tersebut. Sayangnya, beberapa tahun terakhirsejak 2000, angkanya naik kembali.Tapi, mengapa lebih banyak anak kekurangangizi, padahal angka kemiskinan menurun?Memang terasa aneh. Logikanya, ketika orangmemiliki lebih banyak uang, seharusnya merekamemiliki makanan yang cukup – apalagi anak-anakhanya makan dalam porsi yang kecil. Persoalannya,banyak bayi yang tidak mendapatkan makanan tepatdalam jumlah yang cukup. Awalnya, pilihan idealadalah memberikan ASI eksklusif hingga usia bayisekitar 6 bulan. Sayangnya, di Indonesia, setelahsekitar empat bulan, jumlah bayi yang memperolehASI eksklusif kurang dari seperempatnya. Masihbanyak masalah lain, seperti kesehatan ibu.Biasanya, ibu yang kekurangan gizi cenderungmelahirkan bayi yang juga kekurangan gizi. Padadasarnya, persoalannya bukan karena minimnyapenghasilan.Lalu apa masalahnya?Penyebabnya, lebih karena kurangnya perhatian.Mungkin, juga terkait kemiskinan. Bisa saja ibuyang miskin kurang memiliki informasi tentangperawatan anak atau hanya memiliki sedikit waktuuntuk mengurus bayi. Namun, yang membesarkanhati, dengan sedikit perubahan perilaku di rumahdapat dengan cepat menurunkan angka kekurangan


gizi. Bukan hanya pada anak. Salah satu indikatorkemiskinan lain dalam MDGs, melihat apakah seluruhpenduduk cukup makan. Dengan menggunakankriteria FAO 1 dalam mengukur kebutuhan konsumsiminimum, maka hanya 6% dari penduduk Indonesiayang konsumsi hariannya kurang dari standartersebut. Di masa lalu, standar yang digunakanuntuk mengukur kecukupan konsumsi ini sedikitterlalu tinggi untuk Indonesia, sehingga terindikasibahwa hampir 70% penduduk Indonesia tidakmengkonsumsi cukup makanan. Proporsi penduduktersebut juga relatif tidak berubah sejak 1990.TUJUAN 1: MEMBERANTAS KEMISKINAN DAN KELAPARAN EKSTREMTarget 1A: Menurunkan proporsi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan menjadi setengahnya antara1990-2015Menggunakan garis kemiskinan nasional, angka kemiskinan Indonesia pada 1990 adalah 15,1%. Dasarpenghitungan berubah pada 1996, sehingga sebenarnya data setelah itu tidak bisa begitu saja dibandingkandengan data-data dari tahun-tahun sebelumnya. Seandainya kita menggunakan dasar penghitungan saat ini,angka pada 1990 akan sedikit lebih tinggi dari 15,1%. Namun, karena belum ada perhitungan ulang, laporanini menggunakan angka 15,1%. Pada 2006, terjadi peningkatan kemiskinan yang kemudian sedikit menurunpada 2008 menjadi 15,4%. Mencermati berbagai kecenderungan akhir-akhir ini, seharusnya masih mungkinuntuk mengurangi kemiskinan menjadi 7,5% pada 2015. Sementara, menggunakan garis kemiskinan 1 dollarper hari, situasi sepenuhnya berbeda. Berbasiskan ukuran tersebut, Indonesia telah mencapai target karenaberhasil mengurangi tingkat kemiskinan dari 21% (1990) menjadi7,5% pada 2006.Dua indikator lain memberikan informasi pelengkap. Indikator yang lebih rumit adalah ”rasio kesenjangan kemiskinan(poverty gap ratio)” yang mengukur perbedaan antara penghasilan rata-rata penduduk miskin dengan garis kemiskinan.Pada 1990 rasio-nya adalah 2,7% dan 2,8% pada 2008, menunjukkan bahwa situasi penduduk miskin belumbanyak mengalami perubahan. Indikator yang lebih sederhana adalah indikator penyebaran penghasilan: total jumlahkonsumsi penduduk termiskin secara nasional adalah 20%. Ini pun belum banyak berubah. Antara tahun 1990 dan2008, angkanya berada pada sekitar 9%.Target 1B: Meneydiakan seutuhnya Pekerjaan yang produktif dan layak, terutama untuk perempuan dan kaummudaUntuk mengukur kemajuan pencapaian target ini, empat buah indikator digunakan; yaitu: (i) pertumbuhan PDBper proporsi jumlah pekerja/ produktivitas pekerja, (ii) rasio pekerja terhadap populasi, (iii) proporsi pekerjayang hidup dengan kurang dari $1 per-hari/ pekerja miskin dan (iv) proporsi pekerja yang memiliki rekeningpribadi dan anggota keluarga bekerja terhadap jumlah pekerja total/ pekerja rentan.Kemajuan pencapaian target ini diindikasikan dengan semakin tingginya rasio, yang artinya semakin tingginyaangkatan kerja yang mendapatkan pekerjaan. Data terakhir terkait pekerja miskin di Indonesia adalah 8,2%(2006), dan belum beranjak jauh dari pencapaian tahun 2002. Pekerja renran di Indonesia mengalami sedikitpenurunan semenjak tahun 2003, meskipun mayoritas pekerja (62%) masih tergolong sebagai pekerja yangrentan. Produktivitas pekerja juga mengalami peningkatan yang cukup baik, dimana rata-rata per-tahunnyamencapai 4,3% dalam periode tahun 2000 hingga 2007 2 .Menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya antara tahun 1990 dan2015Indikator pertama adalah prevalensi anak usia di bawah lima tahun (balita) dengan berat badan kurang. Angka saatini adalah 28% dan nampaknya akan meningkat. Dengan angka ini, jelas kita tidak (akan) mencapai target. Indikatorkedua adalah proporsi penduduk yang mengkonsumsi kebutuhan minimum per-harinya. Dengan menggunakanperhitungan FAO, tampaknya Indonesia masih berada di jalur yang benar untuk mencapai target MDGs ini.9


TUJUAN 2:MEWUJUDKAN PENDIDIKAN DASARUNTUK SEMUAGambar 2.1Angka Partisipasi diSekolah Dasar danSekolah MenengahPertamaSumber:BPS - Susenas, berbagai tahun10Mewujudkan pendidikan dasar untuk semuaTampaknya, di bidang pendidikan, Indonesia lebihberhasil. Tujuan kedua MDGs ini adalah memastikanbahwa semua anak menerima pendidikan dasar.Mencermati garis paling atas pada Gambar 2.1,tercatat bahwa dengan angka 94,7% kita hampirmewujudkan target memasukkan semua anak kesekolah dasar. Meski dengan catatan bahwa iniadalah angka nasional dengan perbedaan antardaerah yang masih cukup tinggi, yaitu dari 96.0%untuk Kalimantan Tengah hingga 78,1% untukPapua. Terlihat pula bahwa angka partisipasi disekolah lanjutan pertama meningkat secara stabil.Kalau sudah cukup berhasil, baiknya kitamelangkah ke tujuan berikutnyaSayangnya, kita harus berkutat agak lebih lama disini. Dalam hal angka partisipasi di sekolah kitamemang cukup berhasil. Tetapi tujuan kedua MDGsini bukanlah sekedar semua anak bisa sekolah,tetapi memberikan mereka pendidikan dasar yangutuh. Kenyataannya, banyak anak yang tidak bisabersekolah dengan lancar di sekolah dasar. Adayang tidak naik kelas atau bahkan terpaksa berhenti.Saat ini misalnya, sekitar 9% anak harus mengulangdi kelas 1 sekolah dasar. Sementara pada setiapjenjang kelas, sekitar 5% putus sekolah. Akibatnya,sekitar seperempat anak Indonesia tidak lulus darisekolah dasar. Gambar 2.2 menunjukkan apa yangterjadi pada anak-anak yang memasuki sekolahdasar pada 1999. Pada 2004/2005, hanya 77%bersekolah hingga kelas 6 dan pada akhir tahuntersebut, hanya 75% yang lulus 3 .Gambar 2.3 menunjukkan proporsi kelulusan anakanaksekolah dasar dan proporsinya dari waktu kewaktu. Anda dapat melihat bahwa proporsi anakyang lulus sekolah mengalami peningkatan. Namunakhir-akhir ini kecenderungan tersebut berubah.Jadi kita hampir mencapai target meskipun kitamasih perlu meningkatkan upaya untuk mencapai100% pada 2015. Tingkat kelulusan sekolah dasarpun hanyalah langkah pertama. Bahkan anak-anakyang telah lulus bisa saja terhenti pendidikannya.Mereka tidak melanjutkan ke sekolahlanjutan?Tidak. Jika anda melihat kembali Gambar 2.1,tampak bahwa hanya 67% anak yang mendaftar kesekolah lanjutan pertama. Ini merupakan tantanganyang besar mengingat pemerintah bertekadmencapai target yang lebih tinggi daripada targetglobal MDGs. Target Indonesia adalah ”wajib belajar9 tahun”, terdiri dari 6 tahun SD dan 3 tahun SMP,sementara target global MDGs yaitu pendidikansetara 6 tahun. Target waktu pencapaiannya adalah2008-2009. Terbilang ambisius.


Mewujudkan pendidikan dasar untuk semuaTampaknya, di bidang pendidikan, Indonesia lebihberhasil. Tujuan kedua MDGs ini adalah memastikanbahwa semua anak menerima pendidikan dasar.Mencermati garis paling atas pada Gambar 2.1,tercatat bahwa dengan angka 94,7% kita hampirmewujudkan target memasukkan semua anak kesekolah dasar. Meski dengan catatan bahwa iniadalah angka nasional dengan perbedaan antardaerah yang masih cukup tinggi, yaitu dari 96.0%untuk Kalimantan Tengah hingga 78,1% untukPapua. Terlihat pula bahwa angka partisipasi disekolah lanjutan pertama meningkat secara stabil.Kalau sudah cukup berhasil, baiknya kitamelangkah ke tujuan berikutnyaSayangnya, kita harus berkutat agak lebih lama disini. Dalam hal angka partisipasi di sekolah kitamemang cukup berhasil. Tetapi tujuan kedua MDGsini bukanlah sekedar semua anak bisa sekolah,tetapi memberikan mereka pendidikan dasar yangutuh. Kenyataannya, banyak anak yang tidak bisabersekolah dengan lancar di sekolah dasar. Adayang tidak naik kelas atau bahkan terpaksa berhenti.Saat ini misalnya, sekitar 9% anak harus mengulangdi kelas 1 sekolah dasar. Sementara pada setiapjenjang kelas, sekitar 5% putus sekolah. Akibatnya,sekitar seperempat anak Indonesia tidak lulus darisekolah dasar. Gambar 2.2 menunjukkan apa yangterjadi pada anak-anak yang memasuki sekolahdasar pada 1999. Pada 2004/2005, hanya 77%bersekolah hingga kelas 6 dan pada akhir tahuntersebut, hanya 75% yang lulus 3 .Gambar 2.3 menunjukkan proporsi kelulusan anakanaksekolah dasar dan proporsinya dari waktu kewaktu. Anda dapat melihat bahwa proporsi anakyang lulus sekolah mengalami peningkatan. Namunakhir-akhir ini kecenderungan tersebut berubah.Jadi kita hampir mencapai target meskipun kitamasih perlu meningkatkan upaya untuk mencapai100% pada 2015. Tingkat kelulusan sekolah dasarpun hanyalah langkah pertama. Bahkan anak-anakyang telah lulus bisa saja terhenti pendidikannya.Mereka tidak melanjutkan ke sekolahlanjutan?Tidak. Jika anda melihat kembali Gambar 2.1,tampak bahwa hanya 67% anak yang mendaftar kesekolah lanjutan pertama. Ini merupakan tantanganyang besar mengingat pemerintah bertekadmencapai target yang lebih tinggi daripada targetglobal MDGs. Target Indonesia adalah ”wajib belajar9 tahun”, terdiri dari 6 tahun SD dan 3 tahun SMP,sementara target global MDGs yaitu pendidikansetara 6 tahun. Target waktu pencapaiannyaadalah 2008-2009. Terbilang ambisius. Targetpencapaiannya, membutuhkan loncatan besar.Kita harus lebih giat dalam upaya mempertahankananak-anak agar tetap bersekolah.Lain-lain39.0%PersatuanOrang Tua danGuru15.0%Pendaftaran danBiaya Lain17.0%Transportasi9.0%Seragam9.0%Buku danAlat Tulis11.0%Gambar 2.2Tingkat Putus Sekolahpada Murid yang masukSekolah Dasar pada 1999Sumber:Departemen Pendidikan Nasional, 2006Gambar 2.3Proporsi Kelulusan Anakanakyang MemasukiSekolah DasarSumber:Departemen PendidikanNasional, 2006Gambar 2.4Biaya-biaya Pribadi untukPendidikan yang harusDipikul 40% RumahTangga paling MiskinSumber:Making the New Indonesia Workfor the Poor, World Bank, 200611


100.0%80.0%60.0%40.0%20.0%0.0%Nanggroe Aceh DarussalamMalukuSumatera UtaraRiauSulawesi TenggaraYogyakartaKepulauan RiauJakartaJawa TimurBaliNusa Tenggara BaratSumatera SelatanSumatera BaratKalimantan TengahJawa TengahBengkuluLampungBantenIndonesiaSulawesi UtaraJambiMaluku UtaraKalimantan TimurSulawesi TengahJawa BaratKalimantan SelatanKalimantan BaratSulawesi SelatanBangka BelitungSulawesi BaratIrian Jaya BaratGorontaloPapuaNusa Tenggara TimurGambar 2.5Angka Partisipasi Murnidi Sekolah MenengahPertama per Propinsi,2006Sumber:BPS – Susenas 200612Mengapa anak-anak putus sekolah?Sebagian, karena orang tua memerlukan merekauntuk bekerja. Mungkin di lahan pertanian keluarga.Lainnya, karena tidak mampu membayar biayasekolah. Sekitar sepertiga keluarga termiskinmengatakan bahwa mereka memiliki masalah untukmembayar uang sekolah dan biaya lainnya. Orangtua memang harus membayar dalam jumlah yangbesar, baik untuk uang sekolah ataupun seragam.Selain itu, untuk transportasi, makanan, buku atauperlengkapan tambahan (Gambar 2.4) 4 .Disamping itu, sekolah juga dapat menimbulkanmasalah jika tidak bisa memberikan sesuatuyang bernilai bagi anak-anak. Sekolah, misalnya,bisa saja tidak memiliki buku atau peralatan yangmemadai. Sementara bangunannya tidak layakdigunakan. Kurang dari separuh sekolah dasarmemiliki apa yang disebut oleh DepartemenPendidikan Nasional “ruang kelas yang baik.” 5 Faktorlainnya, anak bungsu dalam keluarga mungkin tidakdisiapkan bersekolah.Apa maksudnya “tidak disiapkanbersekolah”?Idealnya semua anak memperoleh pendidikan prasekolah agar terbiasa dengan lingkungan belajaryang baru. Dalam hal ini, kita telah membuatbanyak kemajuan. Hampir separuh anak usia prasekolah yang memperoleh pembelajaran dini dansekitar separuhnya di Tempat Pendidikan Al-Qur’an(TPA). Sisanya, di taman kanak-kanak, kelompokbermain atau pusat penitipan anak. Semuakegiatan tersebut bisa tetap menstimulasi anakbersekolah dan mengembangkan otak mereka. Haltersebut mempermudah mereka memulai sekolahdasar. Tentu saja, di semua jenjang sekolah, isuterpenting adalah kualitas pengajaran.Tampaknya kita memerlukan lebih banyakguruMungkin ya, tapi bisa juga tidak. Sebenarnya dijenjang sekolah dasar, gurunya sudah cukup.Banyak sekolah dasar di mana satu guru hanyauntuk 19 murid. Meskipun demikian, mungkinsaja mereka tidak berada di tempat yang tepat.Karena, banyak sekolah di daerah terpencil, masihkekurangan guru. Selain itu, para guru juga tidakmeluangkan waktu yang cukup di ruang kelas.Jam kerja mereka juga pendek. Karena gajirendah, mereka biasanya bekerja sampingan untukmemenuhi kebutuhan hidup.


Bisa dimengertiYa, tapi mereka tidak hadir padahal seharusnyadatang ke sekolah. Pada 2004, sebuah survei dilebih dari 2.000 sekolah menemukan seperlima daripara guru tidak hadir 5 . Artinya, lebih baik memilikiguru dalam jumlah lebih kecil tetapi dibayar lebihbaik agar bisa meluangkan lebih banyak waktu dikelas. Hal tersebut semakin penting ketika anakanakbertambah usia dan melanjutkan ke sekolahlanjutan pertama. Seperti diuraikan di atas, sekitarsepertiga anak-anak berhenti usai sekolah dasar.Sekali lagi, alasan utamanya mungkin terkait biaya.Mengirimkan anak ke sekolah lanjutan bahkanlebih mahal, apalagi jika mereka diminta bekerjamenambah penghasilan keluarga. Seorang anakdari keluarga miskin memiliki kesempatan 20%lebih kecil untuk melanjutkan ke sekolah lanjutanpertama ketimbang seorang anak dari keluargatidak miskin 7 . Namun, mencermati Gambar 2.5,anda bisa melihat bahwa terdapat perbedaaanbesar antar propinsi, terkait partisipasi dipendidikan lanjutan pertama. Di Nanggroe AcehDarussalam, misalnya, angkanya 78%, sedangkandi NTT hanya 43%.Jadi, agar semakin banyak anak sekolah,kita harus menunggu keluarga menjadilebih sejahtera. Lagi-lagi persoalankemiskinan.Tidak harus demikian. Pemerintah dapatmengeluarkan anggaran lebih banyak sehinggaorang tua murid tidak perlu menanggung biayasekolah yang terlalu mahal. Sebelumnya,pemerintah kurang menyalurkan dana publikuntuk pendidikan. Namun, beberapa tahunterakhir, alokasi untuk pendidikan termasuk untukgaji guru, meningkat. Saat ini, jumlahnya sekitar17% dari total pengeluaran pemerintah 8 . Sebagaiperbandingan, jumlah tersebut adalah separuhpengeluaran Malaysia. Pemerintah pun bertekaduntuk tetap meningkatkan alokasi anggaran untukpendidikan. Sebenarnya, Undang-Undang Dasardan UU tentang Pendidikan Nasional mensyaratkanbelanja negara yang cukup besar. Peraturantersebut menyebutkan, pada tahun 2009 palingtidak 20% dari anggaran pusat maupun daerah,harus digunakan untuk pendidikan. Dan ini tidaktermasuk gaji para guru, yang proporsinya lebih dariseparuh anggaran saat ini. Tanpa gaji guru, proporsitahun 2007 hanyalah sekitar 9%, sehingga untukmencapai 20% perlu kenaikan yang luar biasa.Apakah kita akan mencapai 20%?Sangat mungkin sekali. Pada tahun 2008Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwapemerintah wajib memenuhi kewajiban memenuhi20% alokasi APBN untuk pendidikan. Akan tetapi,selain pemerintah pusat, banyak hal tergantungpada pemerintah kabupaten. Saat ini, pemerintahkabupaten bertanggung jawab terhadap sekitarduapertiga pengeluaran publik untuk pendidikandan menggunakan hampir seluruhnya untuk gajiguru. Pemerintah pusat masih mengendalikanhampir seluruh dana untuk sekolah dan ruangkelas baru. Selain itu, pemerintah pusat jugamemberikan beasiswa untuk membantu muridmuridpaling miskin. Menyusul kenaikan hargabahan bakar pada 2005, pemerintah memulaiprogram Bantuan Operasional Sekolah (BOS). BOSyang diberikan berjumlah 25 dollar per anak/tahundi jenjang sekolah dasar dan 35 dollar per anak/tahun di sekolah lanjutan pertama (atau setaradengan Rp. 340.000)Apa yang bisa dilakukan dengan uangtersebut?Uang tersebut tidak diberikan kepada keluargamurid, tetapi untuk sekolah agar tidak menarikbiaya dari para murid. Meskipun terdapatbanyak masalah dalam memastikan bahwa danaBOS disalurkan ke sekolah-sekolah yang tepat,program BOS, yang mencakup seperempat daripengeluaran pendidikan pada 2006, nampaknyadapat membawa perubahan yang berarti dalam halpendanaan sekolah. Jadi dalam hal ini, tercapaikemajuan yang cukup baik. Selain itu, terkaitgender, ada hal positif karena sekarang semakinbanyak anak perempuan yang bersekolah. Cobakita telaah tujuan ketiga MDG berikut ini.Terdapat dua indikator yang relevan. Pertama, untuktingkat partisipasi di sekolah dasar, Indonesia telahmencapai angka 94,7%. Berdasarkan kondisi ini,kita dapat mencapai target 100% pada 2015.Indikator kedua berkaitan dengan kelulusan, yaituproporsi anak yang memulai kelas 1 dan berhasilmencapai kelas 5 sekolah dasar. Untuk Indonesia,proporsi tahun 2004/2005 adalah 82%. Namun,sekolah dasar berjenjang hingga kelas enam.Karena itu, untuk Indonesia lebih pas melihatpencapaian hingga kelas enam. Jumlahnya adalah77% dengan kecenderungan terus meningkat.Artinya, kita bisa mencapai target yang ditetapkan.13


Data kelulusan yang digunakan dalam laporanini berasal dari Departemen Pendidikan Nasionalberdasarkan data pendaftaran sekolah. Berbedadengan Susenas (2004), yang menghitung angkayang jauh lebih besar, yaitu sekitar 95%.Indikator ketiga untuk tujuan ini adalah angkamelek huruf penduduk usia 15-24 tahun. Dalamhal ini, nampaknya kita cukup berhasil denganpencapaian 99,4%. Meskipun demikian, kualitasmelek huruf yang sesungguhnya mungkin tidaksetinggi itu karena tes baca tulis yang diterapkanoleh Susenas terbilang sederhana.TUJUAN 2: MEWUJUDKAN PENDIDIKAN DASAR UNTUK SEMUATarget 2A: Memastikan bahwa pada 2015 semua anak di manapun, laki-laki maupun perempuan,akan bisa menyelesaikan pendidikan dasar secara penuhTerdapat dua indikator yang relevan. Pertama, untuk tingkat partisipasi di sekolah dasar,Indonesia telah mencapai angka 94,7%. Berdasarkan kondisi ini, kita dapat mencapai target100% pada 2015. Indikator kedua berkaitan dengan kelulusan, yaitu proporsi anak yangmemulai kelas 1 dan berhasil mencapai kelas 5 sekolah dasar. Untuk Indonesia, proporsitahun 2004/2005 adalah 81%. Namun, sekolah dasar berjenjang hingga kelas enam.Karena itu, untuk Indonesia lebih pas melihat pencapaian hingga kelas enam. Jumlahnyaadalah 77% dengan kecenderungan terus meningkat. Artinya, kita bisa mencapai targetyang ditetapkan. Data kelulusan yang digunakan dalam laporan ini berasal dari DepartemenPendidikan Nasional berdasarkan data pendaftaran sekolah. Berbeda dengan Susenas(2004), yang menghitung angka yang jauh lebih besar, yaitu sekitar 95%.Indikator ketiga untuk tujuan ini adalah angka melek huruf penduduk usia 15-24 tahun.Dalam hal ini, nampaknya kita cukup berhasil dengan pencapaian 99,4%. Meskipun demikian,kualitas melek huruf yang sesungguhnya mungkin tidak setinggi itu karena tes baca tulis yangditerapkan oleh Susenas terbilang sederhana.14


TUJUAN 3:MENDORONG KESETARAAN GENDERDAN PEMBERDAYAAN PEREMPUANMendorong kesetaran gender danpemberdayaan perempuanAda baiknya kita meluruskan satu hal; kesetaraangender bukan melulu mengenai perempuan, tetapimengenai perempuan dan laki-laki. Akan tetaopi,karena target ini menekankan pada pemberdayaanperempuan, kita akan membahas lebih banyakmengenai hal ini dan issue terkait lainnya.Dalam banyak hal, perempuan di Indonesia telahmencapai kemajuan pesat, meskipun, masih cukupjauh dari pencapaian kesetaraan gender. Datatujuan ketiga MDGs menunjukkan hal tersebutdengan cukup jelas. Tujuan ini memiliki tiga target.Pertama, menyangkut pendidikan. Untuk hal ini,nampaknya kita cukup berhasil. Namun, terkaittarget kedua dan ketiga, yaitu lapangan pekerjaandan keterwakilan dalam parlemen, kesempatanyang dimiliki perempuan Indonesia masih kurang.Kedengarannya menyedihkanMari kita mulai dengan kabar baik. Saat ini,semakin banyak anak perempuan yang bersekolah.Bahkan terjadi kemajuan yang cukup mengejutkan,seperti tergambarkan pada Gambar 3.1 di bawahini. Gra k menunjukkan rasio antara anak laki-lakidan perempuan di berbagai jenjang pendidikan.Pada sekolah dasar jumlah antara anak perempuandan laki-laki terbilang seimbang, di mana rasioyang ditunjukkannya mendekati 100% sejak 1992.Sekarang di jenjang sekolah lanjutan pertama,garisnya berada diatas 100%, artinya terdapatlebih banyak anak perempuan dibandingkan anaklaki-laki.Kelihatannya, anak perempuan kini beradadi depanMeskipun ada penurunan pada tahun lalu, anakperempuan sepertinya berada di depan padasekolah lanjutan pertama. Ini mungkin karenakakak laki-laki mereka meninggalkan sekolahuntuk bekerja. Biasanya terdapat lebih banyakkesempatan kerja bagi anak laki-laki daripada untukanak perempuan. Namun, di sekolah menengahatas, situasinya kembali lebih seimbang. Caralain mengukur kemajuan adalah dengan melihatberapa banyak anak putus sekolah. Kenyataannya,di sekolah dasar, jumlah anak putus sekolah antaraanak laki-laki dan perempuan sama. Namun, disekolah lanjutan, terlihat bahwa lebih sedikit anakperempuan yang putus sekolah. Hal tersebut,lagi-lagi mungkin karena anak laki-laki memilikilebih banyak kesempatan kerja. Menariknya,baik keluarga miskin maupun kaya, sama giatnyaGambar 3.1Rasio antara AnakPerempuan dan Anak Lakilakidi berbagai JenjangPendidikanSumber:BPS-Susenas berbagai tahun15


yang bersekolah. Sekarang situasi sudah semakinsetara. Untuk mereka yang berusia 15 hingga 24tahun, tingkat melek huruf baik untuk laki-laki danperempuan hampir mendekati 100%.Gambar 3.2Proporsi Anak Perempuandan Anak Laki-Laki diSekolah-sekolah LanjutanKejuruan, 2002/03Sumber:UNESCO/LIPI, 2005Gambar 3.3Sumbangan Perempuandalam Kerja Berupah diSektor Non-PertanianSumber:Sakernas (Berbagai Tahun)16menyekolahkan anak perempuan mereka kesekolah dasar.Meskipun mahal?Dalam hal ini, tampaknya tidak banyak perbedaan.Tentu saja, ketika anak tumbuh dewasa, keluargamiskin memiliki kesempatan lebih kecil untukmemasukkan anak mereka ke sekolah lanjutan,baik anak perempuan maupun laki-laki. Namunyang paling mengesankan, adalah apa yangterjadi di perguruan tinggi. Silahkan lihat kembaliGambar 3.1. Sepanjang sepuluh tahun terakhir,jumlah perempuan dengan cepat mengejar jumlahlaki-laki dan sekarang berada di depan. Sekitar15% remaja yang beranjak dewasa, baik laki-lakimaupun perempuan, mendapatkan pendidikantinggi. Kemajuan yang dicapai anak perempuanjuga terlihat dalam hal tingkat melek huruf. Tahun2006 tingkat melek huruf adalah 91,5% untuk lakilaki,namun hanya 88,4% untuk perempuan. Inikarena di masa lalu lebih sedikit anak perempuanJadi, perempuan cukup berhasil.Terkait kesempatan untuk masuk sekolah atauperguruan tinggi, kesan anda benar. Namun ketikaanak perempuan bersekolah, banyak ketimpanganatau ketidaksetaraan yang harus dihadapi. Panutanpertama mereka adalah para guru. Di sekolahdasar, terdapat lebih banyak guru perempuandibandingkan laki-laki. Namun, siapa yangmemimpin? Jumlah laki-laki yang menjadi kepalasekolah, misalnya, empat kali lipat dibandingkandengan perempuan 9 . Anak perempuan juga akanmelihat ketimpangan ketika mereka membukabuku teks. Sebuah buku teks utama sekolah dasartentang kewiraan, misalnya, membahas tanggungjawab dalam keluarga. Buku tersebut menjelaskanbahwa aktivitas utama ayah adalah mencari nafkahsementara ibu bertanggung jawab atas pekerjaanrumah tangga. Dan ilustrasi tentang tanggungjawab anak-anak dengan gambar anak perempuanyang sedang mencuci dan menyeterika 10 .Saya berharap, anak perempuan saya maumenyeterika.Dan saya harap, anak laki-laki anda juga dapatmelakukan hal yang sama. Kesenjangan lainnya,anak perempuan sepertinya juga memilih bidangyang berbeda dari anak laki-laki. Hal ini tampakjelas pada murid yang mengambil sekolah kejuruan.Dari semua anak tersebut, anak perempuan jarangmemilih sains (science) dan teknologi. Banyakyang memilih sekolah pariwisata (Gambar 3.2).Namun situasinya lebih seimbang bagi merekayang mengambil sekolah lanjutan umum. Terdapatjumlah yang sama antara anak laki-laki danperempuan yang mempelajari sains.Selain melihat bidang studi yang diambil, andajuga dapat menelaah apa yang terjadi ketika anakperempuan putus sekolah untuk bekerja – denganmelihat berapa banyak yang bekerja di luar rumahatau di luar lahan pertanian. Target PembangunanMilenium melihat hal ini dengan membandingkanjumlah laki-laki dan perempuan yang bekerja di“pekerjaan upahan non-pertanian”. Ini ditunjukkandalam Gambar 3.3. Jika laki-laki dan perempuandipekerjakan secara setara di jenis pekerjaantersebut, perbandingannya haruslah 50%. Namun


anda dapat melihat bahwa angka untuk perempuanhanyalah sekitar 33,5%.Dan tampaknya, angka itu menurun akhirakhiriniYa, puncaknya pada 1998. Saat itu adalah puncakkrisis ekonomi, ketika mungkin lebih banyak laki-lakiyang tiba-tiba kehilangan pekerjaan dibandingkanperempuan. Setelah itu, situasi perempuan terusmemburuk, dan hanya sedikit berubah selamabeberapa tahun terakhir. Informasi lebih lanjutdiperoleh dari berbagai survei tentang proporsipenduduk dewasa dalam angkatan kerja. Misalnya,pada tahun 2004, proporsi laki-laki adalah 86%namun perempuan hanya 49% 11 . Selain kurangmendapatkan lapangan pekerjaan, perempuan jugacenderung mendapatkan pekerjaan tidak sebaiklaki-laki. Di pabrik-pabrik industri tekstil, pakaiandan alas kaki, misalnya, banyak perempuan mudayang bekerja dengan upah rendah – seringkalidengan penyelia laki-laki. Demikian pula halnyadi pemerintahan. Perempuan hanya menduduki9,6% jabatan tinggi dalam birokrasi pemerintahan.Perempuan juga kurang terwakili di bidang politik.Tapi, setidaknya kita pernah memilikipresiden perempuanBenar, dan hal itu menunjukkan Indonesia lebihmaju dibandingkan banyak negara lain. Namundalam jenjang jabatan politik di bawahnya,perempuan kurang terlihat. Hanya sedikit yangterpilih menjadi anggota parlemen. Demikianjuga yang menjadi bupati atau gubernur. IndikatorMDG untuk ini adalah proporsi perempuan yangmenjadi anggota DPR. Angka rata-rata dunia untukhal ini cukup rendah, yaitu sekitar 15%. ProporsiIndonesia bahkan lebih rendah, masing-masing13% (1992), 9% (2003), dan 11,3% (2005).Paling tidak angkanya naik lagiItu mungkin karena Undang-Undang tahun 2003tentang Pemilihan Umum yang mewajibkan PartaiPolitik untuk sedikitnya memiliki 30% calonperempuan. Tidak semua partai politik bisamewujudkan hal tersebut. Bahkan umumnyamenaruh perempuan di urutan terbawah dalamdaftar calon legislatif (caleg), posisi di mana SangCaleg tidak akan terpilih. Meskipun demikian,kewajiban tersebut ada dampaknya. Yang menarik,dalam Dewan Perwakilan Daerah (DPD), di manapara calon tidak mewakili partai politik, perempuanmenduduki sepertiga dari kursi yang ada – danlebih dari 30% perempuan yang mencalonkan diri,terpilih dalam pemilihan anggota DPD. Tampaknya,pemilih cukup mendukung terpilihnya perempuan.Masalahnya, bagaimana agar bisa menjadi calonsalah satu partai politik besar. Perempuan jugakurang terwakili di tingkat daerah, terutamakarena harus memikul tanggung jawab rumahtangga. Karena itu, terkait kesetaraan gender,secara menyeluruh kita telah cukup berhasildalam pendidikan namun anak perempuan danperempuan masih banyak menghadapi hambatanbudaya dan ekonomi.TUJUAN 3: MENDORONG KESETARAN GENDER DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUANTarget 3A: Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan,lebih baik pada 2005, dan di semua jenjang pendidikan paling lambat tahun 2015Yang menjadi indikator utama adalah rasio anak perempuan terhadap anak laki-laki dipendidikan dasar, lanjutan dan tinggi. Disini Indonesia tampaknya sudah mencapai target,dengan rasio 100% di sekolah dasar, 99,4% di sekolah lanjutan pertama, 100,0% di sekolahlanjutan atas, dan 102,5% di pendidikan tinggi.Indikator kedua adalah rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki untuk usia 15-24tahun. Disini pun, tampaknya kita telah mencapai target dengan rasio 99,9%.Indikator ketiga adalah sumbangan perempuan dalam kerja berupah di sektor non-pertanian.Disini kita masih jauh dari kesetaraan. Nilainya saat ini hanya 33%.Indikator keempat adalah proporsi perempuan di dalam parlemen, dimana proporsinya saatini hanya 11,3%.17


TUJUAN 4:MENURUNKAN ANGKA KEMATIANANAKGambar 4.1Laju Angka Kematian Bayidan BalitaSumber:BPS – Susenas, berbagai tahunCatatan:Angka kematian balita jugamencakup angka kematian bayi.Jadi di antara dua garis tersebutadalah jumlah anak yangmeninggal antara usia 1 dan 5tahun.Kematian per 1000 kelahiran hidup12010080604020Menurunkan angka kematian anakKita semua ingin menikmati usia panjang dan hidupsehat. Kenyataannya, sekarang kita memang hiduplebih lama. Antara 1970 dan 2005, usia harapanhidup di negeri ini rata-rata meningkat sekitar 15tahun. Anak-anak yang lahir di Indonesia saat inidapat mengharapkan hidup hingga usia 68 tahun.Anda dapat memilih usia harapan hidup sebagaisatu indikator kesehatan. Namun ada satu ukuranlainnya yang sangat penting, yaitu jumlah anakanakyang meninggal. Anak-anak, terutama bayi,lebih rentan terhadap penyakit dan kondisi hidupyang tidak sehat. Itulah sebabnya tujuan keempatMDGs adalah mengurangi jumlah kematian anak.Apa bedanya anak dengan bayi?Bayi adalah anak berusia di bawah satu tahun.Ketika melihat pada angka kematian anak, kita01990 1995 2000 2005 2010 2015AK BalitaAK Bayibiasanya merujuk pada anak di bawah usia limatahun (balita). Ini merupakan pembedaan yangbermanfaat, seperti yang bisa dilihat pada Gambar4.1. Gambar tersebut menunjukkan proporsi anakyang meninggal, baik ketika masih bayi ataupunsebelum mencapai usia lima tahun. Jelas bahwakita mencapai kemajuan karena proporsi balitayang meninggal kurang dari separuh angka tahun1990. Pada 2007, angkanya sekitar 44 per 1.000kelahiran hidup. MDGs menargetkan penguranganangka tahun 1990 menjadi duapertiganya. Artinya,kita harus menurunkannya dari 97 kematianmenjadi 32.Sepertinya kita hampir mencapai target.Ya, dan dengan kecenderungan laju yang ada, kitabahkan bisa mencapainya pada 2010. Namunanda juga harus melihat pada angka kematian bayi.Laju kematian bayi juga menurun, namun lebihlambat dibandingkan penurunan kematian balita.Dengan demikian proporsi kematian yang lebihbesar terjadi pada bulan-bulan pertama setelahdilahirkan. Pada tahun 1990, 70% kematianterjadi pada bayi, namun pada 2005 proporsinyameningkat hingga 77%.Paling tidak, lebih banyak anak-anak kitayang tetap hidup.Ya. Itu karena berbagai alasan. Salah satuyang paling penting adalah berkurangnyatingkat kemiskinan. Artinya, anak-anak tumbuhberkembang di lingkungan yang lebih sejahteradan sehat. Semakin sejahtera anda, semakinmungkin anak-anak anda bertahan hidup. Karenaitu, tidak mengejutkan bahwa angka kematian jugalebih tinggi di propinsi-propinsi termiskin.18


Jadi kita kembali ke kemiskinan lagi?Tidak sepenuhnya karena ada satu pengaruh besarlain yaitu layanan kesehatan, khususnya programimunisasi. Saat ini kita memang memberikanimunisasi untuk hampir semua anak-anak direpublik ini. Namun, belum untuk semuanya. Pada2007, anak-anak yang menerima imunisasi difteri,batuk rejan dan tipus adalah 84.4% 12 , meskipunhanya separuh dari mereka yang menerimaimunisasi lengkap. Selain itu 82% anak-anakmenerima imunisasi Tubercolosis (TBC), dan 80%imunisasi hepatitis. Namun ini harus menjadi satuproses berkesinambungan. Hal yang mencemaskanadalah turunnya angka imunisasi terhadap poliodan campak Jerman (rubella), yaitu dari sekitar74% beberapa tahun lalu menjadi 70%. Campakjuga menjadi kekhawatiran karena angka imunisasihanya 72% untuk bayi dan 82% untuk anak hingga23 bulan, sementara target pemerintah adalah90%. Diperkirakan 30.000 anak meninggal setiaptahun karena komplikasi campak 13 dan baru-baruini ada beberapa KLB (kejadian luar biasa) poliodimana 303 anak menjadi lumpuh.Mengapa hanya sedikit anak-anak yangdivaksinasi?Imunisasi tidak hanya tergantung pada para orangtua untuk memastikan bahwa anak-anak merekamemperoleh vaksinasi, tapi diperlukan sistemkesehatan yang terkelola dengan baik. Telahbanyak yang dibelanjakan untuk kesehatan, namundiperlukan lebih banyak anggaran karena saat inibelanja negara untuk kesehatan hanya sekitar 5%dari APBN 14 . Penduduk miskin, khususnya yangtergantung pada layanan publik, akan menderitajika investasi untuk puskesmas berikut staf kurangmemadai. Sebuah survei misalnya menemukanbahwa tingkat ketidakhadiran staf puskesmasmencapai 40%. Seringkali, karena mereka sedangberada di tempat praktek pribadi 15 . Kini, cukuptinggi ketergantungan pada pemerintah kapubatenyang mengalokasikan 4-11% anggaran untukkesehatan. Sekitar 80% dari anggaran tersebutdigunakan untuk membayar gaji pekerja medis 15 .Padahal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)merekomendasikan bahwa proporsi gaji seharusnyahanya 15%.Jadi, diperlukan dana yang lebih banyak?Dana memang membantu. Bukan hanya untukupaya penyembuhan, namun juga pencegahanpenyakit. Kematian anak bukan terjadi hanyapada tahun pertama, namun juga cukup banyakterjadi pada minggu atau bahkan hari-haripertama kehidupan mereka. Artinya kita harusmemperbaiki kualitas layanan kesehatan ibudan anak, khususnya sepanjang kehamilan dansegera setelah persalinan. Jika mereka bertahanhidup selama masa tersebut, risiko terbesar yangmereka hadapi adalah infeksi saluran pernafasanakut dan diare. Keduanya dapat disembuhkanjika penanganan dini dilakukan. Namun secarakeseluruhan kesehatan anak-anak sangat terkaitdengan kesehatan ibu mereka. Ini membawa kitake tujuan MDGs selanjutnya.TUJUAN 4: MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN ANAKTarget 4A: Menurunkan angka kematian balita sebesar dua pertiganya antara 1990 dan2015Karena itu, indikator utama tujuan ini adalah angka kematian anak di bawah lima tahun(balita). Target MDGs adalah untuk mengurangi dua pertiga angka tahun 1990. Saat itu,jumlahnya 97 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Target saat ini adalah 32 kematian per1.000 kelahiran hidup. Dengan demikian, Indonesia cukup berhasil.Indikator kedua adalah proporsi anak usia satu tahun yang mendapat imunisasi campak.Angka ini telah meningkat,menjadi 72% untuk bayi dan 76% untuk anak dibawah 23 bulanpada 2006, namun perlu lebih ditingkatkan lagi.19


TUJUAN 5:MENINGKATKAN KESEHATAN IBUGambar 5.1Tingkat Kematian IbuSumber:SDKI - berbagai tahun20Meningkatkan kesehatan ibuSetiap tahun sekitar 20.000 perempuan diIndonesia meninggal akibat komplikasi dalampersalinan. Melahirkan seyogyanya menjadiperistiwa bahagia tetapi seringkali berubahmenjadi tragedi. Sebenarnya, hampir semuakematian tersebut dapat dicegah. Karena itutujuan kelima MDGs difokuskan pada kesehatanibu, untuk mengurangi “kematian ibu”. Meskisemua sepakat bahwa angka kematian ibu terlalutinggi, seringkali muncul keraguan tentang angkayang tepat.Kita seharusnya dapat memastikan ketikaseorang ibu meninggal duniaNamun bisa ada keraguan tentang penyebabnya.Anda, misalnya, tidak mungkin hanya mengacupada informasi dalam laporan kematian yangbisa saja disebabkan oleh berbagai alasan, terkaitataupun tidak terkait dengan persalinan. Metodeyang biasa digunakan adalah dengan bertanyapada para perempuan apakah ada saudaraperempuan mereka yang meninggal sewaktupersalinan. Perkiraannya, terbaca dalam Gambar5.1. Gra k menunjukkan bahwa “tingkat kematianibu” telah turun dari 390 menjadi sekitar 307 per100.000 kelahiran. Artinya, seorang perempuanyang memutuskan untuk mempunyai empatanak memiliki kemungkinan meninggal akibatkehamilannya sebesar 1,2%. Angka tersebut bisajauh lebih tinggi, terutama di daerah-daerah yanglebih miskin dan terpencil. Satu survei di Ciamis,Jawa Barat, misalnya, menunjukkan bahwa rasiotersebut adalah 561 17 . Target MDGs adalah untukmenurunkan rasio hingga tiga perempatnya dariangka tahun 1990. Dengan asumsi bahwa rasiosaat itu adalah sekitar 450, target MDGs adalahsekitar 110.Mengapa mereka meninggal?Biasanya, akibat kondisi darurat. Sebagianbesar kelahiran berlangsung normal, namunbisa saja tidak, seperti akibat pendarahan dankelahiran yang sulit. Masalahnya, persalinanmerupakan peristiwa (kesehatan) besar, sehinggakomplikasinya dapat menimbulkan konsekuensisangat serius. Sejumlah komplikasi sewaktumelahirkan bisa dicegah, misalnya komplikasiakibat aborsi yang tidak aman. Komplikasiseperti ini menyumbang 6% dari angka kematian.Sebagian besar sebenarnya bisa dicegah kalausaja perempuan memiliki akses terhadapkontrasepsi yang efektif. Saat ini hanya sekitarseparuh perempuan usia 15 hingga 24 yangmenggunakan metode kontrasepsi modern


(Gambar 5.2). Metode yang paling umum dipakaiadalah suntik, diikuti oleh pil. Proporsi perempuan(usia 15-49) yang menggunakan alat kontrasepsimengalami peningkatan dan prosentasenya padatahun 2006 adalah 61% (SDKI, 2007). Berbagaipotensi masalah lainnya bisa dicegah apabilapara ibu memperoleh perawatan yang tepatsewaktu persalinan.Sekitar 60% persalinan di Indonesia berlangsungdi rumah. Dalam kasus seperti ini, para ibumemerlukan bantuan seorang ”tenaga persalinanterlatih”. Untungnya banyak perempuan yangmendapatkan bantuan tersebut. Seperti tampakpada Gambar 5.2, pada 2007 proporsi persalinanyang dibantu oleh tenaga persalinan terlatih, baikstaf rumah sakit, pusat kesehatan ataupun bidandesa, telah mencapai 73%. Sekali lagi angka inisangat bervariasi di seluruh Indonesia, mulai dari39% di Gorontalo hingga 98% di Jakarta.Apakah kita kekurangan bidan desa?Sebenarnya, pemerintah pusat telah melatihbanyak bidan, dan mengirim mereka ke seluruhpenjuru Indonesia. Namun, sepertinya, pemerintahdaerah tidak menganggap hal tersebut sebagaiprioritas, dan tidak memperkerjakan para bidansetelah berakhirnya kontrak mereka denganDepartemen Kesehatan. Selain itu, ada masalahterkait kualitas. Para bidan desa mungkin tidakmendapatkan pelatihan yang cukup atau mungkinkekurangan peralatan. Jika mereka bekerja dikomunitas-komunitas kecil, mereka mungkintidak menghadapi banyak persalinan, sehinggatidak mendapat pengalaman yang cukup. Namunsalah satu dari masalah utamanya adalah jikadisuruh memilih, banyak keluarga yang memilihtenaga persalinan tradisional.meminta bantuan bidan desa. Hal ini dapatmengakibatkan penundaan yang membahayakanjiwa karena tidak secepatnya memperolehperawatan kebidanan darurat di pusat kesehatanatau rumah sakit. Keterlambatan dapat jugaterjadi karena kesulitan dan biaya transportasi,khususnya di daerah-daerah yang lebih terpencil.Kenyataannya, perempuan mana pun dapatmengalami komplikasi kehamilan, kaya maupunmiskin, di perkotaan atau di perdesaan, tidakpeduli apakah sehat atau cukup gizi. Ini artinyakita harus memperlakukan setiap persalinansebagai satu potensi keadaan darurat yangmungkin memerlukan perhatian di sebuah pusatkesehatan atau rumah sakit, untuk penanganancepat. Pengalaman internasional menunjukkanbahwa sekitar separuh dari kematian ibudapat dicegah oleh bidan terampil, sementaraseparuhnya lainnya tidak dapat diselamatkanakibat tidak adanya perawatan yang tepat denganfasilitas medis memadai 18 .100%80%60%40%20%0%0.410.470.500.490.560.560.6419921993199419951996199719981999200020012002200320042005200620070.670.670.680.680.720.700.720.73Mengapa banyak keluarga lebih memilihtenaga tradisional?Karena berbagai alasan. Salah satunya, biasanyalebih murah dan dapat dibayar dengan beras ataubarang-barang lain. Keluarga juga lebih nyamandengan seseorang yang mereka kenal dan percaya.Mereka yakin bahwa tenaga persalinan tradisionalakan lebih mudah ditemukan dan beranggapanbahwa mereka bisa lebih memberikan perawatanpribadi. Dalam kasus-kasus persalinan normal,ini mungkin benar. Namun jika ada komplikasi,tenaga persalinan tradisional mungkin tidak akandapat mengatasi dan mungkin akan segan untukSetiap kelahiran adalah keadaan darurat?Tidak semua, namun berpotensi menjadikeadaan darurat. Ini artinya akan baik kalau adaseseorang yang mengamati dan dapat mengenaliadanya tanda-tanda bahaya. Jika ada bidan desapada saat persalinan atau sang ibu melahirkandi sebuah pusat kesehatan atau rumah sakit,semestinya perawat, bidan atau dokter dapatmelakukan tindakan yang diperlukan. Sayangnya,ketika sang ibu sampai di rumah sakit, belum tentuia akan mendapatkan bantuan yang diperlukanGambar 5.2Proporsi Kelahiran yangDibantu oleh TenagaPersalinan TerlatihSumber:BPS-Susenas damn SDKI,berbagai tahun21


karena banyak rumah sakit kabupaten kekuranganstaf dan tidak memiliki layanan 24 jam. Jikakita hendak mewujudkan tujuan yang berkaitandengan angka kematian ibu, perlu memperbaikiperawatan di pusat-pusat kesehatan. Lebih dariitu, kita juga perlu memikirkan tentang apa yangterjadi sebelum dan selama kehamilan. Bahkanjika kita tidak dapat meramalkan keadaandarurat, kita bisa mencoba untuk memastikanbahwa para ibu berada dalam kondisi terbaik dantetap bertahan, dengan gizi yang cukup. Saat ini,sekitar seperlima perempuan hamil kekurangangizi dan separuhnya menderita anemia.Anemia?Anemia adalah rendahnya kadar zat besi dalamdarah. Ini dapat terjadi selama kehamilan ketikatubuh ibu memerlukan lebih banyak zat besi.Anemia membuat perempuan jauh lebih rentanuntuk sakit dan meninggal. Namun demikian,mereka dapat mengganti kekurangan zat besitersebut jika mereka mendatangi klinik prapersalinan dimana mereka menerima suplemenzat besi. Perempuan yang secara rutin mendatangiklinik pra persalinan biasanya mengetahui apayang harus mereka lakukan apabila terjadikeadaan darurat. Selain melindungi kesehatanibu, perawatan pra dan pasca persalinan jugamemberi manfaat pada anak-anak serta dapatmenyelamatkan nyawa mereka. Anda mungkinmasih ingat dalam tujuan MDGs sebelumnyabahwa saat ini kebanyakan anak meninggalsegera setelah kelahiran.Ya, masih ingatIni adalah salah satu contoh tentang keterkaitanantara semua tujuan-tujuan MDGs. Bila terjadikemajuan di satu tujuan, sangat mungkin untukmencapai tujuan lain. Perlu anda ketahui bahwaperempuan juga punya kecenderungan anemiajika mereka terkena malaria, yang membawa kitake tujuan berikutnya.TUJUAN 5: MENINGKATKAN KESEHATAN IBUTarget 5A: Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya antara 1990 dan2015.Data tersedia yang terdekat dengan tahun 1990 berasal dari tahun 1995. Berdasarkan datadatatersebut, target yang harus dicapai adalah 97. Melihat kecenderungan saat ini, Indonesiatidak akan mencapai target.Indikator kedua yaitu proporsi persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, saat inimenunjukkan angka 73%.Target 5B: Mencapai dan menyediakan akses kesehatan reproduksi untuk semua pada2015Penggunaan kontrasepsi oleh wanita usia 15-49 tahun meningkat menjadi 61.0%. Perawatanantenatal juga mengalami peningkatan. Akan tetapi, dengan keterbatasan data, sulit untukmengukur sejauh mana pencapaian target akses untuk kesehatan reproduksi.22


TUJUAN 6:MEMERANGI HIV DAN AIDS,MALARIA SERTA PENYAKIT LAINNYAMemerangi HIV dan AIDS, malaria sertapenyakit lainnyaTujuan keenam dalam MDGs menangani berbagaipenyakit menular paling berbahaya. Pada urutanteratas adalah Human Immunode ciency Virus (HIV),yaitu virus penyebab Acquired Immuno De ciencySyndrome (AIDS) – terutama karena penyakit inidapat membawa dampak yang menghancurkan,bukan hanya terhadap kesehatan masyarakatnamun juga terhadap negara secara keseluruhan.Indonesia beruntung bahwa HIV belum mencapaikondisi seperti yang terjadi di Afrika dan beberapanegara Asia Tenggara. Jumlah penduduk Indonesiayang hidup dengan virus HIV diperkirakan antara172.000 dan 219.000, sebagian besar adalahlaki-laki 19 . Jumlah itu merupakan 0,1% dari jumlahpenduduk. Menurut Komisi Penanggulangan AIDSNasional (KPA), sejak 1987 sampai Juni 2008,tercatat 12.686 kasus AIDS – 2.479 di antaranyatelah meninggal.Jadi kita bisa terbebasMungkin Ya, mungkin Tidak. HIV masih menjadiancaman utama, seperti yang dapat kita amatiterjadi di tempat lain. Di negara-negara lain,penularan awalnya menyebar dengan cepat di antaradua kelompok berisiko tinggi, yaitu para penggunaNarkotika, Psikotropika dan Zat Aditif Lainnya(Napza) suntik (penasun) dan pekerja seks. Darisana HIV menyebar ke penduduk lainnya sehinggamenyebabkan ”epidemi yang menyebar ke populasiumum (generalised epidemy)”. Di Indonesia,penularan memang masih terkonsentasi pada duakelompok tersebut, namun di beberapa wilayahsudah terlihat kecenderungan bahwa epidemi iniakan menyebar ke populasi umum, yaitu penyebarandari pengguna napza suntik ke pasangan seksnya.Bahkan di Papua - dianggap sudah memasukikondisi generalised epidemic. Epidemi yang lebihluas lagi sebenarnya sangatlah mungkin untukdicegah, karena penularan HIV tidaklah semudahpenularan virus lain, misalnya in uenza.Benarkah? Saya pikir HIV sangat mudahmenularHanya dalam kondisi-kondisi tertentu. HIV tidakmenyebar melalui sentuhan. Anda tidak akan positiftertular HIV hanya dengan hidup bersama ataubekerja bersama seseorang yang hidup denganHIV. Virus HIV tidak menular melalui sentuhan,bahkan ciuman dengan orang yang tertular HIV.Dalam kenyataannya, stigma tentang HIV munculkarena orang tidak memahami bagaimana carapenularannya dari satu orang ke orang lain.Jadi, bagaimana cara penularannya?Risiko terbesar adalah melalui kontak langsungdengan darah yang tertular atau melalui hubunganseks tanpa pelindung. Para pengguna narkobaberisiko tinggi karena mereka sering tukar menukarjarum, sehingga memungkinkan penularan dari sisadarah pada alat suntik yang baru digunakan darisatu orang ke orang lain. Di Indonesia terdapatsekitar setengah juta penasun dan sekitar setengahdari mereka diperkirakan telah tertular 20 . Kelompokutama berisiko tinggi lainnya adalah pekerja seks(PS – dulu Pekerja Seks Komersial). Di Indonesiaterdapat sekitar 200.000 PSK perempuan. DiJakarta, misalnya, sekitar 6% dari para pekerjatersebut diperkirakan telah tertular. Hal ini berartipara pengguna jasa PSK pun termasuk ke dalamkelompok resiko tinggi. Laki-laki yang berhubungan23


seks secara tidak aman dengan laki-laki juga berisikotinggi. Selain itu, para ibu hamil yang terinfeksiHIV juga dapat menularkannya ke anak yang barumereka lahirkan, melalui pemberian air susu ibu(ASI) kepada bayinya. Walaupun di kebanyakanwilayah Indonesia HIV belum menyebar ke populasiumum, namun tanpa penanganan yang tepat iadapat menyebar dengan sangat cepat. Memangdalam beberapa hal Indonesia sangat rentan.Berisiko tinggi terhadap apa?Terhadap epidemi yang meluas. Salah satu masalahpaling penting adalah rendahnya penggunaankondom. Hanya sekitar 1,3% pasangan yangmenggunakan kondom sebagai alat keluargaberencana. Bahkan di antara para PSK, hanyasekitar setengah dari mereka yang menggunakankondom. Oleh sebab itu, HIV berpotensi menyebardengan cepat – dari para pengguna narkoba suntikdan para PSK, kepada para pelanggan pekerja seksdan kemudian kepada penduduk. Ini dapat terjadidengan cukup cepat. Tanah Papua (Papua danPapua Barat) telah menunjukkan betapa cepatnyavirus tersebut menyebar. Di Papua saat ini sudahterjadi epidemi yang menyebar ke masyarakat luas 21 ,dimana 2,5% penduduk di dua propinsi Papua hidupdengan HIV 22 . Di Tanah Papua hanya sedikit orangyang menggunakan napza jarum suntik, namun lebihbanyak orang yang menggunakan jasa PSK danjuga pada tingkat hubungan seks pra-nikah yanglebih tinggi. Seperti yang terjadi di Tanah Papua,ini menggambarkan Indonesia menghadapi risikopenyebaran HIV yang lebih cepat melalui penularanseksual. Menurut Departemen Kesehatan, padatahun 2010 jumlah penduduk yang tertular HIVdiperkirakan mencapai setengah juta orang, bahkansatu juta, bila tidak ada tindakan efektif 23 .Jadi bagaimana kita bisa mencegahnya?Prioritas pertama, masyarakat harus mengetahuisemua fakta. Kebanyakan orang sadar tentangpenyakit tersebut namun memiliki pandanganyang keliru. Banyak PSK, misalnya, mengaku bisamengetahui pelanggannya tertular atau tidak hanyadengan melihat pelanggan tersebut. Padahalfaktanya adalah kita tidak dapat mengetahuiseseorang terinfeksi HIV secara sik jika memangbelum muncul gejala penyakit ketika sistemkekebalan tubuh mereka sudah menurun (tahapanAIDS). Masyarakat juga perlu mengetahuibagaimana penularan terjadi serta cara melindungidiri sendiri. Sebuah survei terhadap para remajayang beranjak dewasa yang dilakukan selama 2002-2003, misalnya, menunjukkan bahwa 40% tidakmengetahui bagaimana menghindari infeksi HIV 24 .Selain itu, kesadaran saja tidak cukup. Seseorangyang telah memiliki informasi dasar (sekitar 66%;61% wanita dan 71% pria - dari mereka dalamusia reproduktif, SDKI 2007) mungkin tidak akanmengubah perilaku mereka. Banyak orang mungkinterlalu malu untuk membeli atau membawa-bawakondom. Atau, lebih memilih berhubungan sekstanpa kondom karena alasan tidak nyaman. Masihcukup banyak laki-laki yang telah berhubunganseks dengan PSK tanpa kondom, kemudian dengantanpa rasa bersalah ataupun khawatir, melakukanhubungan seks, juga tanpa kondom, dengan istrinyadi rumah.Meskipun ia sudah tertular HIV?Boleh jadi tanpa sepengetahuannya. Hanya sekitarsatu dari dua puluh orang yang tertular HIV telahmelakukan tes. Oleh sebab itu menjadi pentingbahwa siapa pun seharusnya berkesempatanmenjalani tes serta memperoleh konseling yangtepat.Apa perlunya menjalani tes apabila tidakbisa disembuhkan?Jika seseorang mengetahui bahwa mereka positifterinfeksi HIV, mereka harus mengurangi kemungkinanmenularkannya kepada pasangan. Dan meskipunbelum dapat disembuhkan, saat ini ada obat-obatanyang disebut antiretroviral yang dapat membantumengendalikan laju penyakit tersebut. Seyogyanyaantiretroviral gratis, namun dalam prakteknya adabiaya pendaftaran dan biaya-biaya lain, dan saatini antiretroviral hanya tersedia di rumah sakit kotabesar. Namun, alasan lain mengapa orang engganuntuk menjalani tes atau pengobatan adalahkarena stigma yang melekat pada HIV dan AIDS. Initerutama karena kekurangtahuan. Bahkan sebagiandokter dan perawat, kelihatannya, tidak mengetahuifakta-fakta dasar HIV dan AIDS serta enggan untukmerawat orang yang terkena HIV. Jika kita inginmencegah meluasnya epidemi, perlu membahaspenyakit tersebut secara terbuka dan jujur sertamengambil langkah-langkah praktis, meskipunkelihatannya akan banyak ditentang.Apa yang harus dipertentangkan?Banyak yang berpendapat, perlu membagikan24


kondom gratis di kawasan pekerja seks atau jarumsuntik gratis kepada para pengguna narkoba.Sementara yang lain menentang hal ini karenaseakan membiarkan atau mendorong perilaku takbermoral atau berbahaya. Namun HIV dan AIDSmenghadapkan kita pada pilihan keras dan sulit.Selain kelompok berisiko tinggi, kita juga harusberanggapan bahwa pada akhirnya semua orangberisiko dan berarti pendekatan yang digunakanpun akan berbeda. Memang komunikasi perluditingkatkan antara yang mendukung dan menolakpendekatan penurunan dampak buruk, bahwamereka memiliki kelompok sasaran masing-masing,tanpa menghujat atau merendahkan kelompok lain.Jadi setiap orang perlu untuk mengambil langkahperlindungan yang diperlukan. Beruntung bahwakita sekarang memiliki Komisi Penanggulangan AIDS(KPA) yang aktif sehingga dapat membantu kitamewujudkan tujuan ini.Apa tujuan yang hendak dicapai?Target MDGs untuk HIV dan AIDS adalahmenghentikan laju penyebaran serta membalikkankecenderungannya pada 2015. Saat ini, kitabelum dapat mengatakan telah melakukan duahal tersebut karena di hampir semua daerah diIndonesia keadaannya tidak terkendalikan. Kita bisasaja mencapai target ini, namun untuk itu diperlukansatu upaya besar-besaran dan terkoordinasi denganbaik di tingkat nasional. Masalah utama kita saat iniadalah rendahnya kesadaran tentang isu-isu HIV danAIDS serta terbatasnya layanan untuk menjalankantes dan pengobatan. Selain itu, kurangnyapengalaman kita untuk menanganinya dan anggapanbahwa ini hanyalah masalah kelompok risiko tinggiataupun mereka yang sudah tertular. Stigma yangmasih kuat menganggap bahwa HIV hanya akanmenular pada orang-orang tidak bermoral. Menjadisebuah tantangan untuk mengajak semua pihakmerasakan ini sebagai masalah yang perlu dihadapibersama. Kondisi ini dapat terlihat secara jelas jikadibandingkan dengan respon terhadap penyakitpenyakitlain seperti malaria dan Tuberculosis (TBC),dimana lebih mudah melibatkan masyarakat karenatidak ada stigma dan diskriminasi terhadap penyakitpenyakittersebut.Apakah kita lebih maju dalam menanganiMalaria dan TBC?Ya, meski sebenarnya, titik awalnya lebih buruk.Dibandingkan HIV dan AIDS, TBC sudah ada lebih lama,dan saat ini, berdampak pada lebih banyak orang yaitusekitar 582.000. Angka penduduk yang “BTA (BatangTahan Asam) positif” TBC diukur per 100.000 orang.Angka ini bervariasi, mulai dari 64 di Jawa dan Bali,hingga 160 di Sumatera dan 210 di propinsi- propinsibagian Timur. Setiap tahun sekitar 100.000 orangmeninggal karena TBC, yang merupakan penyebabkematian ketiga terbesar. TBC, yang utamanyamenggerogoti paru-paru, sangat menular. Setiap tahunsatu orang dapat menulari sekitar 10 hingga 15 orangdengan melepaskan bakteri TBC ke udara yang dapatdihirup oleh orang lain.Terdengar sangat berbahayaMemang, namun tidak seburuk itu. Pertama, karenakebanyakan orang yang terinfeksi tidak segeramenunjukkan gejala-gejala aktif. Yang paling mungkinmenderita adalah mereka yang sistem kekebalannyamelemah, jadi ada keterkaitan yang kuat antara virusHIV yang dampak utamanya adalah melemahkansistem kekebalan. Kedua, TBC dapat disembuhkan.Strategi standar penyembuhan TBC adalah apa yangdisebut strategi penyembuhan jangka pendek denganpengawasan langsung (Directly-Observed TreatmentShort-course/DOTS). Penyembuhan ini mencakuppemberian tiga atau empat obat dosis tinggi selamaenam bulan. Indonesia telah menggunakan DOTSsejak 1995. Saat ini kita mendeteksi lebih dari tigaperempat kasus, di mana tingkat penyembuhansekitar 91%.Mengapa tidak seluruhnya?Seringkali karena orang berhenti meminum obatketika mereka merasa lebih sehat. Namun initidak berarti bahwa mereka sudah sembuh. Untuksembuh total, mereka harus menjalani prosespenuh. Berhenti meminum obat tidak baik untukmereka dan untuk orang lain, karena hal itu akanmendorong timbulnya turunan (strain) TBC yangkebal terhadap obat-obatan yang ada saat ini.Ini adalah kasus di mana pengobatan yang tidaktuntas lebih buruk daripada tidak diobati. Namunkebanyakan orang, yaitu 91%, betul-betul sembuhdan berkat DOTS kita telah memenuhi target MDGsuntuk membalikkan kecenderungan penyebaranpenyakit tersebut. Di Jawa dan Bali, misalnya,sejak 1990 prevalensi penyakit TBC telah berkurangsetengahnya, meskipun di tempat lain penurunantersebut terjadi lebih lambat.25


Kabar baik kalau begituYa, namun TBC masih merupakan masalah sangatbesar. Lebih dari setengah juta penduduk masihterinfeksi setiap tahun. Tantangan utamanya adalahmemperluas program DOTS - yang saat ini lebihbanyak dikonsentrasikan di pusat-pusat kesehatan– dengan melibatkan lebih banyak komunitas, LSMdan pihak lain. Juga penting untuk memastikanbahwa kita tetap menyimpan pasokan obat-obatanyang diperlukan dan bahwa pasien terus menjalaniproses penyembuhan secara penuh. Secara khusus,kita harus lebih banyak menjangkau daerah-daerahterpencil. Pelayanan di daerah-daerah terpencil sulituntuk hampir semua penyakit, bukan hanya TBCnamun juga malaria.Tapi paling tidak malaria tidak mematikanBiasanya tidak, meskipun ia menurunkan kesehatan,khususnya anak-anak dan ibu-ibu hamil. Malariamembuat mereka lebih rentan terhadap penyakit lain,dan memiliki dampak ekonomi yang sangat besar.Malaria dapat membuat orang tidak bisa bekerja –yang diperkirakan menimbulkan kerugian sekitar 60juta dollar karena hilangnya pendapatan. Hampirseparuh dari penduduk Indonesia, atau sekitar 90juta orang, tinggal di daerah-daerah dengan nyamukpembawa malaria. Dan setiap tahun, ditemukan 18juta kasus malaria (Depkes, 2005).Apakah kasus malaria menurun ataumeningkat?Kita tidak punya informasi yang cukup untuk bisamemberikan gambaran yang lengkap. Kebanyakanorang yang menderita malaria tidak melaporkannya.Hanya sekitar 20% orang yang mencari pengobatan,dan survei terperinci hanya di daerah-daerah yangpaling parah terkena dampak, biasanya di berbagaikabupaten kawasan Timur. Di Jawa dan Bali,prevalensi malaria sudah turun mencapai tingkat yangcukup rendah. Sebaliknya, di kabupaten-kabupatenIndonesia bagian Timur serta sejumlah tempat lainterjadi peningkatan jumlah kasus malaria. Namundemikian ini mungkin saja terjadi karena adanyasurvei-survei yang lebih baik. Secara menyeluruh, diIndonesia, kita dapat mengatakan bahwa kita sudahmembalikkan kecenderungannya, jadi kita tepatsasaran untuk mencapai tujuan MDGs.Apakah kita bisa lebih memastikanpencapaiannya?Di kabupaten-kabupaten di Indonesia bagianTimur, yang menjadi tugas utama adalah mencegahinfeksi, dimulai dengan nyamuk anopheles yangmembawa parasit. Pertama, kita harus mengurangijumlah tempat-tempat dimana nyamuk dapatberkembang biak – biasanya di sungai-sungai dananak-anak sungai yang tidak beriak selama musimkemarau atau di cekungan-cekugan air hujan dihutan-hutan selama musim hujan. Kemudiankita perlu melindungi diri kita sendiri dari nyamukdengan menyemprot rumah dengan insektisida ataudengan menggunakan kelambu yang sudah dicelupinsektisida, khususnya untuk anak-anak.Siapa yang membayar ini semua?Sebagian dana berasal dari anggaran kesehatan,ditambah dukungan dari Dana Global (Global Fund)untuk AIDS, TBC dan Malaria. Namun kebanyakanorang harus membayar untuk melindungi diri merekasendiri. Seperti yang dapat anda bayangkan, yangpaling parah terkena adalah keluarga termiskin.Mereka tinggal di rumah-rumah dengan standarburuk dan tidak mampu membeli kelambu. Termasukpenduduk miskin yang karena ingin mendapatkanlahan lebih luas, berpindah ke pinggiran hutan.Begitu pula bila terjadi bencana alam, sepertitsunami di Aceh, banyak yang mengungsi ketempat-tempat yang membuat mereka lebih mudahterserang. Bagi semua kelompok ini, prioritasutama adalah pencegahan. Namun mereka jugaperlu untuk memperoleh pengobatan. Sekarang inipengobatan utama adalah dengan terapi kombinasiobat artemisin (artemisin combination therapy), yangsangat efektif. Kenyataannya, di tempat-tempat dimana kasusnya lebih sedikit, terapi pengobatan jugamenjadi sebuah bentuk pencegahan yang penting.Mengapa begitu?Jika tidak ada manusia yang terinfeksi, nyamuk tidakdapat membawa parasit. Ini memutus siklus infeksi.Jadi tahap akhir dalam perjuangan melawan malariaadalah pemberantasan. Daripada menunggupasien mendatangi pusat-pusat kesehatan, ataupara pekerja kesehatan pergi berkeliling mencarikasus dan mengobatinya. Seperti halnya denganpenyakit-penyakit menular lainnya, dalam halmalaria kita dapat mencapai kemajuan yang cukupbesar, yaitu dengan menciptakan lingkungan alamdan manusia yang lebih sehat. Ini membawa kita ketujuan ketujuh.26


TUJUAN 6: MEMERANGI HIV DAN AIDS, MALARIA SERTA PENYAKIT LAINNYATarget 6A: Menghentikan dan mulai membalikkan tren penyebaran HIV dan AIDS pada2015Prevalensi saat ini adalah 5,6 per 100.000 orang di tingkat nasional namun pada saat initidak ada indikasi bahwa kita telah menghentikan laju penyebaran HIV dan AIDS. Meskipundemikian, kita semestinya bisa melakukannya. Hampir semua data yang ada berikut ini,terkait dengan kelompok-kelompok berisiko tinggi.Prevalensi HIV– Para pengguna napza jarum suntik 2003: Jawa Barat, 43%. PSK perempuan2003: Jakarta, 6%; Tanah Papua 17%. PSK laki-laki 2004: Jakarta, 4%. Narapidana 2003:Jakarta, 20%.Tes – Melakukan tes selama 12 bulan terakhir dan mengetahui hasilnya, 2004-2005: PSKperempuan, 15%; pelanggan pekerja seks, 3%; pengguna napza jarum suntik 18%; laki-lakiyang berhubungan seks dengan laki-laki, 15%.Pengetahuan– Proporsi kelompok yang tahu bagaimana mencegah infeksi dan menolakkesalahpengertian utama 2004: PSK, 24%; pelanggan pekerja seks, 24%; laki-laki yangberhubungan seks dengan laki-laki, 43%; pengguna napza jarum suntik,7%.Target 6B: Tersedianya akses universal untuk perawatn terhadap HIV/AIDS bagi yang memerlukan,pada 2010Untuk target ini, belum ada data tersedia.Target 6B: Menghentikan dan mulai membalikkan kecenderungan persebaran malaria danpenyakit-penyakit utama lainnya pada 2015Malaria – Tingkat kejadian hingga 18.6 juta kasus per tahun. Jumlah ini mungkin sudahturun.Tuberkulosis (TBC) – Prevalensi: 262 per 100.000 atau setara dengan 582.000 kasus setiaptahunnya. Deteksi kasus: 76%. Angka keberhasilan pengobatan DOTS: lebih dari 91%.27


TUJUAN 7:MEMASTIKAN KELESTARIANLINGKUNGANGambar 7.1Kategori “Kawasan Hutan”dan Cakupan Hutan yangSesungguhnya, 2006Sumber:Departemen Kehutanan, 200628Memastikan kelestarian lingkunganPembangunan di Indonesia telah banyakmengorbankan lingkungan alam. Kita menebangpohon, merusak lahan, membanjiri sungai-sungaidan jalur air serta atmosfer dengan lebih banyakpolutan. Tujuan MDGs ketujuh adalah untukmenghalangi kerusakan ini. Pertama, tujuanini menelaah seberapa besar wilayah kita yangtertutup oleh pohon. Ini penting bagi Indonesiakarena kita memiliki sejumlah hutan yang palingkaya dan paling beragam di dunia. Namun tidakuntuk jangka waktu yang terlalu lama lagi. Selamaperiode 1997 hingga 2000, kita kehilangan 3,5juta hektar hutan per tahun 25 , atau seluas propinsiKalimantan Selatan.Mengherankan bahwa masih ada hutanyang tersisaMemang. Namun demikian, menurut DepartemenKehutanan, kita memiliki 127 juta hektar “kawasanhutan”, yaitu sekitar dua pertiga luas wilayah kita.Kawasan ini dibagi menjadi berbagai kategoridengan tingkat perlindungan yang berbeda, sepertiyang terlihat pada Gambar 7.1 26 .Kawasan yang paling terlindungi adalah ”kawasankonservasi” dan ”hutan lindung”. Kawasan dengantingkat perlindungan lebih rendah adalah duajenis ”hutan produksi” yang digunakan untukmendapatkan kayu atau hasil hutan lainnya - namundengan keharusan penanaman kembali. Yang palingrentan adalah kawasan yang digolongkan “hutankonversi”, yang sesuai namanya bisa digunakanuntuk tujuan-tujuan lain.Tidak terlalu buruk, karena dua pertigawilayah Indonesia adalah hutanAkan demikian halnya apabila kawasan tersebutbenar-benar kawasan hutan. Citra satelitmenunjukkan bahwa pada 2005, sepertiga dari”kawasan hutan” tersebut hanya memiliki sedikitpopulasi pohon. Wilayah yang sebenarnya berhutanhanyalah sekitar 94 juta hektar, atau sekitar 50%wilayah Indonesia. Mencermati Gambar 7.1, andaakan melihat hanya tersisa sedikit pohon dalamdua perlima area hutan produksi. Sebaliknya, citrasatelit juga menunjukkan bahwa sebagian darilahan yang tidak diperuntukkan sebagai hutanpada kenyataannya adalah hutan.Cukup serius. Apa yang terjadi denganpepohonan yang tersisa?Salah satu masalah utama adalah penebanganliar. Kayu sangat berharga sehingga banyakperusahaan siap mencurinya, kadang-kadang lewatkolusi dengan pejabat setempat. Kenyataannya,separuh kayu Indonesia diperkirakan dihasilkanlewat pembalakan liar. Dalam beberapa kasus,


lahan juga dibuka untuk tujuan-tujuan lainseperti perkebunan kelapa sawit. Selain itu,sebagian komunitas pedesaan yang kekuranganlahan juga telah merambah hutan lebih jauh.Situasinya semakin rumit ketika pemerintahdaerah mempunyai de nisi peruntukan lahan yangbertentangan dengan defenisi nasional.Jadi kita tidak cukup berhasilTidak, dan semua ini menimbulkan masalah besarbagi penduduk yang menggantungkan penghidupanmereka pada hutan, khususnya sekitar 10 jutapenduduk miskin, termasuk kelompok masyarakatadat 27 . Penggundulan hutan juga seringkali disertaidengan kebakaran hutan yang menimbulkanmasalah kesehatan yang serius selain memproduksigas rumah kaca yang dilepaskan dalam jumlahbesar ke atmosfer. Penggundulan hutan jugamengurangi keragaman hayati kita. Seperti yangsudah anda bayangkan, untuk indikator MDGs ini,Indonesia masih jauh dari target.Jadi bagaimana kita bisa mengejarketertinggalan?Mungkin agak sulit. Di tingkat nasional kitamempunyai niat yang benar. Pemerintah telahberikrar untuk melindungi lingkungan. Namun kitamemiliki pengelolaan yang buruk dan kesulitandalam menegakkan peraturan. Kita harus berbuatlebih banyak untuk memberantas kejahatan dankorupsi di bidang kehutanan. Yang juga perludilakukan adalah pengalihan pengendalian hutankepada komunitas setempat sehingga mereka bisahidup dari hutan dan mendapatkan insentif untukmengelola dan melindungi hutan tersebut. Namunkita juga memiliki banyak sumber daya alam lainyang dengannya penduduk miskin bisa bertahanhidup, khususnya lautan yang menjadi lapanganpekerjaan bagi 3 juta orang. Kenyataannya, sumberdaya kelautan di Indonesia juga telah terkenadampak penggundulan hutan.Kita punya pohon bawah laut?Tidak, namun penggundulan hutan dan kerusakanlahan menyebabkan erosi berupa pengikisan lapisantanah oleh air hujan. Tanah tersebut mengalirbersama sungai ke laut sehingga menghancurkanterumbu karang. Laut kita pun menghadapi risikopolusi lainnya, khususnya tumpahan minyak.Sementara itu, di daratan kita dihadapkan padapolusi limbah beracun, kimia dan pestisida –begitupula polusi udara, khususnya yang berasal dariindustri dan semburan asap kendaraan bermotor.Secara keseluruhan, lingkungan hidup Indonesiatelah cukup tercemar. MDGs tidak memilikiindikator untuk polusi, namun memonitor seberapabesar penggunaan energi kita, karena banyak darienergi tersebut merupakan hasil industrialisasiyang biasanya mengkonsumsi lebih banyak energi.Saya banyak menggunakan energi untukmembaca laporan iniJuga sangat menarik bukan? Tetaplah membaca.Tinggal satu tujuan MDGs lagi yang akan dibahas.Tentu saja energi yang sedang kita bahas initidak berasal dari makanan namun dari berbagaijenis bahan bakar. Konsumsi minyak bumi, kitaberada di titik yang rendah pada 1998 menyusulkrisis ekonomi. Sejak itu, “intensitas energi” kitameningkat terus hingga saat ini mencapai 95,3 kgsetara minyak per 1,000 $ (Dep. ESDM, 2006).Namun demikian, menggunakan lebih banyak energitidak serta-merta berarti lebih banyak pencemaran,khususnya jika kita beralih menggunakan bahanbakar yang lebih bersih. Dalam kenyataannya, salahsatu indikator MDG lainnya jelas mencerminkanhal ini. Indikator tersebut melihat pada proporsipenduduk yang menggunakan bahan bakar padat.Ini artinya menggunakan kayu atau batubara,misalnya, dan bukan menggunakan minyak tanah,atau LPG (Liqui ed Pertoleum Gas). Memangproporsi penduduk yang menggunakan bahanbakar padat sudah menurun secara tajam, dari70,2% pada 1989 menjadi 47,5% pada 2004.Apa yang salah dengan bahan bakar padat?Biasanya lebih kotor karena menghasilkan uapdan asap. Ini berisiko jika digunakan di rumah,khususnya bagi perempuan dan anak-anak karenabisa terkena dampak buruknya. Tentu saja kitajuga perlu mengkhawatirkan emisi bahan bakarlain yaitu “gas rumah kaca”, khususnya karbondioksida yang naik ke lapisan atas atmosfer danmemanaskan planet ini.Itu bukan salah kita. Kebanyakan gasrumah kaca berasal dari negara-negarakayaMemang betul bahwa negara-negara maju palingbanyak menghasilkan emisi industri. Namun banyaknegara-negara berkembang, termasuk Indonesia,juga menghasilkan banyak karbon dioksida. Pada29


tahun 2000 setiap orang mengeluarkan rata-rata1,15 metrik ton karbon dioksida ke atmosfer .Lebih dari separuhnya berasal dari industri, rumahtangga atau transportasi, sementara sisanyaberasal dari kehutanan dan pertanian. Pada tahun2005 tingkat emisi naik menjadi 1,34 metrik ton.Namun angka-angka tersebut bisa menjadi sangatbesar bila memasukkan kebakaran hutan dankehancuran lahan gambut.Lahan gambut?Gambut adalah satu kandungan bahan-bahanorganik yang membusuk. Di Indonesia kitamemiliki banyak hutan rawa dimana pembusukantanaman berjalan sangat lambat. Selama ribuantahun, bahan-bahan tersebut menjadi satu lapisangambut yang tebal, bermeter-meter ke dalam tanahdan menyimpan milyaran ton karbon dioksida.Ketika rawa dikeringkan atau gambut terbakar,banyak dari karbon dioksida tersebut lepas keatmosfer. Sejumlah LSM berpendapat bahwakerusakan lahan gambut dengan cepat mengubahIndonesia menjadi salah satu penghasil emisikarbon dioksida terbesar di dunia 29 .Betulkah?Pada saat ini kita tidak memiliki angka yang pasti.Pemerintah sedang mengkaji isu tersebut danakan memberikan perkiraan tentang apa yangsedang terjadi. Apa pun cakupan kerusakanannya,jelas bahwa kerusakan hutan-hutan kita bukansaja merusak warisan lingkungan kita, tetapi jugamenyumbang pada pemanasan global. Namunini bukan satu-satunya emisi yang harus kitakhawatirkan.Saya merasa sangat khawatirUntungnya, kenyataan yang sesungguhnya mungkintidak terlalu dramatis. Ini merujuk pada penggunaanbahan-bahan yang mengurangi “lapisan ozon”.Ozon membentuk satu lapisan perisai yangmelindungi bumi dari radiasi matahari yangmerusak. Namun lapisan ozon dapat hilang olehbahan-bahan seperti chloro uorocarbons (CFC)yang telah digunakan dalam produk penyemprotaerosol dan lemari pendingin. Indonesia tidak dapatmenghasilkan bahan-bahan kimia ini, namun kitamenggunakannya, sehingga tugas pertama adalahmengurangi impor bahan-bahan tersebut danberhenti menggunakan persediaan yang ada.Bagaimana dengan kita? Apakah kita jugaikut menghilangkan lapisan ozon?Rasanya memang demikian. Selama periode1992-2002, dengan bantuan internasionalIndonesia telah berhasil menghapuskan 3.696 tonbahan-bahan perusak lapisan ozon 30 . Sebaliknya,kita masih mengimpor secara ilegal bahanbahantersebut. Meskipun di satu sisi, kita makinmengurangi penggunaan sejumlah bahan yangmerusak, pada saat yang sama kita menggunakanbahan-bahan lainnya lebih banyak lagi. Seringkalimasalahnya terletak pada perusahaan-perusahaanyang lebih kecil. Seperti halnya regulasi tentanghutan, kita memiliki regulasi berkaitan denganbahan-bahan tersebut, namun kita juga kesulitanuntuk menjalankannya. Apakah anda siap untukmembahas topik utama yang lain?Baiklah. Mari kita lanjutkan ke bahanpembicaraan yang lainDari hutan dan gas, sekarang saatnya untuk beralihke cairan dan khususnya air minum. Tujuan MDGketujuh antara lain menetapkan target untukmenurunkan separuh dari proporsi penduduk yangtidak memiliki “akses yang berkelanjutan terhadapair minum yang aman.” Namun apa artinya itu?Mungkin anda bisa mendapatkan air dari sumuratau sungai, atau dari hidran atau keran air. Apakahanda akan meminumnya?Rasanya tidakDi lain pihak, anda dapat merebusnya, sehinggabisa memberikan anda “akses terhadap air minumyang aman.” Atau jika anda mempunyai pendapatanrutin, anda dapat membeli air kemasan. Indonesiamerupakan konsumen air kemasan terbesar kedelapan di dunia dengan konsumsi lebih dari7 milyar liter per tahun pada 2004 dan denganpenjualan yang semakin meningkat pesat 31 .Namun demikian, sangatlah sulit untuk dapatmemahami bagaimana masyarakat mendapatkanakses dengan cara-cara seperti itu. Dan MDGstidak menganggap air kemasan sebagai sumberyang berkelanjutan bagi kebanyakan orang. Jadiuntuk itu indikator yang digunakan adalah proporsipenduduk yang memiliki akses berkelanjutanterhadap satu ”sumber air yang terlindungi(improved water source)”.30


90%80%70%60%50%40%30%20%10%0%JakartaBaliKalimantan TimurKepulauan RiauYogyakartaSulawesi UtaraJawa TimurKalimantan BaratMalukuKalimantan SelatanJawa TengahSulawesi TenggaraSumatera UtaraIindonesiaSulawesi SelatanRiauJambiSumatera BaratIrian Jaya BaratSumatera SelatanNusa Tenggara TimurMaluku UtaraLampungNusa Tenggara BaratJawa BaratSulawesi TengahBantenGorontaloPapuaKalimantan TengahBengkuluNanggroe AcehBangka BelitungSulawesi BaratApa artinya terlindungi?Itu bisa saja sebuah sumur, misalnya, yang sudahdiberi pembatas atau memiliki pagar atau tutupuntuk melindunginya dari kontaminasi hewan.Atau bisa saja air sungai yang telah disaring olehperusahaan air untuk menghilangkan hampirsemua sumber kontaminasi dan kemudianmenyalurkannya melalui pipa. Air seperti itudapat dikatagorikan sebagai “air yang bersih”meskipun tidak bisa disebut air minum yang aman.Bahkan ada berbagai standar yang berbedatentang “kebersihan” air. Satu standar, misalnya,mensyaratkan bahwa sumber air paling tidakharus berjarak minimal 10 meter dari tempat yangdigunakan untuk pembuangan tinja.Sepertinya itu bisa dipahamiDengan menggunakan standar tersebut, Susenastelah memberikan perkiraan seperti yang terlihatdi Gambar 7.2. Angka rata-rata nasional untukIndonesia adalah 52,1%, meskipun angka inibervariasi dari 34% di Sulawesi Barat hingga78% di Jakarta. Kecenderungan terkini di tingkatnasional dapat dilihat pada Gambar 7.3. Gambartersebut menunjukkan satu peningkatan yangperlahan namun pasti. Untuk mengurangi separuhproporsi penduduk yang tidak memiliki akses pada2015 berarti harus mencapai angka sekitar 80%.Kita sedang menuju ke arah yang tepatYa, dengan kemajuan yang kita capai hingga saatini, nampaknya kita hampir memenuhi target.Namun dalam kenyataannya, untuk dapat mencapaitarget minimal “air bersih” akan sulit. Penyebabnyaberbeda-beda antara kawasan perkotaan denganperdesaan. Di kawasan perdesaan sistem yangtelah terpasang mencapai 50%, tetapi tidakterpelihara dengan baik. Artinya, angka 50%pun bisa jadi hanya perkiraan optimistis karenamencakup sistem yang tidak bekerja dengan baik.Gambar 7.2Akses terhadap Sumber Airyang Terlindungi menurutPropinsi, 2006Sumber:BPS – Susenas berbagai tahundan Departemen PU, 2006Gambar 7.3Akses terhadap Sumber Airyang Terlindungi, Perkotaandan PedesaanSumber:BPS – Susenas berbagai tahundan Departemen PU, 200631


Gambar 7.4Proporsi Penduduk yangmemiliki Akses TerhadapFasilitas Sanitasi yangAmanSumber:BPS – Susenas, berbagai tahunApa yang salah?Seringkali kurangnya pemeliharaan. Di komunitaskomunitasyang menyebar, sistem yang didanaipublik seringkali bersumber pada sumur atau mataair. Namun setelah sistem dipasang, mungkintidak jelas siapa yang bertanggung jawab untukmemeliharanya. Atau mungkin tenaga ahli yangawalnya ditugaskan untuk pemeliharaan sudahpindah. Di perdesaan, pendekatan yang lebih baikbermula dari kebutuhan.Siapa yang membutuhkan apa?“Berdasar kebutuhan” artinya komunitas harusmemutuskan untuk diri mereka sendiri apa yangmereka inginkan dan meminta bantuan dalammerencanakan dan membangun pasokan airmereka. Karena mereka akan membayar bahanbahanatau perlengkapan yang digunakan, di masamendatang mereka harus diberikan insentif untukmemelihara sistem mereka tersebut. Pendekatanini berjalan baik namun bisa makan waktu lama.Sebaliknya, situasi di kota-kota besar dan kecilberbeda. Di perdesaan harus lebih jelas siapayang menjalankan sistem.Siapa?Tanggung jawab keseluruhan dipegang olehpemerintah daerah. Namun tugas mereka menjadilebih sulit karena tidak e siennya perusahaandaerah air minum (PDAM) yang menyediakan airbaik melalui jaringan pipa ke rumah tangga-rumahtangga atau kepada penduduk secara umummelalui hidran air. PDAM tidak e sien antara lainkarena mereka tidak punya biaya untuk melakukaninvestasi. Biasanya mereka tidak diijinkan untukmenaikkan harga sesuai dengan kebutuhan merekadan sering menyalurkan air dengan harga di bawahsemestinya. Beberapa bupati juga menganggapPDAM sebagai satu sumber pemasukan yangmudah. Tidak mengherankan jika banyak PDAMyang mempunyai banyak utang. Selain itu, banyakdari infrastruktur yang rusak. Di Jakarta, misalnya,sekitar separuh dari air PDAM bocor keluar daripipa-pipa bawah tanah. Penduduk yang mendapatakses ke jaringan pipa adalah penduduk yangberuntung. Saat ini sekitar sepertiga dari rumahtangga di perkotaan mendapatkan akses jaringanpipa air ke rumah mereka dan jumlahnya tidakbertambah dengan cepat. Antara 1990 dan 2005,cakupan air pipa hanya meningkat 3 persen.Bagaimana dengan mereka yang tidakberuntung?Kebanyakan dari mereka, tergantung pada hidranair, menggunakan air sumur atau air sungai. Yangpaling tidak beruntung adalah komunitas termiskinyang tidak mampu membayar pemasanganjaringan pipa air, yang juga dipastikan tidak akanmenjangkau mereka yang hidup di permukimankumuh. Ini berarti pada akhirnya mereka harusmembayar dari pedagang keliling dengan harga10 hingga 20 kali lipat dibandingkan harga yangharus dibayar bila mendapatkan pasokan air darijaringan pipa air minum.Jadi apa yang harus kita lakukan?Jelas kita harus lebih banyak menanamkaninvestasi untuk pemasokan air. Namun kita jugamembutuhkan sistem pendanaan yang layak yaitudengan mendapat pemasukan dari penduduk yanglebih kaya sementara memberikan subsidi yangtepat sasaran kepada penduduk miskin. Selainitu, pasokan air yang terlindungi juga harus disertaidengan sistem sanitasi yang lebih baik karena duahal tersebut saling berkaitan, seringkali bahkansangat dekat.Dalam hal apa?Sebagian besar karena sistem sanitasi yang burukmencemari pasokan air. Seperti yang sudah andaperkirakan, ada satu target MDGs untuk sanitasi.Target tersebut adalah untuk mengurangi separuhproporsi penduduk yang tidak memiliki akses kesanitasi yang aman.32


Apa syarat sanitasi yang “aman”?Jika beruntung, anda dapat memiliki sebuahtoilet sistem guyur ( ush) di rumah anda yangterhubungkan dengan saluran pembuangan utama.Namun hanya sedikit dari kita yang bisa memilikinya.Kebanyakan orang tergantung pada jambandengan tangki septik atau bisa juga menggunakantoilet umum. “Sanitasi yang tidak aman”, yanganda tanyakan, dapat berupa penggunaan kolam,sawah, sungai atau pantai. Anda mungkin terkejutmengetahui bahwa Indonesia telah memenuhitarget sanitasi. Pada 1990, proporsi rumah tanggayang memilki sanitasi yang aman adalah sekitar30%. Jadi target untuk tahun 2015 adalah 65%.Pada 2006, rata-ratanya adalah 69,3%.Cukup baik kalau begituYa, dan dalam beberapa hal cukup mengesankan.Sayangnya, banyak sistem tersebut di bawahstandar. Banyak sistem yang didasarkan padatangki septik yang sering bocor dan mencemariair tanah. Jadi meskipun sistem tersebut mungkinlebih aman bagi para pengguna toilet, merekasangat tidak aman untuk pasokan air. Anda jugamungkin sadar bahwa pada 1990 kita memulaidengan tingkat yang cukup rendah sehingga targetyang ditetapkan tidak terlalu tinggi. Nampaknya,kita mungkin cukup berhasil namun bisa jadi ituhanya ilusi. Kita perlu menanamkan investasi lebihbanyak.Seberapa banyak lagi?Satu perkiraan menyebutkan bahwa selama sepuluhtahun ke depan, biaya keseluruhan mencapaisekitar $10 milyar 32 . Investasi tersebut diharapkanberasal dari rumah tangga maupun pemerintahdan harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya.Hasilnya akan terjadi penghematan biaya yangbesar, mulai dari berkurangnya biaya pengobatanhingga penghematan waktu untuk tidak perlumengantri di toilet umum. Sejumlah ahli ekonomimemperkirakan bahwa, untuk setiap rupiah yangdiinvestasikan kita dapat menghasilkan keuntungansepuluh kali lipat.Terdengar menguntungkan. Bagaimanacaranya berinvestasi?Itu tergantung di mana anda tinggal. Di perdesaan,orang biasanya memulai dengan sesuatu yangsederhana, misalnya sebuah jamban cemplung dankemudian berganti menjadi jamban dengan tangkiseptik. Di kawasan perkotaan, situasinya lebihsulit karena lebih terbatasnya ruang. Penduduktermiskin pada awalnya paling tidak akan terusmenggunakan toilet umum. Dalam jangka lebihpanjang kita perlu mencari cara untuk menyediakansistem saluran air limbah umum sehingga semakinbanyak orang dapat mengaksesnya. Sepertihalnya pasokan air, peningkatan tidak akanterjadi tanpa keterlibatan masyarakat. Orangharus menyadari betapa pentingnya sanitasi yangbaik dan merencanakan bersama sistem merekasendiri. Sementara, pemerintah dapat memberikandukungan. Namun demikian, menanamkaninvestasi dalam satu sistem sanitasi mungkin akansama maknanya dengan investasi untuk memilikirumah.Hal yang dilakukan kebanyakan orangMemang demikian dan membuat satu sistemsanitasi yang baik akan menambah nilai rumah itusendiri. Ini juga akan membawa kita lebih dekatke target terakhir dalam tujuan ini yang berkaitandengan perumahan, dan khususnya denganpeningkatan hidup para penghuni kawasan kumuh.Setidaknya, Indonesia telah mengalami banyakkemajuan. Sekitar 15 tahun lalu, hanya 20% darirumah tangga mempunyai kepemilikan tanah yangsah. Sekarang hampir semua orang memiliki hakmilik yang sah berkat kampanye besar-besaran dariBadan Pertanahan Nasional untuk meningkatkankepemilikan lahan. Dan seperti yang sudah andakatakan, kita juga cenderung untuk memilikirumah sendiri. Paling tidak empat perlima dari kitamemiliki atau menyewa rumah 32 .Namun, masih terlihat banyak kawasankumuhDan jumlah itu semakin berlipat ganda. Antara1999 dan 2004, lahan yang digunakan untukkawasan kumuh meningkat dari 47.000 menjadi54.000 hektar. Secara keseluruhan, sekitar 15 jutarumah masuk kategori di bawah standar 33 . Masalahutamanya, semakin banyak manusia berdesakandi kota-kota, yaitu 42% penduduk negeri ini.Departemen Pekerjaan Umum memperkirakanbahwa kita memiliki tunggakan pembangunansebanyak 6 juta rumah dan memerlukan 1 jutarumah baru setiap tahunnya. Untuk sebagianbesar orang, yang menjadi masalah adalahkemiskinan. Anda hanya dapat membangunsebuah rumah apabila anda memiliki tabungan33


yang memadai atau dapat meminjam dari keluargaatau teman-teman. Hanya sedikit orang yang dapatmemperoleh pinjaman dari bank. Untuk itu andaperlu pekerjaan tetap, yang hanya dimiliki olehseperempat dari kita.Saya pun tak yakin memerlukan pinjamanbankYa, tidak banyak orang ingin mengambil pinjamanjangka panjang. Namun jika kita bisa mendapatkandana yang diperlukan, kita mestinya mampumembangun rumah di tempat yang memiliki layananseperti air, listrik dan sanitasi. Untuk itu diperlukaninvestasi publik, yang seringkali mengandalkanpada pinjaman luar negeri. Tujuan MDGs yangterakhir melihat ke luar Indonesia untuk menelaahbagaimana hubungan kita dengan dunia luar.TUJUAN 7: MEMASTIKAN KELESTARIAN LINGKUNGANTarget 7A: Memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam kebijakan danprogram negaraserta mengakhiri kerusakan sumberdaya alamIndikator pertama adalah proporsi lahan berupa tutupan hutan. Berdasar citra satelit, jumlahnyasekitar 49,9%, atau bahkan mungkin sudah lebih rendah dari angka tersebut. Namun citraLandsat merupakan citra satelit dengan resolusi rendah dan mungkin tidak terlalu sesuai untukmelacak perubahan. Indikator lain adalah rasio kawasan lindung untuk mempertahankankeragaman hayati. Pada 2006 rasio tersebut adalah 29,5% meskipun sebagian dari jumlahtersebut telah dirambah.Sejauh ini, angka terkini tentang emisi karbon dioksida per kapita adalah 1,34 sedangkankonsumsi bahan-bahan perusak lapisan ozon masih pada tingkat 6.544 metrik-ton. Proporsirumah tangga yang menggunakan bahan bakar padat pada 2004 adalah 47,5%.Target 7B: Mengurangi laju hilangnya keragaman hayati, dan mencapai pengurangan yangsignikan pada 2010Belum ada data terbaru mengenai hal iniTarget 7C: Menurunkan separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses yang berkelanjutanterhadap air minum yang aman dan sanitasi dasar pada 2015Pada tahun 2006, 57,2% penduduk memiliki akses terhadap air minum yang aman dan meskipunmasih ada jarak, kita hampir berhasil untuk mencapai target 67%. Untuk sanitasi kita nampaknyatelah melampaui target 65%, karena telah mencapai cakupan sebesar 69.3%, meskipun banyakdari pencapaian ini berkualitas rendah.Target 7D: Pada 2020 telah mencapai perbaikan signikan dalam kehidupan (setidaknya) 100juta penghuni kawasan kumuhMeskipun 84% rumah tangga telah memiliki hak penguasaan yang aman, baik dengan memilikiataupun menyewa, namun jumlah komunitas kumuh yang memiliki akses terbatas pada layanandan keamanan semakin meningkat.34


GOAL 8:PROMOTE GLOBAL PARTNERSHIPFOR DEVELOPMENTMengembangkan kemitran global untukpembangunanTujuan MDGs terakhir ini, terkait dengan kerjasamainternasional, yaitu menelaah isu-isu sepertiperdagangan, bantuan dan utang internasional.Namun, dalam kenyataan, sebagian besar targetdan indikator ditujukan untuk negara-negara majuagar membantu negara-negara termiskin dalammencapai tujuan-tujuan MDGs lainnya.Jadi, tidak ada kaitannya dengan IndonesiaTidak sepenuhnya benar. Kenyataannya, beberapanegara berkembang di kawasan Asia Pasi k saatini menawarkan bantuan kepada negara-negaraberkembang lainnya. Dan Indonesia juga dapatmengupayakan berbagai cara untuk membantunegara-negara tetangganya yang masih miskin.Namun yang paling utama, kepentingan kita yangsebenarnya adalah mencermati apa saja dampakkebijakan negara-negara yang lebih kaya padakita. Misalnya di bidang perdagangan, khususnyaekspor. Memproduksi barang untuk ekspor, akanmenghasilkan lebih banyak lapangan pekerjaandan membantu orang untuk keluar dari kemiskinan.Di masa lalu, sebagian besar ekspor kita adalahbahan-bahan mentah seperti minyak bumi, kayudan minyak kelapa sawit. Namun sejak 1980-an,banyak usaha yang mulai menanamkan investasidalam pabrik-pabrik yang membuat barang-barangmanufaktur sederhana untuk diekspor, sepertipakaian dan alas kaki. Sekarang ini, lebih dariseparuh ekspor kita merupakan produk industri.Itulah caranya Indonesia bergabung dalamgelombang globalisasi mutakhir.Globalisasi? Apakah kita mendukungnya?Tidak semua. Mereka yang menolak, berpendapatbahwa semua aliran barang dan uang internasionalserta informasi, hanya memungkinkan negaranegarakaya untuk mengeksploitasi negara-negaramiskin. Pihak lain berpendapat bahwa mereka harusmenerima globalisasi, namun globalisasi dengancara-cara yang benar. Artinya, harus dipastikanbahwa perdagangan internasional dilakukan seadilmungkin sehingga semua negara memiliki peluangyang sama. Perdagangan juga harus adil bagi parapekerja. Oleh karena itu, mereka yang diperkerjakandi industri-industri untuk ekspor harus memperolehgaji dan kondisi kerja yang layak. Kenyataannya,Indonesia menunjukkan minatnya yang besaruntuk meningkatkan perdagangan internasional,baik ekspor maupun impor. Hasilnya, ada yangberuntung, ada yang merugi 34 .Siapa yang merugi?Perusahaan-perusahaan yang tidak mampubersaing dengan produk impor berharga rendah.Beras, sebagai contoh. Impor beras murahdipastikan akan menurunkan harga beras di pasarIndonesia. Ini baik bagi mayoritas konsumen,namun pada saat yang sama dapat mengurangipenghasilan petani.Jadi apa yang harus kita lakukan?Pertama, harus ada keputusan seberapa “terbuka”sebaiknya perekonomian kita. Terbuka sambilsedikit mengontrol impor, tidak otomatis merugikanperusahaan-perusahaan dalam negeri. Bahkanseringkali, hal ini dapat membuat mereka menjadilebih e sien. Perusahaan-perusahaan tersebut35


36akan terdorong untuk berkonsentrasi pada produkterbaiknya. Namun, bisa jadi, kita masih inginmelindungi sejumlah industri dengan tarif danlangkah-langkah lain. Paling tidak untuk sementara.Mungkin kita ingin melindungi industri kebutuhandasar atau yang masih perlu dilindungi agar bisabersaing di tingkat internasional. Misalnya jasa.Jasa?Jasa merujuk pada hal-hal seperti restoran, penatarambut atau hotel. Hampir semua kebutuhanjasa kita, dilayani oleh pihak dalam negeri.Tetapi, ada juga yang kita beli dari perusahaanperusahaanasing yang beroperasi di sini. Banyakjuga perusahaan ingin berinvestasi di Indonesiadan negara-negara berkembang lainnya dalamhal pelayanan listrik dan air. Sebagai contoh,kita sudah memiliki dua pemasok air swasta ditingkat kotamadya di Jakarta. Dalam perundingandengan Organisasi Perdagangan Dunia (WorldTrade Organization/WTO), banyak negara memintaagar diberi lebih banyak peluang untuk menjualjasa kepada pihak asing. Banyak orang yangmenentang hal ini. Mereka percaya bahwalayanan tertentu, seperti air atau sanitasi, harusdisediakan oleh negara dan tidak boleh dijalankanoleh perusahaan-perusahaan swasta, baik asingmaupun dalam negeri. Karena hal ini akanmengurangi akses penduduk miskin.Benarkah?Ya jika perusahaan-perusahaan swasta hanyamemusatkan pada pelanggan kaya danmengabaikan pelangggan miskin. Sebaliknya,gabungan penyediaan layanan publik dan swastadapat menghasilkan layanan yang lebih e sien.Bahkan penduduk miskin mungkin akan bersediauntuk membayar jika mereka merasa akanmendapatkan layanan yang baik. Pemerintah perlumemastikan akses bagi semua orang, tidak perdulisiapa pun penyedia layanan tersebut. Seberapaterbuka kita dalam perdagangan barang dan jasasebagian besar merupakan pilihan kita, namunmasalah ini juga menjadi bagian perundingandalam WTO. Perundingan-perundingan tersebutjuga mencakup hal-hal tentang apakah kita bisamenggunakan turunan obat “generik” yang murahuntuk HIV dan penyakit-penyakit lain, atau apakahkita harus membeli obat-obatan dengan hargamahal dari perusahaan-perusahaan internasional.Apa hubungannya dengan MDGs?Salah satu target yang menjadi bagian tujuanke-8 MDGs adalah ”lebih jauh mengembangkansistem perdagangan dan keuangan yang terbuka,berbasis peraturan, mudah diperkirakan, dan tidakdisriminatif.” Singkat kata, ini berarti perdaganganyang berkeadilan dan WTO adalah tempat di manamasalah-masalah tersebut semestinya ditangani.Sayangnya, perundingan putaran terakhir, yangdisebut “Putaran Doha (Doha Round)”, gagalterutama karena negara-negara maju inginmemberikan proteksi terlalu banyak pada petanimereka sendiri. Ke depan, perundingan-perundingantersebut mungkin bisa berlanjut. Namun Indonesia,serta banyak negara-negara berkembang lainnya,yakin bahwa kita sudah cukup banyak memberikankonsesi. Kini, gilirannya negara-negara kaya untukmerespon. Selain itu, negara-negara kaya didoronguntuk memberikan bantuan luar negeri. Hal ini,sesuai dengan janji mereka untuk memberikanbantuan sebesar 0,7% dari total pendapatannasional dalam bentuk “bantuan pembangunanresmi” (ODA; Of cial Development Assistance)untuk negara-negara miskin.Apakah janji ditepati?Tidak. Hampir tidak ada yang mencapai angkatersebut, meskipun beberapa secara perlahanmulai meningkatkan sumbangan mereka. Di masalalu, banyak ”pengeluaran pembangunan” negeriini, tergantung pada bantuan luar negeri, yangdigunakan untuk membangun infrastruktur sepertijalan raya 36 . Pada Gambar 8.1, terlihat bahwa kitabiasanya menerima bantuan setara dengan 40%pengeluaran pembangunan kita. Bahkan di tahuntahuntertentu, bantuan yang kita terima lebihbesar dari angka tersebut.Siapa yang memberikan kita bantuan?Penyandang dana terbesar adalah Bank Dunia,Bank Pembangunan Asia dan Jepang. Kebanyakanbantuan tersebut dalam bentuk utang. Anda,mungkin ber kir bantuan tersebut terutamadigunakan untuk mengentaskan kemiskinan atauuntuk meningkatkan kesehatan dan pendidikan.Ternyata tidak. Sebagian besar digunakan untukpembangunan infrastruktur sik seperti jalan, yangbisa mengentaskan kemiskinan, meskipun tidaklangsung. Selama beberapa tahun terakhir, banyakbantuan yang digunakan untuk pembangunankembali pascabencana, pasca tsunami dan gempa


umi di Yogyakarta. Untuk 2006-2007, misalnya,kita dijanjikan memperoleh bantuan, baik berupautang dan hibah, sebesar 5,4 milyar dollar.Akan lebih baik jika kita mendapat lebihbanyak hibahNamun, nampaknya kita tidak akan mendapatkannya.Kebanyakan penyandang dana memusatkanhibah mereka untuk negara-negara yang lebihmiskin. Indonesia tidak masuk kuali kasi penerimahibah, kecuali ketika dilanda bencana.Artinya kita harus tetap berutang?Ya, tetapi kita perlu mempertimbangkan bebanutang. Pada 2007, pemerintah Indonesiamemutuskan tidak lagi membutuhkan pertemuantahunan para penyandang dana untuk Indonesiayang disebut Kelompok Konsultatif untuk Indonesia(Consultative Group on Indonesia). Pemerintahingin lebih banyak memegang kendali dalamproses dan langsung berunding dengan parapenyandang dana. Selain itu, pemerintah yakinharus lebih banyak menggalang dana dari pasarkeuangan lewat penjualan obligasi ketimbang daripara penyandang dana.Dengan menerima semua utang tersebut,bukankah kita harus mengembalikannya?Biasanya memang demikian. Baik utang yangberasal dari pinjaman maupun lewat penjualanobligasi, kita harus membayar bunganya danakhirnya harus siap untuk membayar kembali pokokutang. Kenyataannya, satu masalah besar dalammencapai MDGs karena pengeluaran Indonesiasaat ini, terlalu banyak dipakai untuk pembayarankembali utang, sehingga tak cukup anggaran bagikesehatan atau pendidikan. Pada Gambar 8.2 akanterlihat bahwa utang kita telah meningkat 37 . Pascakrisis moneter, terjadi peningkatan sangat tajam.Tetapi, kebanyakan dari utang tersebut bukanutang internasional melainkan utang dalam negeriberupa pinjaman dari lembaga-lembaga domestik,meskipun sebenarnya kita tidak ”meminjam” uangtersebut dengan cara konvensional. Jika anda tidakingin mengikuti rincian tentang hal ini, silahkanlangsung ke paragraf berikutnya.Saya ingin mengetahuiBaiklah. Yang terjadi adalah bahwa setelah krisisekonomi pada 1997, banyak bank di Indonesiayang mempunyai kredit macet pada perusahaanperusahaanlokal berada dalam ambangkebangkrutan. Pemerintah sangat cemas bahwasistem perbankan akan runtuh sehingga merekacampur tangan untuk menyelamatkan beberapabank tersebut. Untuk melakukan itu, pemerintahmenerbitkan obligasi pemerintah bernilai milyarandolar dan memberikannya kepada bank-banktersebut untuk digunakan sebagai modal. Iniartinya mereka menjadi sehat lagi. Biasanyapemerintah menerbitkan obligasi dan kemudianmenjualnya untuk mendapatkan dana. Namundalam hal ini mereka tidak mendapatkan uangsebagai gantinya. Yang kita peroleh adalah bankbankyang lebih sehat. Namun kita masih tetapterjebak dalam utang dan harus membayar bungaobligasi tersebut kepada bank atau siapa pun yangmemilikinya. Biaya yang dipikul, terbilang mahal.Berapa yang harus kita tanggung?Saat ini, ’pelunasan’ utang mencapai sekitar26% dari pengeluaran pemerintah. Memangpemerintah sekarang lebih banyak mengeluarkandana untuk membayar bunga pinjaman daripadauntuk pendidikan, atau kesehatan. Jadi andadapat mengatakan bahwa kita membayarketidakmampuan para pemilik bank yang kayadengan mengorbankan orang miskin. Namunpemerintah berpendapat bahwa mereka tidakmempunyai pilihan. Runtuhnya sistem perbankanakan membuat segala sesuatu lebih buruk bagisiapapun, miskin atau kaya. Terlepas dari apakahkeputusan tersebut benar atau salah, sekarangkita harus menanggung akibatnya. Pada 2006,pemerintah masih berutang $144 milyar.Gambar 8.1Bantuan sebagai Proporsidalam Pengeluaranuntuk Pembangunan,1990-2004Sumber:Chowdhury, A. dan Sugema I37


3816014012010080604020-Gambar 8.2Utang Pemerintah1996-2006Sumber:World Bank Indonesia 20071997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006DomestikLuar NegeriKepada siapa?Pada Gambar 8.2, anda dapat melihat kepadasiapa kita berutang. Hampir separuhnyamerupakan utang dalam negeri, dari bank-bankyang menggunakannya sebagai modal. Sisanya,yaitu sekitar 67,7 milyar dollar, merupakan utangkepada lembaga-lembaga luar negeri. Sebagiandiantaranya merupakan utang kepada parapenyandang dana bilateral yang meminjamkanuang kepada kita sebagai bagian dari programbantuan mereka atau untuk membantu kitamembeli sebagian ekspor mereka. Sisanya adalahutang kepada para penyandang dana “multilateral”seperti Bank Dunia atau Bank Pembangunan Asia.Bisakah kita menolak untuk membayar?Kita tak mungkin ”ngemplang” utang dalam negerikarena akan mengakibatkan tumbangnya banyakbank dalam negeri. Kita pun tidak bisa begitu saja”mogok” membayar utang internasional karenaakan membuat kita terputus dari pasar keuangandunia dan mungkin akan memicu krisis keuanganbaru. Namun kita bisa menawar. Kita bisa meminta“penghapusan utang” kepada para penyandangdana multilateral dan bilateral. Kita melakukannyabeberapa dasawarsa lalu dan mereka menghapussebagian utang kita. Namun saat ini, semuanyamenjadi lebih sulit. Para penyandang danainternasional masih memberikan penghapusanutang, namun hanya kepada negara-negara yangsangat miskin. Saat ini, Indonesia adalah negaraberpenghasilan menengah sehingga tidak masukkategori layak memperoleh penghapusan utang.Ketika meminta penghapusan utang, kita jugaharus mau dikaji oleh Dana Moneter Internasional(International Monetary Fund/IMF).Hal yang tidak begitu disukaiSamasekali tidak. Dalam kenyatannya pemerintahtelah sengaja membayar semua utangnya kepadaIMF agar kita tidak harus mengikuti persyaratan IMF.Namun masih ada hal-hal yang dapat kita lakukanuntuk mengurangi utang, paling tidak sedikit.Salah satu pilihan adalah dengan mendorongpara penyandang dana bilateral untuk melibatkandiri dalam pertukaran atau ”konversi utang” (debtswaps).Sangat aneh. Kita bisa menukarkan utangdengan apa?Memang kedengarannya tidak lazim. Namunsejumlah penyandang dana bilateral siapuntuk menghapuskan sebagian utang kita jikakita membelanjakan jumlah yang sama untukpembangunan. Jerman, misalnya, sepakat denganIndonesia untuk menghapuskan utang bilateralbernilai sekitar 135 juta dollar AS jika pemerintahIndonesia menggunakan dana tersebut untukproyek-proyek pendidikan dan lingkungan.Sayangnya, skema seperti itu biasanya hanya dalamjumlah kecil (jumlah keseluruhan utang kita kepadaJerman adalah 1,3 milyar dollar AS). Sekali lagi,aturan-aturan internasional tidak memungkinkankita untuk menukarkan utang dalam jumlah yangsangat besar.Saatnya untuk mengubah aturan-aturantersebutIde yang bagus. Bersama dengan negara-negaraberkembang lainnya, Indonesia harus menyatakanbahwa tingkat utang yang tinggi menghambatpencapaian MDGs, jadi semestinya negaraseperti kita layak untuk mendapatkan semacampenghapusan utang. Kenyataannya, untuk banyakisu di Tujuan 8, baik tentang perdagangan, bantuanatau utang, pemerintah maupun masyarakat sipilharus melawan status quo di tingkat internasional.Kita cukup bangga untuk melaporkan upaya-upayakita sendiri dalam mencapai tujuan-tujuan yangsudah kita sepakati. Namun negara-negara majujuga perlu memantau aktivitas-aktivitas mereka.Tujuan-Tujuan Pembangunan Milenium jugamerupakan tanggung jawab internasional.Sangat menarik. Apakah kita sudahselesai?Ya, kita sudah selesai dengan 8 tujuan MDGs. Namun,terasa perlu untuk ‘meng-Indonesiakan’MDGs.


MENG-INDONESIAKAN MDGsMDGs yang diformulasikan secara bersama padatingkat global, dalam beberapa aspek bisa sajadisesuaikan dengan situasi dan kondisi Indonesia,baik di tingkat pusat maupun daerah. Pencapaiantujuan MDGs sebagian besar berada di pundakpemerintah propinsi dan kabupaten. Seperti terlihatpada Gambar 9.1, kabupaten dengan mantapmulai mengambil alih lebih banyak pengeluaranrutin pemerintah 38 .Jadi Pemerintah daerah seharusnya dapatlebih berperan?Tentu saja. Masalah informasi jelas masih menjadikendala. BPS memang mengumpulkan datasejumlah informasi di tingkat kabupaten. Namun,tidak mencakup hingga tahun 1990 sehinggamenyulitkan penetapan target 2015. Hal tersebuttidak menjadi masalah, selama propinsi-propinsidan kabupaten-kabupaten memikirkan cara terbaikuntuk pencapaian MDGs, tidak hanya di tingkatkabupaten, namun sampai ke desa-desa.Betulkah? Apakah kita dapat mengukursemua ini di sebuah desa?Ya, tetapi tidak harus orang luar yang melakukannya.Penduduk sebuah desa bisa sepakat memilih apasaja dari tujuan MDGs yang menjadi prioritasmereka, termasuk memantau dan mempercepatpencapaiannya. Misalnya, ketika kekurangan gizimenjadi persoalan yang dicemaskan, mungkin perlumemastikan bahwa puskesmas selalu menimbangsemua anak-anak. Anda kemudian dapatmenambahkan semua informasi yang dibutuhkanuntuk mencermati apakah angka kekurangan gizimeningkat atau menurun. Dan yang lebih penting,anda bisa sepakat tentang apa yang harus dilakukanuntuk menanggulangi hal tersebut.Misalnya?Anda dapat memeriksa bagaimana anak-anak yanglambat pertumbuhannya, memperoleh makanandan mungkin dapat memberikan saran ataudukungan kepada para ibu. Apakah semua anakbersekolah? Hal ini akan mudah diketahui dari bukupendaftaran di sekolah. Jika TBC menjadi masalah,mungkin anda dapat mencoba untuk melakukantes pada sebanyak mungkin orang dan kemudianmemulai pengobatan. Apakah perempuanmeninggal karena persalinan? Bagaimana denganpengawasan tentang berapa banyak perempuanhamil yang mendatangi klinik-klinik pada masapra-persalinan. Begitu juga apakah mereka telahmemiliki persiapan untuk menghadapi keadaandarurat.Tampaknya, banyak yang harus dilakukanAnda tidak harus mencoba melakukan semuanyasekaligus. Anda dapat memulai dengan sejumlahGambar 9.1Penyebaran AnggaranPemerintahSumber:World Bank 200739


prioritas, kemudian melakukan aksi. Bagi MDGs,semangat lebih penting ketimbang rinciannya. Jikamasing-masing kabupaten atau komunitas mulaimelakukan aksi, maka secepatnya akan terjadiperbaikan. Tahun 2015 tinggal delapan tahunlagi, namun kita bisa melakukan banyak hal dalamwaktu delapan tahun.Sudahkah selesai kita?Ya, untuk kali ini bincang-bincang kita akhiri dulu disini. Tetapi, apabila anda tertarik untuk mengetahuilebih banyak, anda bisa membaca dari daftarbacaan berikut40


CATATAN DAN REFERENSI1Menurut FAO, proporsi penduduk yang mengkonsumsi kurang dari standar asupan nasional ditentukanoleh distribusi ketersediaan pangan untuk memenuhi standar tersebut dan aksesnya. Informasi lebihlanjut dapat dilihat di: http://www.fao.org/DOCREP/005/y4249e/y4249e06.html2Untuk wacana dan diskusi yang lebih komprehensif mengenai indikator MDG ini, beberapa publikasiILO yang dapat menjadi nara sumber: Labour and Social trends in Indonesia 2008: Progress andpathways to job-rich development (Jakarta, 2008)..3World Bank, 2006. Making the New Indonesia Work for the Poor, Jakarta, World Bank.4Depdiknas, 2005b. Educational Indicators in Indonesia, 2004/2005. Jakarta, Ministry of NationalEducation.5Usman, S. Akhmadi, and D Surydarma, 2004. When Teachers are Absent: Where do They Go and Whatis the Impact on Students? Jakarta, SMERU.6World Bank, 2007. Spending for Development: Making the Most of Indonesia’s New Opportunities.Indonesia Public Expenditure Review 2007, Jakarta, World Bank.7World Bank, 2007. Spending for Development: Making the Most of Indonesia’s New Opportunities.Indonesia Public Expenditure Review 2007, Jakarta, World Bank.8UNESCO/PAPPITEK LIPI, 2006. The achievement of Gender Parities in Basic Education in Indonesia:Challenges and Strategies towards Basic Education for All. Jakarta9UNESCO/LIPI, 2006. The Achievement of Gender Parities in Basic Education in Indonesia: Challengesand Strategies towards Education for All. Jakarta, UNESCO and PAPPITEK LIPI.10Sakernas, 2004.11UNICEF, 2007. Plus 5-Review of the 2002 Special Session on Children and World Fit for Children Planof Action, Indonesia. Jakarta, UNICEF12Depkes, 2007. Every Year 30,000 Die by Measles, www.depkes.go.id/en/2102ev.htm, diakses 6 March2007.13World Bank, 2007. Spending for Development: Making the Most of Indonesia’s New Opportunities.Indonesia Public Expenditure Review 2007, Jakarta, World Bank.14Chaudhury et al, 2005. Missing in Action: Teacher and Health Worker Absence in Developing Countries,41


Harvard, John F. Kennedy School of Government.15Jakarta Post, 2007. “Informal workers to get health access”, dalam Jakarta Post, 7 Maret.16UNFPA, 2007. UNFPA Indonesia Website, http://indonesia.unfpa.org/mmr.htm diakses 3/1/2007.17Lancet 2006, “Strategies for reducing maternal mortality: getting on with what works” the Lancet.18KPA, 2006. Rencana Aksi Nasional untuk HIV/AIDS 2007-2010. Komisi Penanggulangan AIDS.19UNAIDS/NAC 2006. A review of vulnerable populations to HIV and AIDS in Indonesia. Jakarta , UNAIDSand National AIDS Commission.20KPA 2006. Country Report on the Follow-up to the Declaration of Commitment on HIV/AIDS (UNGASS),Reporting period 2004-2005.212007, survey di Papua terhadap perwakilan populasi penduduk tentang HIV/AIDS22Jakarta Post, 2006. “Inadequate measures allowing HIV/AIDS to worse: WHO”, dalam Jakarta Post., 29November.23IYARS, 2002-2003. Indonesia Young Adult Reproductive Health Survey, Jakarta, BPS24WHO, 2004. The Millennium Development Goals for Health: A review of the indicators, Jakarta, WorldHealth Organization.25MOE, 2005. State of the Environment in Indonesia, Jakarta, Ministry of Environment.26Dephut, 2007. Extent of land cover inside and outside forest area. Diunduh dari www.dephut.go.id.27World Bank, 2007. Strategic Options for Forest Assistance in Indonesia. Jakarta, World Bank.28Hooijer, A et al. 2006. PEAT-CO2, Assessment of CO2 emissions from drained peatlands in SE Asia.Delft, Netherlands. Delft Hydraulics report Q3943.29MOE, 2004. State of the Environment in Indonesia, Jakarta, Ministry of Environment.30ICBWA, Global bottled water statistics, http://www.icbwa.org/2000-2003_Zenith_and_Beverage_Marketing_Stats.pdf. Diakses 23 Maret, 2007.31Jakarta Post, 2006. “Sanitation target remains out of reach”, dalam Jakarta Post.32Hoek-Smit, M. 2005. The Housing Finance Sector in Indonesia, Jakarta, World Bank.33PU, 2007. RUU Penataan Ruang Harus Pilah Secarah Jelas Kawasan Peruamahan. Pusat KomunikasiPublik 150606. Departemen Pekerjaan Umum. http://www.kimpraswil.go.id/index.asp?link=Humas/news2003/ppw150606gt.htm. Diakses 17 Maret 200734Vanzetti, D. McGuire, D. and Prabowo, 2005. Trade policy at the Crossroads: the Indonesian Story,Geneva, UNCTAD.35Chowdhury, A and I. Sugema, 2005. “How Signi cant and Effective has Foreign Aid to Indonesia been?”,Discussion Paper No. 0505, University of Adelaide Centre for International Economic Studies.36UNDP (segera terbit). Indonesia: Debt Strategies to Meet the Millennium Development Goals. Jakarta,UNDP.37World Bank, 2007. Spending for Development: Making the Most of Indonesia’s New Opportunities.Indonesia Public Expenditure Review 2007, Jakarta, World Bank.42

More magazines by this user
Similar magazines